
Setelah akhirnya memutuskan untuk tinggal secara terpisah dengan orang tua mereka, akjirnya Efendi memutuskan untuk memberikan Radit dan Mira sebuah rumah sebagai kafo pernikahan mereka.
Rumah itu nggak jauh dari rumah orang tua Radit dan rumah mama Mita, letaknya fo tengah - tengah. Rumah yang di hadiakan kepada sepasang pengantin baru itu tergolong sangat mewah, dengan fasilitas yang kelewat lengkap.
"Papi, mami, apa ini nggak terlalu berlebihan?" tanya Mira kepada kedua mertuanya itu. Dia merasa nggak enak banget dikasih rumah semewah ini, padahal isinya cuman berdua doang.
"Enggak dong, justru menurut papi ini masih banyak yang kurang." kata papi menjawab omongan Mira.
" Masih kurang? Apaan?" tanya Mira, dia mulai khawatir, jangan-jangan mertuanya itu munaroh toko serba ada di rumahnya.
"Pembantu, kalian yakin nggak mau pakai pembantu?" tanya Papi.
"Iya, Mira, apa nanti kamu enggak akan repot mengurus rumah sendirian?" timpal mami.Mami selalu khawatir untuk urusan yang satu ini, iya nggak tega kalau sampai menantunya itu harus keteteran ngurusin rumah, suami sekaligus sekolah.
Mira ingat kata-kata Radit, alasan kenapa cowok itu minta untuk enggak ada pembantu di rumah itu. soalnya kalau ada pembantu bisa bisa hubungan mereka yang pura-pura akur ini akan ketahuan dan nggak menutup kemungkinan orang tua mereka itu akan menjadikan pembantu tersebut sebagai mata-mata.
"Untuk sementara kayaknya nggak perlu dulu deh mi, lahian kan kita nggak akan sampr ngebuat rumah kayak kapal pecah, cuma berfua foang ini." kata Mira.
"Hehehe, nanti kalau kalian dah punya anakn harus pake pembantu ya, atau tinggal di rumah mama aja, biar nggak kerepotan." sela mama Meisya.
Mira meringis mendengarnya , mamanya dan mertuanya ini kayaknya ngebet banget nyuruh mereka cepat cepat punya anak.
Mami dan mama membawa Mira berkeliling di setiap ruangan yang ada di rumah itu mulai dari dapur bersih, dapur kotor kolam renang umum yang berada di belakang kamar kamar tamu sampai ke kamar mereka sendiri kamar pengantin Mira dan Radit.
Nilai cukup ternganga melihat bagaimana bagusnya kamar itu, sepertinya ini dipersiapkan khusus. Design nya klasik dan bercampur dan minim sehingga kesan romantisnya dapat banget. perpaduan warna putih, coklat mudah dan ada pinknya juga.
__ADS_1
Selain takjub dengan design kamarnya, dia juga di buat terbengong - bengong dengan adanya kolam renang di area kamar itu, ini udah kayak tinggal di sebuah resort mewah yang sering ada di Bali. Kata mama kolam renang yang terletak di area private itu bisa semakin menghangatkan hubungan suami istri, maksudnya apa coba? Ckckck...
"Kamu suka. Mira?" tanya mami.
"Suka banget lah, Mi, ini sih luar biasa,"kata Mira, dia sampai nggak tau harus gimana memuji tempat ini.
"Syukurlah kalau kamu suka, mami ikut senang"
Pilihan papa Mira bener, mungkin hanya sedikit mertua seperti mertuanya ini di dunia. Baiklah luar biasa, bersama mereka udah kayak sama orang tua sendiri, enggak terlihat ada bedanya.
Jadi ini alasan kenapa Papanya sangat ingin dia menjadi menantu dari keluarga Effendi secepat ini? Pasti lantaran Papa takut, Radit keburu memiliki pilihan lain sehingga menolak untuk dijodohkan, papa emang punya perhitungan sendiri, itu semua untuk kebahagiaan Mira.
