MBOK AYU

MBOK AYU
Skin to skin


__ADS_3

Aaaaaaa!!!


Brussss!gubyarrr!


"Aw!! Aduhhh!"


Neneng jatuh dari ketinggian karena harus mendarat darurat sebab Putera mahkota sudah tak sadarkan diri.


Mereka segera menjatuhkan diri tepat setelah bangunan Istana sudah terlihat dari atas sana, namun sayangnya pendaratan mereka meleset dan malah jatuh di dalam hutan yang memang tak jauh dari area Istana.


Tubuh Putera mahkota jatuh tepat diatas tubuh Neneng dan menindihnya mengenai kubangan air yang mirip seperti danau kecil.


Neneng tidak bisa bergerak karena berat dan seperti nya kakinya ada yang terluka karena mengenai ranting pohon.


Sedangkan pangeran Satria jatuh tak jauh dari mereka,dia mendarat dengan sempurna di pinggir danau tersebut.


Dia segera menghampiri Neneng dan Putera mahkota kemudian menarik nya ke pinggir.


Putera mahkota masih tak sadarkan diri meskipun tubuhnya sudah terjatuh, bajunya basah semua begitu juga dengan Neneng.


Neneng berjalan merangkak naik ke pinggir danau dan terduduk disana, sedangkan Pangeran Satria sibuk menangani kakak nya.


Hari sudah semakin gelap...


Mentari pun sudah pulang ke peraduan nya,kini hanya nampak langit yang kelam dengan di temani bintang yang tidak begitu banyak membawa teman teman nya, bulan sabit pun bahkan seperti enggan menjadi penerang mereka.


Neneng melihat sekeliling,dia masih diam di tempat nya,menahan rasa sakit di betis nya yang terluka cukup dalam akibat terkena ranting pohon ketika pendaratan tadi.


Sementara Pangeran Satria terlihat sibuk membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh Putera mahkota, tak sedikitpun dia melirik ke arah Neneng yang basah kuyup dan meringis kesakitan.


"Dasar pangeran kejam, aduh sakit banget lagi kaki ku, perih!"gumamnya.


"Ganti pakaianmu dengan ini dulu! sementara bajumu di hangat kan di dekat api unggun!"Ucap pangeran Satria yang tiba-tiba muncul di belakang Neneng dan menyodorkan jaket miliknya kemudian berlalu lagi mendekati api yang baru saja menyala di dekat tubuh Putra mahkota yang masih belum sadar juga.

__ADS_1


Neneng malah bengong kemudian perlahan mengambil jaket tersebut.


Setelah memastikan aman, kemudian ia menutupi tubuh nya dengan jaket milik Pangeran Satria lalu membuka bajunya yang basah,ia berjalan merayap mendekati api unggun agar lebih hangat.


"Gantung kan baju mu di sana juga milik putra mahkota!hati hati terbakar!"Kata Pangeran Satria,dia tetap bersikap dingin dan jutek terhadap Neneng.


Pangeran Satria melihat ke arah kaki Neneng yang terluka, dia meraih kaki Neneng tanpa aba aba.


"Aw,sakit,aduhh!"rengek Neneng.


"Cengeng!hanya luka sedikit juga!"Kata pangeran Satria ketus sambil membersihkan luka di kaki Neneng.


"Bantu aku membuka pakaian putra mahkota,dia bisa mati kedinginan jika terus di biarkan dengan pakaian nya yang basah seperti itu!"Kata pangeran Satria sambil membuka pakaian Putera mahkota di ikuti oleh Neneng.


"Bahunya terluka cukup dalam!"ucap Neneng begitu melihat darah menempel pada baju bagian bahu Putera mahkota.


"Angkat tubuhnya!"Perintah pangeran Satria.


Neneng menyandarkan tubuh Putera mahkota di dadanya sementara pangeran Satria membersihkan luka nya,dia membuka bajunya dan memakainya ke tubuh putra mahkota, Neneng cukup terharu dengan pengorbanan dan loyalitas pangeran Satria kepada kakak nya.


Pangeran Satria tidak menjawab dan terus sibuk mengurus putra mahkota.


Neneng akhirnya diam tak peduli.


"Apa hanya kaki mu yang terluka?!"Tanya Pangeran Satria kepada Neneng setelah mereka selesai mengganti baju putra mahkota dan menunggu nya sadarkan diri.


Neneng tak menjawab,dia terus saja membolak-balik kan pakaian nya dan pakaian Putera mahkota, seperti nya dia ingin membalas pangeran Satria yang dingin dan acuh tak acuh itu.


"Apa Putera mahkota akan sadar lagi!? bagaimana dia bisa pingsan tiba-tiba seperti itu?!"Tanya Neneng akhirnya buka suara,dia penasaran kenapa putra mahkota tak kunjung bangun.


