
Sepanjang jalan Nina memberontak memohon untuk di lepaskan. Bukan karena takut, namun Nina kesulitan bergerak dengan kedua kaki dan tangan di ikat kuat oleh Kevin. Pria yang berulah tampak duduk tenang di samping fokus mengemudikan mobil tanpa berkata apa pun.
"Pak Kevin, tolong lepaskan saya. Pak, saya mohon biarkan saya tinggal sendiri." ujar Nina lagi.
Kevin masih diam dan menambah kecepatan laju mobilnya. Nina tampak ketakutan. Ia pun hanya bisa memejamkan mata hingga beberapa menit setelahnya mobil pun sudah tiba di depan toko bunga.
"Diam di sini." Pintah Kevin sebelum turun dari mobil.
Pria itu berjalan ke arah toko dan membuka pintu setelah menelepon sang ibu. Nina hanya melihat dari depan bagaimana pria itu membantu membawa tas sang ibu, menutup pintu dan menggandeng tangan sang ibu menuju ke mobil. Sungguh perlakuan seorang anak yang sangat hangat pada sang ibu. Jika di luar sana banyak pria yang bersikap hangat pada sang kekasih, tidak dengan Kevin. Ia bersikap sebaliknya. Dingin dengan Nina dan hangat pada sang ibu.
"Seandainya saja aku menikah dengan pria sepertinya..." gumam Nina yang baru saja menghayal sudah keburu sadar mendengar suara pintu mobil terbuka dari luar.
Sekar masuk ke mobil dan Kevin pun melajukan mobil ke arah rumah.
"Atsaga, Kevin. Apa yang kamu lakukan sama Nina? Vin, tidak boleh seperti itu, Nak. Kamu sakit hati di tolak Nina?" Sekar mencecar sang anak lantaran terlalu kasar sampai mengikat Nina seperti menculik anak orang.
__ADS_1
"Tidak kencang kok, Bu." sahut Kevin datar tetap menjalankan mobil.
"Bu, tolong bantu saya. Kepala saya pusing sekali ini." Nina pun berucap jujur sebab Kevin barusan membawa mobil dengan sangat laju hingga membuatnya ingin muntah.
"Iya iya. Ibu bantu." Sekar bergerak maju dan melepas ikatan di kaki dan tangan Nina. Sesekali ia menatap pada anak prianya itu.
Setibanya mereka di rumah, Nina pun langsung masuk ke dalam kamar di antar oleh Sekar. Sementara Kevin memilih menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan istirahat.
"Bu, sudah jangan mengantar saya ke kamar. Saya boleh makan saja, Bu?" ragu-ragu Nina bertanya sebab ia merasa malu dengan kejadian sore tadi.
Pikirannya menerka jika Sekar tak akan bersikap baik lagi padanya setelah mengetahui semuanya. Dan kini Nina melihat justru wanita cantik yang sudah berusia itu tampak tersenyum hangat padanya. "Boleh, kenapa masih nanya? bayi kamu pasti akan sangat sering meminta makan. Itu masa pertumbuhan janin. Ayo ibu temani." Keduanya berjalan menuju dapur dan duduk di meja makan.
Mendengar ucapan Nina, Sekar terkekeh lucu. Ia menggeleng tak habis pikir mendengar Nina berucap demikian. Belum saja sempat wanita paruh baya itu menjawab, tiba-tiba suara berat terdengar menyahut.
"Cukup kau menggantinya dengan tidur bersama Ibu saja. Tidak ada potong-potongan gaji." Nina menunduk malu mendengar suara yang ia yakini adalah suara dari Kevin.
__ADS_1
Mendengar suara sang anak, Sekar menghela napas menatap kesal pada anaknya. "Vin..." ujarnya menegur lembut.
"Biarkan saja, Bu. Biar dia tahu jadi orang jangan main kabur-kaburan. Belum ada setengah tahun kenal wanita ini sudah dua kali kaburnya." sungut Kevin kala mengingat Nina membawa kabur jaket milik Kevin yang di berikan sang ayah.
Nina sama sekali tak mengelak apa yang Kevin ucapkan sebab itu memang sebuah kebenaran. Dan kini ia sadar kabur seperti itu akan sangat merepotkan orang.
"Saya janji tidak akan kabur-kabur lagi, Pak. Saya akan kerja dengan baik." jawab Nina polos.
Kevin yang acuh hanya melangkah kembali ke kamarnya. Di sini Nina pun melanjutkan makan di temani oleh Sekar yang tersenyum memperhatikan dirinya.
Sejak kejadian itu Nina jarang sekali bersuara. Ia hanya bekerja dengan giat. Sedangkan Kevin pun nampak sibuk di kantor untuk melaporkan hasil kerjanya.
Di ruangannya kini pria tampan itu duduk berpikir sejenak. Pikiran yang beberapa hari ini mengganggu kepalanya. Yah, Kevin memikirkan keadaan Nina yang hamil sedangkan sang suami sudah kabur. Itu artinya tak ada perceraian yang bisa di lakukan selama wanita itu hamil.
"Entah kapan lagi aku bisa pulang." ujar Kevin mengingat saat inilah waktu yang paling lama baginya dalam berlibur.
__ADS_1
Jika harus menunggu Nina bercerai dan melahirkan Kevin takut tak akan ada waktu untuk ia mengurus pernikahan itu.
Rasa gelisah setiap kali meninggalkan sang ibu bekerja membuat Kevin takut jika ia tak kembali dengan nyawa.