
Menetes air mata Nina kala melihat monitor yang Rinda tunjuk barusan. Layar itu memperlihatkan titik berukuran lumayan besar dimana itu adalah janin yang akan ia lahirkan nanti. Melihat hal yang pernah ia rasakan, Sekar juga turut terharu. Momen yang membuatnya mengenang di mana ia memeriksa kandungan untuk pertama kali tanpa di temani sang suami.
Sekar pun turut menitihkan air mata. Ia melirik pada Kevin yang tak hentinya menatap takjub gambar di depannya. Rinda tersenyum lucu.
“Woy tegang amat. Senang yah?” ujarnya memecah keheningan di ruangan itu.
Kevin hanya berdehem tanpa ekspresi. Nina pun di suruh bangkit dari ranjang periksa. Nina duduk di depan Rinda bersama Sekar di sampingnya.
“Keadaan janin sangat sehat dan normal. Semuanya sangat baik, dan akan lebih baik jika setiap bulannya Nyonya Kevin datang untuk memeriksa kandungannya yah? Ada baiknya kita mengawasi terus perkembangan janin agar lebih terkontrol.”
Pelan Nina mengangguk. “Baik, Dokter.”
“Pak Kevin, calon bayinya akan segera lahir. Jadi usahakan untuk siap menjadi papah yang siaga untuk istri dan juga anaknya. Dan di usia kehamilan saat ini mungkin istrinya bisa lebih banyak istirahat. Jika nanti sudah menginjak usia 7 bulan baru rajin bergerak agar memudahkan persalinan yah?”
Setelah mendengar cerama dari temannya, Kevin pun menebus vitamin dan juga membayar biaya periksa untuk Nina.
“Bu, biaya periksanya di potong saja dengan gaji saya. Soalnya saya tidak ada uang.” Nina kembali mengungkap perihal potongan gaji sebab memang itulah kenyataannya.
Kevin yang berjalan di depan segera buka suara. “Potong apa-apa potong. Nanti biar saya sekalian yang potong leher kamu.” Nina menoleh kaget mendengar ucapan Kevin.
Pria itu jarang sekali bicara, namun sekali bicara selalu sukses membuat Nina syok.
Sedangkan Sekar sebagai ibu Kevin menggelengkan kepala. Tak habis pikir bagaimana bisa Kevin yang selalu bertutur kata lembut padanya begitu ketus pada wanita. Bahkan wanita yang sudah pernah ia ajak menikah.
“Vin, kamu ini ada apa? Dendam kesumat sama Nina yah?” ejek sang ibu terkekeh.
__ADS_1
“Dendam apa sih, Bu? Aku hanya kesal saja. Apa-apa minta potong gaji. Memangnya berapa sih gaji ibu kasih ke dia?” tanya Kevin untuk pertama kalinya kepo urusan bisnis sang ibu.
“Tiga juta saja.” Dengan entengnya Sekar berucap.
Hal itu membuat Nina dan Kevin kaget bersamaan. “Apa? Tiga juta?” Suara keduanya menggema di dalam mobil saat itu.
“Bu, itu nggak tekor?” tanya Kevin.
“Bu Sekar, itu sangat banyak.” sahut Nina kemudian.
Enggan menjelaskan apa pun Sekar hanya memilih diam. Kevin tak habis pikir mengapa sang ibu begitu royal pada Nina. Bahkan tempat tinggal dan makan pun juga mereka tanggung. Sementara toko bunga yang di buka belum begitu ramai dan balik modal.
“Yang penting ibu nyaman kan, Vin?” Kembali Sekar bersuara setelah menyadari sang anak yang terus menatapnya.
Pulang dari rumah sakit, Kevin tak langsung membawa mereka ke rumah. Ia melajukan mobil menuju restauran yang berada lumayan jauh dari rumah mereka.
“Kita mau kasih sehat anakmu. Kita makan di luar dulu malam ini.” ujar Sekar yang sudah janjian dengan sang anak.
Nina pun memilih untuk diam saja. Ia tak ingin lagi mengutarakan niatnya untuk minta di potong gaji.
Hingga beberapa menit kemudian tibalah mereka di restauran yang tidak begitu mewah namun sudah sangat nyaman untuk makan.
Pria yang bersama Nina bukanlah pria yang hidup serba mewah meski mereka memiliki harta lumayan dari peninggalan sang ayah.
“Dimana Jhon, Vin? Sudah sampai atau masih lama? Biar ibu sekalian pesankan saja dia.” sahut Sekar dengan tenangnya.
__ADS_1
“Sebentar Kevin hubungi, Bu.” sahut Kevin.
Pria itu meraih ponsel dan menghubungi keluarga mereka yang memang berjanjian untuk makan malam bersama.
“Sebentar lagi sampai, Bu. Katanya Tante Indita dan Om Khalid juga ikut.” ujarnya memberi tahu sang ibu.
Sekar tersenyum senang. “Bagus itu. Lama kita tidak ketemu mereka sejak kebangkrutan perusahaan Om Khalid. Ibu juga penasaran dengan usaha mereka sekarang ini.” tutur Sekar mengingat jika Khalid adalah sepupunya.
Nina yang mulai kelaparan tak bisa menunggu lama kedatangan keluarga Sekar berusaha mengisi perutnya dengan beberapa dessert yang ada di sana.
Sekar kasihan melihat Nina menahan lapar.
“Nina, makan duluan saja tidak apa-apa kok. Bayi kamu itu pasti sudah sangat lapar kasihan dia.” pintah Sekar sangat mengerti.
Meski dulu saat mengandung Kevin, ia justru sangat sulit untuk makan. Selera makannya benar-benar tak ada sama sekali. Berbanding terbalik dengan Nina yang sangat mudah lapar.
“Tidak, Bu. Saya belum lapar kok. Hanya ini semuanya enak.” ujar Nina jujur sedikit berbohong.
“Semua itu di potong gaji kamu selama sebulan karena mahal.” sahut Kevin yang mengerjai Nina.
Mendengar ucapan Kevin, Nina seketika tersedak hingga batuk tanpa henti.
“Vin, kamu ini ada-ada saja sih!” Tegur Sekar.
“Selamat malam semuanya…” suara berat yang menggema saat itu membuaf Nina membulatkan mata seolah tak asing dengan suara itu.
__ADS_1
Lantunan kata saat ijab kabul mengingatkan Nina dengan seseorang. Gemetar tubuhnya merinding mengingat pria yang sudah membuat hidupnya sangat menderita.