
Mira dan Radit berbaring di atas rumput yang berada nggak jauh dari pesta yang sedang berlangsung.
Mereka berdua sengaja melarikan diri dari pesta lantaran terlalu lelah untuk terus berdiri, tapi Terlalu Sayang kalau harus pulang di momen yang hanya akan terjadi sekali seumur hidup ini.
Mereka pun menyelinap ke taman dekat gedung yang hanya diterangi beberapa lampu taman dan cahaya Bintang serta bulan.
"Dit, Aku berharap kita bisa selamanya sama-sama kayak gini . Sampai rambut kita memutih , kulit kita keriput , gigi kita ompong dan pendengaran kita mulai berkurang " kata Mira dengan sepenuh hati .
"Nggak mau !" kata Radit tanpa basa-basi . Mira menoleh dengan ekspresi marah pada Radit .
"Lah kenapa ? kamu nggak mau menua bareng aku ?" kata nyerah cemberut .
"Ya enggaklah, kalau kamu udah sejelek itu." Mira tambah merengut mendengarnya
"Ihhhhhh, semua orang juga pasti jelek kalau udah tua, Emangnya kamu yang nggak bakalan tua?" tanya Mira yang mulai kesal.
" Hahaha " Radit tertawa geli karena cara bicara Mira sangatlah polos . Lalu ia merubah ekspresinya menjadi serius, digenggamnya tangan Mira yang ada di sampingnya .
" Aku bukan cuma akan sama kamu sampai kita menua . Tapi aku bakalan sama kamu sampai nafasku ini berhenti berhembus ." ujar Radin .
Mira tersenyum bahagia, dia membalas genggaman tangan Radit lebih erat.
Karena terbawa suasana, wajah mereka berdua pun semakin lama semakin mendekat, bibir Radit ******* lembut bibir Mira.
Deg deg deg deg. Meski sudah sering banget ciuman sama Radit, tapi bagi Mira ini selalu seperti yang pertama. Dia sulit sekali mengontrol jantungnya yang berdetak cepat tiap kali suaminya itu mendekatinya.
Ciuman Radit turun ke leher Mira, tapi nggak lama karena Mira langsung menghentikannya.
" Dit, jangan..." tolak Mira.
"Kita bukan lagi di rumah, ini lagi di tempat yang terbuka" sambungnya mengingatkan Radit.
"Emang aku mau ngapain? Hmmmm, dasar kamu aja pikirannya yang udah kesana." ledek Radit
Seketika Wajah Merah bersemu merah,"Ih, enggak! aku nggak mikirin apa-apa, aku cuma..."
" Hahaha"
****
__ADS_1
" Radit, jangan diberantakin lagi, Aku capek tahu!" Mira menggerutu saat Radit lagi-lagi meletakkan CD gamenya di sembarangan tempat. Padahal baru 5 menit yang lalu Mira ngeberesin semuanya.
"Kamu kalau terus-terusan kayak gini ntar PS4 nya aku buang!" ancam Mira
"Buang aja, aku bisa beli lagi yang baru." jawab Radit dengan matanya yang tetap fokus ke layar TV. Dia cuek meski udah 1 jam ini istrinya ngomel-ngomel soal kebersihan rumah.
Pluk!
Sebuah kotak tisu melayang ke kepala Radit. Rafit menoleh geram, " Mira Sakit tau!" serunya mengaduh tak terima.
"Awas aja, selesai main bakal aku bales kamu." rutuk Radit. Dia kembali fokus pada perminan game nya
Mira kembali ke ruang tengah, tempat dimana Radit sedang asyik bermain. dia terlanjur kesal pada suaminya itu.
"Kamu nggak usah makan, aku nggak akan masak buat kamu!" katanya dengan nada tegas.
"gampang, tinggal delevery" jawab Radit santai
Alis Mira bertaut, bibirnya mengerucut. "Baju - baju kamu nggak bakal aku cuciin lagi!" kata Mira lagi.
"Ntar aku bawa ke loundry, lagian kamu nyuci nya juga nggak bersih" balas Radit.
"Yaudah ntar aku ngomong sama tembok aja." balas Radit.
