
"Bagaimana menurut mu Wo,aku bingung harus bagaimana, disisi lain aku harus menepati janjiku kepada Kangmas Bimo untuk menikahkan putrinya dengan pangeran Agung Satria,tapi disisi lain Putera mahkota seperti nya menyukai Puteri Raden Ayu juga, bagaimana aku harus bertindak sekarang,aku tak mau menyakiti kedua putra ku!"Paduka Raja berkeluh kesah kepada Pakde Karwo yang merupakan sahabat nya dari dulu.
"Kita harus memastikan dulu perasaan Puteri Raden Ayu, Paduka! siapa yang ia sukai dan biarkan lah mereka yang menyelesaikan tentang perasaan mereka masing masing jika akhirnya harus ada salah satu yang berkorban untuk mengalah!"
"Itu tidak akan mudah Karwo! Sepertinya kedua Pangeran ku sudah benar benar jatuh hati kepada Puteri Raden Ayu,dia memang berbeda,gadis biasa yang luar biasa!"Ucap paduka Raja mengakui kelebihan Neneng.
"Memang begitu lah adanya Yang Mulia, untuk itulah Hamba begitu tertarik dan ingin membawanya ke dalam istana waktu itu! memang dari awal Pangeran Agung Satria kelihatannya langsung tertarik oleh sosok Raden Ayu meskipun awal mulanya dia hanya seorang abdi dalem biasa! begitu pula Putera mahkota,dia bisa bangkit dari keterpurukannya karena dekat dengan Raden Ayu, dia mampu menjadi penopang putera mahkota dan memang dia kandidat yang kuat untuk menjadi pendamping Putera mahkota!"
"Lalu bagaimana dengan janji ku kepada Kangmas Bimo!?"
"Dia masih memiliki seorang putera,dan paduka bisa mengangkat nya menjadi seorang Pangeran, Yang Mulia! seharusnya dengan mengangkat Raden Ayu menjadi seorang puteri itu sudah cukup memenuhi janji kita kepada Kangmas Bimo!"Pakde Karwo mengutarakan pendapatnya.
"Dia masih memiliki seorang Putera? kenapa kau baru bilang?kita harus membawa nya serta ke dalam istana!"
"Maaf Yang Mulia! hamba pun sudah merencanakan hal itu, namun sulit untuk membawanya,dia sedang terlibat masalah dengan mafia di tempat asalnya!"
"Justru itu kita harus segera menyelamatkan nya, pantas saja di balik keceriaan Raden Ayu terlihat menyimpan kesedihan yang mendalam, rupanya dia memiliki adik yang sedang ditimpa kemalangan, Karwo! kerahkan segala cara untuk membawa putera Kangmas Bimo segera!"
"Akan hamba laksanakan Yang Mulia!"
Ucap pakde Karwo segera menyanggupi perintah dari Paduka Raja.
Ia pun segera memerintahkan orang kepercayaan nya untuk segera mencari keberadaan Indra dan membawa nya ke istana untuk bertemu dan berkumpul dengan kakak nya.
...---------------...
"Menurut penerawangan mu, siapa diantara mereka yang layak menjadi calon Puteri mahkota,Mbah Suketi?!"Bisik Ibu Suri Agung kepada seorang dukun yang sengaja ia undang ketika ia mengadakan pemilihan calon kandidat Puteri mahkota dari kubu nya.
Mbah Suketi memejamkan matanya , mencoba menerawang mereka satu persatu, namun tak satu pun dari mereka yang cocok.
"Mohon ampun Yang Mulia! menurut hamba, sebelum diadakan pemilihan Puteri mahkota, istana ini harus di bersihkan dahulu dari arwah arwah jahat yang masih bergentayangan di sekitar istana!Nyawa mereka tidak akan selamat begitu salah satu dari mereka terpilih!"Ucapnya begitu yakin.
"Arwah gentayangan?! mungkin kah itu Liodra?!"
__ADS_1
Ucap nya terdengar begitu terkejut.
Dukun itu mengangguk penuh misteri.
Istana di selimuti kegelapan Yang Mulia, akan banyak kejadian yang menyakitkan, hamba mencium banyak darah, pertikaian, pengkhianatan, bahkan posisi Anda pun dalam bahaya Yang Mulia!"
Ucap Dukun itu begitu menggelar membuat bulu kuduk merinding.
Mulut Ibu Suri menganga mendengar penerawangan sang dukun,ia yang sangat percaya akan hal hal mistis,begitu khawatir dan ketakutan, apalagi menurut penuturannya, posisinya akan ada dalam bahaya.
"Apa kau yakin dengan ucapanmu cenayang?!"
Tanya Ibu Suri ingin lebih yakin, tubuhnya terduduk di singgasananya dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran.
"Hamba tidak mungkin berani berbohong Yang Mulia!Arwah ini akan mengambil nyawa setiap wanita yang dekat dengan Yang Mulia Putera mahkota,dan dia akan menuntut balas kepada setiap orang yang sudah mengambil nyawanya!"
