Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - THE REAL CROCODILE


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


Jam menunjukkan pukul 19.35 PM, Adam terlihat meletakkan segelas air putih di atas meja.


"Liam! Kau mati?" tegurnya menepuk pipi Liam cukup kuat.


"Karin!" serunya seketika bangun, dan kembali menghela napas dengan kecewa, ternyata Adam.


"Ada apa? Kenapa tampilanmu seperti ini?" Adam bertanya perihal kondisi Liam yang aut-autan tidak seperti Liam yang dia kenal selalu rapi, berbanding terbalik dengan kondisinya saat ini yang lebih di samakan Adam dengan orang gila.


"Karin pergi Dam, dia sudah tahu semuanya" ucap Liam pelan, dia tak punya daya lagi.


"APA!!!" Kagetnya Adam sama kagetnya dengan Juan dan Jayden yang baru saja masuk.


"Apa maksudmu?" Jayden dengan cepat mengambil tempat duduk di sebelah kanan Liam.


"Dia sudah tahu aku yang menyebabkan ibunya meninggal"


"BODOH!" maki Adam.


"Kenapa bisa?"


"Aku tidak sadar, pikiranku kacau. Zayn bukan putra kandungku, Liora menipuku habis-habisan aku hanya tidak ingin Karin pergi sama seperti Liora, karena itu tanpa sadar mulutku mengakui semuanya berharap Karin akan tetap berada di sisiku" lalu dia tersenyum miris.


"Tapi nyatanya dia pergi" Jayden berdecak remeh. "Felix yang ketahuan selingkuh saja tidak pernah di ampuni Karin, apalagi dirimu!"


"Jangan semakin menurunkan mental Liam, Jayden." tegur Adam.


Jayden hanya menggeleng pelan, dia masih ingat bagaimana Liam tidak mendengar ucapannya dan memilih untuk menjaga Liora sampai Liam benar-benar terperosok jauh kedalam cinta Liora selama masa kehamilan wanita itu.


"Sekarang mau bagaimana lagi, Karin bukan wanita yang bermain hati Liam. Dia pakai otak dan logikanya" ucap Adam.


"Dia bilang apa sebelum pergi?"


"Dia minta cerai, dan mungkin akan menggugatku atas dugaan pembunuhan ibunya"


Adam ikut menekan kedua pelipisnya, pusing, masalah Liam bukan hal yang mudah, ini menyangkut perasaan Karin yang saat ini mungkin sangat terluka. "Untuk saat ini biarkan dulu dia tenang, Karin perlu waktu untuk mencerna semuanya."


Semuanya terjadi sangat cepat, baru saja mereka ingin berdamai dengan masalah rumah tangga, Liam malah menghancurkan semuanya.


......................

__ADS_1


Karin mengurung dirinya seharian di kamar, tidak ada orang tuanya, hanya ada beberapa pelayan dan security.


Setelah pergi dari Apartemen Liam, dan kembali ke rumah, tidak ada yang berani menanyakan kenapa wanita bersuami itu kembali ke rumah orang tuanya.


Drrttt......


Ia lantas menoleh melihat siapa yang menelpon, 'Adam' Bukannya menjawab wanita itu hanya membiarkan ponselnya berdering.


Ting.


💬"Aku ingin bicara, bisa?"


💬"Ini masalah Liam"


💬"Jangan salah paham dulu Karin, please jawab pesanku, kita bicara di cafe Moonlight "


💬"Ini menyangkut kebenaran dibalik kasus ibumu"


Akhirnya Adam mau buka suara. Membuat Karin perlahan meraih ponselnya.


💬"Aku akan pergi, hanya kita berdua tidak ada orang lain!"


Maksudnya Adam tidak boleh mengajak Liam, dia sedang tidak ingin bertemu pria itu sekarang.


💬"Pukul 20.30, Cafe Moonlight"


-


-


-


Setelah kematian ibunya, Karin memilih pergi keluar negri untuk mengalihkan pikirannya dengan stres pada pelajaran.


Adam melambaikan tangan saat melihat Karin terlihat memasuki cafe, wanita itu perlahan melangkahkan kakinya menuju meja yang sudah di pesan Adam.


"Kalian yang menyuruh saksi untuk mengubah kesaksiannya,kan?" Karin masih berdiri belum duduk di kursi, "duduklah dulu, biar ku jelaskan."


Adam terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, semetara Liam dan yang lain memantau dilantai dua.


"Aku akan membantumu menangkap pelaku tabrak lari Nyonya Evelyn, tapi kau harus berjanji untuk tidak menggugat Liam- "Cih, kau berlagak sebagai pengacaranya sekarang!" ucapnya memotong kalimat Adam.


