
"Dit, lo nggak balik?"tanya Rendy.
"Bentar lagi..." jawab Radit.
Radit kembali melanjutkan bermain game nya, ya Sekarang Radit sedang berada di rumah Rendy, rasa nya ia benar - benar enggan untuk bertemu dengan istrinya itu.
Kalau masalah ketemuan atau sekeder pegangan tangan, Radit masih bisa memaafkan nya, tapi ini Ciu man. Istri nya berciu man dengan pria lain di belakang nya, suami mana coba yang bisa menerima itu.
Rendy menatap Radit dalam diam, ia benar - benar sudah kehabisan cara untuk membujuk Radit untuk pulang.
Sebenar nya, Rendy juga tidak menyangka kalau Mira berani berbuat seperti itu, yang jadi pertanyaan nya, kapan dan di mana mereka melakukan itu, seingat nya Rendy selalu mengawasi Mira selama hiking kemaren.
Dan kenapa Clara bisa mendapat kan foto mereka, apa ini ada hubungan nya dengan Clara?... Pikir Rendy.
"Dit, gue tau elu marah banget sama Mira, tapi seenggaknya elu jangan siksa dia kaya gini dong, dari kemaren elu mengabaikan nya, apa elu nggak kasihan?" tanya Rendy.
"Elu bisa diam nggak!! Buat apa kasihan sama seorang pengkhianat. Sekarang gue tanya sama elu , misalnya Tiara yang berbuat kaya gitu, apa elu bisa maafin dia?" tanya Radit kepada Rendy.
Seketika Rendy terdiam, ia benar - benar tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Jujur jika ia di posisi Radit, entah apa yang akan terjadi, mungkin surat cerai sudah di layangkan nya. Tapi lihat lah Radit, ia hanya diam dan tidak melakukan hal - hal yang aneh, jangan kan menceraikan Mira, menyentuh sehelei rambut pun tidak.
"Kenapa diam? Gak bisa jawab kan elu. Makanya nggak usah sok - sok urusin gue. Asal elu tau ini kepala gue, rasa mau pecah tau nggak lo...."kata Radit melempar stik ps nya ke atas meja yang ada di depannya.
"Gue merasa nggak becus sebagai suaminya."kata Radit dan tanpa di duga oleh Rendy, Radit sampai meneteskan air matanya.
"Sorry man, gue nggak udah nggak bisa ngertiin elu. Elu benar, kalau gue yang ada di posisi elu, ntalah gue nggak bisa bayangin, akan seperti apa kejadiannya..."seru Rendy.
****
Keesokkan pagi nya, lagi - lagi Mira tidak menemukan Radit di rumah, ia sudah mengecek semua kamar dan ruang yang ada di rumah mereka taoi Mira tidak menemukan jejak kepulangan dari suaminya itu.
"Non Mira lagi nyari apa?" tanya si mbok, yang melihat Mira seperti sedang kebingungan.
"Mbok, tadi malam Radit pulang nggak?" tanya nya
"Hmm.... Seingat mbok nggak deh Non,"jawab Mbok
"O .. Gitu ya mbok, yaudah aku siap - siap dulu ya mau ke kampus." kata Mira melangkah hendak naik ke atas, tapi seketika ia pun menghentikan langkah nya.
__ADS_1
"O iya mbok, yang mindahin aku ke kamar siapa ya?" tanya Mira penasaran.
"Itu.. Itu non Mira sendiri yang jalan keatas sendiri."jawab mbok
Mira menatap pembantu nya itu tidak percaya."Masa sih mbok?"tanya Mira memastikan .
"Iya, non Sendiri yang jalan ke atas." kata mbok Darmi yakin.
Sebenarnya Mira sangat tidak yakin dengan jawaban dari mbok Darmi, tapi ia malas untuk memperpanjang nya.
"Yaudah aku ke atas ya."Mira pun berlalu naik ke atas.
