Matched? Married Young?... Oh OMG...

Matched? Married Young?... Oh OMG...
Bab 54


__ADS_3

Mira mengejar Radit ya g berjalan cepat dengan susah payah. Perut nya yang besar membuat gerakan nya begitu lambat.


"Dit, tunggu!!" lagi - lagi Mira berteriak membuat mereka jadi pusat perhatian.


Radit berhenti, berbalik menghadap Mira dengan kasar.


"Dengerin aku dulu..."Mira memegang tangan Radit.


"Dia tadi itu..."


"Kita selesai!" kata Radit


Bagai tersambar petir, Mira sangat kaget saat mendengar kata - kata yang keluar dari mulut suami nya itu sungguh di luar dugaan. Cuma karena hal sepele, Radit sampai bilang selesai.


"Dit apaan sih?! Kamu sadar nggak sih sama ucapan kamu tadi?" tanya Mira, membentak Radit, habis sudah ke sabaran nya.


"Aku capek, aku anggap aja ini sudah selesai" kata Radit, setelah nya ia melangkah pergi menjauh.


Mira nggak mau diam aja, dia terus mengejar Radit hingga akhirnya...


Brukkk...


Semua terjadi begitu cepat, kaki Mira menginjak sesuatu yang membuat tubuh nya nggak seimbang. perutnya yang berat menyulitkan nya untuk nggak jatuh.


"Arghhhhh"


Teriakan kesakitan itu sangat nyaring. Radit langsung menoleh ke belakang saat mendengar nya.


Radit sangat panik, saat melihat Mira sedang tertelungkup di lantai. Istri nya itu menangis kesakitan, darah mulai merembes keluar di antara kedua kaki Mira.


Radit mendekati Mira, perasaan cemas bercampur takut membuatnya kelap. Dia membalikkan tubuh Mira dan meletakan kepala gadis itu kepangkuannya.


"Mira, sayang..."panggil nya. Pemandangan di depan mata nya membuat nya shock. Mira mengeluarkan banyak darah. Bagian bawah dress nya merah semua. Para mahasiswa lain pun mulai mengerumuni mereka .


****


"Dit, kenapa bisa sampai begini? ini sebenarnya ada apa?" mami begitu khawatir. Mata nya terus saja mengeluarkan air mata ketakutan.


Mira masih di ruangan operasi, sudah 2 jam Radit mengutuk dirinya sendiri. dia bersumpah akan mencincang tubuhnya sendiri kalau sampai terjadi apa-apa dengan istrinya itu.


" Ya Allah.... Cobaan apa lagi ini?" Mami sangat histeris. Semua kekuatan hilang entah kemana, Papi bahkan harus melewatkan penerbangan penting ke London saat mendengar menantunya yang sedang kritis. Sementara mama Mira harus dirawat karena pingsan berkali-kali.


Lampu di depan pintu operasi padam, dokter pun keluar dari ruangan serba putih dan steril itu. secepat kilat Radit menemui dokter itu.

__ADS_1


" Dokter, gimana Mira?.." todong Radit, bukan hanya dia yang khawatir saat ini, semua yang ada di situ pun sama.


" Dit, Ayo kita masuk. Ada beberapa dokumen yang harus kamu tanda tangani dan semuanya butuh persetujuan dari kamu." ajak dokter tersebut


Kening Radit berkerut, dia meremas rambutnya, stres. Rasanya dia ingin mati saja. Apalagi ini..... Tapi mau nggak mau, dia harus masuk ke dalam. Toh dia sangat ingin melihat Mira sekarang.


****


Di ruangan itu, di atas sebuah ranjang yang sedang tersorot begitu banyak lampu di atasnya ,Mira sedang terbaring lemah. Oksigen menutup sebagian wajahnya, tapi matanya terbuka, Mira bahkan terlihat tersenyum. Ada sedikit rasa lega di hati Radit saat ini saat melihat senyuman istrinya tersebut.


" Dit, di sini. Saya berbicara bukan lagi sebagai dokter, tetapi sebagai tante kamu. Tante mau kasih ini ke kamu." kata tante Ismi memberikan beberapa berkas ke tangan Radit.


Saat menerima berkas itu, Radit sempat melihat senyum Mira Terukir. Tetapi dibalik senyuman itu ada sesuatu yang mengganjal.


" Mir, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Radit sambil mengusap rambut Mira. dia meletakkan berkas - berkas itu ke samping tubuh Mira.


" Aku takut banget, Sumpah aku takut banget."


"Dit, aku baik - baik aja." jawab Mira. lagi - lagi masih dengan tersenyum. "Dit, tanda tangan gih.." suruh Mira.


Radit menatap Mira penuh selidik. "Buat apa?" tanya.


" Aku harus dioperasi, kalau kamu nggak tanda tangan, Mana bisa itu dilakukan." wajah Mira meringis, dia sepertinya sedang menyembunyikan rasa sakit yang luar biasa.


"Mir, sakit banget ya?"tanya Radit yang mulai mau menangis rasanya.


