
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
Karin memundurkan tubuhnya agar jarak mereka tidak semakin dekat, namun Liam dengan segera menahannya, melingkarkan lengannya pada pinggang. Jaraknya semakin dekat hingga Karin bisa merasakan napas Liam yang berat, menikmati bulu mata indahnya, hidungnya bersentuhan dengan hidung Karin dan berakhir dengan ia merasakan bibir Liam menyentuh bibirnya.
Mata Karin melebar. Terkejut. Liam menciumnya. "Biar ku ulangi. Liam menciumku, tepat pada bibirku." Gumamnya dalam hati.
Mencium.
Cium lagi.
Cium.
Cium.
Dan...
Cium.
Hitung saja berapa kali kecupan. Karin seperti terhipnotis tanpa melawan. Jemarinya bersembunyi didalam telapak tangan, matanya masih membulat, dan ia tidak bisa berbuat apapun. Hanya membiarkan. Dimana Karin yang suka menjawab dan mengumpat?
Liam mengusap bibir Karin dengan jemarinya. "Aku merindukanmu. Sangat cantik ketika sedang mengumpat tadi. Seksi sekali."
Karin menelan ludahnya susah payah, mengerjapkan mata beberapa kali. Satu, dua, tiga, sadar Karin. Hey tolong kasih tahu Liam, kemarin mereka baru saja bertengkar.
Sepertinya racun Felix sangat berefek pada Liam.
Baru saja Karin ingin marah, namun senyum Liam mampu menenangkan. Senyum yang begitu hangat, senyum yang mampu membuat Karin tidak bisa berkutik.
"Biar kutebak, kau tidak bisa tertidur?" Tangannya bergerak memperbaiki rambut istrinya, menyelipkan kebelakang telinga. "Sepertinya kau menghancurkan gulingku?" Kemudian tangannya berpindah membelai pipi Karin menggunakan ibu jari.
Sialnya, Karin terhipnotis. Mengangguk seperti kucing yang dimanjakan tuannya. Karin sudah terbujuk rayu buaya darat.
Liam mengulas senyum. "Seharusnya kau mengatakan padaku. Aku bisa memberikan guling baru. Atau agar lebih mudah, kau bisa memintaku datang dan aku akan bersedia menjadi guling untukmu."
"Kau bersedia?" Tanya Karin lembut.
Tapi, Karin menyadari sesuatu. Raut wajah Liam perlahan berubah, dia menahan tawa. membuat Karin memicingkan mata, dan detik berikutnya dia tertawa begitu kuat. Terbahak-bahak.
"Haha. Lihat ekspresimu Karin. Astaga..." dia mengusap air yang berada disudut matanya, "haha. Kau pasti sudah menyukaiku. Jelas. Kau mulai menyukai ku kan."
__ADS_1
"Tidak lucu" Karin mendorong sekuat tenaga tubuh Liam keluar dari garis pintu.
Brak!
Pintu di tutup dengan kuatnya membuat Liam tersentak kaget.
"Karin!" Liam mengetuk pintu, tapi detik berikutnya ia hentikan, yakin pintu tidak akan di buka. "Apa aku keterlaluan" bergumam menahan tangan untuk mengetuk pintu. Padahal Karin baru saja dari rumah sakit, tapi dia masih bisa bercanda seperti itu pada istrinya sendiri.
......................
"Liam sudah datang?"
"Belum," jawab Kelvin, sembari membawanya untuk duduk di dalam ruangan. "Tumben? Biasanya dia selalu datang cepat"
"Menurutmu Liam serius tentang pernikahannya?"
"Entahlah, dia bahkan masih tidak bisa membuang barang-barang Liora" Kelvin meletakkan segelas kopi di hadapan Jayden seraya mengambil tempat di hadapannya.
"Tapi kenapa tiba-tiba bertanya?" tanya Kelvin lagi.
"Tidak, hanya saja aku takut wanita secantik Karin cuma jadi tempat pelampiasan, dia bahkan tidak membiarkannya keluar rumah." Ucap Jayden sambil menyesap kopinya.
Kelvin jadi ikut berfikir, "Lambat laun Karin pasti akan mengetahui hal ini."
"Itupun jika dia berhasil masuk keruang kerja Liam" tambah Jayden menatap keluar pintu, melihat kedatangan Liam memberi gesture pada Kelvin untuk berhenti membicarakannya.
