
Kevin di pagi-pagi buta sudah tampak bergegas keluar dari kamarnya. Para wanita yang sibuk di dapur serentak memutar tubuh mereka kala melihat Kevin yang menggendong tas besar entah apa saja isinya. Pria itu tampak sangat buru-buru sekali. Dari raut wajah tampannya, Sekar dapat membaca jika terjadi sesuatu yang menakutkan.
"Bu, semua sudah aku amankan. Selama aku pergi kalian jangan ada yang keluar rumah. Di luar pengamanan sudah ada dua puluh empat jam. Aku harus berangkat sekarang juga." ujar Kevin memegang kedua pundak sang ibu. Di tatapnya lekat wajah wanita yang begitu ia cintai sejak Kevin pertama kali menatap dunia ini.
Manik mata Sekar tampak berkaca-kaca menatap wajah Kevin. Ia tidak akan bertanya apa pun pada sang anak setiap kali pergi bertugas. Hal itu sama yang ia lakukan pada sang suami. Sebab Sekar hanya kan berdoa sejak anaknya dan sang suami pergi. Berharap dengan tidak tahu apa pun ia akan tetap lebih tenang mendoakan kepulangan mereka. Selebihnya itu juga privasi kerjaan dari mereka yang harus membutuhkan ketenangan dalam bertugas. Jika membuat keluarga cemas otomatis mereka juga tidak akan bisa fokus saat bekerja.
"Vin, apa pun itu tetaplah pulang dengan utuh, Nak. Pulanglah demi Nina jika tidak bisa demi ibu." Hati Sekar saat ini begitu berat melepaskan kepergian Kevin.
Hanya anggukan kepala saja yang Kevin berikan usai ia mencium kening sang ibu. Pria itu mencium punggung tangan Sekar lalu beralih pada Nina yang berdiri menatapnya. Ia menghampiri hanya sekedar mengusap kepala Nina lembut. Lalu Kevin pun mencium punggung tangan Riana dan bergegas meninggalkan rumah. Kepergian Kevin mendapat tanda hormat dari beberapa pria yang ia sudah tugaskan berjaga di rumahnya. Kevin tahu kepergiannya akan menjadi celah bagi ayah Nina untuk datang menghancurkan Nina dan sang ibu.
Namun, bisa di pastikan semua itu tidak akan terjadi jika Kevin yang mereka hadapi. Semua trik peperangan telah ia kuasai dan untuk melawan orang desa seperti Faris tidak begitu sulit bagi Kevin kala membaca pikirannya.
"Bu, tenanglah..." Nina mengusap punggung tangan Sekar demi menenangkan wanita paruh baya itu.
Sejak kepergian Kevin, semangat tiga wanita itu di dapur mendadak hilang juga. Kevin pergi dengan keadaan sangat mendadak. Bahkan masa istirahatnya masih lama untuk kembali bekerja.
"Ibu hanya bisa berdoa terus menerus, Nina. Tapi kegelisahan yang ibu rasakan seperti inilah sejak dulu. Sejak ayah Kevin masih ada. Ia selalu pergi dengan harapan yang masih tanda tanya. Menjadi istri tentara memang tidaklah muda. Andai Ibu bisa memilih bekerja apa suami ibu. Ingin sekali ibu memilih yang lain. Pekerjaan mereka selalu membuat nyawa menjadi taruhannya." tutur Sekar mencurahkan isi hatinya selama bertahun-tahun.
Di luar dugaan, jika Nina pikir selama ini wanita paruh baya di depannya tampak baik-baik saja. Ternyata di dalamnya begitu rapuh. Ia bisa merasakan apa yang Bu Sekar rasakan. Baru memiliki rasa pada Kevin pun Nina sudah merasakan saat ini betapa ia takut dengan kepergian Kevin terlebih pria itu sangat buru-buru dan wajahnya begitu tegang.
