Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - MAKES CRAZY


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


Sementara Karin sendiri hanya terdiam membeku. Tubuhnya kaku, namun ia masih bisa bernapas. Ia tidak tahu perasaan apa yang saat ini sedang ia rasakan. Hanya saja ia sama sekali belum pernah merasakan ini sebelumnya.


"Ayah rasa Ibumu itu berbohong. Dia mencari-cari alasan dengan menggunakanmu. Padahal dia sendiri yang ingin dekat-dekat dengan Ayah." Liam mulai mengusap pelan perut Karin, membuat wanita itu sedikit merasakan geli. "Kau tahu, semenjak kehadiranmu, Ibumu itu menjadi sangat manja. Dan lucunya, Ayah malah suka." ia sedikit terkekeh. "Tetapi kau tahu, Ayah terkadang merasa sedih jika melihat Ibumu selalu mual. Untuk itu, kau jangan rewel ya, Sayang. Kasihan Ibu." Liam mengakhiri dengan mengecup perut Karin lembut, kemudian setelah itu ia berdiri.


"Ah benar, Karin. Aku baru ingat, bukankah pagi ini kamu sama sekali tidak mual?"


Yang ditanya itu tidak menjawab. Bahkan dia lupa kapan Liam mulai memanggilnya dengan sebutan sayang?


Pikirannya seolah-olah sedang berada di dimensi lain. Ia bahkan tidak menyadari bahwa Liam saat ini tengah menatapnya bingung sambil menunggu jawaban.


Karin bingung. Dia tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Dia tidak tahu kenapa dia semakin menginginkan Liam.


"Karin?" Liam kembali memanggil, bahkan ini sudah yang ketiga kalinya.


"Ya?"


Liam menatap Karin dalam, menelisik lebih jauh ke dalam mata cantik istrinya itu. Entah kenapa ia merasa bahwa Karin terlihat sedikit aneh. "Kau baik-baik saja? Aku bertanya, bukankah pagi ini kau sama sekali tidak mual? Kau belum menjawabnya tadi."


Karin memutar bola matanya sejenak-tersenyum kikuk sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal. Ia bahkan tidak tahu bahwa Liam sempat menanyakan hal itu. "Hm, aku tidak mual" jawabnya segera.


"Kamu kenapa?"


"Hm" lagi-lagi Karin sempat terdiam.

__ADS_1


"Ada apa?" pria itu jadi ikut menatap apa yang tengah di lihat istrinya, sebatang pohon besar yang daunnya begitu rimbun.


Ada apa dengan Karin?


......................


Entah sebuah keberuntungan atau tidak bagi Jayden, melihat Liam yang datang ke tempat miliknya. Semenjak menikah dengan Karin, pria itu jarang sekali berkunjung ke bar miliknya. Ia hanya ingat beberapa bulan yang lalu pria itu sempat mampir.


Namun untuk saat ini, Jayden tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Ia memang senang karena Liam yang tiba-tiba saja datang dengan raut wajah yang terlihat bahagia.


Terakhir kali mereka bertemu di apartemen Jayden waktu itu.


Karin? Astaga, mendengar namanya saja sudah membuat Liam jadi merasa semakin gila. Sedari tadi saat berada di kantor, ia sama sekali tidak bisa fokus bekerja.


"Dia membuatku gila, sungguh."


Jayden menggeleng-geleng tak percaya. Liam ternyata baru menyadari bahwa dirinya gila. Aish! Kemana saja selama ini? Bukankah pria itu memang sudah gila saat baru saja pertama kali bertemu dengan Karin?


"Kenapa? Memangnya Karin melakukan apa? Dia benar-benar menceraikanmu? Atau mungkin dia meminta pembagian harta secara adil?" ulang Jayden memperjelas.


"Kau serius menyukai Karin?"


Liam terkekeh pelan. "Kau gila? tentu saja aku sangat menyukainya." ia menjawab sambil menuangkan wine ke gelas Jayden.


Namun Jayden tiba-tiba bangun dari kursi bar untuk meyambut seseorang yang baru saja datang sementara Liam sudah dalam keadaan setengah mabuk dan setengah sadar, tapi pria itu masih saja menuangkan wine kedalam gelasnya sendiri.


