
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
"Kau akan merebut Karin sama seperti kau merebut Liora?" Jayden kembali berucap, membuat Felix mendelik.
"Cih, kau bilang aku yang merebut Liora? Tanya temanmu siapa yang lebih dulu menjalin hubungan dengan Liora!"
"Hubungan kalian sudah berakhir, wajar jika kau yang di sebut Liam merebut Liora darinya"
Felix tersenyum tipis sambil menunduk menatap lantai.
"Kalau begitu, salahkan Liora yang punya profesi sebagai pelac*r. Aku bingung bagaimana Liam bisa terperdaya oleh wanita rendahan sepertinya." ucap Felix membuat Jayden sontak menoleh.
"Anak yang Liora kandung itu anakmu kan?" tembak Jayden mengorek informasi dari pria di sebelahnya sebelum lift berhenti di lobby.
Felix tertawa kecil, "Menurutmu aku sebodoh itu" Felix menoleh pada Jayden, "Aku bukan Liam yang jatuh cinta dengan wanita seperti Liora!" lanjutnya berdecak remeh, dan langsung saja keluar saat pintu lift terbuka meninggalkan Jayden yang hanya bisa mendengus kesal.
-
-
-
"Untuk apa dia datang? Kau yang mengundangnya?" Liam bicara pada Karin sambil mencengkeram kedua bahunya memastikan wanita itu menatap ke arahnya.
"Aku cape Liam, kita bicarakan nanti" jawab Karin lesu, wajahnya memucat keringat perlahan membanjir di keningnya, ia perlahan melepaskan tangan Liam darinya.
Karin perlahan melangkah menuju anak tangga untuk pergi ke kamar dan Liam hanya diam dan membiarkannya pergi.
Liam melihat tingkah Karin sedikit aneh, ia perlahan ikut menyusul mengikuti Karin di belakang tanpa wanita itu sadari.
Karin merasakan dadanya perlahan sesak ia merasa tubuhnya mulai hilang keseimbangan hingga reflek memegang pembatas tangga, tangannya meremas kerah kemeja merasakan pasokan oksigen perlahan berkurang.
Dalam hitungan detik tubuh Karin hilang keseimbangan dan jatuh dalam pelukan Liam "Sesak Liam" rintihnya pelan sebelum ia tak sadarkan diri. Tentunya pria itu panik, ia segera membawa Karin ke sofa.
__ADS_1
Ia menepuk pelan pipinya "Karin" panggil Liam tapi tidak ada jawaban, wajah Karin malah semakin pucat ia ingat Karin merasa sesak membuatnya seketika langsung memberikan napas buatan tapi hal itu juga tidak berhasil.
Dengan cepat Liam mengangkat tubuh Karin dan membawanya turun ke lantai tiga dimana ada fasilitas kesehatan di sana, ia berlari keluar dari lift.
"DOKTER!!!" Teriaknya meminta bantuan, beruntungnya ada dokter dan perawat yang melihat Liam langsung menyuruhnya meletakkan Karin di atas banker.
Dokter meminta perawat untuk menyiapkan alat pacu jantung setelah menyadari detak jantung Karin sangat lemah, membuat Liam semakin tidak karuan.
Sementara Jayden yang baru saja datang dengan tergesa-gesa membuatnya hampir tidak bisa bernafas.
Pria itu berusaha menormalkan deru nafasnya, "A-Apa yang terjadi?" tanyanya sedikit membungkuk dengan kedua tangan yang bertumpu di lutut, masih menormalkan deru napasnya. Dia berlari dari lantai lima menggunakan tangga darurat.
Liam tidak menjawab ia hanya fokus menatap para dokter yang menangani Karin terlihat masih berusaha mengembalikan detak jantungnya.
Beruntung detak jantung Karin kembali walau masih sangat lambat, membuat dokter di dalam segera keluar untuk menemui Liam.
Dokter melepas stetoskop-nya dan di gantungkan ke leher, "Pasien harus di bawa ke rumah sakit yang lebih besar, selain masalah alat medis yang terbatas, pasien memerlukan penanganan dari dokter ahli" jelas dokter menoleh sebentar pada Karin yang terbaring di banker rumah sakit.
"Urus pemberkasannya, dan bawa dia" ucap Jayden di angguki paham oleh dokter tadi.
