Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - LIAM'S CURSED PHONE


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


"Jangan sahabatku, Jayden." Tegur Karin saat pria itu baru saja ingin melancarkan aksinya. "Cih, baru juga ingin bicara" Jayden mendengus seraya bangkit dari sofa mengiringi langkah Juan ke meja makan.


Makanan yang di pesan Liam baru saja tiba. Karin di bantu Safira untuk menghidangkan beberapa makanan di atas meja.


Mereka semua duduk di meja makan terkecuali Adam yang terlihat buru-buru pulang karena ada pasien darurat, pria itu hanya sempat mengambil sepotong paha Ayam sambil berlari keluar.


"Kemana?" tanya Safira agak berbisik pada Karin. "Dia dokter di Sky Medical Group" jawab Karin membuat Safira mengangguk pelan.


Mereka menghabiskan makan malam dengan tawa dan candaan, siapapun yang melihat mereka pasti akan ikut tersenyum. Ini kali pertamanya untuk Karin tertawa lepas sama halnya dengan Liam, dia merasa mimpinya perlahan terealisasikan dengan hadirnya Karin dalam kehidupannya.


......................



Liam menutup pintu kamar secara perlahan tak ingin membangunkan Karin yang masih lelap tertidur, sebenarnya dia juga bingung apa alasan Karin tidak mau satu kamar dengannya. Jika dilihat lagi hubungan mereka baik-baik saja akhir-akhir ini.


Liam berdiri di dekat ranjang, menatap wajah damai Karin hingga perlahan ia duduk di tepi ranjang.


Ia merogoh ponsel yang ada di saku celananya bersiap untuk mengambil gambar Karin yang masih tertidur.


Ckrek.


Pria itu tertawa pelan saat melihat hasil tangkapannya, dan kembali ingin mengambil gambar lainnya tapi-



"Kau mau mati!"


"Sialan!" umpat Liam. Hampir saja ponselnya jatuh saat melihat tatapan tajam Karin. "Kapan kau bangun?" kesalnya.


"Sejak kau menertawaiku!" balas Karin cepat merebut ponsel Liam dari tangannya, "Dapat!" gumam Karin tersenyum, kemudian beralih pada ponsel Liam.


"Kenapa?" Liam tersenyum penuh kemenangan saat melihat Karin tidak berkutik, "Terkunci, ya? Kasian" ejeknya menarik gemas hidung Karin yang tentunya langsung di tepis oleh si pemilik hidung.


"Jangan di buka, nanti kau menyesal" peringat Liam bangkit dari duduknya untuk segera mengganti pakaiannya dengan setelan kantor.


Larangan adalah perintah, Karin memasukkan sembarang kode dari tanggal lahir Liam tapi hasilnya nihil, beralih ke tanggal lahir orang tuanya dan hasilnya sama. "Jangan bilang?!" Cepat Karin menekan angka dari tanggal lahirnya dan- itu berhasil.


Tunggu, Karin tidak sempat memikirkan alasan Liam menggunakan tanggal lahirnya, yang jelas dia ingin menghapus foto yang di ambil Liam sebelum pria itu dengan jahil memposting di akun instagram pribadinya.

__ADS_1


-


-


"LIAM!!!" Teriak Karin beberapa saat kemudian, ponsel Liam sudah tergeletak di atas selimut jauh dari posisi Karin saat ini.


Liam keluar sambil mengancing lengan kemejanya, "Apa?" jawabnya santai. "Singkirkan ponsel terkutuk mu itu dariku!" tekan Karin melengos pergi ke kamar mandi.


Liam hanya tersenyum, dia tahu apa maksud Karin. "Ada apa? Aku belajar semuanya dari sana" Teriak Liam sebelum Karin masuk ke kamar mandi.


"Aku tidak peduli, kalau perlu buang saja ponselmu itu. Hah dasar Pria!" jawab Karin sebelum wanita itu hilang di balik pintu.


"Padahal hanya vidio, apa yang salah? Lagi pula aku tidak memintanya mempraktekkan saat kami melakukannya kan" gumamnya heran, sudahlah author juga tidak paham jalan pikiran Liam.


Menghabiskan waktu tiga puluh menit, Karin keluar dari kamar mandi dengan balutan Bathrobe dan handuk yang membungkus kepalanya.


"Astaga! Kau masih disini, kenapa belum berangkat? Ini sudah jam 9 lewat" ucap Karin seraya duduk di kursi meja rias.


"Aku ingin mengantarmu ke kantor"


"Memang aku mengijinkan?"


"Tidak perlu ijin darimu"


"Kalau begitu pergi saja ke kantormu, jangan repot-repot aku tidak membutuhkan bantuanmu Tuan Liam!"