Ia menoleh sekilas siapa yang dia sambut sampai berdiri seperti itu, terlebih Jayden tidak pernah melakukan hal itu sekalipun anak menteri yang datang, apalagi dirinya. Dia itu pemilik kenapa harus repot-repot.


Liam terdiam sejenak seolah ia mengenal pria yang tadi ia lihat sekilas, kepalanya kembali menoleh dan benar- "Kau!" Liam segera bangun dari kursinya berjalan sedikit sempoyongan satu tangannya berpegang pada sisi meja bartender kemudian--


Bughhh...


"Keparat! Akhirnya kita bertemu"


"Liam." dengan cepat Jayden menarik sahabatnya memisahkan keduanya. "Ada apa denganmu" Jayden berusaha menyadarkannya.

__ADS_1


Jackson tersenyum sambil mengelap sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah.


"Tuan baik-baik saja?" tanya sekertaris Kim tapi pria itu menyela dengan tangan menyatakan dia baik-baik saja.


"Dia sedang mabuk jadi tolong dimaklumi saja" ucap Jayden berusaha mencairkan suasana agar tidak ada keributan di tempatnya. Sementara Liam mendorong Jayden ke samping namun Jayden cukup sigap untuk mencegah Liam kembali. "Kau memeluk istriku tanpa izin! Berani sekali kau menyentuh milikku-" Jari telunjuk Liam menegang menunjuk Jackson di wajah.


"Kau siapa-" lanjutnya mendorong bahu Jackson hingga pria itu mau tak mau terhuyung mundur selangkah kebelakang.


"Liam!-" tegur Jayden "Jangan dengarkan dia" lanjutnya bicara pada Jackson yang hanya bisa tersenyum dengan ribuan makna di baliknya.


Pria itu segera membawa sahabatnya menuju parkiran dan menyerahkannya pada beberapa bawahannya agar mengantar Liam sampai ke apartemennya dengan selamat.


Jackson duduk di kursi yang sebelumnya Liam duduki, ia bahkan masih mencium aroma parfumnya yang masih berbekas di tempat itu. "Sepertinya ponsel temanmu tertinggal" ucapnya pada Jayden yang baru saja kembali, membuat pria itu segera meminta pelayan mengantarnya sebelum mobil Liam menghilang dari parkiran.


"Aku baru tahu kalau ternyata kau saudara tiri Felix" ucap Jayden ikut mengambil tempat di depan Jackson "Kalau begitu, artinya- kau juga mengenal Karin?" lanjutnya.


Jackson mengangkat kedua alisnya sekilas membenarkan, kemudian meneguk champagne miliknya lalu beralih mengangsurkannya juga pada Jayden. "Dulu Felix dan Karin di jodohkan untuk kesepakatan bisnis"


Mata Jayden sedikit terbelalak "Dijodohkan? di era seperti ini?" perjelasnya "Seharusnya Karin menikah denganku, tapi situasi tidak mendukung saat itu jadi-" Jayden sudah lebih dulu terdiam sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya.


"Felix yang menggantikan, terlebih Karin memang menyukainya sementara hubunganku dengannya lebih cocok sebagai seorang kakak dan adik" lanjutnya meletakkan rokoknya di atas asbak kaca "Mungkin Liam melihatku memeluk Karin saat di ruang duka jadi dia terbawa emosi" ujarnya lagi menjelaskan tanpa Jayden minta.


Perlahan terlihat anggukan pelan dari Jayden "Liam, dia tidak suka miliknya di sentuh dan mungkin juga karena efek minuman dia jadi lebih emosional." pria itu juga berusaha menjelaskan agar tak ada lagi kesalahpahaman, terlebih ia dan Jackson itu rekan bisnis jadi tidak baik jika mereka berselisih, bisa-bisa posisi yang di janjikan Ayahnya kemungkinan akan di batalkan jika dia berulah.


......................


.


.


.


.


.

__ADS_1


...🌻🌻🌻🌻...


__ADS_2