
Satu minggu berlali sejak hilang nya Mira. Semua orang mulai frustasi, terlebih lagi Radit, dia sampai mengutuk diri nya sendiri karena mengabaikan Mira selama ini.
Radit udah melakukan semua cara untuk bisa menemukan istri nya itu. Mulai dari melapor ke polisi, tapi belum ada perkembangan apa pun. menyebarkan info orang hilang ke berbagai media, tetapi nggak ada titik terang.
"Dit, kamu sebaik nya istirahat dulu, Mami tau kamu udah capek banget." Mami mengusap rambut Radit dengan penuh kesedihan. Gimana nggak sedih, menantu kesayangan nya hilang. Di tambah lagi anak semata wayang nya terlihat seperti orang yang nggak punya semangat hidup. kalau di tanya pulang sebentar untuk menanyakan perkembangan, selebih nya dia menghabiskan waktu siang dan malam untuk mencari Mira.
" Mami, Terus kabarin Radit ya kalau ada perkembangan tentang Mirah, sekecil apapun itu tolong kabarin aku secepatnya." pinta Radit kepada Mami nya, dengan nada suara lemah. Dia mencoba bangkit dengan susah payah, sehingga sempoyongan.
tapi langsung bergerak memapah Radit yang nyaris pingsan." Kamu jangan bandel! Ayo istirahat. Papi yakin selama seminggu ini kamu pasti nggak makan, iya kan?" kata papi tegas, dari raut wajah nya terlihat jelas kalau dia sedang mengkhawatir kan putra sulung nya itu.
Air mata mami menetes, pilu rasa nya melihat kondisi anak nya seperti ini.
"Nggak ada guna nya kamu menyalah kan diri sendiri seperti ini, Dit. Kamu memang salah, itu nggak bisa di ubah. Tapi apa guna nya menyiksa diri sendiri? Apa kamu pikir kalau kamu sakit, kamu bisa mencari Mira?"Lanjut papi lagi bijak.
"Papi benar, Dit. Udah lah, kamu istirahat dulu, makan dan mandi. Setelah kamu merasa fit lagi, silahkn cari Mira. " Timpal mami.
"Tapi..."
"Dit! Kamu hanya butuh istirahat beberapa jam. sudah banyak orang yang mencari Mira, Bahkan pihak kepolisian pun nggak pernah berhenti melakukan pencarian. Teman - teman kamu. Saudara - saudara kita, semua ikut mencari. Jadi kamu jangan terlalu cemas, Mira pasti di temukan." papi menekan bahu Radit agar kembali duduk.
Radit terduduk lesu, mata nya cekung dan sedikit ada lingkaran hitam. Rambut nya yang biasa telihat keren, berubah menjadi lepek, pakaian yang di kenakan pum entah sudah berapa hari nggak di ganti.
"Adit, takut, Mi, Pi." Akhir nya kekuatan nya itu meleleh. Radit menangis, untuk pertama kali nya.
Mami langsung memeluk tubuh lemah Radit, ikut menangis dengan getir nya.
"Mami tau, mami ngerti, nak. Kamu percaya sama mami, Mira pasti baik - baik saja. Dia pasti kembali sama kamu nak." kata Mami menguatkan Radit.
Radit membalas pelukan mami nya seperti anak kecil yang sedang ke takutan. Dia begitu rapuh nya hingga siapa pun bisa melihat itu.
****
Den Radit, bangun. Aden, ada kejutan di bawah, untuk Aden."Bik Minah membangun kan Radit yang sedang tertidur pulas.
Radit sedikit mengerjap, rasa nya masih sangat mengantuk. Apa lagi, sejak seminggu belakangan ini, dia nyaris nggak pernah tidur normal dan teratur.
__ADS_1
"Den, ayo turun. Papi dan Mami Aden sudah menunggu." senyum sumringah bik Minah menadakan ada sesuatu yang spesial.
Radit duduk dengan malas, dia nggak begitu ingat ada hari istimewa apa di tanggal ini sehingga orang tua nya menyiapkan kejutan di pagi hari. Terlebih, dia sam sekali nggak tertarik.
"Den, ayoooo" bik Minah menarik tangan Radit dengan paksa.