****
Di kampus Mira terlihat snagat lesu, bagaimana tidak sedari semalam ia belum ada makan apa - apa dan di tambah lagi tidurnya yang terbilang kurang.
Tiara dan Keisya saling pandang, mereka sangat kasihan dengan kondisi sahabat mereka yang terlihat sangat kacau dan berantakan itu.
"Mir... Elu gak mau cerita apa gitu sama kita?"tanya Tiara.
"Apa yang mau di ceritain, sekarang ini gue benar - benar udah hancur banget" Keluh Mira.
"Elu yang kuat dan sabar ya. Sebenarnya gimana ceritanya, elu sama Yoga bisa ciu man gitu saat di hiking kemaren?" tanya Keisya yang sudah menahan rasa penasarannya dari kemaren.
"Iya Mir, kita nggak nyaka hal itu terjadi, dan kita benar - benar nggak nyangka, elu kok bisa sih berbuat seperti itu." kata Tiara dengan nada kecewa.
"Hiks... Gue minta maaf, tapi benaran, yang di foto itu nggak seperti yang kalian lihat."kata Mira.
"Maksudnyan.." tanya Tiara.
"Sebenarnya saat itu, saat kita ngumpul di api unggun itu, gue yang merasa cuaca saat itu dingin banget, makanya gue putusin untuk kembali ke tenda buat ambil mantel." kata Mira menjeda ucapannya.
"Terus?..."tanya Tiara penasaran.
"Pas gue keluar dari tenda, ternyata si Yoga ngikutin gue dari belakang..."
"Ngapain dia ngikutin elu?"potong Keisya
__ADS_1
"Ih.. Jangan di potong dong Kei.."protes Tiara
"Maaf - maaf, hehe..." ucap Keisya cengengesan.
"Lanjut Mir!!" suruh Tiara
"Awalnya, katanya dia mau ngomongin sesuatu hl yang penting, jadi karena penasaran, gue ijinin dan kasih dia waktu buat bicara."
"Dia bilang apa?"
"Dia nembak gue, otomatis gue tolak dong secara gue udah punya Radit, lagian gue juga nggak ada rasa apa pun sama dia. Saat itu juga gue langsung nolak, dan hendak berlalu pergi meninggalkan dia. Tapi, dia nahan tangan gue dan dengan gerakan cepat dia men- ci-um gue"kata Mira menjelaskan kronologi kejadiannya secara singkat.
"WHAT dia nembak elu!!" teriak Keisya hebo
"Ihh... Apaan sih elu Kei, berisik tau nggak"seru Tiara.
"Terus fotonya? Kok bisa ada foto yang di kirim ke Radit?" tanya Tiara.
"Itu yang bikin gue bingung, padahal saat itu, gue yakin banget di sana cuma ada kita berdua aja."jawab Mira.
"Berarti, ada yang sengaja pengen ngebuat hubungan elu dan Radit hancur."ujar Tiara.
"Tapi siapa? Perasaan gue nggak punya musuh deh." tanya Mira.
"Hmmm... Siapa lagi coba yang berani ngelakuinnya, selain nenek lampir Clara."kata Keisya.
"O iya Mir, pasti dia tu..."saut Tiara.
"Ntalah, gue sebenarnya udah curiga sama dia tapi gue nggak punya bukti nya." ucap Mira.
"Udah, kalau yang itu nanti ajaj kita pikirkan, yang jelas sekarang kamu urus urusan elu dengan Radit"saran Tiara
"Iya, benar Mir, mending sekarang kita pikir bagaimana cara nya agar elu dan Radit baikan" ujar Tiara.
"Itu yang bikin gue bingung, gue nggak tau harus gimana buat dia memanfaatkan nya.
"Gue punya Ideh, gimana kalau elu pura - puea cuek dan abai sama dia, dan kalau perlu elu nginap aja di di rumah nya Tiara atau kalau nggak di rumah gue."saran keisya.
__ADS_1
Tbc