
Semua orang tercengang dengan apa yang mereka saksikan, antara percaya dan tidak, Neneng terlihat berdiri di atas air tanpa tenggelam,,,,ia berdiri kukuh bak Ratu pantai selatan,,, Pakaian nya terombang-ambing , meliuk liuk indah tertiup halusnya angin,dia mengangkat tubuh gadis abdi dalem itu tanpa menyentuh nya.
"Kau tak harus menumpahkan banyak darah untuk menuntut balas dendam, abdi dalem! bukan mereka yang harus jadi korban!tapi orang yang sudah membunuh kita lah yang harus mendapatkan balasan nya! jangan sampai nasib kita terulang lagi!apa kau tidak ingin pembunuh kita mendapatkan karma nya!"
Ucap Neneng dengan suara yang bergetar dan terdengar berbeda.
Putra mahkota langsung tersentak,itu adalah suara mendiang tunangannya, Liodra.
Bergetar lah seluruh tubuh Sang putera mahkota mendengar kembali suara yang ia rindukan selama ini,ia menghentikan langkahnya yang sudah sampai di atas altar di tengah kolam itu,ia menatap sendu ke arah Neneng yang masih berdiri tegak di atas air tanpa tenggelam.
"Nyawa harus dibalas dengan nyawa! Kau tahu Tuan Putri, apa yang terjadi selama ini adalah akibat ulah mu, kalian terlalu egois hingga menyebabkan pertumbuhan darah, andai saja kau mau mengalah dan berhenti mencintai Putera mahkota, tak akan ada nyawa orang tidak berdosa yang melayang secara tidak adil!"Ucap abdi dalem itu dengan suara Sri yang semakin meninggi, begitu penuh amarah dan dendam yang membara.
Neneng tertunduk sedih, matanya terlihat berkaca-kaca,
"Itu memang salah ku, seharusnya memang aku tak egois dan meninggalkan Putera mahkota saja waktu itu, membiarkan nya tenggelam dalam kesedihannya seperti saat ini,apa itu yang kau inginkan,Sri!? sepertinya kata mu, semua orang berhak bahagia, begitu juga Putera mahkota dan aku pada saat itu,dan saat ini,Aku hanyalah menginginkan semua orang bahagia tanpa ada pertumpahan darah dan saling menyakiti,apa kita memiliki pemikiran yang sama,Sri?bisa kah kita bekerjasama dan satu tujuan untuk membahagiakan orang terkasih kita Sri?"
Tanya Liodra begitu lirih, dia masih bersemayam di tunggu Neneng.
Sri yang masih merasuki abdi dalem tersebut akhirnya ikut tertunduk sedih, matanya pun berkaca kaca,,,
"Aku hanya ingin menyampaikan perasaan ku kepada seseorang bahwa aku sangat mencintai nya,dan aku berharap dia segera melepaskan ku, agar aku bisa pergi dengan tenang!"Ucap Sri,kini suaranya terdengar begitu berat penuh kesedihan.
"Baiklah Sri, tentu dia akan menyampaikan nya!"
Tiba tiba datang seorang pengawal kerajaan mendekat sambil berlutut dan berlinangan air mata di hadapan Sri.
"Sriiii!hiks hiks hiks, Sriii!"
Rupanya dia adalah kekasih Sri yang waktu itu akan ia temui, namun gagal karena Sri waktu itu diculik dan esok harinya dia malah ditemukan tergantung di istana Puteri mahkota.
"Mas,,,Mas Aryo!!!hiks hiks hiks! maafkan Sri ,Mas!Sri tidak bisa menepati janji kita waktu itu,Sri sangat mencintai Mas Aryo,hiks hiks hiks!"
Adegan tersebut begitu menyayat hati, menggetarkan setiap orang yang mendengar nya.
__ADS_1
"Mas yang harus nya minta maaf,Sri!Andai waktu itu Mas tidak mengajak mu keluar,tentu kejadian itu tidak akan terjadi, Mas sungguh menyesal Sri!Hwaa hwa hwaaaa!"Tangis pengawal itu semakin pecah.
"Pergilah dengan tenang Sri,jika kamu sangat mencintai Mas!Mas ikhlas karena Mas yakin kelak kita akan bertemu lagi di alam sana!"Ucap Aryo begitu lirih, setelah ia puas mengeluarkan kesedihan nya yang tertahan selama ini.
Sri mengangguk sambil tersenyum, tangan mereka yang saling menggenggam perlahan saling melepaskan dengan penuh keikhlasan,tak ada lagi air mata di pipi keduanya, mereka benar benar sudah saling bisa menerima takdir satu sama lain.
Asap ringan terlihat membumbung ke angkasa lalu menghilang.
Dan abdi dalem itu pun ambruk tak sadarkan diri lalu diangkat oleh para pengawal untuk dipindahkan.
Namun sang Dukun terlihat sangat marah,ada yang menggagalkan rencana nya ternyata, seorang pemuka agama yang sengaja di undang oleh Kanjeng Ratu dan paduka Raja sendiri hadir di tempat itu untuk menyempurnakan ritual pengusiran syetan tersebut, sehingga lebih terbimbing sesuai syariat yang di anut oleh sebagian besar di wilayah tersebut.
