Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - GADIS ITU


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


.....................


Liam duduk di stool bar dapur sambil memutar gelas whisky dengan lampu yang sengaja di matikan.


Karin berjalan masuk menempelkan kartu akses dengan pikiran kosong, ia melangkah gontai masuk kedalam dengan tatapan yang sama kosongnya.


"Baru pulang!"


Suara berat yang menginterupsi menghentikan langkah Karin dan membuatnya menoleh ke sumber suara menatap siluet yang berada di dekat dapur.


"Pas sekali, aku ingin bicara" kata Karin menepuk dua kali untuk menyalakan lampu, ia berjalan menghampiri Liam dan ikut duduk di sebelahnya.


Dua tatapan tajam itu saling menatap, siap membunuh siapapun di dekat mereka. "Berhenti membatasi ku. Aku ingin melakukan keinginanku, jika kau tidak setuju kita akhiri saja pernikahan ini" Liam yang sedari awal sudah emosi semakin dibuat memuncak oleh Karin.


Ia tersenyum tipis lalu menenggak habis minumannya, "Mudah sekali kalimat itu keluar dari mulutmu"


"Dari awal seharusnya hubungan ini tidak ada! Kau sengaja kan menikahi ku dengan alasan tanggung jawab, padahal niatmu yang sebenarnya untuk menjadikanku tawananmu sama seperti Liora yang kau kurung hanya untuk memuaskan dirimu saja. Apa aku salah!" tatapan Karin menantang Liam, pria itu mendengus saat Karin menyebut nama Liora di depan wajahnya.


"Dari mana kau mendengar hal konyol seperti itu, Karin!" tanya Liam mencengkeram kuat pergelangan tangan Karin.


"Itu bukan hal konyol, itu benar kan! Akui saja" Jawab Karin melepas tangan Liam darinya


"Cukup Karin! Jangan membuatku semakin marah. Masuk kamarmu!" Liam menunjuk ke lantai dua, Karin harus masuk sekarang, tidak baik untuknya tetap berada disini. Mata Liam memerah, uratnya menonjol keluar rahangnya menegas pertanda ia sedang di puncak amarah.


"Aku akan mengirimkan surat cerai besok pagi ke kantormu" Ucap Karin turun dari kursi bersiap pergi, tapi Liam sudah lebih dulu menahan lengannya dan ikut turun dari kursi.


"Kau semakin kurang ajar Karin! Siapa yang mengajarimu untuk melawan suamimu seperti ini, jawab!!!" Sentak Liam menaikkan volume bicara, tangannya mencengkeram kuat-kuat lengan Karin yang mungkin nanti akan meninggalkan bekas kemerah-merahan.


Karin meringis, Liam mencengkeram pergelangannya terlalu kuat.


"Lepas!"


"Sekali lagi kau berpikir untuk cerai dariku, lihat saja akibatnya" Tekan Liam melepas kasar tangan Karin lalu pergi keruang kerja yang berada di lantai satu.


Karin memegangi tangannya, ia jongkok dan tanpa sadar cairan bening lolos dari pelupuk matanya, Liam terlalu kasar dan memperlihatkan sisi beringasnya.


Bahkan Karin tidak mengerti, apa alasan Liam sampai detik ini masih mempertahankan pernikahan yang tidak punya masa depan itu.


Tidak tahu apa yang sebenarnya Karin dengar dari Felix tadi siang, hingga berakhir seperti ini. Hubungan mereka seperti raga tanpa nyawa.

__ADS_1


......................


Karin terlihat sedang berkutat di dapur, satu hal yang dia bisa hanya membuat omelette dan sandwich, jadi selama ini Liam hanya di beri makan dua hidangan itu saja sisanya mereka beli diluar.


Liam keluar dari ruang kerja dengan setelan jas rapi yang membalut tubuh tegapnya dipadukan dengan jam tangan keluaran dari brand Audemars Piguet berwarna silver.


Pria itu mengambil tempat untuk duduk di depan Karin yang sudah duduk lebih dulu.


Tidak ada pembicaraan, Karin fokus dengan ponselnya, dan Liam juga melakukan hal yang sama.


