Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - COMBINADE PATERNITY


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


Wanita itu terkejut melihat apa yang menyambutnya, Liam langsung menarik Karin berbalik kearahnya dan memeluknya. Karin terdiam di pelukan pria itu.


"Apa yang terjadi? Kenapa- "Sshut!" Liam mengusap pelan pundak Karin lembut seraya meraih ponselnya di saku celana.


Karin memeluk erat tubuh Liam, wanita itu ketakutan sekarang, tubuhnya bahkan bergetar hebat. Dia menyesal tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Liam.


Bagaimana tidak, dia melihat Lea yang dibungkus dalam kantung mayat transparan dan diawetkan di dalamnya. Parahnya semua organ dalam tubuhnya itu telah diambil. Apartemennya berantakan semua benda berada tidak pada tempatnya bahkan aroma busuk menyeruak di seluruh ruangan.


"Siapa yang melakukan ini." gumamnya pelan.


Liam terus mengusap pelan pundak wanita itu berharap bisa tenang, sambil menelpon bantuan.


-


Liam meraih kembali kartu tanda pengenal yang sebelumnya di pinjam oleh petugas kepolisian.


Setelah menjelaskan semuanya, Liam membawa Karin keluar dari sana sebab akan dilakukan olah tkp oleh kepolisian dan ahli forensik.


Karin masih kaget, dia tidak jadi pergi ke tujuannya dan meminta Liam untuk membawanya pulang.


Saat Liam mulai melajukan motor, "awas Liam" mereka hampir menabrak pejalan kaki yang lewat di depan mereka, beruntung Liam sempat menarik rem depan.


......................


Setelah berita kematian Lea mencuat ke media seseorang dibuat gugup dan takut dirinya akan terungkap.


"Apa yang terjadi?" orang itu terlihat bicara dengan seseorang di telpon.


"Aku baru saja akan membuang mayatnya, tapi orang lain sudah lebih dulu menemukannya!" orang itu berteriak dan memaki seseorang yang berada satu panggilan dengannya.


"Kau harus pergi, jangan menetap disini aku akan mencarikan tiket untukmu pergi"


"Tapi kau harus membayar penuh bayaranku!"


"Sialan! Pekerjaanmu saja tidak becus. Aku tidak akan memberikan bayaran sisa"


"Kalau begitu bersiap, aku akan menyerahkan diri ke kantor polisi!"


"Brengs*ek! - Sekarang kau mengancam ku!"


"Terserah! Berikan uangnya atau aku akan menarik mu jatuh bersamaku."


"YAK!!!"

__ADS_1


Tut ... tut ... tut ...


Orang itu mengacak frustasi rambutnya, kemudian kembali menghubungi seseorang.


......................


Karin duduk di kursi kerja sambil mengigit kuku, itu kebiasaan-nya yang tidak baik. Ia kembali mengingat hari dimana dia menerima minuman dari Lea.


Ia lantas meraih telpon "Jason, tolong keruangan ku sekarang" kemudian ia meletakkan kembali teleponnya dan selang beberapa detik pria itu masuk keruangan Karin, dia pengganti Lea yang baru saja masuk kemarin.


"Ada apa Bu?" tanya Jason pada wanita yang 2 tahun lebih tua darinya itu.


"Hasil forensik sudah keluar?"


"Tunggu sebentar," Jason berlari kecil keluar ruangan kemudian dia kembali lagi meletakkan amplop besar berwarna putih di atas meja.


Karin mengambil amplop itu dan segera melihat kedalam, "Kau bisa kembali" ucapnya tanpa menatap Jason.


Pria itu keluar dengan wajah santai, terlihat menikmati pekerjaan barunya. Sebenarnya Karin bingung kenapa Ayahnya mencarikan sekertaris pria apalagi dia lebih muda darinya, cukup imut bagi Karin membuatnya sedikit gemas bila melihat Jason, terlihat agak polos apalagi saat pakai kacamata.


Karin menyibak lembar-perlembar hasil forensik yang di dapat Jason dari kenalannya yang bekerja di BFN (Badan Forensik Nasional)


Dugaan Karin benar, ada kandungan racun yang sama persis dengan racun yang masuk ke dalam tubuhnya yang mana dosisnya jauh melebihi dosis mematikan.


'Taxine'


Jenis kandungan itu masuk kedalam daftar penyebab utama kematian Lea. Wanita itu meninggal karena keracunan lalu organnya di ambil oleh orang lain yang tidak ia ketahui


Karin jadi teringat hari dimana Lea memberikannya minuman yang lebih tepatnya sekitar dua minggu yang lalu "Bu, ini ada minuman dari Pak Morgan" Lea meletakkan dua gelas Green Grape Ade tapi Karin memberikan satu gelasnya pada Lea karena tak mungkin ia menghabiskan semuanya.


Artinya orang yang melakukan hal itu pada Lea adalah orang yang sama dengan pelaku yang sengaja meracuninya, tapi disini Karin tidak mengerti kenapa harus Lea yang notabene hanya sekretarisnya saja.


Ia lantas kembali meraih telpon-nya, "Jason, minta rekaman cctv dua minggu yang lalu dan serahkan padaku setelah makan siang" lalu Karin menutup telpon dan bangun dari kursinya, ini sudah jam makan siang perutnya keroncongan harus segera di isi sebelum asam lambungnya naik ke kepala.


