
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
Karin turun setelah mendengar suara orang tua Liam, ia menuruni anak tangga dengan perasaan gugup padahal terakhir kali saat mereka bertemu Karin tidak se gugup ini.
Sebelum ikut duduk di sofa, Karin menyiapkan minuman agar tidak menambah kesan buruk di mata orang tua Liam.
"Silahkan diminum Bu, Yah" ucapnya meletakkan nampan berisi delapan gelas jus jeruk.
Tapi Tuan Zyan tak menghiraukannya dan masih menunggu jawaban dari Liam.
Sementara Nyonya Catherine menepuk sofa disebelahnya mengisyaratkan Karin untuk duduk.
Liam melirik Karin, dia pasti takut melihat Ayahnya.
"Semua beritanya tidak benar Yah, Kelvin sedang mempersiapkan konfrensi pers untuk besok siang" jawab Liam.
Tuan Zyan masih menatap Liam datar, "Berita seperti ini muncul pasti karena ada sebabnya kan? Jangan membohongi Ayah Liam! Selain yang kamu lakukan pada Karin perbuatan keji apalagi yang kamu lakukan?"
"Apa ini ada kaitannya dengan Liora?" Nyonya Catherine buka suara. Sial orang tua Liam selalu berpikir logis mengalahkan anaknya sendiri.
Ibunya adalah profesor psikolog di salah satu rumah sakit besar di Irlandia. Sekakmat jika Liam mengelak. "Jangan berbohong" lanjutnya membuat Adam, Juan dan Jayden susah payah menelan salivanya. Berakhir jika ibu Liam ikut bicara.
"Apa tante salah Jayden?!" Catherine melempar tatapan pada pria yang duduk di sebelah Juan.
Liam ingin mengutuk Jayden detik ini juga, pria itu pasti membocorkan tentang kembalinya Liora kepada ibunya.
"Kamu masih berhubungan dengan jal*ng itu?" Oh, Tuhan. Karin bahkan melebarkan matanya mendengar kalimat itu keluar dari mulut Nyonya Catherine yang terlihat begitu lembut dan penyayang.
"Jawab Liam!" Tekan Tuan Zyan.
Liam sudah mati kutu, pertanyaan kedua orang tuanya jauh lebih menyeramkan ketimbang di intimidasi kepolisian.
"Bukan Liora yang menyebarkan beritanya tante" sela Juan menampilkan identitas pelaku yang berhasil dilacak olehnya.
"Dia salah satu anak buah dari saingan bisnis Rez Holdings."
"Sekalipun dia saingan bisnis, bagaimana mereka mendapatkan informasi pribadi tentang Karin dan Liam? Sebagian berita itu benar,kan?" Tembak Tuan Zyan membuat Juan terdiam, astaga dia tahu apa yang dirasakan Liam saat ini.
"Kemarin surat ini dikirimkan ke rumah, hasil tes DNA" mata karin membelalak lalu beralih menatap Liam, pasalnya dia tidak tahu menahu masalah ini.
Liam menggeleng.
"Itu tidak benar Yah, Zayn bukan darah dagingku!"
__ADS_1
"Akhirnya kamu mengakui hubunganmu dengan Liora bukan sebatas kekasih saja? Rupanya hubungan kalian sangat jauh" Oh sh*it, Liam kena lagi. Kali ini Nyonya Catherine yang bicara.
Selama ini Liam selalu menyangkal hubungannya dengan Liora, jika hubungan mereka hanya sebatas hubungan kekasih saja tidak sejauh hingga berhubungan intim.
Orang tua Liam sedari kecil selalu memperingati dan mengawasi Liam untuk tidak terjun ke pergaulan bebas. Namun nyatanya mereka gagal karena ulah putra mereka sendiri.
Nyonya Catherine lantas beralih pada menantunya, ia mengelus lembut pundak Karin, sekali lagi Liam mempermalukan orang tuanya.
"Bagaimana kamu akan menyelesaikan ini?"
"Liam akan menjawab besok di hadapan pers" jawab Liam bangkit dari duduknya meninggalkan semua orang, dia sudah skakmat tak bisa buka suara lagi.
Ting~
Adam menyela dengan tangannya membiarkan Karin tetap duduk, dia yang akan membuka pintu.
"Karin!" Seru Tuan Morgan yang datang bersama Riana. Dan ini pertama kalinya orang tua Liam dan Karin bertemu setelah pernikahan mereka yang sudah berjalan hampir tiga bulan itu.
Karin berseru menyebut Ayahnya seraya bangkit dari duduknya. "Semuanya akan selesai" ucap Tuan Morgan mengelus lembut pucuk kepala Karin.
Sejujurnya Riana yang memaksa Morgan untuk pergi ke apartemen Karin. "Bagaimana keadaanmu sayang" Ucap Riana ingin mengelus kepala Karin tapi langsung ditahan oleh Karin tanpa menimbulkan keributan di depan orang tua Liam.
Demi apapun, suasana di ruang tamu benar-benar canggung tidak ada yang bicara sampai akhirnya suara telpon Adam memecah keheningan.
"Iya, Vin?"
