
“Nina, mau kemana kamu? Sini.” Sekar yang melihat Nina hendak membalikkan tubuh buru-buru memanggilnya.
Nina menghentikan pergerakan dan hanya diam menatap keduanya dengan wajah linglung.
“Kamu mau kemana?” Lagi Sekar bertanya.
“Em…saya mau siap-siap pergi, Bu. Kevin eh maksudnya Pak Kevin sudah kembali dan saatnya saya pergi.” ujar Nina.
Mendengar itu Kevin masih acuh. Ia terus memakan kue dan mendengarkan perbincangan sang ibu bersama Nina.
Sekar pun menghilangkan senyum di wajahnya kaget mendengar Nina akan pergi. Ia buru-buru mendekat memegang tangan Nina. Tidak, Nina tidak boleh pergi. Ia tidak mau kesepian lagi.
“Nina, jangan pergi. Kamu mau pergi kemana? Di luar sana banyak orang jahat. Di sini saja temani ibu. Kita akan buka usaha berdua. Kamu banyak bakat pasti akan berhasil. Tetap di sini yah?” Pandangan Nina kini beralih pada Kevin yang menatapnya dengan datar.
“Ya Tuhan tatapan itu mengapa begitu tajam?” Nina menjerit dalam hati. Tatapan yang sama saat Kevin menemukan dirinya di hutan.
“Tidak, Bu. Terimakasih atas semuanya. Pak Kevin sudah berbaik hati memberikan saya tempat sementara dan mengenalkan saya dengan ibu. Sekarang saya…”
__ADS_1
“Tinggal di sini atau kau akan saya pulangkan ke desa?” Ancaman dari Kevin seketika membuat tubuh Nina membeku.
Bibirnya terbungkam rapat ketakutan bahkan wajahnya sudah pucat saat itu juga. Sekar tak suka mendengar ucapan ketus sang anak.
“Kevin, tidak boleh bicara seperti itu.” ujar Sekar menasihati sang anak.
“Saya tidak suka ada yang membuat ibu sedih.” sahut Kevin tak mau kalah.
Di sini Nina hanya menunduk tak berani bersuara apa pun lagi. Ingatan di kepalanya hanya tentang desa dan sang ayah yang kejam. Nina tidak ingin ia kembali ke sana.
“Ayo kita ke kamar saja.” Pelan Sekar menuntun tubuh Nina.
“Perkiraan istirahat satu minggu ternyata sudah harus pergi jauh lagi. Semoga ibu berumur panjang.” ujar pria tampan itu yang sangat merindukan momen kebersamaan dengan sang ibu.
Malam harinya mereka pun makan bersama dengan Nina di meja makan. Sejak ucapan Kevin siang tadi, wanita itu sama sekali tak berani mengeluarkan suaranya.
Sementara Sekar sudah membujuknya untuk tetap tinggal di rumah itu dan berencana akan membuka usaha bersama. Yah, usaha yang pertama adalah toko bunga. Sekar ingin membuat Nina bekerja dengannya dan itu secara tidak langsung membuat Nina akan bergantung padanya.
__ADS_1
Usia kehamilan satu bulan tentu saja belum terlihat sampai saat ini. Nina masih tak bisa menceritakan hal itu pada keluarga yang baru ia kenal.
“Vin… Ibu rencana akan membuka usaha toko bunga dengan Nina. Kamu setuju?” tanyanya pada sang anak.
“Benarkah, Bu? Bagaimana caranya?” tanya Kevin yang memang tidak mengerti dan merasa penasaran.
Sekar pun memberi tahu rencana yang sudah ia pikirkan dengan matang. Ruko peninggalan sang suami yang berada di pusat kota sudah habis masa sewanya oleh orang yang memiliki usaha kue. Dan ia akan memakai tempat itu setelah di renovasi. Panjang lebar Sekar menjelaskan bahkan ia mengatakan jika memiliki modal dari uang yang selama ini Kevin berikan padanya.
Terharu tentu saja Kevin tak menyangka jika sang ibu masih berpikir untuk menyimpan uang pemberiannya yang nyata untuk biaya hidup.
“Bu, uang yang aku kasih bukan untuk di tabung. Ibu harus habiskan uang itu untuk keperluan Ibu. Untuk urusan modal, aku akan berikan lagi nanti.” Sekar menggeleng tersenyum.
Sungguh ia senang mendapatkan anak sebaik Kevin.
“Tidak, Nak. Kamu tabung saja uang kamu untuk menikah. Siapa tahu kalian berjodoh.” Tiba-tiba kedua mata Kevin dan Nina membulat bersamaan. Mereka saling pandang tak percaya mendengar ucapan wanita paruh baya itu.
“Sudah jangan tegang. Itu kan kalau benar berjodoh. Ibu tidak memaksa kok. Lagi pula ibu kasihan dengan Nina kalau harus kamu tinggal-tinggal seperti ibu. Dia akan kesepian.” Lagi Sekar berucap dengan kekehan geli.
__ADS_1
Sejak saat itu Kevin beberapa kali mencuri pandang menatap Nina yang tengah makan dengan lahap. Perutnya yang mudah sekali lapar membuat wanita itu bertambah porsi makannya.