
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
"Kita bertemu lagi" seringai Karin.
Riana membuang muka sambil mendengus senyum lalu ditatapnya kembali mata Karin "Aku sedang tidak ingin berurusan denganmu, jadi menyingkir"
Karin melipat tangan dengan wajah pongah "Kenapa? Kau takut dengan ancamanku terakhir kali?"
Riana terlihat sedang menutupi sesuatu dengan ekspresinya tapi Karin dengan jelas bisa mengetahui apa yang ingin wanita itu sembunyikan darinya.
Riana sadar dengan sekitar, beberapa orang sedang menunggu di tempat yang sama "Ada apa denganmu nak? Kau masih membenci ibu?"
"Tidak perlu bersandiwara disini Riana! Mereka bahkan tidak akan peduli jika aku membunuhmu detik ini juga"
"Yaampun Karin, kenapa kamu kasar sekali. Sebagai seorang Ibu, aku paham kamu pasti sedang merindukan ibumu, 'kan?!"
Karin tertawa, "Sebagai seorang Ibu?" ia lantas memperlihatkan sebuah foto padanya "Kau sendiri belum pernah menjadi seorang ibu, bagaimana kau bisa paham perasaan seorang ibu?"
Sesuai perkiraan Karin, wanita itu langsung bereaksi "Kau- "Jadi, kau ingin perasaan seorang ibu dan tetap seperti ini, atau-" Karin menjeda kalimatnya sesaat kemudian tersenyum sebelum ia kembali melanjutkan "Kau ingin kembali menjadi wanita biasa dan kembalikan sebutan Ibu padaku?"
Riana mengerti makna tersirat yang Karin ucapkan ditengah pembicaraan mereka yang disaksikan beberapa pasangan ditempat itu.
Jika ia memilih perasaan seorang Ibu, maka artinya Riana bersedia melakukan apapun untuk mendapatkan kembali uang yang ada di tangan Karin sementara kembali menjadi wanita biasa dan mengembalikan sebutan Ibu, dia akan mendapatkan uangnya setelah mengembalikan apa yang menjadi milik Karin.
"Bagaimana? Aku yakin kau sedang depresi saat ini"
"Kau pelakunya?!"
"Kau pikir aku tidak bisa? Jangan berpikir untuk melawanku dengan tekad seperti itu Riana!" Karin tersenyum miring kemudian memberikan foto tumpukan uang itu pada Riana.
"Ah-" Karin berbalik ditatapnya sekali lagi wajah Riana yang saat ini tak bisa berbuat apa-apa "Jika dalam waktu satu minggu kau tidak memberikan jawaban, maka aku akan melempar kertas-kertas itu kedalam laut-"
Sedari tadi Riana terus saja mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Sialan! Kenapa aku tidak terpikir hal itu" rutuknya yang dengan cepat waktu itu mengeliminasi nama Karin dari pelaku, karena bukti hanya memfokuskan mereka pada gangster-gangster itu.
Riana merogoh tasnya dan segera menelpon Nichole untuk mencari cara merebut uangnya kembali dari tangan Karin.
-
-
-
Liam menajamkan sorot matanya saat melihat istrinya itu melangkah keluar dari salah satu ruang bangsal. "Darimana saja?"
Karin menggeleng "Tadi antingku jatuh, jadi aku mencarinya"
Liam menatap istrinya menyelidik "Yasudah, kita pulang sekarang"
......................
Jackson duduk disofa ruang tamu bersama sang Ayah sambil memperhatikan Felix yang terlihat sedang buru-buru menuruni anak tangga hingga mendapat teguran dari sang Ayah "Mau kemana lagi kamu Felix?"
Pria itu tersenyum sambil memasang jam tangannya "Menemui calon menantu Ayah" jawabnya yang dalam hitungan detik menghilang dari pandangan Jackson dan Ayahnya.
"Siapa?" Pria paruh baya itu menoleh ke kiri para putra pertamanya "Jangan bertanya padaku" jawab Jackson yang netranya masih menatap pintu utama dimana sebelumnya Felix lewat dari sana.
......................
Hal itu tentu saja tidak berlaku bagi Liam. Bukan karena udara dingin yang menjadi penghalang untuk ia tidak melakukan rutinitas yang biasa ia lakukan yaitu pergi bekerja, melainkan karena memang hari ini weekend.
Sedangkan hari ini, entah kenapa rasanya Liam ingin menetap di dalam rumah selama seharian penuh setelah kemarin malam ia melakukan aktivitas panjang bersama dengan istrinya itu, kemudian berlanjut kembali saat dini hari dan itupun Karin yang memimpin untuk beberapa saat karena wanita itu yang tiba-tiba saja menyerah, dan tentu saja saat itu ia yang mengambil alih untuk memimpin permainan panas itu.
"Karin, sudah menghabiskan susumu?"
