
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
Jayden diam, "Begini- temanku sudah menikah, tapi dia membunyikan sesuatu yang berhubungan dengan masa lalunya, jika kau berada di posisi istrinya, apa yang kau lakukan jika mengetahui ternyata dia sudah mempunya anak dari wanita lain"
"Siapa. Juan? Adam? atau jangan-jangan Liam?"
"Bukan-Bukan, kau pikir temanku hanya mereka? Ini teman masa kecilku"
"Tapi Liam teman masa kecilmu?!"
"Aish, pokoknya bukan Liam tapi orang lain. Dia tidak tinggal di negara ini" jawab Jayden menyangkal ucapan Karin.
"Ooh, kalau aku jadi istrinya, tentu saja aku marah. Seharusnya dia jujur sejak awal setidaknya tidak akan terlalu sakit dari pada terus-menerus dibohongi"
Langkah Liam terhenti, ia dibuat membeku atas ucapan Karin.
"Apa kau akan pergi?"
"Tentu saja, untuk apa aku bertahan. Tapi setiap wanita kadang punya pandangan yang berbeda, bisa saja mereka tetap bertahan karena kondisi yang tidak memungkinkan" Karin menjawab dengan begitu tenang, memberikan tanggapan atas pertanyaan Jayden.
"Tapi sebenarnya putra mereka sudah meninggal, dan baru-baru ini dia mengetahui kalau anak itu bukan darah dagingnya karena itu dia meminta saran dariku, apakah harus jujur atau sebaliknya" Jujur Jayden begitu penasaran dengan jawaban Karin, dimana itu sebenarnya adalah sebuah kebenaran untuk Karin yang dibalut dengan cerita orang lain.
"Menurut dari pandangan mu bagaimana?" sambung Jayden menatap Karin menunggu jawaban dari mulutnya.
Wanita itu berdeham, ia diam seolah sedang memikirkan sesuatu. "Entahlah, mungkin aku akan pergi" jawabnya seraya menyuap sepotong buah apel yang ada di dalam piring.
Entah kenapa Liam merasa ada yang menghujam dadanya begitu kuat, kakinya terasa lemas respect tangan kanan berpegang pada pembatas tangga.
"Apa kau akan memaafkan dan bertahan?"
"Menurutku tidak ada alasan untuk bertahan, terlebih dia sudah berbohong dan bahkan menutupi hal sepenting itu saat janji suci di ucapkan"
Jayden mengangguk pelan seraya beralih menatap keluar jendela kaca besar di depan.
"Kau masih di sini?" seru Liam dengan nada berat, tatapannya terlihat berubah dingin dan datar.
"Liam"gumam Jayden pelan, kaget melihat keberadaannya yang tiba-tiba berada tepat di belakang sofa dan tentunya sudah mengira jika Liam tadi mendengar semuanya.
Merasa kondisi tidak kondusif lagi, membuat Jayden perlahan bangkit dan angkat kaki dari apartemen Liam meninggalkan keduanya.
"Kau tidak masak?" tanya Liam dengan nada yang sama seperti pertanyaannya pada Jayden.
__ADS_1
Karin menoleh melipat tangan kanan di punggung sofa lalu menumpukan dagu pada tangan menatap Liam datar. "Kau lupa aku tidak bisa masak?!"
Liam berdecak remeh, "Setidaknya belajar, supaya lebih berguna" lalu ia memasukkan kedua tangannya ke saku meninggalkan Karin masuk keruang kerja.
Karin merasa ucapan Liam benar-benar terasa sakit untuknya. "Ada apa lagi dengannya?" gumam Karin bangkit dari duduknya sambil meremat ujung bajunya berjalan menuju dapur dengan langkah malas.
Ia menatap pintu ruang kerja Liam, merasa pria yang tadi bicara dengannya adalah Liam dengan kepribadian lain, terlalu dingin.
Dua puluh menit waktu yang Karin butuhkan untuk menyiapkan carbonara yang sudah tertata rapi di atas meja makan, itupun ia masak menggunakan bahan yang instan.
Tok ... tok ... tok
"Ayo makan malam" kata Karin dari luar tapi pria di dalam tidak meresponnya sama sekali, membuat Karin sedikit kesal sampai akhirnya Liam keluar karena wanita itu terlalu berisik.
"Makanannya sudah siap" kata Karin melangkah mendahului Liam menuju meja makan.
......................
Liora berdiri menatap keluar jendela kaca sambil menenggak habis segelas air putih di tangannya. Nampak jelas jika wanita itu sedang memikirkan sesuatu.
-
-
-
Jayden berdecih lalu turun dari mobil berdiri menghadap tepat ke arah Liora hingga mereka saling berhadapan.
