
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
Ditatapnya kembali dua lembar foto itu bak menimbang-nimbang siapa pemenang dari kategori wanita tercantik. Pria itu tersenyum sambil mengelus foto Karin dengan dua jemari nya.
"Bukankah kau terlalu cantik untuk di sakiti, gadisku?" gumamnya sendiri.
"Haruskah gadis secantik ini aku sakiti?" Pria itu menatap bawahannya dengan manik menipu. Seolah iba Namun setelahnya dia tersenyum begitu bahagia.
Sang sekertaris tidak bereaksi sedikitpun.
"Tidak," Ia menggeleng lirih. "Aku tidak boleh menyakiti wanita yang tidak tau apa-apa. Iya kan?" katanya.
Sekretarisnya hanya tersenyum. Karena nyatanya, pria itu juga tidak tau harus bereaksi seperti apa. Selama ini ia hanya berusaha selalu setia dan patuh dengan setiap perintah anak bosnya itu. Karena, mereka selalu melindungi keluarganya, Jackson selalu bersikap baik padanya, itu lah kenapa Kim membenarkan setiap apa yang akan Jackson lakukan.
"Kau bebas melakukan apapun." Suara seseorang mengalihkan atensi pria yang tengah duduk di sofa single mewah itu.
"Yaaa," Pria itu menjentikkan tangannya ke udara. "Aku memang bebas melakukan apapun pada siapapun. Termasuk menyakitinya." lantas dia tertawa.
"Kau bilang satu minggu?" Ia mengingat lagi penawaran wanita tadi. "Apa aku sebodoh itu dimata mereka? Kim jawab, apa aku bisa di bodohi oleh mereka?"
Sekretarisnya itu langsung menggeleng tegas. "Tidak Tuan. Tidak ada satupun yang bisa membodohi Tuan."
"Benar," Pria itu menjentikkan lagi jemarinya ke udara. "Mereka memang tidak bisa membodohi ku, Kim. Tidak akan..." lantas ia tertawa.
Namun, bak di sambar petir dengan kilatan angin, raut wajahnya berubah secepat itu juga. Jackson beranjak dari kursi kebesarannya. Menatap Kim dengan tatapan menyalang, Kim sendiri agak bergidik ngeri. Nampaknya ketegasan Jackson sudah kembali.
"Kim, aku tidak ingin Karin mengandung anak Liam. Kau mengerti!" ucapnya penuh penekanan. Jackson sudah berucap, yang berarti dia sudah membuat tekad. Dan setiap apa yang Jackson ucapkan, harus terjadi sesuai yang ia inginkan.
Kim mengangguk pasti sekali lagi. "Baik, Tuan. Saya akan memastikan gadis itu tidak akan mengandung anak siapapun."
Jackson tersenyum lantas pergi menuju kamarnya.
......................
Liam mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Kau yang kenapa bodoh!" Liam pun tidak mau kalah untuk mengomel seraya keluar dari kotak besar itu. "Kau pikir ini dihutan hingga kau bisa berteriak sesukamu? Hobi sekali berteriak seperti orang hutan." tohok Liam pun tidak tanggung-tanggung. Pedas!!
Sementara Karin sibuk membersihkan pecahan kaca dari pelembab wajah, dia kesal pria itu menjatuhkan salah satu pelembab wajahnya hingga pecah dan berhamburan di lantai. Alhasil Karin kesal dan meneriakinya dan yang lebih parahnya pria itu berdiri di hadapannya hanya menggunakan segitiga bermuda dari Calvin Klein.
__ADS_1
Wanita itu berkacak pinggang dan berdiri tegap dihadapan Liam. "Bagaimana aku tidak berteriak, Kau menjatuhkan barangku! Kau tahu berapa lama aku menunggu benda ini datang? Dan lihat dirimu sendiri!" Karin membalikkan badan Liam agar menatap cermin besar dibelakangnya. "Apa bagus seperti itu?" sementara maniknya menatap ke sudut lain.
Liam melipat kedua tangannya saat yang ia tatap adalah wajah tampan yang telah ia dapatkan dari sang ayah. "Apa? Aku tampan. Kenapa?"
Ah sudahlah-Karin bisa gila. "Sering-sering saja tel*njang seperti itu sebelum aku membuang baju-bajumu." gumam Karin kecil sambil melenggang pergi meninggalkan Liam dikamar mandi. Pria itu heran, dia kan mau mandi jadi titik salahnya di mana?
Liam jelas mendengar meski tidak jelas. Dia menahan kenop pintu yang nyaris tertutup karna ditarik Karin tadi. "Kau bilang apa? Ingin membuang baju-bajuku?" kepalanya bahkan sedikit keluar guna mencari tubuh Karin yang tidak terlihat didekat ranjang. "Dasar gadis sinting!" sambungnya, lalu menutup pintu kamar mandi dan melanjutkan ingin mandi.
Sedangkan Karin-dia bersandar disamping lemari besar sambil memegangi dadanya yang nyaris tidak bisa berhenti berdetak kencang karena suaminya itu. Dasar pria gila!
......................
"Kenapa harus Felix pah?"
"Kalau bukan kamu siapa? Kakakmu?! Tidak mungkin." Keputusan sang Ayah sudah final. "Besok kamu berangkat, cabang kita yang ada di Thailand memerlukan kemampuanmu Felix"
"Tapi Pah- "Tidak ada tapi-tapian, keputusan Papah sudah final!"
