Matched? Married Young?... Oh OMG...

Matched? Married Young?... Oh OMG...
Bab 6


__ADS_3

"Radit benar ma, Mira nggak akan nyaman di sekolah kalau sampai semua orang tau dan akan mempermasalahkan soal pernikahan Mira, hal kayak gini kan di luar batas wajar. Jadi kalau emang kalian nggak bisa menunggu hingga kami lulus SMA , maka dari itu tolong di rahasiakan dulu." ujar Mira.


Tante Rasti yag merasa nggak tega melihat Mira tertekan seperti itu, langsung berniat membantunya.


"Iya, mbak, aku rasa juga kita nggak bisa seenakknya mengadakan sebuah pesta pernikahan besar - besaran untuk anak yang masih SMA lainnya yang bisa jadi akan mengikuti jejak mereka nantinya." kata tante Rasti membuka pikiran tiga orang yang masih berada dalam pemikiran koservatif itu.


Tante Rasti adalah seorang psikolog, jadi dia tau betul tentang permasalahan seperti ini.


Mama dan kedua orang tua Radit mangut -mangut mengerti. Akhirnya, kesepakatan itu diambil jalan tengahnya, yaitu pernikahan itu akan di rahasiakan. Resepsi akan di adakan secara sederhana, yang di undang hanya pihak keluarga dan kolega rekan bisnis yang memungkinkan tidak akan membocorkan soal pernikahan ini.


Nanti, setalah mereka berdua lulus SMA, maka resepsi yang sebenarnya baru akan di laksanakan.


"Besok. kalian berdua harus melakukan sesi pemotretan ya, mami sama papi sudah buat janji denan pihak WO nya." lagi - lagi mami Radit yang mengatur segalanya.


"Aku kan sekolah ma?" kata Mira pada mamanya, dia berharap mamanya akan mendukungnya agar pemotretan itu di undur dulu.


"Besok mama, akan mengizinkan kamu ke pihak sekolah, lagian nggak ada ujian kan? Jadi kamu tenang aja" kata mama


"Oke... Ini hebat" pikir Mira.


"Besok itu jadwal kalian padat loh, selain kalian harus pemotretan,kalian juga harus ke designer baju pengantin yang udah mami dan tante pesan, soalnya ini waktunya agak mepet. Jadi, semuanya harus di lakukan dengan buru - buru" ujar Mami Radit lagi.


Mira dan Radit saling pandang, mereka berdua nggak nyangka kalau ternyata semua persiapan pernikahan itu udah benar - benar diatur, bahkan sebelum mereka berdua tau bakalan di nikahin.


"Oh ya, mi, satu lagi." kata Radit memotong pembicaraan sebelum pembicaraannya terlanjur jauh.


"Setelah menikah nanti, Radit mau tinggal di rumah kita sendiri, cuma berdua." katanya melanjutkan perkataannya.


Satu - satunya orang yang plaing shock mendengar hal itu adalah Mira.

__ADS_1


"Gila, mana bisa dia mutusin hal kayak gini sendirian, harusnya kan dia nanyain ke gue dulu!" pikir Mira.


"Ma, Om dan Tante, Mira mau ngobrol berdua dulu ya sama Radit." kata Mira meminta izin.


Tanpa menunggu respon dari Radit lagi, dia langsung menarik tangan cowok itu dan mengajaknya yang di pastikan nggak akan ada yang dengar obrolan mereka nantinya, dapur.


"Apaan sih lo tarik - tarik" sentak Radit sambil melepaskan tangannya.


"Terpaksa, lo kira gue sudi megang - megang tangan elo?!" bentak Mira.


"Gue mau ngomong sama elo!"


"Ya ngomong aja! Ngapain nyepiin gue disini?" tanya Radit


"Lo apa - apaan sih tadi bilang kalau kita bakalan tinggal di rumah sendiri? Lo kok nggak nanya ke gue dulu, mau atau nggaknya gue. Jangan mentang - mentang lo cowok terus elo bisa atur semuanya seenak jidat lo ya.."Mira celingak - celinguk ke kanan dan ke kiri, takut ada yang menguping pembicaraan mereka.


