Mataharinya Desa Dan Sang Tentara

Mataharinya Desa Dan Sang Tentara
Pemandangan Indah


__ADS_3

Saat tiba, Kevin pun langsung masuk dan menyerahkan beberapa bukti yang sudah ia persiapkan. Pria itu tentu di sambut baik oleh anggota kepolisian. Di dalam Kevin menyempatkan diri mejenguk keluarganya. Kali ini ia akan menyerahkan semua pada proses hukum tanpa mau ikut campur tangan. Meski pun keluarga, Kevin tidak ingin membela ketika mereka salah.


"Vin, tolongin kita. Kasih kita kesempatan. Cabut laporan itu yah?" mohon Indita menampakkan wajah sedihnya.


"Maaf. Sebelumnya kalian tentu sudah tahu ini adalah resiko jika melakukan tindakan kriminal." tutur Kevin berlalu pergi.


Setidaknya ia sudah memastikan jika semuanya baik-baik saja tanpa kurang satu pun di anggota tubuh Jhon serta kedua orang tuanya. Kevin pun pergi keluar dan hendak menuju mobilnya.


"Vin," suara salah seorang pria membuat Kevin terhenti dari langkahnya.


Ternyata dia adalah salah satu teman Kevin. "Hey..." Kevin nampak membalas sapaan sang teman yang berprofesi sebagai polisi.


Keduanya pun mengobrol singkat hingga akhirnya Kevin memilih untuk segera pulang. Ia tak sabar menanti waktu  bertemu dengan Nina. Entah mengapa rasanya di luar tanpa bersama wanita hamil itu membuat Kevin sangat gelisah ingin segera pulang.


"Sendiri aja lu, Vin?" tanya sang teman.


"Iya sendiri. Tuh mobil gue nggak pakai supir." sahut Kevin menunjuk mobil miliknya yang sudah di kenal banyak orang.


Mendengar ucapan Kevin lantas pria itu mengernyit heran sebab setahunya Kevin datang bersamaan dengan mobil yang terparkir jauh di pinggir jalan sana. Bahkan sampai saat ini pun mobil itu tak menandakan ada orang yang keluar.


"Vin, lu hati-hati. Coba pastikan lagi kalau mobil di jalan sana itu bukan mengincar luj sebab tadi sepertinya kalian datang bersamaan." Kevin melirik dengan kode sang teman yang tak boleh menatap langsung ke arah mobil itu.


Paham, Kevin mengangguk dan meninggalkan lokasi tersebut. Ia saat ini akan menghadapi semuanya sendiri. Mobil pun melaju dengan kecepatan rata-rata. Kevin santai seolah ia sedang berjalan seperti biasanya. Namun, mata tajam itu begitu teliti memperhatikan satu mobil yang kini nampak mulai mendekatinya ketika mobil berada di arah yang cukup sunyi.

__ADS_1


Hingga terasa mobil yang mulai menambah kecepatannya. Kevin menginjak pedal gas cukup tinggi dan membuat mobil di belakang sana menambah kecepatan juga.


"Sialan. Mau lari kemana dia? Cepat lajukan mobil ini!" perintah seorang pemuda yang bernama Bara. Yah, dia adalah adik dar Nina yang menjalankan perintah sang ayah untuk mencari tuh tempat Nina berada. Bukannya mencari tahu saja justru pemuda itu berambisi untuk menghabisi Kevin. Ia akan membunuh pria ini dan membawa Nina kembali ke desa bersama sang ibu. Dengan begitu ia akan mendapatkan penghargaan dari sang ayah atas prestasinya itu.


Namun sayang, ketika mobil melaju dengan sangat cepat. Mendadak mobil milik Kevin berbalik arah dari membuat mereka juga ikut membelokkan secara kilat mobil itu. Mobil yang sudah sangat kusam itu terbanting dan kembali bangun. Kevin sampai terkekeh melihat tingkah orang desa itu memakai mobil tanpa aturan.


"Kalian akan ku ajak bermain-main dulu." ujar Kevin.