Arghhh- Shittt
Felix kembali ke kamarnya dengan penuh kekesalan, dari awal dia sengaja kembali karena ingin memperbaiki hubungannya dengan Karin. Jika dia harus pergi lagi maka semuanya akan sia-sia. Namun di sisi lain, Felix tidak bisa membantah perintah Ayahnya yang sangat ia sayangi itu.
......................
💬"Dam"
💬"Apa?"
💬"Sudah pulang?"
💬"Tumben. Kau merindukanku?!"
💬"Menjijikan. Lebih baik aku merindukan pantat Micky ketimbang dirimu."
💬"Anak anjing🙂"
💬"Yaa. Micky kan memang anjing"
💬"Sudahlah🖕🏻. Kau mau apa dariku?"
"Liam!" Panggilan Karin sontak membuat Liam menatap pintu, "Apa?" jawabnya sambil mengetik sesuatu di ponselnya membalas pesan Adam.
Ia lantas berjalan menuju pintu untuk membukanya, "Kenapa?" Karin tidak menjawab tapi dia langsung bergeser ke kiri memperlihatkan seorang wanita tengah duduk di sana, kepalanya bergerak menoleh ke sofa sekilas mengisyaratkan ada seseorang yang menunggunya.
Tatapan Karin benar-benar dingin kemudian ia melangkah pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya, situasi mencekam apa ini pikir Liam. Tatapan Karin seperti ingin membunuh seseorang.
__ADS_1
"Kau siapa?" Liam berjalan menuju sofa seraya menyimpan kedua tangannya di saku celana.
"Liam!" wanita itu berbalik, dengan cepat ia bergerak bangun dan memeluk Liam hingga pria itu tersentak, dan yang lebih membuat Liam kaget adalah Karin yang terdiam membeku di lantai dua sambil memegang gelas di tangannya. "Karin!" Lirihnya yang dengan cepat melepas pelukan wanita itu darinya.
"Joy! Bagaimana- "Bagaimana aku bisa disini?" Joy melangkah maju selangkah sambil menyilangkan kedua tangannya. Wanita itu mengaku sebagai salah satu investor Rez Holding yang membuat Karin tidak curiga, hanya saja ia sedikit kesal kenapa datang di luar jam kerja, terlebih hari ini adalah weekend.
"Kau- Mau apa?" tanya Liam memperkecil volume suaranya.
"Dia siapa?" Joy melirik Karin yang berjalan menuruni anak tangga, dari tatapan Joy- Karin sadar hubungan mereka sepertinya bukan sebatas rekan kerja.
"Ayo keluar" Liam perlahan mendorong Joy keluar dari apartemennya, lebih baik mereka bicara diluar sebelum mulut Joy membuka seluruh keburukan dari masa lalu Liam di depan mata Karin.
Jelas Karin terlihat mendelik tajam, matanya masih mengiringi langkah Liam dan wanita yang tidak ia kenal itu. "Mau kemana mereka" gumamnya meremas kuat gelas kaca di tangannya.
Liam melepas genggamannya kemudian beralih mencengkeram kedua bahu Joy "Kita bicara lagi nanti, sekarang pulang lah" pinta Liam, dia mengenal siapa itu Joy, wanita yang mempunyai mulut berbisa dan suka memutar balikkan fakta.
"Tidak mau!" Joy keras kepala dan tetap pada posisinya. "Kau sengaja mau mengirimku keluar negri,kan? Siapa wanita tadi? Dia jal*ngmu yang baru?"
Liam dengan tegas membantah kalimat Joy yang menyebut istrinya jal*ng "Bukan! Dia bukan sepertimu."
Joy memutar malas bola matanya, "Lalu kenapa kita harus keluar? Biasanya juga kita bicara di dalam? Dia pembantu-mu?" Tingkah Joy perlahan mulai melunak, ia menelusupkan tangannya pada sela lengan Liam kemudian dengan manja bergelayut di lengan kekarnya.
"Aku merindukanmu Liam! Waktu itu kita tidak pernah mengakhiri hubungan kita, jadi sekarang kita masih sepasang kekasih bukan." ujarnya menyandarkan kepalanya pada dada bidang Liam. "Bagaimana jika kita mulai lagi? Sekarang karirku sudah berada di puncak, maafkan aku karena waktu itu lebih memilih karirku" lagi-lagi Joy bersikap manja padanya, wanita yang lebih muda dua tahun darinya itu memeluk setengah badan Liam.
Liam perlahan melepas pelukan Joy, "Tidak masalah, aku memaafkanmu. Tapi hubungan kita sudah berakhir tiga tahun yang lalu Joy, dan aku tidak berniat menjalin hubungan lagi dengan siapapun." jelasnya membuat ekspresi wajah Joy berubah.
"Apa ini karena Liora? Kalian balikan?" tanyanya mendengus menatap tajam Liam. Pria itu melirik Joy sebentar, ternyata wanita ini juga mengetahui kedatangan Liora.
"Sialan- wanita itu masih saja menghalangi jalanku?" batinnya.
Sejauh ini Joy masih tidak curiga dengan Karin, namun ia masih saja membenci Liora yang sejak dulu tidak bisa dia singkirkan dari pikiran maupun hati Liam.
"Baiklah, aku akan pulang. Lain kali kita bertemu diluar" kata Joy dengan cepat mencium pipi kiri Liam, kemudian dia tersenyum sambil melambai manja pada Liam sebelum menghilang di balik pintu lift.
Liam cepat meraih ponselnya, kita sudah bisa menebak siapa yang ingin dia hubungi.
......................
.
.
.
.
.
__ADS_1
...🌻🌻🌻🌻...