Dukun itu semakin menggencarkan jurus jurus nya sehingga semua roh jahat berkumpul disana semua, berusaha membunuh Neneng atas perintah Ibu Suri.
"Liodra,,,!"Ucap putera mahkota begitu lirih dan terdengar sangat menyedihkan.
Neneng berbalik dan berhadapan dengan putera mahkota,dia tersenyum ke arahnya dengan tatapan yang tak dapat di artikan.
Putera mahkota pun mengangguk dengan pasti, sambil tersenyum dia melepaskan kepergian Liodra dengan lebih ikhlas, tangan nya tak berhenti melepaskan genggaman tangan Neneng, hingga tubuh nya terkulai lemah dan terjatuh ke pelukan Putera mahkota.
Namun seketika sebagai orang disana kerasukan roh jahat dan siap menyerbu Neneng, terlihat sang Dukun berkomat kamit membaca mantra mantra untuk meng guna gunai Neneng.
Mereka yang kerasukan dan lebih mirip zombie itu terus merangsek ke arah Neneng yang sudah mulai tersadar.
Putera mahkota dan Pangeran Agung Satria melindungi Neneng di belakang tubuhnya, namun mereka sudah terkepung.
Para pengawal istana pun berusaha menghalau mereka, namun satu demi satu mereka pun malah ikut kerasukan dan berbalik ikut menyerang Tuannya.
Rupanya sang dukun sudah me mantrai mereka semua.
Keadaan semakin kacau dan tidak terkendali, Paduka Raja segera memerintahkan para pemuka agama untuk membereskan masalah itu.
Demi keselamatan nya, Paduka Raja dan Kanjeng Ratu serta para pangeran dan semua orang yang tidak terpengaruh mantra sang dukun diminta untuk segera kembali ke kediaman nya masing masing.
__ADS_1
Meskipun dilanda kekhawatiran akan keselamatan Putera mahkota dan Pangeran Agung Satria, mereka tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa ikut mendoakan.
Mulut Neneng terlihat berkomat kamit,dalam kepanikan nya ia berdoa sebisa mungkin,ia ingat doa pengusir syetan yang dulu pernah diajarkan guru mengaji nya.
Tangan nya tak lepas dari kedua Pangeran, mereka semakin terpojok dan tak ada jalan lagi untuk melarikan diri.
Para Zombie yang sudah dirasuki roh jahat itu merentangkan tangan mereka dan bersiap untuk mencekik ketiga nya.
Pangeran Agung Satria melihat sekeliling,tak ada jalan lagi untuk mereka kabur.
"Kita harus masuk ke dalam air,dan berenang sampai ke seberang,dari sana kita bisa lari menuju istana putera mahkota yang paling aman!"Kata pangeran Agung memberi arahan.
"Lagi?tapi kaki ku sudah lemas dan tidak akan kuat berenang!"Sanggah Neneng,dia merasa sudah bosan harus berulang kali jatuh ke dalam air.
"Akan aku gendong! sementara Satria berjaga-jaga jika saja mereka tetap mengejar kita!"Ucap putra mahkota.
"Aku tidak bisa!"Tolak Neneng, kakinya mendadak kaku dan keram,jujur sebenarnya ia masih trauma jika harus dihadapkan dengan urusan air, gara gara ia nyebur ke kali waktu itu, sekarang ia harus berada terus dalam masalah, seperti dalam sebuah mimpi yang tak kunjung bangun.
"Kalau begitu kau lebih memilih diam disini dan di serbu oleh mereka!? Terserah kau saja!"Ucap Pangeran Agung Satria,kesal, sedangkan mereka sudah semakin dekat didepan mata.
Karena tak ada pilihan lain,di tengah malam yang dingin, ketiga nya terpaksa menceburkan diri ke dalam kolam yang dingin luar biasa.
Dan Putera mahkota benar benar menggendong Neneng di belakang punggungnya,
Terlihat sang Kiai sedang beradu kekuatan dengan sang Dukun yang sudah berada di luar kendali,ia mengeluarkan ilmu hitam yang ia miliki dan dilawan oleh sang Kiai di bantu para santrinya dengan segenap kekuatan yang mereka miliki, terlihat bara api berada dimana-mana ,dan Ibu Suri lenyap entah kemana.
Putera mahkota meletakkan tubuh Neneng di pinggir kolam sambil terengah-engah diikuti Pangeran Agung Satria di belakang nya.
Mereka merangkak ke tanah datar untuk keluar dari air yang begitu terasa dingin sambil menggigil kedinginan.
Namun tiba-tiba saja dihadapan mereka ada sepasang kaki yang sengaja menghalangi langkah mereka, sepasang sepatu emas yang biasa dipakai petinggi kerajaan.
Perlahan wajah mereka mendongak keatas untuk melihat siapa yang menghadang mereka, mereka sangat terkejut dan ketakutan tatkala mengetahui siapa sosok itu.
__ADS_1