
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
Sekali lagi, foto cuma ilustrasi ya biar kalian lebih mendalami aja gitcuh🤣
......................
Liam terperanjat saat melihat tatapan tajam Karin, wanita itu sedang duduk di stool bar dapur sambil mengaduk coffe. "Sedang apa?" sapanya ragu-ragu seraya membuka kulkas.
"Kau buta!" Karin lantas melangkah pergi dari dapur tapi Liam dengan cepat menahan lengannya. "Apa lagi?" ketusnya.
Liam mendeham pelan sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal "Ayo pergi" ajaknya.
"Tidak mau. Aku sibuk!" Entahlah Karin kesal melihat Liam di peluk wanita lain.
"Kau marah!"
"Tidak-"
"Kau suka balapan,kan?" Karin tidak tahu Liam mendengar informasi itu darimana. "Ayo- Kita pergi" sekali lagi Liam mencoba membujuk istrinya itu.
Karin terdiam, ia berpikir sejenak. "Oke" lalu ia menepis tangan Liam untuk segera mengganti pakaiannya.
"Aku akan menunggu disini" ucap Liam perlahan kedua sudut bibirnya terangkat. Ekspresi Karin yang seolah menolak tadi membuatnya gemas sendiri.
-
-
-
Liam berkacak pinggang memindai Karin dari ujung kaki sampai ujung rambut. "Ayo! Kau sedang tidak menipuku, kan?" ekspresi Karin mulai terlihat kesal jika sampai Liam mengangguk.
Pria itu mengusap dagunya menatap Karin aneh sambil tersenyum tipis. "Kau benar-benar menjahiliku?!" Karin mendengus dengan wajah kesal. Liam terkekeh "Ayo" jawabnya sambil tertawa pelan menuntun Karin menuju pintu.
Aishhh-
"Shuttt! Jangan mengumpat sayang" bisiknya tepat di telinga Karin tanpa melepas kalungan tangannya pada pinggang istrinya. "Menyingkir sialan" Karin masih kesal masalah Joy tadi.
Liam hanya menghela napas seraya menekan tombol lift.
Membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk mereka sampai di sirkuit balap. Liam memarkirkan mobilnya lalu turun di ikuti Karin yang cukup tertegun saat melihat arena balap yang begitu luas, ini pertama kalinya dia menginjakkan kaki ditempat itu.
Tiba-tiba sebuah mobil nampak keluar dari salah satu ruangan yang berada di gedung itu. Liam hanya menyadarkan bokongnya pada kap mobil seolah memang menunggu sesuatu keluar dari dalam sana.
__ADS_1
Sebuah Lamborghini Veneno Roadster berwarna hitam perlahan berhenti di depan mereka, mobil mewah yang bisa Karin tebak berkisar di harga 5-6 juta dollar itu benar-benar menghipnotis dirinya. Hypercar berbasis Aventador yang hadir dengan dengan mesin berkapasitas 6,5 liter V12. Bahkan, untuk menempuh akselerasi 0-100 km/jam hanya membutuhkan waktu 2,6 detik benar-benar membuatnya kagum sejenak.
Karin perlahan mendekati mobil mewah itu, kedua sudut bibirnya terangkat naik.Sial, bagaimana pria ini bisa memiliki mobil yang jumlah produksinya terbatas dan hanya tersedia sembilan unit di seluruh dunia termasuk milik Liam.
Senyum miringnya tersemat, lantas kaki Liam berjalan menghampiri sorang pria yang tidak dikenali Karin.
"Yaah- sudah berapa lama ini Liam?" sapa pria itu melakukan tos khusus mereka. "Aku sibuk jadi baru bisa ke sini" jawabnya seraya meraih kunci mobil yang di berikan oleh Nick.
Liam tanpa aba-aba melempar kunci mobilnya pada Karin hingga reflek wanita itu menangkap dengan kedua tangannya.
"Kita bicara lagi nanti Nick, aku ingin mengemong anak kucing satu ini dulu" ucapnya terkekeh pelan saat melihat lirikan tajam Karin.
Keduanya masuk kedalam mobil mewah itu, Karin meniti setiap sisi bulatan setir dengan senyum lebar, sementara Liam hanya menatapnya diam sambil tersenyum.
"Kita pergi sekarang?" tanya Karin bersiap, ia menyandarkan punggungnya dan meluruskan kakinya menyentuh pedal gas dengan kedua tangan yang memegang kuat bulatan setir.
Ia mengetes suara mesin dengan menaik turunkan gas mobil, suara raungan dari mobil mewah itu semakin membuat adrenalin Karin terpacu.
Dalam hitungan detik dia bersiap melajukan mobilnya dan satu hal yang bisa kita lihat adalah Liam menegang dan memegang erat sabuk pengamannya.