-
-
-
Begitu banker dorong masuk ke lobby rumah sakit, dokter yang sebelumnya menangani Karin menjelaskan pada Adam jika Karin kemungkinan keracunan.
"Taxine!" perjelas Adam yang langsung paham dan mengerti, ia segera mengecek kembali kondisi Karin untuk mengambil kesimpulan dan memberikan penanganan.
"Berikan dia atropin dalam lima menit ke depan" ucap Adam pada perawat sambil melihat jam tangannya.
"Dan lakukan pengecekan dengan kromatografi gas dan spektroskopi massa" lanjutnya dimana dua dokter residen yang tadi bersamanya langsung paham dan membawa Karin keruang perawatan.
"Bagaimana Dam?" tanya Liam,mereka mendengar pembicara Adam tapi tidak memahami maksudnya.
"Karin keracunan Taxine ,tidak ada pengobatan khusus untuk racun jenis ini, aku hanya bisa memberikan penanganan untuk gejalanya saja." jelas Adam yang sebenarnya juga kaget saat melihat kondisi Karin.
Dari raut wajah keduanya Adam tahu mereka tidak paham, "Kau tenang saja, beruntungnya kondisi Karin tidak kritis sepertinya hanya sedikit racun yang masuk kedalam tubuhnya" Liam menghela napas lega.
"Tapi bagaimana bisa Karin keracunan? Kau yang melakukannya?" tatapan curiga Adam berhasil membuat Jayden ikut menatap Liam.
"Kau gila! Aku tidak sejahat itu" Jawab Liam mendengus.
__ADS_1
"Tanaman jenis ini tidak bisa di temukan di negara kita, bahkan pengedarannya di anggap illegal jika memasok tanaman asli karena banyaknya kasus bunuh diri menggunakan tanaman ini, hanya beberapa senyawa yang di isolasi untuk pengobatan kemoterapi dan berbeda jika digunakan secara langsung untuk melukai seseorang, jika dosis yang dikonsumsi Karin melebihi batas tidak ada kesempatan untuknya selamat dari tanaman mematikan ini" jelas Adam membuat Liam berpikir darimana dan bagaimana bisa dia sampai keracunan.
"Hanya dua kemungkinan, dia diracuni atau sengaja melakukannya" celetuk Jayden, "Tapi tidak mungkin Karin sengaja melakukannya,kan" sambungnya lagi.
......................
Liora duduk di bangku taman sambil mendongak menatap langit biru yang begitu cerah di sore hari ini, membuatnya tersenyum sambil menengadahkan tangan menangkap cahaya dari sela-sela jari.
Tiba-tiba seorang pria berdiri di depan menghalangi cahaya matahari, kedua sudut bibirnya terangkat naik saat pria itu tersenyum padanya.
Pria itu lantas mengambil tempat untuk duduk di sebelahnya. "Bukankah cuaca hari ini sangat cerah?" ucapnya memejamkan iris mata merasakan hembusan angin yang menyapu kulitnya.
"sangat cerah" sahut lelaki di sebelahnya seraya memperlihatkan sebuah foto pada Liora.
"menurutku sebaiknya hentikan saja kesepakatan mu, dan tidak perlu mengganggu Liam lagi" ucapannya membuat ekspresi wajah Liora berubah. "Apa maksudmu? Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa menikah, tapi aku yakin Liam tidak akan pernah mencintai wanita itu dia hanya tertarik padaku" sanggah Liora menatap lurus ke depan.
"Kalau begitu kenapa dia ingin kamu menjauh?"
"Ini pasti ulah Jayden, dari awal pria itu selalu saja meremehkan ku!" Liora mendesah kesal sambil meremat ujung jaketnya.
Mendengar jawaban Liora membuat pria itu menghela napas panjang, "aku sudah menasihatimu jadi jangan mengeluh jika kamu gagal" katanya bangkit dari duduknya.
"Aku tidak akan pernah gagal, selama aku masih memegang kelemahan Liam dia pasti akan patuh padaku" Liora berucap yakin.
Tidak ada yang tahu apa yang Liora pegang sampai dia seberani itu untuk kembali ke negaranya, terlebih sebenarnya Liam bukan orang yang akan jatuh begitu saja.
......................
Bughhh
Dengan cepat Jayden menarik Liam sementara Adam menarik yang satunya agar mereka tidak bertengkar disini.
......................
.
.
.
.
__ADS_1
.
...🌻🌻🌻🌻...