
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
Karin membuka matanya dan sadar dia berada di tempat yang asing, plafon langit-langit yang di dominasi dengan cat berwarna putih membuatnya menyadari sesuatu.
Tubuhnya dengan cepat bangun dan duduk menatap ke sekeliling. tidak ada siapapun, Karin ingin menyibak tirai putih yang mengelilingi banker-nya. Tapi tiba-tiba tirai di buka memperlihatkan seorang wanita mengenakan seragam berwarna putih abu-abu yang Karin pikir lebih tepatnya adalah seorang perawat. "Anda sudah bangun?" tanyanya sambil meletakkan nampan besi kecil berbentuk persegi keatas nakas.
Karin hanya mengangguk, dia malas bicara sekarang, dan satu orang lagi datang, sukses membuat Karin melebarkan matanya. "Felix?!" gumamnya pelan.
"Bagaimana kondisimu?"
"Sedang apa kau di sini?Kau menguntit ku?" Tanya Karin heran, bagaimana pria ini masih ada di sini, padahal tadi malam sudah dia usir.
Suster pergi setelah mengganti botol infus milik Karin meninggalkan keduanya dalam suasana yang sunyi.
"Lebih baik kau pergi dari sini! Aku tidak ingin lagi melihatmu" ucap Karin kembali berbaring dengan posisi membelakangi Felix.
"Se benci itu kah kamu padaku Karin?"
"Menurutmu. Sudahlah, pergi dari sini. Harus berapa kali aku mengatakan kau harus pergi dari sini!" Sekali lagi Karin mengusir Felix tapi pria itu masih kekeh pada pendiriannya.
Brak!
Tirai di buka dengan kasar membuat Karin otomatis terbangun, "Liam"
"Kau baik-baik saja?" tanyanya dan langsung menghampiri Karin untuk memeluknya, sementara Adam dan Jayden menatap Felix dengan tatapan aneh.
"Hmm, apa aku bisa pulang?" tanyanya dan dengan sengaja membuang wajah dari Felix untuk menatap Adam. Pria itu hanya mengangguk, dan mempersilahkan Liam dan Karin pergi lebih dulu sementara matanya masih menatap kearah Felix.
"Karin"Tahan Felix menggenggam pergelangan tangan Karin tepat di depan mata Liam, membuat darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun. "Kau siapa?" tanyanya mengintimidasi menarik Karin untuk berdiri di belakangnya.
"Kau sendiri siapa? Tiba-tiba datang dan memeluk Karin?!"
Liam berdecak senyum, lalu menatap tajam ke arah Felix. "Kalian berdua cukup! ini rumah sakit" Lerai Karin menghalangi keduanya.
"Dan kamu Felix, berhenti melakukan ini. Jika kau ingin aku baik-baik saja terima semua konsekuensinya." Tekan Karin tak tertahankan.
"Tapi Karin, semuanya masih bisa di perbaiki. Aku akan berubah aku janji."
Karin menyematkan senyum miringnya, "Aku sudah menikah, dan tidak ada yang perlu di perbaiki lagi."
"Kau pasti berbohong, kan. Dia hanya alat untukmu agar aku menyerah kan?" Felix tetap denial tidak bisa menerima fakta.
__ADS_1
"Berhenti bicara, atau ku ratakan gigimu itu" Kata Liam mencengkeram kerah baju Felix.
Karin melepas jarum infus hingga darah rembes dari tangannya, membuat Liam hilang fokus. "Kita pergi saja dari sini" ajaknya menarik lengan Liam perlahan.
"Awas saja jika aku bertemu denganmu lagi" ujarnya memberi peringatan.
Felix masih tidak bisa menerima ucapan Karin, ia masih saja memperhatikan punggung wanita itu sampai menghilang dari jarak pandang nya. Kedua tangannya mengepal kuat-kuat.
......................
"Paman" seru seseorang yang baru saja masuk keruangan direktur MK itu.
"Felix?Kapan kamu pulang?" tanyanya heran bercampur rasa kaget juga. Hampir lima tahun terakhir Felix tidak pulang dan fokus pada pendidikannya diluar negri.
"Karin sudah menikah?"
Morgan terdiam tanpa menatap Felix yang berdiri di depan mejanya. "Jadi benar, Karin sudah menikah?" perjelasnya, tapi Morgan tidak bisa menjawab apapun.
"Terlebih dengan Liam? Direktur Rez?" Kata Felix seolah mengenal Liam lebih jauh. "Benar ternyata" ujarnya lagi tidak habis pikir.
Felix mendengus dan segera beranjak dari ruangan itu.
