Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - WAR FLAG


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The StoryStory


......................



Karin duduk di sofa panjang yang ada di ruang tamu sambil melepas jaketnya. Ia melihat lagi ponselnya dimana terdapat panggilan tidak terjawab sebanyak dua kali dari Liam.


Dadanya sesak, saat melihat Riana masih berada di sekitar Ayahnya. Otaknya sudah tercuci oleh drama televisi yang biasa dia tonton, tentang gambaran seorang ibu tiri.


Tapi di satu sisi, Karin kembali teringat dengan pria yang tadi membawanya menjauh dari Riana, "Kenapa dia kembali" gumamnya pelan sambil berdecak remeh.


Tiba-tiba perutnya berbunyi, dia lupa dirinya perlu makan dan bukannya hanya memikirkan masalah dan masalah.


Jam sudah menunjukkan pukul 16.32 PM nyatanya sedari pagi Karin tidak makan apa-apa. Pantas saja tadi tubuhnya lemah dan merasa pusing. Ia melihat kedalam lemari es untuk mencari sesuatu yang dapat di makan.


Sebelum membuka kulkas, Karin sudah yakin pasti tidak ada makanan. Karena biasanya di drama begitu, CEO yang gila kerja dan tidak sempat menyetok makanan dirumahnya sendiri. Tapi kali ini tebakannya salah, ada beberapa buah, sayur dan daging juga di dalam, entah sejak kapan mereka ada di dalam sana.


Karin mengambil dada Ayam dan beberapa sayuran untuk di masak, tapi fakta yang lebih mengejutkan adalah dia tidak bisa masak, jadi tidak ada yang tahu daging Ayam dan sayuran itu akan di apakan.


Setelah di cuci, Karin menata bahan baku makanan di atas talenan lalu memandanginya bingung harus di apakan. Lima menit terus saja begitu, dia sudah membuka youtube untuk mencari sesuatu yang berguna, tapi masih tidak melakukan apapun. Jadi jangan salah jika nanti ada yang menilai Karin percuma cantik dan ber-uang, tapi tidak bisa masak? Padahal punya gelar Master.


Tapi itu bukan suatu keharusan bagi Karin untuk bisa semuanya, dia juga manusia biasa yang beruntung lahir dari keluarga berada tapi tidak bisa menguasai semuanya. Ayolah, jangan menghakimi dirinya seperti itu. Semua orang punya kemampuan dan bakatnya masing-masing.


..."Tidak ada yang terlahir bodoh, kita hanya terlahir di masyarakat yang suka menghakimi-"...


Karin perlahan mengikuti seluruh instruksi dari video yang dia tonton.


Tak berselang lama, terdengar pintu utama terbuka memperlihatkan Liam dan antek-anteknya masuk kedalam rumah. "Kau sudah pulang?" Seru Karin dari posisi yang tidak di sadari Liam.

__ADS_1


Liam menyipitkan matanya, melirik Karin lalu pergi bersama yang lain keruangan pribadi milik Liam yang belum pernah Karin masuki.


"Dasar aneh" gumam Karin menggeleng pelan, "Stres." Ia melanjutkan kegiatannya untuk menyelesaikan masakannya.


Tapi tiba-tiba Juan keluar untuk mengambil air minum karena dia haus. "Sore Kakak ipar" sapanya melambaikan tangan kaku, lalu di susul yang lain keluar dari ruangan yang seharian terkunci dari luar, membuat Karin tidak bisa masuk untuk mengintip ruangan itu.


"Kau masak apa?" Jantung Karin berdegup kencang, Liam tiba-tiba ada di sampingnya sambil mencuci buah apel yang dia ambil dari dalam kulkas.


"Daging manusia" Jawab Karin menancapkan ujung pisau ke atas talenan hingga berdiri, membuat Liam dan Juan menelan kasar salivanya.


"Lagi datang bulan yah?"


"Datang bintang. sekalian meteor agar aku bisa menghancurkan tempat ini" Ketusnya yang sedari awal emosinya belum reda, ditambah rasa lapar dan sekarang Liam bertanya padanya.