"Heh, gue pangen pisah rumah dari orang tua itu karena gue nggak mau nantinya kehidupan kita di atur - atur sesuai ke ingin mereka, emang elo mau disuruh kita tidur sekamar? Kalau kita tinggal sendiri, seenggaknya kita bisa privasi masing - masing" jelas Radit.


"Makanya punya otak tu di pake!" sindir Radit sambil meletakkan jari telunjuknya ke kepalanya sendiri, menunjukkan bahwa betapa bodohnya Mira.


Mira dan Radit kembali ke ruang tamu menemui kedua orang tua mereka yang sudah menunggu sejak tadi. Disana, mereka kembali berpura - pura kalau hubungan mereka baik - baik saja alias nggak terlihat seperti dua orang yangsaling membenci apalagi bermusuhan.


"Ma, tante, Om, Mira setuju dengan Radit, kita berdua memutuskan untuk mandiri dan tinggal di rumah kita sendiri." kata Mira memberi tahukan.


Mama Mira nampak kecewa, beliau berharap kalau Radit dan Mira tinggal di rumahnya aja karena emabg rumah itu sepi, nggak ada siapapun kecuali pembantu.


"Kamu yakin Mir?" tanya mama


Mira mengangguk mantap, walau begitu, hatinya juga ciut. Mira nggak bisa membayangkan bagaimana dia bisa berpisah dari sang mama, walau dia jutek, dia juga anak yang manja sebenarnya.

__ADS_1


Waktu dia nginep di rumah Kesya dan Tiara aja, Mira nggak betah dan pengen banget cepat - cepat pagi terus balik ke rumahnya lagi. Tapi ini, dia bakalan tinggal bersama dngan suaminya walaupun dia nggak mau.


"Meisya, kamu tenang aka, Mira sama Radit kan masih tinggal di kota ini, jadi kita masih bisa bertemu dengan mereka, dan sekali -kali kita bisa menginap di rumah mereka, iya kan Mira, Radit?..." mami Radit berusaha untuk menghibur mama Mira yang sedang di landa dilema.


"Iya ma, Mira bakalan sering main kesini kok, janji." Kata Mira ikut membujuk mamanya.


Mama akhirnya merasa tenang, beliau tersenyum sambil mengangguk rela melepaskan anak semata wayangnya itu, untuk membangun masa depan dengan keluarga kecilnya.


Mempunyai anak perempuan memang beginilah resikonya, semua orang tua harus siap ketika saatnya nanti sang anak di bawa pergi oleh suaminya.


"Mira, juga tadi bilang, dia nggak mau di rumah kita nanti ada pembantu, soalnya kita cuma tinggal berdua, jadi semuanya kita bisa urus sendiri dan dia pengen jadi istri yang baik dan bertanggung jawab untuk mengurus suami." kata Radit lagi.


Mira langsung menoleh pada Radit, dia pengen banget protes tapi nggak kuasa,


"Sialan! Dia manfaatin kesempatan untuk nyiksa gue ternyata! Cowok nyebeliiiiiinnn..!" dumel Mira dalam hati.


"Wahhh mama senang sekali mendengarnya, itu bagus" mama Mira langsung berseru setuju.


"Tapi Meisya, apa nggak kasihan kalau sampai nggak ada pembantu, kasihan Mira yang harus ngurus semuanya sendiri" kata mami Radit prihatin.


Radit langsung angkat suara sebelum pernyataannya di tolak.


"Nggak kok mi, malahan Mira senang bisa mengurus semuanya sendiri, iya kan Mir?" Radit menginjak kaki Mira diam - diam.


"Kamu kenapa, Mir?" tanya papi Radit sambil menatap gadis itu.


Mira meringis, dia nggak mungkin bilang kalau Radit menginjak kakinya, bisa - bisa ketahuan kalau mereka nggak akur, yang ada niat mereka untuk pisah rumah bisa batal.


"Nggak kok Om, nggak papa, hehe..."

__ADS_1


Tbc


__ADS_2