Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - BAIT


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


"Mencuri dana t*ktis milik Riana"


"Apa!" Liam kaget kenapa tiba-tiba hal itu terpikir oleh istrinya "Apa sampai detik ini bulanan yang ku berikan kurang Karin?" tanya Liam sebaliknya.


Juan mengangguk "Liam benar, lagi pula aku juga tidak kekurangan uang Karin"


"Apalagi diriku" timpal Jayden.


Karin belum menjelaskan, dia memilih untuk mengajak tiga pria itu untuk duduk bersama di sofa.


"Jadi apa. Jelaskan?" ucap Liam.


Karin membuang napas jengah "Aku juga tidak ingin uangnya, tapi aku hanya ingin membalas perbuatan Riana. Kalian tahu betul apa yang wanita itu perbuat padaku" Jayden dan Juan mengangguk tapi Liam masih terdiam.


"Tapi itu terlalu bahaya Karin, kau tahu jika Riana punya koneksi ke para p*litisi dan aku yakin itu bukan hanya uang pribadinya"


"ucapan Liam ada benarnya Karin, terlebih bukankah kau sedang hamil" tambah Jayden membenarkan Liam.


Tapi tiba-tiba Juan bicara "Memang total dananya berapa?"


"3 milliar dollar"


Mata Juan melebar, "Kau serius?"


Karin memutar malas bola matanya "menurutmu aku sedang bercanda."


"Memang uangnya mau kau apakan?" tanya Liam tapi Karin hanya menatap suaminya kemudian menarik tipis senyumnya tanpa menjawab pertanyaan.


"Jika kalian tidak mau membantu, aku saja yang melakukannya"


Liam sontak menahan tangan Karin yang ingin berdiri "Terlalu bahaya jika kau pergi sendiri Karin, lebih baik urungkan saja niatmu, aku akan mencari cara untuk merebut MK Group dari Riana" bujuk Liam yang tahu betul istrinya itu keras kepala.


"Yang bilang aku sendiri yang turun tangan siapa?" balas Karin kembali duduk di sebelah Liam.


"Kalau begitu bagaimana caranya kau akan mengambil dana-nya?" kali ini Jayden yang bertanya.


Karin lagi-lagi tersenyum "Dengan rumor." jawabnya enteng.

__ADS_1


Mereka bertiga itu lulusan universitas terkenal tapi sama sekali tak bisa membaca dan mengerti maksud Karin. Pada dasarnya wanita memang sulit untuk di pahami.


-


-


"Ayolah Liam, kali ini saja" pintanya.


Namun Liam menggeleng. Menandakan penolakan "Itu terlalu bahaya kau harus lebih banyak berada di rumah untuk istirahat."


Alasan yang sangat tepat. Liam hanya tidak ingin Karin berada dalam bahaya dan kelelahan mengingat usia kandungan wanita itu yang saat ini sudah menginjak tiga bulan. Tidak terasa memang.


Sementara Karin sendiri mencebik sebal. Liam sama sekali tidak seru, pikirnya. "Tapi aku tidak tenang melihat Riana masih duduk dikursi Ayah, lagi pula aku juga tidak akan kelelahan, aku hanya duduk dan menunggu hasil." dia masih mencoba untuk membujuk agar Liam mau menuruti permintaannya.


"Sekarang memang tidak lelah. Tapi nantinya kau akan kelelahan, Sayang." Liam sendiri berusaha memberitahu dan membuat Karin untuk mengerti. terlebih dia tahu dunia p*litik itu kotor dan berbahaya.


"Sudah ku bilang tidak akan. Ayolah Liam kali ini saja."


"Kalau aku tidak mau?"


"Liiiaammm!!!"


"Minta yang benar!" ucapnya sambil menunjuk-nunjuk pipi kanannya mendekatkan wajahnya pada Karin


"Sayang tolong izinkan aku sekali ini saja" diktenya dengan posisi yang masih sama.


Ekspresi Karin berubah datar memutar malas bola matanya dengan mulut yang komat-kamit, lalu ditariknya napas panjang dan senyum manis selebar mungkin "Sayang tolong izinkan aku kali ini saja"


Hal-hal manis seperti ini selalu Liam sukai. Menurutnya, tidak perlu menghabiskan waktu untuk pergi keluar jika dengan berada di rumah seperti ini saja sudah membuatnya sangat bahagia. Dia bisa menghabiskan waktu untuk tertawa bersama dengan Karin di atas ranjang, memasak bersama. Sebenarnya Liam yang masak- kemudian memotret setiap perkembangan perut Karin yang semakin hari semakin terlihat membesar.