Liora terkesiap tiba-tiba Jayden berada di depan dan menatapnya dengan tatapan yang menusuk walau dari balik kacamata hitamnya. Raut wajah pria itu tampak jelas menggambarkan rasa tidak sukanya.
Jayden tersenyum miring seraya berjalan ke arah Liora tanpa berniat melepas kacamata hitamnya.
"Sedang apa kau disini?" tanyanya sini. Bukan hanya Adam, tapi Jayden jauh lebih membenci Liora.
"Jayden. Sudah lama sekali" katanya tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
"Pergi dari sini sebelum aku meminta security mengusirmu" Setelah berucap Jayden melangkah pergi namun Liora menahan lengannya membuat Jayden dengan kasar menepis tangan wanita itu darinya.
"Don't touch- me!"
Liora tersenyum tipis seraya menurunkan tangannya perlahan, "Kau tidak berubah" gumamnya pelan tapi sukses terdengar di telinga Jayden.
"Jangan bersikap seolah kau mengenalku dengan baik!" Jayden mendengus lalu mengebas pakaiannya yang tersentuh Liora dan pergi begitu saja meninggalkan wanita itu.
"Sial! Dia masih saja meremehkanku." Liora tersenyum sinis menatap kepergian Jayden.
Liora berbalik ia kaget tat kala klakson mobil dibunyikan dengan nyaring dari sedan hitam yang keluar dari kawasan Paradise Sky Penthouse.
Ia melihat dua penumpang yang berada di belakang membuatnya kembali melirik saat menyadari orang yang ada di dalam mobil terlihat tidak asing baginya. Liora masih saja menatap sedan hitam itu sampai menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
Drrttt...
"Aku segera ke sana"
......................
Karin melirik dengan ekor matanya ke arah Liam yang sedang duduk di sebelah sambil memeriksa sesuatu dari tabletnya.
Pria itu terlihat acuh tanpa memperdulikan Karin yang perlahan turun dari mobil, jika bukan karena mobilnya ditahan wanita itu juga malas untuk ikut Liam.
"Karin!"
Reflek kepala Liam menoleh ke kiri dimana sang istri tengah bicara dengan seseorang.
Tangannya mengepal, Liam lantas turun dari mobil sambil mendengus senyum, tatapannya tajam, tidak suka cara Felix menatap Karin didepan matanya.
Liam tersenyum miring kemudian "Karin" serunya berjalan menuju wanita itu, sorot matanya berubah dan ekspresi kesal tergambar di wajahnya.
Liam berada di tengah kemudian menarik Karin mendekat sampai bahu mereka bersentuhan membuat wanita itu seketika mendelik tajam.
"Aku akan mengantarmu sayang" dalam hati Karin, tadi pria ini bahkan acuh saat ia keluar dari mobil, kenapa tiba-tiba mau mengantarnya?
Dengan cepat pria itu mengarahkan Karin untuk masuk dan dengan sengaja ia menyenggol bahu Felix saat melewatinya, membuat pria itu mendengus kesal.
"Tck. Ternyata kau masih saja seperti dulu Liam." guma Felix terdengar di telinga Liam membuatnya menghentikan langkah dan berbalik.
Liam mengambil dua langkah ke depan mendekat pada Felix dengan tatapan tajam. Ia mendengus senyum menatap ke sudut lain lalu kembali pada Felix, "Kau yang masih saja sama. Kau bahkan tidak berubah sama sekali, masih saja suka merebut milikku!" dua jarinya mendorong bahu Felix dengan tenaga hingga pria itu terhuyung kebelakang.
Felix tersenyum remeh, "Tolong kau ingat lagi baik-baik. Siapa yang merebut dan siapa yang direbut!" urat leher Felix menonjol keluar, matanya memerah tangannya mengepal sempurna.
Liam mengulas senyum aneh, "Itu hanya berlaku padamu, bukan padamu!"
"Kalian berdua, cukup. Liam, aku bisa pergi sendiri dan kau Felix, berhenti datang ke perusahaan jika hanya ingin menggangguku." Karin sudah muak melihat pertengkaran keduanya. Ia lantas melangkah pergi namun Liam langsung menahan lengannya.
Sementara tak jauh dari posisi mereka bertiga, seorang wanita berjalan kearah mereka "Liam!" Suara itu membuat Liam sekaligus Felix menoleh.
Felix melebarkan iris matanya terkejut, sama halnya dengan Liam berbeda dengan Karin yang menatap bingung ketiganya.
......................
.
.
.
.
.
...🌻🌻🌻🌻...
__ADS_1