
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
Argghh...
Liam tak habis-habisnya mengumpat, Kelvin sudah berusaha memenangkannya.
"Kalau begitu kita pulang saja" ujar Kelvin mengambil tempat di hadapan Liam seraya meletakkan gelasnya.
"Setelah semuanya selesai, kita kembali lagi ke sini" lanjutnya
"menurutmu bisa begitu?"
"Bisa, aku akan coba bicara dengan mereka"
Tanpa pikir panjang, Liam pergi sendirian menuju bandara sementara Kelvin akan menghandle sisanya.
Mendengar Karin pergi dari rumah saja Liam sudah meradang, seolah hal itu tidak boleh terjadi apapun yang menjadi miliknya tidak boleh keluar dari lingkungannya.
"Nick"
"Apaa?"
Sambil melajukan mobilnya, Liam terus terhubung dengan Nick.
"Hana bicara apa pada Karin"
"Hana!"
"Iyaa, bicara apa dia"
"Sebentar"
"Kenapa kamu bilang Han, hal itu tidak seharusnya Karin ketahui dari mulutmu"
Tanpa menunggu jawaban Nick, pria itu sudah mematikan telponnya lebih dulu. Kebenaran yang tak seharusnya Karin dengar dari mulut Hana dan tidak seharusnya juga dia dengar.
Liam menyembunyikan hal itu dengan hati-hati, tapi nyatanya semua sudah terbongkar di depan mata Karin.
......................
"Karin!"
"Buka pintunya! Karin!"
Jessy bersandar di sisi dinding sambil bersedekap mendengus senyum
"Dimana Karin!"
"Pergi!" ucap Jessy dengan nada terlampau datar begitu dingin dan tajam.
"Ku tanya sekali lagi dimana Karin!"
"Karin pulang, seharusnya aku tidak membiarkannya pergi menemui pria sepertimu!" sarkas Jessy mendorong Liam dari hadapannya agar ia bisa masuk kedalam unitnya.
__ADS_1
Brakh!
Tanpa buang waktu lagi, Liam langsung kembali ke apartemen. Benar jika dia belum memeriksa apartemennya sendiri karena terlalu khawatir dan takut.
-
-
-
Liam berlari masuk dan melihat Karin sedang melakukan sesuatu di meja makan. "Karin" lirihnya segera menghampiri istrinya itu.
"Duduk"
"Dengarkan aku dulu Karin, biarkan aku menjelaskan semuanya"
"Tidak perlu, aku sudah mendengar semuanya. Jangan membuatku semakin muak melihatmu jika mendengar cerita itu lagi!"
"Satu kesempatan- "Sebelumnya aku sudah memberimu kesempatan Liam, sekarang tidak lagi. Aku benar-benar muak mendengar seluruh ceritamu, kita akhiri saja ini dan kembalilah pada Liora!"
Damn!
"Sayang"
"Berhenti menyebutku seperti itu! kalimat itu tak pantas keluar dari mulut pria sepertimu."
"Aku sudah berhenti Karin, semuanya hanya masa lalu"
Karin tertawa kecil, "Masa lalu kau bilang? Kau lupa bagaimana kita bertemu? Bagaimana kesalahan itu terjadi? Itu karena kau menyewa wanita bayaran! Kau paham maksudku. Itu bukan masa lalu Liam, tapi kebiasaanmu yang melampiaskan semuanya pada wanita!"
"Aku berani sumpah tidak akan melakukannya lagi, ku mohon!"
"Tidak, aku tidak akan pernah mau mengambil resiko hidup dengan pria yang bisanya hanya menghamburkan uang untuk kepuasan semata" Keputusan Karin final, dia ambil kertas yang ada di dalam tas kemudian meletakkannya ke atas meja tepat di depan mata Liam.
"Bagaimana dengan anakku!"
"Aku bisa membesarkannya sendiri" sambung Karin menyodorkan pena kehadapan Liam "cepat tanda tangani, aku tidak tahan lagi terlalu lama ditempat ini"
"Sampai kapanpun aku tidak akan melakukannya Karin, kau milikku sampai kapanpun akan menjadi milikku!"
"Jangan egois Liam"
"Kau yang egois Karin, kau mau anakmu terlahir tanpa Ayah. Hah!" kali ini Liam yang naik pitam.
"Lebih baik anakku terlahir tanpa Ayah, dari pada harus mengetahui kebenaran Ayahnya seorang pencari kepuasan!" telunjuk Karin menegang menunjuk wajah Liam, membuat pria itu semakin mendidih.
"Jaga ucapanmu Karin, jangan membuatku berbuat kasar padamu!"
"Kenapa? Kau ingin menamparku atau kau ingin membunuhku!"
