
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
"Tidak akan." Jawab Liora yakin, sedikit menghentak gelasnya sementara Jackson menarik tipis senyumnya sambil memegang segelas wine di tangan kirinya.
"Pria benci wanita yang gigih" Jackson kembali menyuarakan pendapatnya kemudian menenggak habis cairan berwarna ungu yang ada pada gelasnya.
Liora terdiam dengan pandangan lurus kedepan mencengkeram kuat sisi ujung meja "Aku akan tamat jika tidak gigih" balasnya mendelik cepat pada pria di sebelahnya "Kau cantik, kenapa mengejarnya? Jika aku wanita dan secantik dirimu aku tidak akan begitu" ungkap Jackson perlahan bangkit dari duduknya berjalan menuju jendela besar membelakangi Liora yang tengah duduk di sofa.
"Aku sangat menyukai Liam"
Jackson tergelak.
"Lalu kenapa kau berselingkuh dengan Felix? Kau tahu jika dia sudah memiliki tunangan."
"Itu karena orang tua Liam, dan pria itu!"
"Siapa? Jayden?"
Jackson sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan mereka dan siapa yang Liora maksud. "Jika bukan karena pria itu, aku tidak perlu mengasingkan diri hanya untuk bisa hidup normal" Jackson berbalik menatap Liora dengan satu tangannya yang bertengger di pinggang sementara satu tangannya lagi memegang gelas wine- "Liam mengetahui hal itu?" Liora menggelengkan kepala "Bahkan sampai detik ini dia masih membenciku karena aku meninggalkannya"
"Tapi Liora-" Jackson menjeda kalimatnya sesaat "Jika Liam mengetahui yang sebenarnya keadaan mungkin saja berubah"
"Mungkin, aku belum mencobanya- "Kau takut orang tua Liam menyidangmu lagi seperti waktu itu?!"
Sekelebat ingatan terlintas di pikiran Liora, kala orang tua Liam lebih tepatnya Nyonya Cathrine membayar dan mengancamnya untuk meninggalkan Liam. Bahkan sampai detik ini makian Nyonya Catherine masih bersemayam dalam benak Liora.
Liora bangkit dari sofa "Tapi- Kenapa kau melakukan semua ini? Karin itu tunangan adikmu, kenapa- "Kenapa aku menginginkannya?" potong Jackson berbalik pada Liora menatap wanita itu dengan tatapan datar "Karena Karin itu milikku, bukan Felix. Pria itu hanya parasit yang mengambil semuanya dariku"
Liora terdiam "Apa yang akan kau lakukan? Menuruti perintah Riana? Dia memintamu melenyapkan Karin,kan?!" Jackson tersenyum miring kemudian meletakkan pemantik kotak itu kembali ke atas nakas. "Itu urusanku Liora, jangan berpikir kita sedekat itu sampai kau melewati garis pembatas"
__ADS_1
Liora mendengus memutar malas bola matanya "Terserah, tidak mau jawab juga tidak masalah" ia acuh dan segera meraih tasnya melangkah pergi dari ruangan itu.
Jackson menyunggingkan senyum miring seraya menguarkan asap putih dari bibirnya menghisap kembali ujung tembakau yang menenangkan dirinya.
......................
"Kau pasti berpikir aku sudah kalah, kan." Karin tersenyum melipat tangan menatap jalanan kota dari jendela besar diruang presiden direktur, tatapannya menukik tajam berdiri membelakangi Riana.
Riana mendengus senyum remeh ia ikut melipat tangannya kedada "sudahlah Karin, masa mu sudah berakhir- kini adalah masaku" Riana berjalan mendekati Karin dan berdiri tepat di belakangnya. Jika saja tidak ada jendela wanita licik itu pasti sudah mendorong Karin.
Karin menutup matanya sejenak kemudian menarik napasnya berusaha untuk tetap tenang mengendalikan emosinya, jika saja membunuh itu adalah perbuatan yang tidak tercela, Karin pasti telah menghabisi Riana dan mengulitinya hidup-hidup.
Lagi dan lagi Karin tersenyum, "Kecelakaan. Pengalihan hak ahli waris. Lalu Pengacara Han menghilang-" Karin memutar tubuhnya menghadap Riana "Hal itu hanya akan di lakukan oleh jala*ng rendahan sepertimu Riana!" sorot mata Karin menajam memberikan tatapan mengintimidasi sampai ke titik terendah. Riana reflek melayangkan tangannya namun langsung di tangkap oleh Karin
"Kenapa? Kau berpikir ingin melenyapkanku juga? Memanipulasi seluruh perbuatanmu dengan alibi sebuah kecelakaan." Langkah Karin membuat Riana secara tak langsung mundur mencengkeram kuat lengan wanita itu. "Hal rendahan seperti itu hanya akan terpikir oleh wanita sepertimu, dasar pelac*r"
Plak-
Memerlukan keberanian besar dan pengendalian emosi yang tinggi untuk Karin bisa berada di tempat ini sekarang. Selama satu bulan lamanya Karin terpuruk dan memulihkan kondisi fisik dan psikisnya untuk bisa tetap tenang menghadapi pembunuh kedua orangtuanya.
