
Suasana malam ini rasanya berbeda. Rumah milik Sekar semakin terasa ramai. Sudah bertahun-tahun ia merasakan rumah sunyi sepi tanpa sang suami dan sang anak yang sering menghabiskan waktu dengan bekerja. Kevin hanya tinggal beberapa tahun saja dengannya sebelum jadi tentara. Di mana saat masa pendidikan ia pun tak lagi pulang ke rumah. Sebagai seorang ibu yang kesepian, malam ini Kevin bisa melihat pancaran kebahagiaan di wajah sang ibu. Kedatangan Nina bersama sang ibu membuat Kevin lega. Setidaknya kala ia turun bekerja sang ibu tak lagi sendirian. Rasanya Kevin semakin tak sabar menanti perceraian Nina dan menikah. Namun, ketika mengingat masa nifas Nina, Kevin pun kembali murung saat makan malam.
"Vin, ada apa?" Menyadari ekspresi sang anak, Sekar pun bertanya. Ia penasaran dengan Kevin yang hanya mengaduk-aduk makanan saja.
Mendengar pertanyaan Sekar, Nina dan sang ibu ikut menoleh serentak ke arah Kevin. Ia melihat jika pria itu memang tengah melamun dan tersentak kaget lantaran sang ibu menyebut namanya.
"Eh...tidak ada, Bu." Kevin menggelengkan kepala.
Usai makan malam semua pun beralih duduk di ruangan keluarga. Menikmati siaran televisi namun tidak seperti yang terlihat. Riana nampak memperhatikan Sekar dan Kevin secara bergantian dalam diamnya. Ada sesuatu di hatinya saat ini yang mengganjal dan ingin ia sampaikan.
Lama memikirkan kata dan mempertimbangkan efek dari ucapannya, akhirnya Riana pun bertekad untuk buka suara.
"Pak Kevin..." ujarnya bersuara lembut.
"Iya, Bu? panggil saya Kevin saja." pintah pria itu merasa enggan di panggil pak oleh Bu Riana.
Rasanya ia sudah seperti pria yang memiliki anak jika di panggil pak, berbeda jika yang memanggilnya adalah Nina. Rasanya itu bukan panggilan mengejek melainkan panggilan sayang yang tersemat dari kata Pak Kevin. Sungguh menggelikkan memang pikiran orang yang di mabuk cinta. Kevin yang sempat melamun memikirkan Nina sampai mengerjapkan matanya berusaha menyadarkan diri untuk tidak terlihat bodoh di depan mereka semua.
__ADS_1
"Apa sudah tahu jika Nina saat ini mengandung?" akhirnya Riana pun bisa mengungkapkan kebingungannya dan rasa penasarannya pada kevin saat ini.
"Iya, saya sudah tahu, Bu." jawab Kevin mantap.
"Apa itu bukanlah sebuah masalah untuk pernikahan kalian nanti?" takut-takut Riana bertanya. Takut jika ternyata ia salah menduga. Bisa saja Kevin mengatakan akan menikahi Nina hanya di depan sang suami ketika di desa. Mungkin saja pria itu hanya berniat menolong agar Nina aman. Begitu banyak kemungkinan yang ia pikirkan saat ini.
"Itu bukan sebuah masalah sama sekali, Bu." ujar Kevin dengan tenang.
"Saya menerima Nina apa adanya. Dan anak itu akan menjadi anak saya juga kelak. Saya siap menerima semua yang ada pada Nina." tuturnya.
Bukan hanya Riana yang lega mendengar ucapan Kevin. Nina pun sama senangnya meski saat ini ia tengah menyembunyikan rasa senang itu.
Sekar yang mendengar nama sang teman di sebut sontak saja tersenyum dan meminta pelayan itu mengantarkan tamunya masuk. Sebab ia tahu Ema pasti banyak membawa anggota dan barang-barang yang ia pesankan untuk di bawa.
Kevin yang tidak di beri tahu sang ibu tentu sudah paham maksud kedatangan teman ibunya itu untuk apa. Ema yang terkenal teman sang ibu memiliki usaha di bidang fashion. Tak ingin menjadi pria satu-satunya, Kevin memilih untuk bergegas ke kamar. Baru saja pria itu menggerakkan tubuh ingin bangkit dari duduknya, sang ibu sudah lebih dulu bersuara.
"Vin, jangan pergi. Kamu tentukan mana yang bagus untuk Nina." ujar Sekar membuat Kevin tak jadi meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Jika untuk Nina pasti akan dengan senang hati menunggunya. Apalagi jika Nina berganti di depannya.
"Astaga kenapa kepalaku isinya begini semua yah?" gumam Kevin saat menyadari pikirannya yang lepas kontrol lagi dan lagi.
Nina dan Riana sama-sama tak mau menyentuh baju yang ada di depan mereka. Ia tak ingin merusak baju yang ia akan sulit menggantinya. Namun, Sekar yang terus memaksa akhirnya membuat keduanya pasrah. Beberapa baju mereka pilih, namun khusus Nina akan Kevin revisi lagi. Hanya baju yang ia setujui yang boleh Nina ambil.
"Bu, ini terlalu banyak. Saya mau dua saja nanti di pot-"
"Sekali lagi bilang potong-potong, ayo aku benar-benar akan memotong lidahmu dan lehermu, Nina." sahut Kevin dengan kesalnya.
Di sini bukan hanya ada keluarga mereka saja. Ada orang luar yang seharusnya tidak tahu jika Nina adalah karyawan sang ibu. Kevin tidak ingin sang istri di nilai menjadi parasit dan menjaga omongan orang luar. Ketika mereka menikah nanti setidaknya orang tidak mengatakan hal yang aneh-aneh pada Nina. Sudah begitu banyak hal yang Kevin wanti-wanti untuk kedepannya. Dan Nina yang tidak tahu apa-apa tentu saja akan bersikap seperti biasanya.
"Saya juga tidak mau bicara potong gaji kali ini. Tapi...ini kan terlalu banyak jika di bayarkan semua oleh bu Sekar." batin Nina dalam hatinya yang menangis jika sampai benar gajinya akan di potong baju sebanyak ini. Namun, ia hanya merasa terlalu sungkan.
"Eh astaga..." Bu Riana menutup mulutnya reflek lantaran takut mendengar ucapan Kevin.
"Kevin dan Nina memang seperti itu, Bu Riana. Sudah jangan pikirkan mereka berdua. Ini punya ibu yah dan ini punya Nin." ujar Bu Sekar.
__ADS_1
"Em, totalannya langsung di transfer saja nantiyah?" tuturnya lagi.
Ema pun langsung pergi sebab ia sudah banyak janjian dengan para temannya juga yang ingin di layani VIP di rumah langsung. Meski memiliki butik, Ema tetap menyiapkan layanan bagi orang-orang tertentu yang tidak akan merugikan perjalanannya. Contohnya Bu Sekar yang sekali belanja pasti di atas jumlah sepuluh.