"Setelah kehilangan tunangan nya, kondisi Kakak ku menjadi lemah!tak ada yang tahu tentang kondisi nya ini,jadi kau harus merahasiakan ini dari siapa pun termasuk Baginda Raja!"


Neneng mengangguk setuju.

__ADS_1


"Tunangan nya meninggal dunia satu tahun lalu dengan cara yang tidak wajar,dan Kakak ku sangat merasa kehilangan bahkan dia seperti hilang akal,dia kesulitan tidur dan enggan untuk makan dengan benar,dia percaya jika calon Puteri mahkota di bunuh seseorang, dia meminta ku untuk menyelidikinya, namun tidak ada bukti yang jelas siapa pembunuh yang sebenarnya.Sejak saat itu kondisinya semakin lemah karena kurangnya asupan nutrisi yang baik, tidur tidak teratur, makan tidak teratur, seharian dia bisa kerja terus di kantor tanpa ada hentinya, kesedihan nya begitu dalam hingga membuat Ibunda Ratu cemas dan menyuruh nya berlibur di luar negeri demi menjaga nama baiknya, semua orang di istana terus mencari kelemahan nya dan Ibu ku tak ingin semua orang tahu kondisi nya saat ini!"


Baru kali ini Neneng melihat kesedihan tersirat di wajah Pangeran Satria,dia benar benar tulus menyayangi kakak nya, melindungi nya bahkan memberikan seluruh hidupnya demi keselamatan putera mahkota.


"Kemarin dia memutuskan untuk kembali, entah apa yang dia rencanakan, seperti nya kondisi nya sudah membaik,dan Ibunda Ratu pun sangat senang mendengar ia ingin kembali!"Ucapnya sambil menatap tubuh Putera mahkota yang masih terbujur tak sadarkan diri.


Putera mahkota terdengar mengerang dan tubuhnya bergerak gerak tak nyaman.


Neneng segera menghampiri nya dan menyentuh tangan dan kakinya serta dahi nya.


"Seperti nya dia sangat kedinginan, seluruh tubuhnya sedingin es!"Kata Neneng memberitahu Pangeran Satria yang datang menghampiri nya kemudian menyentuh tubuh kakaknya yang menggigil begitu hebat.


Dia mencari sesuatu yang bisa dijadikan selimut, namun tidak ada apa apa disana, semua pakaian nya masih basah semua,dia berusaha memperbesar api unggun namun tidak ada pengaruh pada tubuh putra mahkota,dia tetap menggigil kedinginan.


"Sepertinya dia terkena hipotermia, dia bisa mati kedinginan!"Pangeran Satria terlihat gugup dan panik.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?! Sebaiknya kita mencari pertolongan sekarang juga!"Neneng benar benar khawatir dengan kondisi putra mahkota yang terlihat semakin parah.


Pangeran Satria menara ke arah jaket miliknya yang dipakai Neneng.


"Jika aku berikan jaket ini kepada putra mahkota,Aku mau pakai apa?!bajuku masih sangat basah!"


Neneng seperti biasa membaca pikiran Pangeran Satria saja.


"Bukan jaket nya, justru kau harus menghangatkan tubuh Putera mahkota dengan tubuh mu, dengan begitu dia tidak akan mati kedinginan!"Ucap Pangeran Satria dengan serius sambil menatap tajam ke arah Neneng.


"Apa?! Anda jangan bercanda ya!Itu tidak mungkin dilakukan! Saya adalah seorang pelayan rendahan dan Putera mahkota adalah seorang calon Raja! menyentuh nya merupakan sebuah kejahatan bukan?!"Tentu saja Neneng menentang perintah Pangeran Satria yang keterlaluan itu.


"Ini demi keselamatan Putera mahkota! menentang perintah ku berarti menentang kerajaan, kau harus melakukan nya sekarang juga!"Tegas Pangeran Satria sambil melotot ke arah Neneng.


"Aku tidak mau! tubuh ku masih suci, kenapa tidak kau saja yang menolong Kakak mu!?"Neneng pun dengan tegas menolak nya.


"Semua wanita di istana pangeran adalah milik Putra mahkota! Termasuk kau! jika kau menentang perintah ku,maka Aku akan memenggal kepala mu sekarang juga!"Ancam pangeran Satria sambil menodongkan sebuah pisau belati yang begitu tajam yang ia keluarkan dari belakang celana nya.

__ADS_1


Neneng terpaku tidak percaya, apa dia harus mati malam ini demi mempertahankan tubuh nya?! Sesuatu yang mustahil ia lakukan, berpelukan tanpa menggunakan sehelai benang pun dengan pria yang belum menikah dengan nya.


Itu adalah sesuatu yang gila, benar benar gila!


__ADS_2