Radit hanya bisa menurut dan mengikuti langkah kaki bik Minah dengan sempoyongan. Satu demi satu anak tangga yang dia turuni di hiasi oleh kelopak bunga mawar merah.
"Ini ada apa,Bik?"tanya Radit heran.
"Kejutan ." jawab bik Minah sambil terus menyeret Radit turun.
"Bik, kita lagi nggak berada dalam situasi dimana rumah ini harus merayakan sesuatu. Jadi buat apa..." kata - kata Radit terhenti tatkala mata nya melihat seseorang.
Seseorang yang sangat dia rindu kan seminggu belakangan ini. Seseorang yang membuat nya nyaris gila karena mecari kesana kesini. seseorang yang sangat dia.... Mira?
"Mir? Mira?"tanpa ba bi bu, Radit langsung mendekap erat tubuh istri nya itu.
"Kamu kemana aja? Kamu kenapa pergi?" tanya Radit.
Radit melepaskan pelukan nya. " Kamu jangan hukum aku dengn cara kaya hini . Aku hampir gila tua nggak?!" kata Radit.
Mira tertawa kevil.l Heheh. Maka nya jangan sok nggak butuh aku, kamu mengabaikan aku begitu lama bnaget. Emang aku pating, hingga bisa kmau abaikan gitu aja."seru Mira
"Hahaha..."Suarabtawa papi menggema di ruangan itu. Mami juga ada di situ.
"Mam, Pap, kapan Mira pulang? Di pulang sendiri?" ta ya Radit bertubi - tubi
"Dit, sebaiknya kamu ajak Mira ke kamar. Dia baru aja nyampe, keliatannya capek banget. pertanyaan - pertanyaan kamu itu pasti bakalan di jawab Mira, tapi nanti." kata Mami debgan lembut.
Radit menuntun Mira ke atas. Dia begitu bahagia nya hingga rasa nya lupa bagaimana dia pernah bersedih saat Mira nggak ada.
Tapi...
"Dit, bangun nak, bangun!" seru Mami, membangun kan Radit.
__ADS_1
Radit langsung terbangun daei mimpinya. Dia duduk dengam cepat dan melihat ke segaal arah. Di dalam kamar nya, hanya ada dia dan mami nya di situ.
"Mi, Mira mana?" tanya nya langsung.
Alis mami berkerut, dia terlihat sangat. " Dit, kamu mimpiiin Mira ya?"tanya Mami
Radit langsung terperangah, Mimpi? Jadi, tadi hanya mimpi? Tapi kenapa rasa nya begitu nyata?. Jafi, tadi itu... Mira? Seketika itu juga raut wajah Radit berubah muram.
Mami mengusap rambut Radit. "Mira pasti kembali, percaya sama mami.
Tok Tok Tok
"Misi Den, nyah. Di bawah ada temen Aden yang nyariin." kata bik Minah masuk beberapa langkah setelah mengetuk pintu kamar Radit yang emang udah terbuka.
"Siapa bik? "tanya Radit lesu.
"Cewek, nama nya..." bik Minah sedikit berfikir. " Serena" lanjut nya.
"Serena? Mami seperti nya tak asing dengan nama itu." seru mami.
Tanpa menjelaskan ingatan mami nya itu, Rafit langsung turun dari ranjang. Dia yakin,ada sesuatu ya g emang penting sampai - sampai Serena datang pagi - pagi gini.
Sesuatu yang membuat Radit berharap kalau itu tentang Mira. Walau kecil kemungkinan Serena membawa kabar yang baik, tapi apa pun itu Radit sangat ingin tau.
"Ada apa Ren?" tanya Radit begitu meihat Serena duduk di sofa sambil bermain ponsel.
Serena langsung berdiri, wajah nya terlihat khawatir. Buru - bur dia mendekati Rafit dan memeganga tangan cowok itu.
"Dit, gue punya informasi tentang Mira." kata Serena.
"Apa ?"Radit langsung menguncang kedua bahu Serena.
"Elu langsung ikut gue aja.." ajak Serena.
"Ayo..." Kata Radit tanpa pikir panjang..
__ADS_1
Tbc