"Tumben kau terlambat?" Jayden bangkit dan berjalan mengikuti Liam ke kursi kebesarannya.
Jayden berdiri di depan meja Liam, kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celana dan menatap pria itu intens.
"Vin, yang ku minta kemarin mana?"
Bergegas Kelvin mengambil berkas di atas mejanya dan berlari lagi masuk kedalam.
"Sampai kapan kau akan mengurung Karin?" Jayden tiba-tiba bertanya membuat Liam menatap ke arahnya dengan kening yang berkerut.
"Maksudnya?" dia kembali fokus pada pekerjaannya.
"Jangan lupa Tuan Liam, aku pemilik Paradise Sky Penthouse jadi hampir seluruh kegiatan penghuni aku tahu" kata Jayden. Dia penasaran kenapa Liam melakukan itu pada Karin.
"Kau akan mengurung Karin sama seperti kau mengurung Liora?"
"Ayolah, kau tidak bisa selamanya terjebak dalam bayangan Liora." kata Jayden lagi.
Brak!
Meja kayu yang terbuat dari kayu pilihan terbaik itu di gebrak dengan amat kuat. Kelvin sampai kaget dan mundur selangkah ke belakang.
"Cukup Jayden. Kau memang temanku, tapi jangan melewati batas!"
__ADS_1
"Sebagai teman aku hanya memberitahumu, aku memang pria breng*sek tapi untuk menyia-nyiakan kesempatan bukan minatku. Kau paham maksudku kan" Jayden menepuk pundak Liam dua kali, lalu ia melangkah pergi dari ruang presdir rez itu.
Liam memilih acuh dan kembali duduk pada kursinya, semetara Kelvin langsung mengambil alih dan memberitahukan jadwal Liam agar suasana berhenti canggung.
......................
Karin duduk di tepi ranjang sambil memikirkan sesuatu, dia ingin keluar dari kamar terkutuk itu. Kondisinya sudah sangat membaik, tapi Liam terus saja mengurungnya di apartemen tanpa mengijinkannya keluar.
Ia sudah bicara pada Ayahnya untuk menduduki posisi awal di perusahaan sama seperti permintaan Ayahnya waktu itu.
Semakin lama Karin merasa Liam semakin membatasi geraknya, belum lagi saat pria itu menjahilinya. Seolah Karin adalah seorang tawanan yang bisa di permainkan ketika diinginkan saja.
Karin akhirnya bangkit dari duduknya, ia bersiap untuk pergi selagi Liam masih di luar.
-
-
-
Masuk kedalam taxi yang tadi ia pesan, Karin meminta sopir segera pergi ke gedung MK Group.
Sampai di lantai 23, satu tangan menariknya menghimpit untuk tetap berdiri tegak pada dinding. Matanya melebar, mulut di bekap menatap Felix yang memintanya untuk diam sambil mengawasi sekitar.
"Sebenarnya apa maumu Felix?" Tanya Karin saat tangan Felix menjauh darinya.
"ucapanmu waktu itu serius?" tanyanya memastikan, mengurung Karin dengan kedua lengannya yang menyatu pada dinding di belakang Karin.
"Menurutmu aku bercanda?" Karin mengangkat tangan kanan yang tersemat cincin berlian di jari manisnya.
Felix menurunkan tangannya dan menatap Karin begitu lekat, "Kau tahu siapa Liam?"
Karin memutar malas bola matanya, "Ayolah Felix, berhenti menggangguku dengan pertanyaan tidak penting seperti ini." Karin beranjak dari sana tapi Felix menahan lengannya. "Kau pikir aku akan membiarkanmu dengan kepar*at sialan sepertinya" Felix menyeringai.
Karin menepis kuat tangan Felix hingga tautan mereka terlepas, "Jaga ucapanmu" ia memperingatkan sekali lagi.
"Kau sungguh berpikir Liam menikahimu karena rasa tanggung jawab? Jangan mengambil kesimpulan bod*oh Karin. Kau pintar dan bisa membedakan mana yang punya niat tulus bertanggung jawab? dan mana yang punya niat tersembunyi?!"
Ucapan Felix membuat Karin goyah, "Apa maksudmu?" tanyanya berbalik pada Felix.
......................
.
.
.
.
__ADS_1
.
...🌻🌻🌻🌻...