Plak-
Riana bergerak cepat membalas menjambak rambut Karin hingga ia terhuyung kebelakang dengan kepala yang mendongak "Yak! Dasar anak tidak tahu diri"
Karin tidak berhenti di sana ia memegangi rambutnya mengurangi rasa sakit akibat jambakan Riana, dan dalam beberapa detik kemudian Karin meraih tangan kiri Riana dan memelintirnya dengan sekali tindakan membuat wanita itu melepas tangannya dari Karin.
Ia lantas pergi meninggalkan Riana yang masih mengerang kesakitan memegangi tangannya.
Lift berhenti di lantai 20 dan perlahan terbuka sementara Karin yang sedari awal sedang memainkan ponsel tak juga ingin peduli sekitar. Namun heels yang perlahan memasuki lift membuat Karin gagal fokus, desain dan jenisnya persis sama.
Ini bukan masalah semua orang bisa memilikinya. Sepatu itu jelas milik Karin dari inisial yang terlihat dari sisi tumit heels yang hanya Karin sadari.
Matanya melebar saat melihat siapa yang memakainya
"Liora!"
Liora melipat tangannya dengan raut wajah yang benar-benar sombong "Kita bertemu lagi Karin"
Karin tersenyum remeh "Kau sampai meniru gayaku Liora?"
__ADS_1
"Bahkan barang-barangku?!" sambungnya ikut melipat tangan ke dada.
Liora masih diam, kemudian ia tersenyum "Sebentar lagi suamimu, Karin" ucap Liora yang langsung saja keluar membuat Karin meradang dan tanpa banyak bicara ia jambak rambut Liora hingga wanita itu berteriak membuat semua atensi tertuju pada mereka berdua.
"Kau benar-benar memancing emosiku Liora"
"Yak!"
"Apa! Kau pikir aku tidak berani? Wanita sepertimu mudah untuk ku singkirkan Liora" mata Karin melotot ia sudah tak menghiraukan lagi kondisi sekitar.
Liora tertawa lantas membalik tubuhnya untuk saling berhadapan tangannya segera membalas perlakuan Karin hingga posisi mereka satu sama, tak ada yang berani memisahkan mereka.
"Pewaris yang jatuh miskin sepertimu tak pantas mengatakan hal seperti itu Karin" kemudian wanita itu tertawa dengan tatapan yang amat meremehkan.
Karin meyeringai "Kau bilang apa? Jatuh miskin?" lalu ia berdecih. "Apa aku salah? Semua orang di sini juga tahu kalau kau itu jatuh miskin! Kau hanya bisa berlindung di balik kekayaan Liam. Dasar Jal*ng!!!"
Selamat, Liora sukses membuat amarah Karin meluap. Tanpa perasaan Karin tarik rambut Liora secara kuat-kuat lalu menendang kakinya hingga mantan kekasih suaminya itu terkilir.
"Aarrghhh Sialan kau Karin!" Erang Liora yang tentunya langsung jatuh terduduk di lantai, Karin sontak jongkok lalu ia lepas sepatu miliknya dari kaki Liora "Ini milikku keparat!" dan dalam waktu yang sangat cepat Karin pukulkan heelsnya itu tepat mengenai dahi Liora hingga terlihat sedikit robekan dan darah segar yang perlahan mengalir.
Lagi-lagi Liora teriak histeris "Sebelum mengayunkan pedangmu, lihat dulu siapa lawanmu Liora!" Karin berdiri menatap Liora dari posisinya kemudian menarik senyum remeh.
"Milikku adalah milikku, Sekali lagi kau berani menyentuh milikku, akan ku jadikan kepalamu itu manekin untuk aksesorisku" Karin berlalu begitu saja sementara Liora masih menatap tajam kepergian Karin.
"Karin yang kau kenal sudah kembali Liam" gumamnya pelan seraya menguncir rambutnya berjalan keluar loby melewati para karyawan yang masih berdiri diposisi mereka kemudian ia masuk kedalam mobil yang telah menunggu di depan loby. "Akan ku gunakan seluruh kekuasaan yang ku miliki untuk merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku!"
......................
.
.
.
.
.
...🌻🌻🌻🌻...
__ADS_1