
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
Demi apapun, Karin tidak mengerti kenapa hidupnya membingungkan begini.
Kalau kalian bertanya, kenapa? mungkin kalian akan mengerti ketika mengalami hal yang sama seperti yang Karin alami saat ini.
Bisa-bisa nya wanita sinting itu merebut kekuasaannya dalam sekejap mata. Mengalahkan seluruh kartu As miliknya , dan ya--jangan lupakan dua wanita yang pernah mengisi dan memuaskan suaminya, sekalipun ingin mengakhiri hidupnya Karin tidak berani. Dia hanya bersikap realistis, bunuh diri itu bukan solusi yang bagus.
Benar-benar konyol. Iya, kisah hidup Karin.
Lebih konyol nya lagi, Logika dan hatinya sedang bertarung berusaha saling mengalahkan untuk menguasai dirinya. Oh, astaga!
Beranjak dari sofa, lantas Karin berucap. "Sudah malam, aku mengantuk." kata nya sangat datar, mengingat jam sudah hampir menunjukkan pukul setengah dua dini hari.
Liam mengangguk gelam. Menatap langkah gontai itu menuju ke kamar.
Pria itu menyempatkan dirinya untuk menghubungi Kelvin menanyakan proyek yang terpaksa ia tinggalkan hanya untuk membujuk sang pujaan hati.
Pintu kamar itu Liam buka perlahan lalu ia tutup pelan-pelan. Seperti biasa, lampu kamar pun sudah mati dan tersisa hanya lampu tidur yang cahaya nya tidak terlalu terang. Dilihatnya istrinya itu sudah tidur dengan posisi menghadap ke luar jendela, yang otomatis memunggungi Liam.
Liam menyibak selimut tebal itu dan merebahkan diri di samping Karin dalam posisi lurus menengadah menatap langit-langit kamar. Menghela napas, Liam memejamkan mata sebentar.
"Karin,"
Tidak ada jawaban.
Tidak mau berlama-lama, Liam mengubah posisi jadi menghadap ke punggung Karin dan merapatkan diri. Tangan nya dengan cekatan menyalip di balik selimut tebal itu dan memeluk sang istri erat dari belakang.
"Benar-benar sudah tidur?" bisik Liam dengan deru napas hangatnya di balik tengkuk itu. Seketika tubuh Karin meremang. Kedua mata nya langsung terbuka menyalang.
"Maafkan aku," ujar Liam lagi. Bahkan ia kecup leher mulus itu sedikit lama dan makin mengeratkan pelukan. "Aku tidak bermaksud menyakiti atau membuatmu takut, Maaf."
Karin masih diam, meski dada nya bertalu-talu seakan lepas dari tempatnya.
"Karin," panggil Liam lagi. Suara berat itu merengsek tepat di perpotongan lehernya. Memberikan kecupan lagi, Karin sukses bergelinyang. Sial!
__ADS_1
"Tidak bisakah aku menatap wajah cantik istriku, hmm?" tangan besar itu menangkup sebelah pipi Karin. Hendak menariknya agar berhadapan, tapi ego Karin tampak tinggi. Dengan cepat ia menggerakkan kepala guna menolak tangan Liam.
Liam pun menghela nafas.
Menjeda sebentar, namun setelah itu dalam sekali tarikan, Karin di balik paksa hingga kini bukan bantal lagi yang menjadi penyangga, melainkan lengan kekar itu yang berada di bawah kepala nya.
"Tidak baik mengabaikan suamimu, Karin." ucap nya setelah berhasil mengambil alih tubuh ramping itu kedalam dekapan. Liam usap punggung Karin pelan, sambil sesekali ia kecup puncak kepala nya.
"Sekali lagi, maafkan aku."
Baiklah. Lantas Karin sedikit mendorong dada Liam agar ia bisa terlepas. "Aku tidak marah, jadi berhentilah meminta maaf." jawab Karin ketus.
"Jangan berbohong." Tangan besar itu pun menangkup sebelah pipi Karin. Mengusapnya pelan sedang maniknya begitu sayu menatap. "Aku tidak suka kalau istriku tidak jujur."
"kau saja tidak jujur, kenapa menuntutku untuk selalu jujur" Skakmat!
Ekspresi Liam berubah
"Karin,"
"Tidurlah!"
Liam diam. Tidak berucap lagi. Di tatapnya manik gelam itu seksama. Indah sekali. Sungguh!