Pelan Sekar pun menatap Nina sendu. "Nina, apa kamu sanggup dengan resiko menjadi istri anak ibu? Apa kamu yakin kamu bisa menyerahkan seluruh hidupmu untuk mengabdi pada suamimu? Apa kamu sanggup hidup dengan menghabiskan waktu yang sunyi seperti ibu?" Nina sukses menjatuhkan air matanya mendengar pertanyaan Bu Sekar yang sangat serius.
Selama ini wanita di depannya tampak selalu tenang berbicara dengannya. Berbeda kali ini yang membicarakan tentang kesiapan Nina menjadi istri Kevin.
"Saya siap, Bu." jawab Nina mantap.
Riana tersenyum bersamaan dengan Sekar. Keduanya memeluk Nina bersamaan lantaran sangat senang dengan Nina yang begitu tulus pada Kevin.
__ADS_1
Hari pertama mereka lalui dengan di rumah saja. Untuk sementara waktu toko bunga terpaksa harus di buka dengan karyawan Sekar. Sebab ia tak ingin membantah ucapan sang anak yang bisa berakibat fatal.
Di sisi lain, Kevin dan beberapa pasukannya telah siap memasuki helikopter satu persatu ke sebuah perbatasan kota yang cukup jauh. Mereka benar-benar memeriksa kelengkapan seragam dan berbagai alat pengaman lainnya.
Selama di penerbangan Kevin memberi arahan pada anggotanya, mereka semua tampak mendengarkan dengan sangat baik. Berbagi kelompok sembari membuka peta. Beberapa titik sudah mereka tentukan untuk menjadi tempat pertemuan. Dan masih banyak lagi yang mereka siapkan.
Beberapa waktu mereka lalui dengan cepat hingga pengantaran pada anggota pertama akhirnya mereka mendarat. Helikopter pun mengantar mereka sedikit jauh dari titik tempat mereka berbagi. Demi keamanan dari para musuh yang akan mengetahui keberadaan mereka.
"Ingat, jangan pernah turunkan ketinggian helikopter ini." sebuah peringatan dari Kevin yang di angguki pengendara benda berbaling-baling itu.
"Siap, Bang." sahutnya.
Kevin pun pergi dengan yang lainnya setelah mendapat pengantaran kedua. Kini tinggal tiga kali pengantaran oleh helikopter tersebut. Kevin mulai merangkak bersama yang lainnya untuk tiba di tempat tujuan.
Mereka saling memberi kode jika semua aman. Kevin adalah orang terdepan yang memimpin jalan mereka semua. Namun, saat di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba saja terdengar suara helikopter yang jatuh seketika.
"Cepat naikkan lagi helikkopter kita!" teriak salah satu tentara yang duduk di dekat sang pengemudi.
"Baling-baling kita seperti bermasalah, Bang. Saya tadi menghindari pohon itu." tunjuknya pada sebuah pohon tinggi yang sebelumnya memang ia perkirakan akan ia lewati dengan ketinggian yang lebih di atasnya.
Namun, sebelum mereka menaikkan jarak penerbangan semua terasa seperti jebakan. Pohon itu tumbang tiba-tiba dan membuat helikopter segera menurunkan jarak terbangnya. Ia pun mengambil jalan lain ingin terbang tinggi lagi setelah mendarat mengantar Kevin. Sayang, ia bisa merasakan kejanggalan di helikopter itu.
Ketegangan pun terjadi kala dari arah bawah terdengar suara tembakan menggema.
"Mereka di serang." Kevin berbicara dengan para timnya. Semua tampak bergerak cepat berlari sembari bersembunyi. Jangan sampai kepanikan membuat mereka terancam juga.
Bunyi tembakan terus terdengar saling berbalas hingga akhirnya Kevin mendapat sinyal meminta pertolongan dari tim yang masih berada di helikopter.
__ADS_1
Mereka mulai membantu menembak ke arah bawah helikopter untuk memembuat penyerang itu kalah. Sayang dengan banyaknya anggota yang Kevin bawa membuat musuh mereka berlari mencari tempat untuk bersembunyi. Mereka tak akan mampu jika melawan sekali gus anggota tentara itu. Senjata mereka tak sebanyak itu. Satu-satunya cara yang mereka mampu adalah meneror satu persatu dan membunuhny.