"Galak sekali" Kata Liam menjauh dari area dapur.


"Kenapa?" bisik Juan pada Liam, tapi pria itu hanya menggendikkan bahunya, dia juga tidak tahu alasannya.


"Ya ampun Karin, kenapa kau tidak pesan saja" gumamnya yang baru saja bisa berpikir jernih. Dengan cepat ia menyambar ponselnya dan memesan sesuatu, tapi tiba-tiba pemesanan tidak bisa di lakukan karena pembatasan penggunaan kartu, membuat Karin mengerutkan dahinya, bingung. Ia mencoba sekali lagi tapi masih tidak bisa, mau tak mau ia menggunakan sistem pembayaran Cash on delivery.


Butuh waktu sekitar 20 menit, akhirnya makanan yang di inginkannya datang membuat Karin segera berlari menuju pintu.


"Liam!" Teriaknya dari depan, membuat Liam yang asik main game dengan teman-temannya mendengus kesal. "Liam!" Teriak Karin sekali lagi, sukses membuat Liam melempar stick play station nya ke sofa.


"Apa?"


Dengan wajah tenang Karin menengadah meminta uang darinya. "Apa?" tanya Liam lagi.


"Uang? Aku mau bayar"


"Itu makananmu bayar sendiri" Jawab Liam.


"Sialan" Karin terpaksa melebarkan senyumnya menahan malu pada kurir, "Cepat! Uangnya mana?" bisiknya dengan nada menekan tak lupa mata yang melotot.


"Aku tidak akan memberikannya kalau kau melotot padaku"


Karin mendengus kesal, dengan cepat dia mengubah ekspresinya jadi manja dengan senyum manis agar Liam mengeluarkan dompetnya.

__ADS_1


Liam berdeham, lalu tersenyum dan mengeluarkan uangnya untuk membayar kurir makanan yang di pesan istrinya.


"Berapa pak?"


"1.767 Dollar" Jawab Kurir melihat struk pesanan, seketika itu juga Liam melirik Karin yang tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya, seolah mengatakan 'kewajibanmu '


"Kau beli apa? Satu ekor anjing guling?" tanya Liam mengikuti Karin yang berjalan di depannya. Heran apa yang di beli Karin sampai semahal itu.


Karin meletakkan satu bungkus plastik berukuran cukup besar di atas meja ruang tamu, dimana Jayden dan yang lain duduk. "Ini untuk kalian, Liam pasti tidak memberi kalian makan kan, jadi ini ku belikan" Mendengar itu membuat Liam yang berdiri di belakang sambil menenggerkan tangan di pinggang berdecak senyum.


Sedangkan satu plastik lagi ia bawa menuju balkon untuk dirinya sendiri.


"Yang sabar Tuan Liam" Seru Jayden menahan tawa saat melihat wajah Liam yang sudah kesal dari tadi lalu di tambah dengan Karin.


......................


Selama seminggu, bendera perang selalu Karin kibarkan, begitu pula dengan Liam yang tidak mau mengalah. Liam kesal tapi suka menjahili Karin. Dan selama itu juga Liam tidur diruang kerjanya, Karin selalu mengunci kamar saat ada kesempatan dan dia juga sudah menyembunyikan semua kunci kamar dari tangan Liam.


Tapi hari ini terlihat tenang, selama seminggu Karin hanya keluar hari itu saja saat menemui Morgan, sisanya hanya ke taman yang ada di bawah.


Karin duduk, bersila di sofa sebelah kiri, sementara Liam fokus dengan laptopnya di sofa panjang yang berada di tengah. Keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing ditemani televisi yang menyala.


Karin menghubungi Ayahnya untuk menanyakan perihal kartu kreditnya yang tidak bisa di pakai. Apakah ada masalah atau hal lainnya.


......................


.


.


.


.


.


...🌻🌻🌻🌻...

__ADS_1


__ADS_2