Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - START NORMALLY


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


Jika setiap masalah selalu ada jalan keluar, katakan bahwa saat ini semua yang Karin rasakan seolah hilang. Tidak ada beban. Seperti tidak ada rahasia yang berusaha ia kuak sedalam mungkin isinya. Semuanya sudah jelas, kesempatan yang ia berikan pada Liam seolah alasan yang ia buat untuk menenangkan hatinya sendiri.


Putus cinta seharusnya bukan sebuah cerita baru dengan banyak pengalaman yang trauma dan banyak ketakutan yang menghantui. Karin termasuk salah satu nya. Dia memang sakit, dia memang hancur, tapi itu dulu. Dulu sebelum bertemu Liam. Kini hidupnya mulai berwarna, mengais sedikit cahaya akan sebuah harapan untuk setiap usaha yang tidak akan terbuang sia-sia.


Keduanya pernah merasakan bagaimana ditinggalkan. Bagaimana rasanya dikhianati, kedua nya pernah hancur, pernah gila hanya memikirkan manusia egois yang tidak menghargai perasaan. Kini semesta berharap, kedua manusia yang pernah tersakiti tersebut bisa mengais sebuah kebahagiaan lewat lembaran baru meski dengan jalan yang seharusnya lebih baik daripada apa yang sudah tergambarkan.


Liam juga pernah putus cinta. Bahkan hidupnya begitu menyedihkan, memohon agar wanita yang menyakitinya bisa kembali. Meringkuh bersama dan memulai semua seperti biasa. Dia bahkan merasa begitu kecil, ketika wanita yang ia sangat cintai pergi begitu saja. Siapa? Liora.


Tapi ini bukan soal siapa yang jahat dan siapa yang bodoh. Ingat! ini soal hati, soal perasaan. Dimana sebuah perjuangan untuk melewati masa yang begitu kelam harus berada dalam fase pengamatan. Karna hati tidak bisa bekerja lewat paksaan. Bahkan fisik tidak akan bisa menahan jika kerja hati sudah berjalan. Ini hanya soal waktu dan kenangan. Seberapa besar usaha kita untuk bisa keluar dari bayangan yang telah menghancurkan.


"Aku mau itu?" Karin menggoyang-goyangkan lengan jaket hitam yang Liam pakai siang ini.


Kedua mata nya masih fokus menatap sang istri dengan balutan blouse berwarna abu lengan panjang, rambut yang sedikit dijepit dengan penjepit dan pewarna bibir yang tidak terlalu mencolok, wajah nya bahkan nyaris tidak terlihat dilapisi bedak sedikitpun.


Karin itu cantik, sangat cantik.


Sayangnya pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan. Liam bahkan mengadu beberapa ketidak tertarikannya pada wanita ini.


"Liam" panggilnya sekali lagi, membuat pria itu segera tersadar.


"Tunggu disini, biarkan aku yang pergi" kata Liam segera bangkit dari duduknya menuju meja pemesanan, ini untuk kali pertamanya mereka keluar setelah kerenggangan hubungan mereka.


Karin hanya mengangguk dan sembari menunggu Liam kembali, wanita itu mengalihkan fokusnya pada sepasang kekasih yang sedang bermain bersama anak mereka.


Hari ini cuaca cerah dengan suhu yang tidak terlalu panas namun tidak juga terlalu dingin, sekitar 27 derajat celcius dan sesekali angin berhembus dari sisi barat sementara matahari menyongsong naik di atas kepala, sekarang pukul dua siang.

__ADS_1


Tawa mereka membuat Karin perlahan ikut tersenyum merasakan kehangatan keluarga kecil itu, ia perlahan mengusap cairan bening yang tanpa izin mengalir di pipinya "Aku merindukan kalian, Ayah- Ibu"


Sementara tepat di sisi jalan besar, nampak sebuah sedan hitam mengawasinya dari kejauhan.


Riana meletakkan tabletnya kemudian menoleh ke sisi kiri "Semuanya akan berubah Karin, jangan berpikir kau bisa menang dariku" gumamnya menyematkan senyum licik.


"Aku tidak ingin lagi melihat anak itu berulah, segera hubungi dia untuk berburu" Nichole hanya patuh dan mengikuti seluruh perintah Riana. "Kita pergi sekarang" pinta pria itu pada sopir, Riana perlahan mengalihkan pandangannya ke depan saat jendela kaca mobil mulai tertutup.