Liam bertanya sambil menoleh sekilas ke arah belakang, posisi dirinya saat ini sedang duduk berada di atas karpet berbulu sambil bermain game, sementara Karin sendiri sedang melakukan rebahan di atas sofa, tubuhnya sedikit menyamping karena saat ini ia juga sedang memperhatikan Liam yang sedang fokus melakukan aktivitasnya.
"Belum.." jawabnya terdengar lemas.
"Kenapa belum" ia bertanya kembali dengan tatapan yang masih fokus pada permainannya.
Karin malah terdiam dan tidak menjawab. Entah kenapa rasanya hari ini ia benar-benar sangat malas, bahkan hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan Liam pun ia malas. Kedua matanya pun juga terasa berat, seperti sedang mengantuk tetapi ia tidak sedang mengantuk.
"Awas saja kalau kau pakai hiro-ku diam-diam" peringat Karin tiba-tiba, rasanya ia ingin tidur dan sebelum itu dirinya harus memperingati suaminya itu.
Berselang beberapa menit Liam sendiri mulai menghentikan aktivitas bermainnya, ia menyadari bahwa sedari tadi Karin masih belum menjawab pertanyaannya. Wanita itu hanya terdiam setelah tadi bicara dan itu membuatnya membalikkan tubuh agar bisa menghadap penuh ke arah wanita itu.
__ADS_1
"Mengantuk, ya?" tanyanya dengan nada suara rendah sambil tangannya mulai mengusap-usap surai panjang milik wanita itu.
Yang ditanya menggeleng pelan, ia menikmati usapan lembut dari Liam. Kedua irisnya memperhatikan lekuk wajah pria itu yang terlihat begitu sempurna, mulai dari kedua alisnya yang tebal ditambah dengan tatapan kedua matanya yang terlihat begitu tajam, garis hidung yang mancung sekaligus bentuk rahang yang tegas, dan point terakhir yang paling penting adalah bentuk bibir pria itu yang menurutnya terlihat sangat unik dan sangat jarang dimiliki oleh pria lain.
Kesimpulan dari semuanya adalah, Karin merasa beruntung karena sudah bisa memiliki Liam.
"Kenapa memandangiku terus, apa karena kau baru sadar suamimu ini sangat tampan?"
Jelas saja jika Liam bertanya seperti itu. Pandangan Karin terhadap dirinya sangatlah tidak biasa, ia memutar malas bola matanya, dia lupa Liam itu punya rasa percaya diri yang sangat tinggi.
Maka selanjutnya tidak heran jika Liam tiba-tiba mencuri kecupan di atas bibir wanita itu, ia melakukannya hanya karena gemas sendiri. Selain hal itu ya- karena tentu saja ia hanya merasa ingin. Lagi pula bibir Karin terlihat sangat menggoda dan membuatnya ketagihan, jadi tidak masalah bukan? Toh, Karin juga istrinya.
Karin mendengus "Liam.."
"Apa?" Liam menaikkan sekilas kedua alisnya menggoda Karin, demi apapun ia selalu saja senang saat melihat wajah Karin yang sedikit kesal.
Liam sedikit terkekeh pelan, lagi dan lagi ia selalu dibuat gemas oleh tingkah laku wanita itu.
Dan selanjutnya yang terjadi adalah, Liam yang langsung mendekatkan wajahnya ke arah wajah Karin, sedikit menunduk karena ia juga menyesuaikan bibirnya dengan bibir milik wanita itu. Kemudian dengan pelan bibirnya mulai memberi kecupan-kecupan ringan, ia melakukannya berkali-kali sebab merasa bahwa ini merupakan sesuatu yang sangat manis.
Liam tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya, jadi ini adalah pertama kalinya ia melakukan dan itu bersama dengan Karin, karena kalian pasti tahu Liam selalu melakukan hal yang berat dalam artian yang berbeda.
"Kau pasti sangat menyukaiku, 'kan" Karin berujar sambil menaikkan satu alisnya sekilas seolah menggoda Liam dan itu memang sukses membuat Liam kembali terkekeh.
"Aku jadi tidak sabar menunggu dirinya lahir," Liam memposisikan wajahnya di depan perut Karin, kemudian ia mencium perut wanita itu sekilas sebelum kembali berujar. "Kurang enam bulan lagi kita akan bisa melihatnya menyapa dunia, Karin." ia mengakhiri dengan mencium perut wanita itu kembali, kemudian mengusap-usapnya pelan.
"Aku sangat penasaran apakah dia perempuan atau laki-laki, Liam."
"Perempuan atau laki-laki, aku akan menerimanya dengan senang hati, Sayang. Dan lagipula bukankah kita sudah sepakat untuk tidak mencari tahu jenis kelaminnya?" Liam ingat jika sedari dulu dirinya bersama dengan Karin sepakat akan menolak jika nanti ada seorang dokter yang ingin memberi tawaran untuk melihat jenis kelamin bayi mereka. "Biarkan rasa penasaran kita selama ini terjawab jika dia sudah lahir nanti."
......................
.
.
.
.
.
...🌻🌻🌻🌻...
__ADS_1