Sementara Liam menatap mata indah sang istri, tanpa di minta, Karin pun menatap Liam lekat. Tatapan mereka terkunci, begitu dalam, begitu jauh, di tambah heningnya kamar dan dingin nya malam, perasaan ingin bermanja-manja itu kembali lagi. Susah payah Karin tahan agar diri nya tidak terlalu kelihatan lemah, tapi nihil. Karin tidak bisa.
Karin menebak ini bawaan dari janinnya, tapi kenapa harus di detik ini, pikir Karin. Tahan sebentar sayang Ayah dan Ibumu sedang bertengkar, namun seolah ada penolakan hatinya terus bergejolak ingin dimanja.
"Kenapa?" tanya Liam serak. Jari telunjuknya mengangkat dagu Karin.
"Liam!"
"Iya, sayang."
"Tidak bisakah kau mencintaiku saja, berubah untukku dan kita hidup bahagia seperti pasangan lain nya?"
Setetes air mata mengalir begitu saja mengiringi suara hati Karin. Di remasnya keras selimut tebal itu ketika tubuhnya di tarik lebih dalam kedalam dekapan tubuh tak berbalut baju yang Karin saja heran kenapa pria ini melepas pakaiannya di tengah hembusan pendingin ruangan yang menyala.
"Aku tidak akan membiarkan hubungan ini dan keluarga kita hancur. Berhenti meminta cerai dariku Karin, Hanya itu. Hanya itu yang aku inginkan dari mu."
"Wajar jika aku meminta hal itu darimm--hmmmpp"
Bibir Karin langsung di bungkam sebelum ia menyelesaikan ucapannya. Hanya menempel, tidak ada l*matan. Dan Liam memeluknya erat. Bahkan Karin merasakan tubuh Liam bergetar seakan menahan sebuah hasrat yang besar.
Kedua nya kembali saling menatap. Terkunci akan pergerakan dan dominan ingin menyerahkan. Liam mengusap kepala Karin lembut. Penuh afeksi seakan menuntut hal lain yang ingin ia berikan.
__ADS_1
Mata Karin terpejam menahan sesuatu yang tidak ingin ia perlihatkan dengan mudah. Melihat itu Liam mendekatkan wajahnya ke wajah Karin, hingga hidung mereka bersinggungan. Lalu Liam berucap,
"Maafkan, aku."
Ucap Liam sebelum mencium Karin dengan tuntutan. Mengambil alih atas tubuh rapuh itu seutuhnya. Menikmati bagaimana halusnya kulit leher Karin ia hisap dan ia l*mat. Menuntun dengan gerakan lidah menjilati dan kembali menghisapnya hingga terdengar lenguhan nikmat dari sang empu yang mengelukan.
Jujur Karin bingung dengan dirinya di atas pergerakan menggairahkan yang Liam berikan.Tapi biarlah, biarlah kisah hari ini ia tutup dengan kehangatan dari tubuh Liam di atas tubuhnya.
"Karin, please never leave"
Selamat malam, bintang. Tolong jadi saksi bagaimana Karin di sentuh dan begitu di inginkan dari pria yang perlahan selalu melekat di pikiran dan hatinya.
-
-
-
Jam baru menunjukkan pukul 6 pagi. Baru saja mendapatkan tidur setelah bergumul, kini suara memekakkan dari alarm membuat Karin naik spaning.
Menutup kedua telinga nya dengan tangan sedang maniknya masih terpejam, Karin mencari tempat ternyaman pada dada Liam yang langsung di sambut dengan pelukan hangat oleh sang empu untuk berlindung dari dering alarm yang berada di nakas dekat Liam.
Liam memeluk nya erat. Membantu Karin menutup sebelah telinga dengan tangan besarnya dan mematikan alarm kemudian menarik selimut tebal itu dalam-dalam.
"Apa kau memaafkanku sekarang?" bisik Liam kemudian tersenyum tanpa membuka matanya.
"Jangan sampai kau menghancurkan kesempatan terakhir yang ku berikan Liam"
"Tidak akan pernah" Liam memeluk Karin semakin erat. "Terakhir kali kau bilang begitu juga" sela Karin.
Liam memutar ingatannya, "Kau sudah mengetahui semuanya, apalagi yang harus di tutupi" jawab Liam yakin membuat Karin memunculkan kepalanya dari balik selimut menyipitkan matanya menatap suaminya menyelidik.
"Ah, aku merindukan tatapan ini" ujar Liam, jika bisa memilih dia lebih memilih di tatap curiga oleh Karin ketimbang ditatap dengan penuh rasa kecewa dan benci.
......................
.
.
.
.
.
__ADS_1
...🌻🌻🌻🌻...