" Anak ini bikin aku kuat" lalu seketika


"Arrrrrgggghhhh" Mira mengerang,dengan kedua tangannya yang mencengkram erat besi di sisi ranjang


Radit langsung memegangi Mira bersama dengan para tim medis lain nya. Tante nya yang tadi keluar dari ruangan itu, langsung masuk begitu menerima sinyal bahaya yang dikirimkan oleh salah satu perawat.


"Tan, Mira kenaoa? Tan..." tanya Radit


"Tunggu sebentar..." tante Ismi mendekati Mira


"Tan, aku mohon, aku udah nggak kuat. Aku mohon..." pinta Mira. Sesekali dia berteriak


"Tan, Mira kenapa?!" Radit udah nggak tahan menyaksikan apa yang terjadi sama Mira di depan matanya. Istrinya itu terlihat banget lagi kesakitan dan dia nggak bisa apa-apa selain menonton.


" Dit, kamu harus tanda tangan sekarang. Mira harus segera dioperasi..." dokter memberikan kembali berkas yang tadi diabaikan Radit." Ayo... "


Radit menerima berkas itu." ini apa Tan?" tanya Radit. dilihatnya Mira menggeleng kepada tantenya itu seperti memberi kode untuk merahasiakan sesuatu.

__ADS_1


"Tan, ada apa ini?" Radit mengulangi pertanyaannya. tatapannya dingin bercampur frustasi.


" Dit, Tante minta maaf, sebagai dokter tante lemah. Tante gak bisa menyelamatkan Mira dan baik kalian bersamaan. Tante harus memilih salah satu di antara mereka."


Duarr!!


Rasanya petir menyambar Radit saat itu juga. Pikirannya kosong, otaknya Berhenti bekerja.


"Dan Mira...." Dokter berhenti sejenak, lalu menlajutkan kembali." Meminta Tante untuk menyelamatkan bayi kalian" kata tante Ismi dengan berat hati.


Barulah setelah mendengar itu, Radi sadar sepenuhnya." Apa kamu gila Mir?! kamu bahkan nggak nanya ini ke aku dulu?!" bentak Radit


Mira yang masih kesakitan, berusaha untuk menahannya sekuat tenaga. dia menangis, Iya tahu bagaimana sakitnya hati Radit saat ini.


"Dit....Hhh... aku mohon, lakuin ini...Hhh...Ahhh... Demi aku..." suara Mira mulai nggak stabil, saat rasa sakit kembali menguasainya.


"Nggak! Nggak akan pernah!"Radit marah. Dia menatap fokter dengan tajam.


"Tan, selamatkan Mira saja!!"pilih Radit.


"Aku nggak akan tanda tangan untuk hal konyol lainnya."kata Radit dengan tegas.


Dokter menghela nafas, dia berada di dua persimpangan yang sangat sulit, ini adalah hal yang paling berat baginya. Mira dan Radit Aris memiliki satu pilihan yang sama agar operasi bisa dilaksanakan.


"Dit, please.... kalau kamu milih aku kemungkinan nya... Ahh...kecil, untuk bayi kita selamat."Mira kembali mengintrupsi.


" Mira! kamu mau aku pilih anak itu, yang sama sekali belum aku kenal dan gorbanin kamu gitu aja?!"


"INI ANAK KITA!!!" Mira mendapatkan kekuatan untuk berteriak, dia marah saat Radit mengatakan hal yang seakan-akan bayi mereka itu adalah orang asing.


"Kamu pikir, kalau aku hidup dan anak kita nggak, aku bakal sennf? aku bakal lebih tersiksa, Dit.."suara Mira melemah.


"Aku nggak akan hidup kalau anak ini nggak ada, kalau kamu tetap pilih aku, setelah aku sadar pun dan melihat anak kita nggak ada aku akan tetep mati..."


Tiba-tiba suara dari mesin yang mengontrol kondisi Mira berbunyi nyaring. Radit bisa melihat Mira sedang kesakitan, lebih dari yang tadi dilihatnya. istrinya itu mulai kehilangan kesadaran bahkan beberapa tim medis mulai kerepotan.


" Radit ayo Tentukan sekarang juga, Mira nggak bisa menunggu lebih lama lagi dia sudah sangat kesakitan." kata dokter sembari menepuk pundak Radit, menyalurkan kekuatan.


Radit terhuyung mundur, di renasnya berkas yang harus ditandatangani nya itu. Dia nyaris gila untuk memutuskan ini, dia ingin Mira yang selamat tapi Mira sangat menginginkan bayi mereka yang selamat. Radit benar-benar bingung.


" Tan, lakuin apa yang Mira mau. tapi izinin aku untuk tetap di sini." kata Radit pasrah, dia menandatangani berkas persetujuan itu. air matanya menetes pedih rasanya saat dia menentukan pilihannya, dia benar-benar hancur.


tak lama, Mira sudah terlihat tidur dengan tenang, dia dibius. operasi telah dimulai Radit hanya menatap Wajah Mira, nggak berpaling sedikitpun. sesekali air matanya jatuh dan dia langsung menghapusnya.

__ADS_1


kamu nggak akan pernah tahu gimana rasanya ini Mir. serunya dalam hati.


Tbc


__ADS_2