Dan-
Brooommmm....
Mobil itu melesat kencang mengikuti alur jalanan sirkuit. Karin senang bukan main, Ya Tuhan. sudah berapa lama dia tidak merasakan kesenangan seperti ini lagi.
Karin menginjak gas dengan kecepatan penuh tanpa menggunakan rem. Liam tampak terkejut dengan aksinya— sesekali dia berteriak dengan sangat kencang hingga telinga Karin hampir saja tertutup dengan sendirinya.
"Kau saja aku tidak."
"Penyihir tua, turunkan kecepatanmu!"
"Kau saja yang kuturunkan."
"Kau dengar tidak?!"
"Aku tidak dengar. Aku lupa membersihkan telingaku."
Liam terus saja mengeluarkan sumpah serapahnya selama perjalanan. Oh Tuhan, apa keputusan Liam mengajak Karin itu salah?
Wanita itu menginjak rem saat sampai dititik awal setelah mengitari tujuh putaran , Liam langsung keluar dari mobil dan memuntahkan seluruh isi perutnya.
"Itu bukan salahku. Dia sendiri yang lemah jangan salahkan aku." kata Karin
"Hahahahaha...."
Nick tergelak bukan main, suara tawanya begitu keras hingga terdengar sampai ke telinga Liam. "Sialan kau Nick!" makinya perlahan bangkit dengan meniti sisi kursi yang ada di sebelahnya.
Nick berjalan menghampiri keduanya, sambil membawa dua kaleng bir di tangannya.
"Aku tidak minum" sela Karin cepat saat pria itu menawarkan padanya. "Tumben?" serobot Liam mengambil satu kaleng dari tangan Nick. Tidak biasanya Karin menolak?
"Ah, dia istriku Nick." Liam mengerti ekspresi Nick yang sedari tadi sudah penasaran. "Karin" ujarnya kemudian mengumbar senyum sebentar lalu wajahnya kembali datar dan ikut duduk di sebelah Liam.
__ADS_1
Mereka duduk di kursi outdoor yang tersedia di teras gedung. Karin masih menatap mobil Lamborgini itu, "Boleh aku naik sekali lagi?" tanyanya pelan agak berbisik pada Liam.
Pria itu menyipitkan matanya lalu membuang napas "Hm, naiklah" Liam sudah memberi izin tentunya Karin langsung bangkit dan kembali menaiki mobil mewah itu.
Selagi Karin asik dengan dunianya, Liam nampak mengobrol santai dengan temannya itu. Sirkuit balap itu adalah salah satu warisan dari keluarga Nick yang direalisasikan oleh perusahaan Liam. Jadi tak heran jika melihat mobil mewahnya itu tersimpan di tempat itu.
"Oh iya, aku punya sesuatu untukmu" Nick lantas bangkit untuk mengambil sesuatu dari dalam gedung.
Karin benar-benar menikmati hobinya, setelah kematian mendiang ibunya Karin berhenti bahkan ia menjual satu-satunya mobil kesayangan yang dibelikan ibunya. Karin hanya ingin mengikhlaskan kepergian sang ibu.
Nick meletakkan sebuah amplop besar berwarna putih. "Aku jadi penasaran. Kenapa kau meminta hal seperti ini?" ucap Nick seraya kembali duduk di kursinya.
"Nanti-" Liam menggantung ucapannya saat membuka amplop itu, ia memeriksa beberapa foto lalu memasukkannya kembali. "Nanti ku jelaskan" sambungnya dan Nick hanya menganggukkan kepalanya.
Drrttt...
"Ponselmu Nick?" seru Liam memeriksa ponselnya tapi Nick juga mengelak "Bukan" lalu manik mereka menatap tas Karin.
Liam membuka tas milik Karin dan mengambil ponselnya. "Adam" gumamnya pelan.
"Ada apa Dam?"
"Karin mana?"
"Kenapa kau mencari Karin? Kenapa tidak menelponku saja. Jika begini aku jadi curiga padamu?!"
"Jangan berpikiran anehbodoh! Ini masalah Safira, sahabat Karin"
"Memangnya kenapa?"
"Karin mana? Aku mau bicara langsung padanya"
"Dia sibuk" Liam sesekali melambaikan tangannya saat Karin melintas.
"Bilang saja padanya untuk datang ke Sky Medical Group dalam sepuluh menit!"
"Kau gila- Kami sedang diluar, butuh waktu empat puluh menit untuk sampai"
"Yasudah, cepat kesini!"
Tut...tut...tut...
Liam mengerutkan keningnya, ia lantas meminta Nick untuk membuat pengumuman dengan mic agar Karin mendengar.
......................
.
.
.
.
.
__ADS_1
...🌻🌻🌻🌻...