Ia memukul bulatan setir untuk melampiaskan emosinya, tidak tahu apa yang di ketahui Felix tapi yang pasti pria itu terlihat khawatir bercampur rasa kekalahan.
......................
"Diagnosa dokter apa Dam?"
Setelah Adam pergi, Liam masuk kedalam kamar berniat mengecek keadaan Karin. Dimana wanita itu terlihat berbaring membelakanginya dengan tangan kiri sebagai bantal dan tangan kanan yang memegang ujung selimut sambil memikirkan sesuatu.
"Kau memikirkan pria tadi?" tanya Liam seraya duduk di tepi ranjang memperhatikan punggung Karin yang memunggunginya.
Tidak ingin menjawab Karin memilih untuk menutup matanya, berpura-pura tidur.
Tak beberapa lama Liam keluar dari kamar lalu pergi keruang kerja yang selama ini selalu terkunci entah apa yang ada di dalam sana.
Liam duduk sambil memikirkan sesuatu di dalam otaknya. Cukup lama pria itu melamun sampai nada telpon masuk membuyarkan lamunannya.
......................
Pukul 19.57 PM
Karin menatap jam dinding sambil duduk bersandarkan punggung ranjang. Kondisinya sudah jauh lebih baik setelah meminum obat.
Tiba-tiba ia teringat ucapan Liam kemarin malam, saat mereka bertengkar. Entah kenapa itu menjadi beban pikiran di otak Karin.
"Dasar Breng*sek!"
Berulang kali. Tidak. Bahkan berjuta-juta kali Karin merapalkan kalimat itu, meluapkan kekesalannya pada Liam.
"Tidak selera?" Karin tersenyum simpul. "Tidak selera katanya? Waktu itu dia yang seperti orang ke setanan, dia bilang tidak selera. Bahkan dia memintaku mengerjakan tugasku dengan benar. Breng*sek!"
__ADS_1
Astaga. Emosi Karin meluap.
"Kenapa aku harus terjebak dengannya, arrrgh!"
Karin terus memukuli guling yang sekarang menjadi alat pelampiasan. Mencekiknya, memutar, meninju berkali-kali hingga tanpa sadar guling itu hancur dan kapasnya berserakan dimana-mana. Inti masalahnya bukan hanya itu, tapi mengingat sifat menyebalkan Liam yang juga ikut Karin luapkan.
Sial. Gulingnya hancur. Selamat Karin, sekarang kau tidak akan bisa tidur lagi.
Ketukan pintu tiba-tiba terdengar. Karin melangkah malas, siapa lagi kali ini pikirnya.
Kepala Karin bertambah pusing saat mengetahui siapa yang sekarang berdiri didepan dengan wajah gilanya. Seorang Liam Oliver Ramirez, siluman buaya sialan.
"Apa lagi?" Kata Karin malas.
Liam mempautkan bibir, "galak sekali, sih." Salah satu tangannya bersandar pada sudut pintu, seolah mengurung Karin dengan tubuh besarnya. "Kau memakai bra tidak?"
Karin memeriksa melalui kerah kemeja yang tengah dia pakai. "Aku memakainya. Kenapa?"
"Tunggu. Bodoh. Kenapa aku menuruti perintah dan menjawabnya. Astaga Karin, dasar bodoh." rutuknya dalam hati, tapi Karin segera mengubah ekspresinya.
Liam terkekeh. Dia pasti sedang merutuki kebodohan Karin. Wanita itu semakin kesal, menatapnya nyalang. "Diamlah. Jika tidak ada yang ingin kau katakan, pergi saja. Jangan merusak suasana hatiku, aku ingin tidur dengan tenang."
Bukannya menjawab dia malah tersenyum tidak jelas. Mengulum bibir menahan senyum sembari menatap Karin aneh, seolah istrinya adalah badut di acara ulang tahun.
"Tidak ada yang lucu sialan!"
"Wow. Galak dan seksi."
Mata Karin melebar saat Liam memanyunkan bibir seolah memberikan ciuman jarak jauh. Berandal sialan!
Hal yang tidak terduga selanjutnya adalah ketika Liam mendekatkan wajahnya. Sangat dekat. Matanya menatap bibir Karin intens, kemudian menatap matanya dalam, dan selanjutnya kembali pada bibirnya lagi.
"Ini semua milikku."
"Jantungku. Cepat sekali detaknya. "Karin dibuat bingung dengan sifat Liam yang benar-benar tidak bisa di tebak.
Ini berbahaya, Karin. Sadarlah!
......................
.
.
.
.
.
...🌻🌻🌻🌻...
__ADS_1