"KARIN!" nada bicara Liam naik satu oktaf, tangannya mengepal kuat, uratnya menonjol keluar hingga matanya ikut memerah.
"Sudahlah, aku tidak tahan lagi melihatmu" kecewa dan sakit, Karin tidak tahu perasaannya semakin meremas jantungnya seolah tak membiarkannya hidup. Sedari tadi wanita itu terus menahan air matanya.
"Mau kemana!" Liam mencengkeram kuat lengan Karin hingga wanita itu merintih pelan "Jangan pernah berpikir kau bisa keluar dari sini!" dengan cepat Liam menarik tangan Karin membawanya kelantai atas dan mengurungnya di dalam kamar.
"LIAM!"
Pintu kamar terus di gedor dari dalam, Karin berkali-kali teriak tapi tidak di hiraukan oleh Liam yang kini tengah menahan tangis bersandar di balik pintu.
"Liam, buka! Kau jahat!"
Kakinya perlahan melangkah pergi meninggalkan area lantai dua dan memilih pergi dari apartemen sementara Karin masih berada didalam kamar yang gelap itu.
__ADS_1
Ini untuk kali pertamanya Liam benar-benar memperlakukannya dengan kasar.
-
-
Jayden terdiam, "Bukannya kau di dubai?"
"Aku baru saja kembali beberapa jam yang lalu"
"Apa! Kenapa?!"
Jayden yang kala itu sedang membuat kopi segera menghampiri Liam dan ikut duduk di sebelahnya.
"Kudengar Karin pergi" lanjutnya yang benar-benar penasaran, tak biasanya Liam memilih kembali di tengah jadwal penting seperti saat ini.
Liam meraih batang rokok yang ada di atas meja lantas menyalakannya. "Karin sudah tahu semuanya"
"APA! Bagaimana bisa!"
"Hana menceritakan semuanya" jawab Liam membuat Jayden menyadari sesuatu, mereka memang menyimpan rapat hal itu dari Karin tapi melupakan jika masih ada orang lain yang mengetahui hal tersebut.
"Benar, kita melupakan Hana"
"Semuanya sudah terjadi, tidak ada gunanya lagi menyalahkan Hana"
"Tapi Karin- "Tentu saja dia minta cerai, wanita mana yang mau menerima masa laluku" jawab Liam menertawakan dirinya sendiri.
"Tapi satu hal yang aku bingung, kenapa Joy tiba-tiba mengatakan jika dia akan berhenti menggangguku dengan Karin" Jayden terdiam, seolah menemukan kecocokan atas ucapan Joy waktu itu.
"Kau tahukan dia wanita yang seperti apa" lanjut Liam membuat kening Jayden reflek terangkat membenarkan kalimat Liam.
"Tapi Karin sedang hamil anakmu, jika dia minta cerai bagaimana dengan anakmu?! Sementara itu satu-satunya jalan agar kau bisa mengakusisi MK Group dengan cepat"
Kali ini Liam yang terdiam, beberapa saat kemudian ia kembali meraih satu batang rokok. "Karin wanita yang keras kepala, sulit membujuknya" sahut Liam kembali di benarkan oleh Jayden yang paham maksud sahabatnya itu.
"Tenangkan saja dulu dirimu, kau ingin ku panggilkan Peach?" Setelah mendapatkan persetujuan dari Liam, Jayden bangkit untuk menelpon Peach.
Tak berselang lama, bel apartemen berbunyi membuat Jayden segera bangkit untuk membukakan pintu.
Peach datang dengan satu temannya yang memang di minta oleh Jayden. "Hey Liam, bagaimana kabarmu" Liam hanya tersenyum palsu sambil menepuk sofa di sebelahnya mempersilahkan Peach untuk duduk, sementara satu temannya duduk di sebelah Jayden.
"Juan mana?" tanya Liam seraya mematikan rokoknya.
"Diakan mau menikah, jadi sibuk" jawab Jayden yang fokus menatap wanita yang duduk di sebelahnya.
"Kau masih sama Peach, cantik" ucap Liam merangkul bahu wanita itu untuk duduk lebih dekat dengannya.
"Kenapa? Suasana hatimu sedang hancur?" tanya Peach menyandarkan kepalanya pada dada bidang Liam, kalimat yang keluar dari mulut Karin sebelumnya tidak salah, jika Liam hanya memiliki kebiasaan bukan masa lalu.
Peach paham, dia hanya menjalankan tugasnya sesuai dengan bayarannya untuk menghibur Liam.
Tapi satu hal yang Liam sadari kala Peach sedang menciuminya dengan penuh gairah, disana pikirannya kembali teringat dengan Karin. "Berhenti Peach, aku harus pergi" ucapnya membuat wanita itu mengerti dan berhenti.
......................
.
.
.
.
__ADS_1
.
...🌻🌻🌻🌻...