****
Setelah semua orang pulang, rumah Radit dan Mira jadi sepi. Tadi langsung mengajaknya ngobrol berdua di ruang makan. Ini adalah hari pertama mereka menjalani hubungan sebagai suami istri tanpa gangguan siapa-siapa. Kalau kemarin kan, mau ngobrol berdua secara pribadi itu susah banget, pasti orang tuanya pada kepo dan pengen tahu apa yang mereka omongin.
" Jadi, lo bebas pilih mau tinggal di kamar yang mana aja, kalau emang lu pengen di kamar utama Ya silakan, yang penting kita harus bersebelahan. Soalnya kalau tiba-tiba orang tua kita datang mendadak kita bisa langsung pindah ke satu kamar biar mereka nggak curiga"
Mira mendapat angin segar, sedikit lega karena ternyata Radit berpikiran sama dengannya, yaitu pisah kamar.
" Kayaknya kamar utama kita biarin aja kosong deh, nanti kalau orang tua kita datang baru kita pakai. Kita pakai kamar tamu aja yang ada di kanan dan kiri kamar utama. Tiga kamar itukan balkonnya tembus, jadi sewaktu-waktu jika orang tua kita dateng kita bisa menyelinap ke kamar utama sama-sama tanpa perlu takut ketahuan, lebih aman buat kita" kata Mira ikut mengatur strategi.
Radit manggut manggut. " Cemerlang! gue setuju" kemudian dia melanjutkan,
" Terus untuk urusan Asmara, gue nggak akan ngelarang lo buat berhubungan sama siapapun. Kalaupun nantinya lo jatuh cinta sama orang lain, gue setuju kalau kita harus berpisah."
__ADS_1
Mira tersenyum miris." buat gue, pernikahan itu cuma sekali seumur hidup Radit, gue nikah sama lo sekarang bukan hal yang main-main Gue ngikutin n' kemauan orang tua gue dan gue nggak akan ngecewain mereka. tapi kalau emang kenyataannya itu terjadi sama lo, Christian kok kalau nanti udah nikah lagi tapi..." Mira menetap Radit lebih serius lagi." jangan ngebuat gue jadi janda" lanjutnya sambil terkekeh.
" hahaha, ok!" Radit tertawa.
"So, kita hanya akan jadi sepasang suami istri di depan keluarga kita aja, kan?"tanya Radit
" yup!" jawab Mira.
"Gue punya satu permintaan lagi" minta Mira sambil menatap Radit dengan Tatapan yang cukup dalam.
"Apa?"
"Gue tahu kalau gue ini istri lo dan lo berhak untuk ngelakuin apapun sebagai seorang suami. Tapi gue mohon sama lo, dia belum siap untuk kita ML, karena buat gue hubungan **** itu harus didasarkan atas cinta, bukan cuma nafsu atau paksaan doang" wajah Mira sangat memelas.
Sejujurnya canggung untuknya ngomongin hal semacam ini, apalagi sama seorang cowok yang notabenenya adalah suaminya sendiri, yang jelas aja berhak kalau pengen ngajakin dia ML.
Radit menatap Mira, seulas senyum geli tersungging di bibirnya.
" Gue janji, gue nggak bakalan menyentuh lo sampai kita berdua benar-benar siap, gue juga nggak mau kok berhubungan hanya karena nafsu doang." katanya dengan serius.
Mira menghembuskan nafas lega, selalu tersenyum manis pada suaminya itu.
"Tapi lo harus ingat, harus tetap ngejalanin tugas lo sebagai seorang istri, yaitu beres-beres rumah, nyuci, dan lain-lain, karena gue tipe orang yang suka kebersihan."Kata Radit
Mira langsung merengut. " Iyaaaa, emang ini kan tujuan loh enggak ngebolehin rumah ini ada pembantunya? Selain lo nggak mau ada mata-mata, lu juga mau sekalian, jadiin gue pembantu. Iya kan? Ngaku aja deh lo...." rutuk Mira
__ADS_1
Tbc