Satu hari terus mereka saling memburu, sementara Helikopter sudah tak bisa beroperasi saat ini.
"Ini harus kita perbaiki. Tapi waktu yang sudah mulai gelap rasanya tidak mungkin untuk kita perbaiki sekarang." Salah satu dari mereka berucap.
"Yasudah, kita tinggal di sini dulu untuk sementara." ujar sang pengendara helikopter.
"Wan, pikirkan baik-baik. Mereka sudah tahu kita di sini. Kau benar mengambil keputusan untuk tinggal malam ini di tempat yang mereka sudah tahu?" tanya Kevin menatap tak habis pikir dengan anggotanya satu ini.
"Tapi, Bang. Jika mereka merusak helikopter ini bagaimana kita bisa kembali?" tanyanya lagi yang nampak memikirkan kebrutaan orang-orang pedalaman di hutan itu.
"Helikopter akan segera di kirim setelah kita menyelesaikan misi di sini. Kau harus ikut tidak perlu kembali itu akan memancing mereka menyerangmu yang sendirian. Jejak kita sudah di tahu mereka." ujar Kevin.
Dengan banyak pertimbangan mereka semua pun mengikuti arahan Kevin yang memang tidak bisa mereka bantah. Apa pun perintah Kevin sebagai pimpinan di lapangan saat ini mereka harus siap. Tidak ada yang boleh memikirkan nyawa sendiri. Sebab itulah sumpah mereka untuk mengabdi pada negara.
Ramai-ramai mereka berjalan di hutan saat hari mulai gelap. Senjata terus terlihat siaga kapan pun ada penyerangan. Satu langkah pertama yang mereka buat adalah tempat tidur di alaskan dengan rumput yang mereka rebahkan. Tak ada tenda seperti biasa mereka berteduh di dinginnya malam. Sebab musuh yang mereka hadapi sangatlah bahaya dan sebisa mungkin untuk menyembunyikan diri sementara.
Tak ada suara sama sekali di antara mereka selain berbagi separuh tidur dan separuh menjaga keamanan. Makan pun dalam keadaan gelap dan sunyi. Suara apa pun harus sebisa mungkin mereka hindari. Seluruh keringat di tubuh rasanya menjadi air untuk mereka mandi secara alami.
Kevin terlelap dengan menelungkup berusaha menyembunyikan senjatanya di bawah. Masing-masing dari mereka memiliki cara untuk mengamankan diri mereka. Beberapa yang berjaga tampak menguap menahan kantuk. Namun, sebisa mungkin mereka menahannya demi menunggu waktu tidur berikutnya.
"Vin...Kevin! Kevin, awas!" Di sini di dalam kamarnya Sekar justru nampak menangis histeris terbangun dari tidurnya. Ia duduk dengan napas yang terengah-engah. Air mata berjatuhan kian deras di kedua pipi wanita paruh baya itu.
Ketakutan sejak pagi tadi membuatnya gelisah hingga bermimpi buruk tentang sang anak. Tepat pada pukul sebelas malam ia berdiri dari tempat tidur melangkah menuju meja di kamarnya. Di sana ada foto sang anak dan almarhum sang suami yang memakai seragam sama namun berbeda frame. Di usapnya lembut foto Kevin berganti mengusap foto sang suami di frame satunya.
"Ayah, cukup ayah yang pergi yah? Jangan biarkan anak kita juga pergi. Ibu mohon, Ayah. Biarkan Kevin menemani masa tua ibu. Dia satu-satunya peninggalan ayah yang membuat ibu bertahan sampai detik ini." Sekar menangis tersedu-sedu memeluk bingkai foto keduanya.
__ADS_1
Ketakutan beberapa tahun yang pernah ia rasakan tiba-tiba saja datang lagi kali ini. Firasat yang tak pernah melesat ketika Sekar merasa dadanya sesak seperti ada yang ingin memberontak.