"Tidak, tidak!itu tidak boleh terjadi! pantas saja aku selalu bermimpi buruk akhir akhir ini!"Gumam Ibu Suri sambil memegang bagian dadanya,ia begitu ketakutan karena dirinya lah yang sudah merencanakan pembunuhan Liodra waktu itu, meskipun bukan dengan tangan nya sendiri,tapi ia termasuk salah satu dalangnya.
"Mohon ampun hamba harus mengatakan ini demi kebaikan Anda Yang Mulia! kejahatan Anda satu persatu akan terbongkar dan untuk itulah posisi Anda sebagai wanita istana yang paling berkuasa akan terancam!"Sambung dukun itu membuat Ibu Suri semakin dilanda ketakutan yang begitu tinggi.
Ancam Ibu Suri saking takutnya.
"Akan hamba laksanakan Yang Mulia, hamba akan memberikan yang terbaik untuk Anda!"
Jawab Dukun itu dengan percaya diri, begitu mudahnya memanfaatkan ketakutan Ibu Suri, dengan begitu ia akan menjadi cenayang kepercayaannya kerajaan selamanya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang cenayang?!Tanya Ibu Suri sambil berdiri dan menghampiri sang dukun dengan begitu serius.
"Pertama tama kita harus mengadakan upacara pengusiran Arwah secara menyeluruh di istana ini,Yang Mulia!semua anggota kerajaan harus hadir dan kita harus melakukan pembersihan dari energi energi negatif yang akan menjadi penyebab kehancuran Anda Yang Mulia!"
Ibu Suri mengangguk angguk tanda setuju.
"Persiapkan upacara pengusiran Arwah segera!dan beritahu Puteraku tentang hal ini juga!Aku tidak ingin mendengar pertentangan dari siapa pun,Aku ingin semua nya hadir dalam acara ini! cenayang,kapan waktu terbaik untuk melakukan upacara itu!?"
__ADS_1
"Malam Jum'at Kliwon adalah waktu yang paling baik, Yang Mulia! pada waktu itu,bulan akan bersinar penuh dan para arwah akan muncul di malam itu,pada saat itulah kita harus menumpas mereka sampai ke akarnya,dan satu lagi Yang Mulia, untuk penyempurnaan ritual kita membutuhkan seorang gadis perawan yang masih suci yang lahir pada malam Selasa Kliwon untuk dijadikan tumbal!"
"Apa?! seorang gadis yang masih suci?!"Ibu Suri kembali dilanda kebingungan.
"Ya Yang Mulia, yang lahir pada malam Selasa Kliwon!kita harus mendapatkan nya Minggu ini, karena Kamis depan adalah tepat malam Jum'at Kliwon,kita tidak punya waktu banyak Yang Mulia!"Desak sang Dukun semakin menjadi.
"Segera cek para abdi dalem yang masih gadis yang lahir di malam Selasa Kliwon, jika ada, kurung dia sampai acara ritual akan dilaksanakan,jika tidak ada di dalam istana,cari sampai dapat di luar istana! lakukan dengan cepat,kita tidak ada waktu lagi!"
Perintah Ibu Suri kepada abdi dalem pribadinya
"Baik Yang Mulia!"
...****************...
Pagi ini Neneng menerima surat kaleng misterius yang dilemparkan di depan pintu kamarnya.
"Datanglah ke belakang istana para pangeran,pagi ini!Aku menunggu mu di bawah pohon beringin,ada yang harus aku katakan kepada mu,ini penting!"
Neneng terlihat bingung sambil celingukan mencari sosok yang mungkin masih ada di sekitar situ yang melempar surat kaleng tersebut.
Namun tak ada siapa pun disana.
"Apa ini dari Putera mahkota? atau dari Pangeran Agung Satria? atau mungkin Pangeran Agung Airlangga?dia kan yang suka iseng kepada ku!ah entahlah!Dateng jangan ya?!"Gumam Neneng , bingung.
Neneng terlihat masuk lagi kedalam kamar nya, namun tak lama ia kembali keluar dengan sudah memakai pakaian yang rapi dan cantik,ia pikir ia akan bertemu dengan seorang laki-laki yang akan memberi nya hadiah,makanya ia sedikit berdandan agar terlihat menarik dan tidak memalukan nantinya.
Ia menutup rapat-rapat pintu kediaman nya kemudian berjalan ke arah belakang istana tempat ia tinggal, sudah terlihat dari kejauhan pohon beringin yang dimaksud pengirim surat kaleng tadi, namun tak nampak ada orang disana.
"Mungkin dia belum datang!"Gumam nya sambil duduk bersandar di bawah pohon tersebut.
Namun dari arah belakang nya tiba tiba saja ada seseorang yang membekapnya dengan saputangan yang berbau menyengat,tak lama Neneng pingsan kemudian di seret lewat pintu keluar rahasia yang terdapat di belakang istana para pangeran yang menuju ke suatu tempat.
Entah siapa orang itu dan apa tujuannya ingin menculik Neneng.
__ADS_1
Neneng disekap di sebuah ruangan bawah tanah yang pengap dan rapat,ada dua gadis lain disana yang sama sama belum sadarkan diri.