"Ihhhh, awas ya...!" Mira langsung membawa gagang sapu ke arah Radit. Dia memukuli Radit tanpa ampun.
"Mir, apaan sih, Mir, aw. aduh, eh terus lu ya?." Radit panik dan mulai menghindari Mira. Dia merasa sakit beneran lantaran pukulan Mira bukanlah sekedar main-mainan atau bohong-bohongan.
"Minta ampun gak?" tanya Mira sambil terus memukuli Radit.
"Aku nggak salah pun, jadi buat apa minta ampun"kata Radit.
Mendengar itu, Mira bertambah naik darah, dia semakin memukuli Radit dengan brutal.
"Aku laporan polisi lo kamu ini KDRT tahu nggak" ancam Radit.
"Aw!! Mir udah berhenti napa?" Radit terus mencoba menghindari pukulan dari istrinya itu.
Mira bukannya berhenti tapi malah semakin kuat dan menggila memukuli Radit.
__ADS_1
Saat perang antara Mira dan Radi sedang berlangsung, tiba-tiba tanpa diduga para orangtua mereka datang berkunjung, para orang tua terdiam dengan ekspresi terpelongo menyaksikan keributan mereka.
Radit dan Mira Nggak sadar kalau orang tua mereka udah hampir 5 menit berdiri disitu memperhatikan mereka.
"Ngeselinnnnnn" Mira melampiaskan emosinya dengan menambah kekuatan dari pukulannya. Mama Mira yang khawatir langsung berlari dan menghentikan anaknya.
"Mira, apa-apaan ini?" tanya Mama
"Mama?" Mira dan Radit sama-sama kaget. Mereka langsung berhenti berulah. Mira merasa malu sekali karena kedua mertuanya ada di situ juga. Apalagi dia yakin banget pasti penampilan lainnya terutama rambutnya ini sedang acak-acakan sekarang.
Sementara Radit, dia merasa nggak enak karena Mama mertuanya ada di situ." mama, mami, Papi, Kalian kapan datang?" tanya nya berbasa-basi.
"Aduhhh, kalian kenapa bertengkar terus sih?.." tanya mami dengan nada khawatir.
"Radit tuh Mi, kerjaannya cuman berantakin rumah doang, Mira kan capek beresin nya mi!" kata Mira mengadu pada ibu mertuanya itu.
Mami langsung mendelik pada Raditnyang memasang muka masa bodoh." Dit, kamu sebagai suami bantuin Mira dong ,bukan malah menambah kerjaan dia" marah mami.
"Mam, Radit itu nggak pernah maksa dia buat beresin rumah. udah biarin aja nggak papa, nggak masalah kok" jawab Radit seadanya.
"Rumah kotor di diamin? Kamu mau kita semua disini kena penyakit karena nggak jaga kebersihan?" Mira langsung protes
"Ya udah berarti itu maunya kamu kan, Jadi jangan salahin aku dong kalau kamu capek!." kata Radit tanpa beban.
"Tuh Ma!" Mira melempar Radit dengan bantal sofa" dia itu egois banget kan?"
"Ehhhh, udah udah. Kalian ini kayak anak kecil aja" Mama menarik Mira dan mengajaknya untuk duduk di sofa Mami dan papi pun ikut duduk begitu juga dengan Radit
"Mama sama mertua kamu udah mutusin kalau kita akan pekerjakan pembantu rumah tangga di rumah kalian ini" lalu,
"Ini penting biar kalian nggak selalu berantem cuman karena urusan rumah tangga" kata mami
"Iya benar Mir, Dit. Lagian kalau ada yang bantu-bantu di rumah Kan lebih enak, Kasihan juga Mira capek kalau harus ngurusin semuanya sendiri ya kan." tambah mami
Mira dan Radit nggak langsung menjawab, itu artinya mereka berdua setuju dengan keputusan orang tua mereka.
Toh Dulu mereka Menolak adanya pembantu rumah tangga lantaran Mereka takut ketahuan kalau mereka nggak sekamar dan cuman pura-pura bahagia di pernikahan mereka ini.
Tapi sekarang kan mereka udah benar-benar bisa saling menerima status pernikahan ini, jadi ya buat apa lagi main rahasia-rahasiaan ya kan
__ADS_1
Tbc