Mendengar jawaban Karin membuat Liam mendengus kesal, "Oke, kalau begitu jawab pertanyaanku?!"


"Kenapa kau tidak mau satu kamar denganku?"


"Pertanyaan itu lagi!" Karin menghela napasnya, "Itu karena kau berbahaya!"


"Pria tampan sepertiku ini punya sisi bahaya dari sebelah mana?"


"Semua sisi!"


"Sudahlah jangan berdebat denganku, lebih baik kau pergi ke kantor sekarang. Kelvin sudah menelponku, pasti kau punya jadwal penting kan hari ini" sambung Karin berhasil membungkam mulut Liam, membuat pria itu segera keluar dari kamar.


"Aku hanya tak ingin mengganggu tidurmu dengan mimpi burukku, Liam." gumam Karin tersenyum miris lantas kembali melanjutkan aktivitasnya.


......................


"Permisi?"


"Silahkan" ucap Adam mempersilahkan pasien berikutnya untuk duduk selagi matanya fokus menatap layar komputer, memeriksa hasil rontgen sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut.


Adam terlihat serius saat melihat hasil lab dari pasiennya, "Kau yakin pasiennya wanita?" tanyanya pada suster yang berdiri di dekat mejanya.


"Memangnya kenapa?" sahut wanita yang sedari tadi sudah duduk di depannya.


Adam mengenali suara ini, tapi dimana.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi saya dok?" tanyanya tanpa melepas kacamata dan maskernya.


"Maaf, tapi apa anda mengalami kekerasan?" tanya Adam hati-hati. Wanita itu mengangguk pelan membuat Adam meminta suster untuk keluar sebentar hingga menyisakan dirinya hanya berdua dengan pasien.


"Sudah berapa lama?"


"Dua tahun terakhir" Adam cukup kaget, namun ia bisa mengontrol ekspresinya. Karena ini masalah pribadi pasiennya.


Wanita itu perlahan melepas masker dan kacamata hitamnya, sukses membuat Adam melebarkan matanya. "Safira? Kau Safira teman Karin, kan?!" tembak Adam yakin.


Safira mengangguk, yang di ucapkan Adam benar. "Apa yang terjadi? Bagaimana bisa?!"


"Tolong rahasiakan ini dari Karin, sebelumnya seseorang merekomendasikanmu padaku. Aku sengaja mencari waktu luang dan menjadwalkan waktu untuk konsultasi disini, dan waktu itu kita bertemu setelah aku mendaftar untuk konsultasi" jelas Safira, itu alasan kenapa dia beberapa kali curi pandang dengan Adam waktu itu.


"Kau mengalami KDRT?"


Safira menggeleng pelan, "Aku belum menikah" jawaban itu langsung membuat Adam paham. "Bagaimana sekarang?"


"Aku bisa mengatasinya jadi tidak terlalu buruk"


"Aku tidak akan bertanya alasanmu bertahan sampai detik ini, namun yang jelas ini bisa merenggut nyawamu jika terus berlanjut"


Safira mengangguk pelan "Aku tahu itu, tapi saat ini kondisiku baik-baik saja,kan?"


Adam menghela napas, "Sebagian hampir selesai masa pemulihan, jangan melakukan aktivitas berat dulu, makan-makanan bergizi dan hindari stres, karena itu juga salah satu faktor yang memperlambat proses penyembuhan" Beberapa tulang rusuk Safira patah entah sejak kapan hal itu menimpanya, tapi jika hal itu terus berlanjut nyawanya juga akan terancam.


Adam hanya memberi beberapa jawaban dan resep obat untuk Safira agar bisa beraktivitas dengan nyaman saat sedang bekerja, sesuai dengan permintaan wanita itu.


Mereka tak banyak bicara, Safira segera pergi setelah waktu konsultasinya selesai begitu juga dengan Adam yang melanjutkan pekerjaannya.


Hanya saja pertanyaan yang tidak dia tanyakan terus terpikir di benaknya. Alasan kenapa Safira masih bertahan setelah menerima semua kekerasan ini.


......................


"Ayah" Tegur Karin saat masuk keruangan presdir MK Group itu, akhir-akhir ini Ayahnya itu sering kali terlihat melamun.


Morgan kontan menatap putrinya yang tengah duduk di sofa, "Ada apa Karin?"


"Karin mau jawaban!" ekspresi wajahnya terlihat serius seraya mengeluarkan sebuah foto dari balik ponselnya.


......................


.


.


.


.


.

__ADS_1


...🌻🌻🌻🌻...


__ADS_2