......................


Kelvin melangkah masuk keruang Liam, dengan raut wajah yang yang aneh sambil membawa dua buah map besar berwarna putih.


"Kau yakin mau melihat ini?" Kelvin memastikan lagi.


Liam menengadahkan tangan meminta amplop itu dari Kelvin, "Kau sudah melihat isinya?" pria itu menggeleng hanya saja takut hasilnya mengecewakan.


Sebelum membuka amplopnya, Liam menghela napas panjang dia siap apapun hasilnya.


'Combinade paternity index : 0


Probability of Paternity : 0%'


Tangannya perlahan meremas hasil tes DNA itu, mata Liam mulai memerah rahangnya terkantup kepalanya berdenyut menahan amarah, nyatanya Zayn memang bukan putra kandungnya, Liora benar-benar keterlaluan.


Kelvin terlihat ragu "Dan ini- hasil tes yang sama untuk ayah biologis Zayn" kembali meletakkan satu amplop yang sama di atas meja.


"Dugaanmu tentang Felix salah" dengan cepat Liam melihat hasil tes berikutnya, kertas itu menjawab tentang siapa Ayah kandung Zayn yang begitu dia sayangi bahkan telah pergi sekalipun.


"Ini-" Liam menatap Kelvin yang mengangguk padanya, "Benar, Zayn adalah putra Evan kakak tiri Liora yang selalu bersamanya dari masa SMA"

__ADS_1


"Kau tidak menyangka, kan? Sama aku juga" sambungnya yang mengerti maksud dari raut wajah Liam.


-


-


-


Liam pulang lebih awal, ia masuk kedalam ruang kerja yang selama ini belum pernah di jamah oleh Karin. Pria itu mengeluarkan sebuah keycard yang terselip di antara buku-buku yang tersusun rapi di rak.


Ia duduk di tepi rajang menatap foto yang ada di atas nakas,


"Liam.. aku hamil."


"Benarkah?"Liam melepas pelukannya dan bertanya penuh harap. Liora mengangguk bahagia.


Liam begitu bahagia. Dia merasa seluruh dunia ada pada dirinya, Liora, dan sekarang ada anaknya dalam perut wanita itu.


Air Matanya terjatuh, "aku begitu bahagia mendengarnya, sayang... Terimakasih banyak."


Liam kembali memeluk tubuh kekasihnya dan mendekapnya penuh hangat. Dia bahkan tidak tahu cara mengungkapkan kebahagiannya.


Semuanya berjalan mulus. Kehamilannya sudah menginjak sembilan bulan lebih. Bahkan Liam memperlakukan Liora begitu hati-hati. Sangat berharga, itulah alasan kenapa Liam mengurung Liora, dia sadar saingan bisnisnya banyak dan takut hal buruk menimpa Liora dan putranya karena rasa benci seseorang terhadap dirinya sendiri.


Mereka akan melangsungkan pernikahan setelah putra mereka lahir ke dunia, sekaligus Liam yang masih berusaha mengejar persetujuan dari kedua orang tuanya. Nyonya Catherine menentang keras hubungan Liam dan Liora setelah mengetahui kebenaran tentang pekerjaan Liora dari Jayden sama halnya dengan Tuan Zyan, yang menjadi cikal bakal kenapa Liora membenci Jayden.


Selama ini dia hanya memasang wajah sok polosnya itu untuk berusaha memperdaya Liam sekali lagi.


Tepat sepuluh menit setelah melahirkan, dokter menyatakan baby Zayn tidak selamat. Saat proses operasi detak jantungnya sangat lemah bahkan tangan dan kakinya membiru karena terlalu lama berada dalam perut ibunya, pembukaan Liora terhenti di angka empat sehari sebelumnya, keduanya tidak menyadari hal itu sebab tidak adanya rasa sakit yang di alami Liora, hanya sekedar nyeri biasa yang dia anggap sebagai efek wajar karena sebentar lagi akan melahirkan.


Dan perlu Liam akui, alasan Liora di bawa ke rumah sakit itupun karena keduanya bertengkar di dalam mobil dan tanpa sengaja menabrak seseorang hingga tewas, situasi saat itu benar-benar keos tak ada yang mengetahui kebenaran siapa pelaku utama yang seharusnya bertanggung jawab kecuali mereka bertiga. Perut Liora terbentur cukup kuat hingga Liam bergegas membawanya ke rumah sakit.


Brakh!


Liam melampiaskan amarahnya pada benda di sekitarnya, dia menyapu habis seluruh benda yang ada di atas nakas. Kekecewaan Liam sangat dalam, dia memang sangat bodoh masih berusaha percaya pada Liora tapi Liam harus apa? Perasaannya tidak bisa di bohongi waktu itu, jika di sebut bodoh Liam mungkin menerimanya dengan senang hati.


Please, jangan hakimi Liam. Dia juga manusia biasa sama seperti kalian, yang kadang tak bisa mengontrol api asmara yang begitu menggebu.


......................


Jason Pablo



.


.


.


.


.


...🌻🌻🌻🌻...

__ADS_1


__ADS_2