"Sesuai dugaan, mereka di bayar. Sekarang aku sedang menyelidiki pemilik rekening yang mengirimkan uang pada mereka"
"Minta pada Juan untuk meretas cctv di gedung Big Tri sehari sebelum beritanya di siarkan"
"Oke"
Sesuai perintah Adam, tangan Juan langsung bergerak. Memerlukan waktu tiga menit untuknya selesai mengambil seluruh rekaman cctv di gedung Big Tri.
Kening halus Juan nan putih berkerut, dia tidak menemukan hal yang aneh.
Saat ketiganya sedang sibuk, Tuan Zyan terlihat mulai buka suara menghilangkan kecanggungan di sana. "Maafkan Liam pak, Karin harus terjebak dengannya karena kecerobohan anak itu"
Tuan Morgan sempat terdiam lalu menghela napas, "Semuanya sudah terjadi pak, biarkan semuanya berlalu selagi hubungan mereka baik-baik saja, dan saya merasa Liam pria yang bisa bertanggung jawab untuk Karin" jawab Ayah Karin tidak memperkeruh keadaan.
"Lagi pula mereka sama-sama salah, kalian tidak perlu meminta maaf seperti itu" Sial, Riana ikut bicara membuat Karin dan Adam saling menatap. Ingat jika orang tua Liam hanya mengetahui jika anaknya yang bersalah.
"Maksudnya?" perjelas Nyonya Catherine.
"Haha." Karin tertawa bodoh. "Tidak ada Bu, maksudnya Liam juga sudah menebus kesalahannya" tapi Karin lupa jika mertuanya itu sadar akan sesuatu. "Ah. Karin lupa memberi tahu kalian, sebenarnya ada kabar bahagia" ucapnya langsung mengalihkan suasana dan berusaha memecah fokus orang tua Liam.
Karin memejamkan matanya sebentar lalu bicara, "Karin hamil, sebentar lagi kalian akan menimang cucu" Karin kau gila, bagaimana bisa aku mengatakan itu mungkin seperti itu rutukan Karin dalam hatinya.
"Kamu serius?" perjelas Nyonya Catherine meraih kedua tangan Karin.
"Kau yakin?" perjelas Liam yang nyatanya mendengar ucapan Karin, pria itu tersenyum lebar menatap Karin mencari kebenaran di matanya, menghalangi pandangan ibunya.
Liam berada di belakang sofa berdiri di tengah Karin dan Ibunya. Dia menumpukan sebagian tubuhnya ke bahu sofa miring menatap Karin.
__ADS_1
"Anak ini" kesal Nyonya Catherine menyingkirkan kepala Liam dari pandangannya.
Mendengar itu tentunya membuat Tuan Morgan senang, sementara Riana hanya diam tidak menyukai kalimat yang di ucapkan Karin sebelumnya.
Dengan kebohongan itu Karin berhasil mengalihkan pembicaraan, yang tidak seharusnya dibahas akibat ulah Riana.
Tapi satu hal yang Riana sadari, jika orang tua Liam tidak mengetahui jika Liam dan Karin melakukan hubungan itu karena kecerobohan keduanya, lebih tepatnya ada campur tangannya.
Suasana di ruangan itu mulai mencair, Ayah Karin dan Liam perlahan mulai bicara santai membahas hubungan anak mereka yang diimbangi dengan masalah bisnis.
Sementara Karin terus mengawasi Riana untuk tidak bicara macam-macam pada mertuanya. Sampai detik ini kita bisa melihat jika Karin jauh lebih senang dengan Nyonya Catherine ketimbang Riana yang dinikahi Ayahnya secara sah.
-
-
-
Liam tiba-tiba mendekap Karin yang tengah berdiri di depan cermin sambil menyisir rambutnya. "Kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Bagaimana itu bisa berbuah dalam waktu satu hari?"
"Kau gila? Menurutmu aku benar-benar hamil?" Liam perlahan melepas pelukannya. "Kau berbohong?" raut wajahnya terlihat kecewa.
"Aku sengaja mengatakan itu untuk mengalihkan perhatian" jawab Karin pergi meninggalkan Liam untuk mengganti pakaian tidurnya.
Liam mendengus, lantas duduk di tepi ranjang. "Kau akan tetap disini?" tanya Karin saat keluar dari ruang ganti.
"Ayah dan Ibu sedang menginap, tidak mungkin kan jika kita tidur terpisah" Pria itu memutar malas bola matanya kemudian merebahkan tubuhnya di sisi kanan ranjang.
"Awas saja kalau kau macam-macam!" peringat Karin perlahan ikut membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Tapi Karin- "Sshh, Tidur!" desis Karin dengan mata yang tertutup tak membiarkan Liam bicara.
"Bagaimana jika orang tuaku menanyakannya nanti? Bukankah seharusnya kita perlu bukti?" ucapnya menumpukan kepalanya pada tangan miring kesamping menghadap istrinya.
Karin membuka matanya, lalu menatap Liam. "Bilang saja keguguran, kan mudah" jawab Karin yang langsung berbalik membelakangi Liam.
"Sudahlah Liam, kau gagal. Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan. Atau akan ku katakan pada orang tuamu masalah Ibuku"
Cepat Liam kembali berbaring. Berhenti memancing emosi Karin.
......................
.
.
.
.
.
...🌻🌻🌻🌻...
__ADS_1