Liam segera mengambil tempat duduk di sebelah Karin seraya meletakkan beberapa makanan yang memang ia pesan, tidak terbayang dalam pikirannya seorang Liam Oliver Ramirez direktur Rez Holdings makan ditempat terbuka seperti saat ini, sebuah taman hijau di dekat sungai. Ditambah mereka hanya duduk beralaskan tikar yang mereka sewa.


Jika bersama Liora dia biasanya pergi ketempat mahal atau mewah, berbeda dengan Karin yang lebih memilih alam dibandingkan ruangan ber-AC yang menurutnya membosankan.


Atensinya tanpa sedikitpun berpaling dari Karin yang tengah menyantap beberapa makanan- rasanya Liam ikut kenyang saat melihat istrinya itu makan dengan lahap "Pelan-pelan" Ibu jarinya reflek mengusap sudut bibir Karin dan memberinya air minum kala wanita itu tersedak.


Karin terdiam, mulutnya mulai mengunyah pelan hingga sesat ia terdiam dengan tatapannya yang saling terkunci dengan Liam. Tapi Karin langsung tersadar dan segera mengalihkan atensinya ke sisi lain sementara mulutnya kembali mengunyah dengan cepat, rasa canggung apa yang baru saja dia rasakan.


"Kalian suami istri, kenapa masih canggung?!" kurang lebih seperti itu pikiran Karin.


"Kau masih marah padaku Karin?" tiba-tiba saja Liam bertanya seperti itu, namun tidak mendapati jawaban dari Karin yang tidak fokus padanya melainkan atensinya menatap sisi lain.


"Sayang... Aku bahkan sudah meminta maaf dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Kau masih tidak mau memaafkanku?" ia kali ini berhasil mengambil perhatian Karin yang sedari tadi tidak menatapnya.


"Begitu, ya?" Liam sedikit berpikir, mendadak ia menemukan sebuah ide.


"Kau tidak rindu padaku?"


"Tidak."


"Tidak ingin memelukku?"


"Tidak."


"Tidak ingin menciumku?"


"Tidak." Karin masih menjawab acuh sambil memakan potongan kue, Liam itu suka sekali menanyakan hal yang sudah jelas Karin jawab sebelum mereka pergi.


"Kau yakin, Sayang?"

__ADS_1


"Hm."


"Serius?"


Liam mengangguk mengerti. Ia menarik napas sejenak-lalu membuangnya sebelum kembali bersuara. "Kalau begitu aku akan pulang."


"Liammmm!!!"


Karin reflek berdiri, pria itu langsung saja meloloskan tawanya. Ide yang mendadak muncul secara tiba-tiba tersebut telah berhasil ia lakukan dan ia merasa sangat bahagia sekaligus puas secara bersamaan karena sudah berhasil membuat Karin berteriak kesal seperti itu.


Menggoda Karin itu sangat menyenangkan asal kalian tahu.


"Berhentilah marah jika kau tidak ingin aku pergi, Sayang." ujar Liam usai memberhentikan tawanya. Ia tak mengerti dengan tingkah laku istrinya yang cukup menggemaskan itu. Karin ingin terus marah, tetapi lucunya wanita itu malah bilang-bilang.


"Bukankah jika kau ingin marah, kau hanya perlu marah saja? Tidak usah bilang-bilang maksudnya."


"Kau mengancamku dan itu tidak adil, Liam." Karin mengerucutkan bibirnya sedikit.


"Tidak adil apanya? Aku tidak mengancam mu, Sayang. Bukankah kenyataannya memang begitu? Kau selalu ingin terus berada di dekatku."


Karin mendengus. Ia pikir pria itu terlalu percaya diri. “Bukan aku, tetapi anakmu yang selalu ingin terus berada di dekatmu."


Liam memiringkan sedikit kepalanya, matanya memicing sekaligus memasang wajah seolah-olah berpikir. "Benarkah?" gumamnya. Ia mulai merendahkan tubuhnya, kedua lututnya menekuk dan wajahnya kini sejajar dengan perut Karin yang masih sedikit rata itu. "Sayang, apakah yang dikatakan Ibumu itu benar, hm?" Liam mulai berbicara sendiri. Ia menempelkan daun telinganya ke arah perut wanita itu, berharap mendapatkan jawaban atas pertanyaannya barusan.


......................



.


.


.


.


.

__ADS_1


...🌻🌻🌻🌻...


__ADS_2