Dan hal yang menurut Liam paling terlucu sekaligus manis secara bersamaan adalah, ketika Karin yang masih malu-malu memperlihatkan perutnya yang membuncit. Wanita itu akan merengek ketika Liam memaksa untuk menyingkap sedikit bajunya ke atas kemudian akan mengambil gambar. Sebenarnya Liam sudah setuju untuk membantunya bahkan Juan dan Jayden juga bersedia- saat Karin menjelaskan rencananya tapi penolakannya itu hanya alasan untuknya menggoda sang istri.


Liam tersenyum seraya mengangguk pelan "Kemarilah" ucapnya membetangkan tangan meminta Karin datang padanya.


"Waktu itu aku sudah bilang bukan, aku akan selalu berada di sisimu" lalu dikecupnya pucuk kepala Karin terlihat semburat merah dari pipi Karin yang terlihat sedang salah tingkah.


......................


Jason nampak mengikuti langkah kaki Karin yang perlahan keluar dari restoran.


"Mereka sudah siap?" tanyanya pada Jason setelah masuk kedalam mobil.


Jason hanya mengangguk pelan, seraya memberikan Karin benda tipis yang sedari tadi sedang dia pegang.


Sopir membawa mobil untuk kembali ke apartemen Liam sementara orang-orang bayarannya sedang bersiap menunggu truk pengangkut itu bergerak.


"Sesuai perkiraan Geng 1 sedang bergerak"


"Bagaimana dengan yang lain?"

__ADS_1


"Mereka hanya berjarak beberapa ratus meter dari titik posisi masing-masing"


Karin perlahan menarik tipis senyumnya sementara Jason sibuk mengawasi cctv dari benda tipis di tangannya.


-


-


Liam sebenarnya tidak setuju menerima Jason kembali bekerja untuk istrinya, tapi karena rengekan Karin terpaksa ia setuju.


"Kau yakin ini akan berhasil?" tanya Juan yang sedari tadi tengah mengawasi seluruh cctv yang ia retas.


"Kau tidak percaya padaku Juan" Seketika pria itu diam tak ingin berdebat dengan Karin.


"Semakin banyak orang yang tahu, semakin kita untung" kata Karin yang tengah melihat rencananya sejauh ini berjalan lancar.


"Sekarang kalian paham rumor yang ku maksud bukan?!" sambungnya saat melihat dua Gangsters yang tengah saling serang sementara truk pengangkut yang berisi uang tengah di bawa menuju rute lain.


Sebentar lagi moment yang Karin inginkan tiba. "Orang lain akan di salahkan untuk kekacauan ini. Aku bisa jamin itu" ujarnya lagi seraya melipat tangan ke dada.


"Maksudmu orang lain itu mereka?" perjelas Juan sambil menunjuk para gangster yang sedang berkelahi.


Karin menggeleng tentunya langsung memberikan tanda tanya bagi para pria itu "Riana." ia lantas bangkit dari duduknya berjalan menuju meja makan sekedar menuang segelas air sementara tatapannya fokus menatap keluar jendela kaca.


"Aku tahu semua dana yang dia miliki adalah hasil money laundry para p*litisi, itulah salah satu alasan wanita itu merebut perusahaan Ayahku. Jika dana sebesar itu hilang menurut kalian siapa yang akan di salahkan? Sementara dalam waktu dekat ada kamp*nye besar-besaran"


"Tapi kenapa dia tiba-tiba memindahkan uangnya? Bukankah itu terlalu beresiko?" tanya Jayden.


Karin menggoyang pelan gelas membuat air di dalamnya berputar "Karena aku membuatnya menyadari itu, setelah penangkapan waktu itu aku yakin Riana pasti akan memindahkan dananya karena dirasa sudah tak aman"


"Jadi selama ini kau sudah memancingnya?"


"Menurut kalian kenapa aku membiarkannya bebas begitu saja, terlebih kau Juan." jarinya sontak menunjuk Juan yang kini juga menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi bingung, mereka bertiga masih belum paham


"Menurutmu bagaimana mungkin Zea bisa sepasrah itu membiarkan Riana pergi?"


"Ya itu karena kurangnya bukti, dan Riana melobi orang dalam"


......................


.


.


.


.


.

__ADS_1


...🌻🌻🌻🌻...


__ADS_2