"Aku mengatakan itu karena Liam bukan pelakunya"


"Tidak perlu menutupi kebenaran Dam, Liam bahkan mengaku sendiri padaku"


"Kau percaya ucapannya?" Karin dibuat bingung dengan pertanyaan Adam, keningnya terlihat berkerut. "Bicara yang jelas!"


Adam terlihat santai lalu meletakkan beberapa foto di atas meja "Bukan Liam, tapi Liora pelakunya!"


Karin belum menjawab dia masih menatap foto yang Adam berikan. "Liora yang menabrak ibumu, dan Liam yang membawanya ke rumah sakit" sambung Adam.

__ADS_1


"Tapi kenapa- "Kenapa Liam mengaku itu adalah dirinya? Itu karena setelah kecelakaan mentalnya terganggu, dia terpuruk, anaknya meninggal walau sebenarnya bukan putra kandung, dan Liora meninggalkannya begitu saja, perusahaan di ambang kebangkrutan" jelas Adam yang sedari dulu telah merawat dan mengawasi Liam.


"Kondisi mentalnya selalu meng-klaim bahwa dia adalah pelakunya, gangguan cemas yang berlebihan dan pengalaman negatif yang menyebabkannya stres dan trauma psikologis, kau bisa mempercayaiku. Saat ini aku bicara sebagai dokter Liam bukan Adam jadi tolong pertimbangkan Karin"


"Kau bisa membenciku, tapi jangan pergi Karin" suara itu memecah konsentrasi Karin yang langsung berbalik, matanya melebar saat melihat Liam berdiri di belakang kursinya. "Kau berbohong Dam!" kata Karin kecewa sambil mendengus senyum, lalu dalam satu detik ekspresi wajahnya berubah datar.


Karin bangkit dari kursinya, meraih tas kemudian segera melangkahkan kakinya berniat pergi, tapi Liam sudah lebih dulu menahan lengannya.


"Aku janji tidak akan mengulanginya, satu kesempatan saja untuk aku memperbaikinya" pinta Liam memohon, entah kenapa hatinya sakit saat melihat Karin pergi darinya. Satu hari tidak melihat Karin di rumah rasanya lebih menyakitkan ketimbang pengkhianatan Liora.


Karin membuang kasar napasnya, lalu berbalik. "Aku tidak bisa memberikan kesempatan untuk pria yang masih mengingat masa lalunya!" Dia ingat bagaimana foto Liora masih ada diruang kerja Liam.


"Kau masih tidak membuang itu?" bisik Jayden sedikit kesal.


"Tunggu!" Liam mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan itu di lihat oleh Karin yang melebarkan matanya kaget, "Satu kesempatan saja, aku akan memberikan ini" Karin bergerak cepat meraih kalung yang ada di tangan Liam, tapi sialnya pria itu membaca pergerakannya dan bergerak lebih cepat mengangkat tangannya.


"Kau memanfaatkan kalung ibuku?"


"Tidak ada pilihan"


Karin mendengus kesal, "Berikan, aku akan memikirkannya"


"Tidak, sampai kau kembali ke rumah dan memberiku kesempatan"


"Brengsek!" Makinya lalu berbalik sambil berjalan menuju pintu keluar.


Tapi Liam malah menghitung mundur, "dua, ti-" Karin berbalik sesuai perkiraannya membuat Liam menarik senyum. "Oke, tapi kembalikan kalung ibuku! Aku akan kembali dan memberi kesempatan padamu" ia segera meminta kalung itu dari Liam.


"Kalau begitu ayo pergi" bukannya menyerahkan, Liam malah mengajaknya pergi. "Kemana?"


"Ke rumahmu ambil koper" Dia berjalan cepat di depan meninggalkan Karin yang hanya bisa menghentakkan kakinya kesal kemudian mengikuti Liam, Kalung yang di pegang Liam adalah kalung yang sangat berarti untuk Karin.


Jayden berdiri sejajar di sebelah Adam, dia lantas bertepuk tangan "Liam memang buaya darat sungguhan, mengumbar kata manis pada Karin tapi masih menyimpan foto Liora." tersenyum menatap Adam dan Juan bergantian.


"Aku bahkan tidak habis pikir bagaimana dia bisa menggunakan kelemahannya sendiri untuk menarik Karin" Adam menggeleng tak habis pikir. "padahal dia sendiri yang mengaku dan membuat masalah" timpal Juan. "Dan dia sendiri yang mencari jalan keluarnya" sambung Jayden lagi mengingat pembicaraan mereka di apartemen Liam kemarin malam.


Mereka bertiga duduk di kursi, memilih untuk menghabiskan hidangan yang di pesan Liam sambil membicarakan masalah Liora.


......................


.


.


.


.


.


...🌻🌻🌻🌻...

__ADS_1


__ADS_2