Ia melajukan mobil kembali menuju jalan kota yang sangat ramai hari ini. Bara semakin geram ia meminta supirnya mobil itu untuk melajukan mobil. Sedikit kesulitan mengejar Kevin yang sangat ahli membalap di jalan kota. Bara beberapa kali memukul kepala supir untuk memintanya lebih mempercepat laju mobil.


"Cepat pepet mobilnya. Dan kau segera lembar parang ini pada lehernya ketika sudah dekat." pintah Bara yang di patuhi sang anak buah.


Di detik berikutnya usai memberikan perintah itu, mobil semakin lambat lajunya. Kening Bara mengerut dalam kala melihat ada banyak mobil yang tengah antri di jalan itu.


Kevin yang sudah lebih dulu di depan sana berakhir dengan terkekeh puas. Ia yakin kali ini Bara dan kawannya akan mendapat masalah lagi.


"Terimakasih atas kerja samanya." Kevin memberi hormat pada salah satu anggota polisi yang bertugas saat itu.


"Putar balik. Cepat putar balik, kita tidak memiliki akses apa pun. Cepat!" Bara yang baru melihat ada banyak anggota polisi sedang razian di jalan itu tampak panik.


Seperti yang di duga Kevin jika mereka hanya supir asal-asalan dari desa yang tidak memiliki izin mengemudi kendaraan di kota besar. Di sela aksi balapa, Kevin menghubungi beberapa orang untuk menanyakan jadwal operasi mereka dan di sinilah tempatnya saat ini.


"Tidak bisa putar, Tuan. Jalanan sudah di penuhi kendaraan di belakang." sahut sang supir.

__ADS_1


Bara sangat kesal hingga ia menarik kasar supir berpindah tempat. "Ah brengsek. Minggir biar aku yang hadapi ini." ujarnya dengan congkak.


Saat itu juga Bara menginjak tinggi gas mobil dan berniat untuk menabrak siapa pun di depan sana termasuk mobil yang akan menjadi korban.


"Rasakan ini!" Ia melajukan mobil begitu cepat tak perduli bagaimana petugas menahannya. Hingga berhasil Bara melewati mereka.


Kevin yang melihat aksi Bara dari kejauhan nampak menggelengkan kepala frustasi. "Benar-benar adik ipar bikin malu." ujarnya ketika mengingat sosok Nina yang pasti sedang menghabiskan waktu di rumah bersama sang ibu.


Kevin tersenyum, ia melajukan mobil acuh dengan keadaan Bara yang masih sibuk di kejar polisi saat ini. Rasanya begitu menyenangkan ketika pulang ke rumah ada sosok yang menyambutnya di rumah dengan wajah cantiknya.


"Kamu sudah pulang. Sana mandi gih nanti biar Nina panggil kalau waktunya makan malam." pintah sang ibu mengerti anaknya lelah saat ini.


Hari masih siang, itu artinya Sekar ingin sang anak beristirahat. Namun, Kevin justru menghabiskan waktunya untuk kembali berenang.


"Nina, ambilkan jubah saya di kamar dan tolong bawa ke kolam." pintahnya.


Nina pun patuh segera bergerak. Untuk pertama kalinnya wanita itu masuk ke dalam kamar Kevin. Hal pertama yang ia lihat ketika membuka pintu adalah suasana yang sangat nyaman.


"Wah....rapi yah? Pak Kevin sangat nyaman pasti di kamar ini. Mana harum sekali lagi." Nina tampak memperhatikan seisi kamar Kevin dan berjalan menuju jendela yang hanya terbuka tirainya saja. Di sana menampakkan kolam yang ada sosok pria tengah membuka pakaiannya.


Nina membulatkan mata, bibirnya ia bungkam begitu saja.


"Indahnya..." gumamnya tanpa sadar menikmati tubuh Kevin dari jendela itu. Ini adalah pertama kali ia bisa melihat Kevin dengan leluasa. Jika biasanya pria itu selalu membuat Nina mati kutu ketika berhadapan.

__ADS_1


__ADS_2