Karin menenggak habis jus nya, lalu beralih menatap Liam. Ragu, dan bingung harus bicara apa.


"Ayah ingin aku bekerja di perusahaan" Tidak ada tanggapan dari Liam yang hanya fokus pada ponselnya.


"Lalu?" Liam memiringkan kepalanya ke kanan untuk menatap Karin.


Karin tentunya mulai membuka pembicaraan untuk menyampaikan pembelaannya agar Liam berpikir lagi dan mengijinkannya pergi bekerja, dari pada seharian berdiam diri di rumah. Namun baru saja Karin membuka mulutnya, Liam menyela, "Aku akan mengijinkan mu bekerja di perusahaan Ayahmu, tapi-"


"Tapi?" Karin menunggu kalimat Liam.


"Kau harus patuh padaku, berhenti menjawab dan turuti seluruh perintahku"


Mata Karin hampir tidak berkedip untuk beberapa saat, "Seluruh, perintahmu?" ulangnya di angguki oleh Liam.


"Oke, deal" kata Karin menjulurkan tangan untuk saling berjabat tangan dengan Liam.


"Tidak boleh menolak perintahku!" perjelas Liam sambil minum dan tanpa melepas tangan Karin beberapa saat.


Bukannya menjawab, Liam hanya mengangkat bahunya lalu beranjak karena sarapannya sudah selesai.


......................


Sedikit senyum tertarik dari bibir Karin, akhirnya dia bisa beraktifitas seperti biasa. Ia mulai menyiapkan pakaian terbaiknya untuk berangkat ke kantor, sementara Liam sudah pergi lebih dulu.


Sesampainya ia di gedung MK Group, nampak Nichole menjemput di depan loby untuk mengarahkan Karin langsung keruang kerjanya.


Karin memilih Divisi Perencanaan untuk tempat awalnya memulai karir, sekaligus tempatnya belajar mengelola perusahaan untuk kedepannya.


Ia mendudukkan dirinya di kursi yang bisa di putar 360 derajat, sambil menyentuh keyboard komputer yang berada di atas meja.


Tak berselang lama, masuk seorang wanita yang ditugaskan untuk membantunya.


Sedari awal Karin sudah mengincar dokumen yang di pegang oleh Lea, dan memintanya untuk mencarikan ke divisi lain.


Lea pergi setelah memberikan dokumennya pada Karin.


Tring.


💬"Jangan pulang terlambat!"

__ADS_1


Karin mendengus dan memutar malas bola matanya.


💬"Iya"


Setelah membalas pesan Liam, ia kembali pada dokumennya.


......................


"Kalau aku hamil kau harus bertanggung jawab."


"Kau tidak mungkin hamil!"


Liam mengusap wajahnya frustasi, dia berusaha keras mengingat kejadian tadi malam tapi pening yang masih bersemayam di kepala membuat ingatannya malah kian semrawut.


"Kau benar-benar breng*sek!"


Liam berpaling saat mendapati Liora turun dari ranjang, tapi kemudian dia buru-buru mengalihkan pandang ke jendela kamar yang tertutup saat gadis itu mengenakan pakaian.


"Kau akan dapat balasannya!" Liora berseru dan buru-buru hendak keluar dari kamar.


"Liora, tunggu!" Liam beringsut dari ranjang, menarik selimut dan melilitkannya asal di seputaran pinggang, dia berhasil menahan Liora di lorong depan pintu.


"Aku benar-benar tidak ingat," kata Liam, tangannya bertumpu pada lemari dinding di sampingnya.


"Kau memang selalu begitu."


Liam tertegun untuk dua detik penuh, memandangi Liora yang tampak menahan sesuatu.


"Maaf-" ucap Liam lirih, tanpa direncana."-maafkan aku."


Pada satu titik putaran dunia yang membeku tiba-tiba, mereka berdua saling menatap ke dalam mata yang lain. Tak ada kata yang terucap, keduanya sama-sama tidak siap merangkai kata balasan.


"Aku mencintai-" Suara berat Liam memutus tautan pandang di antara mereka, sekaligus memecah kebekuan yang nyaris membunuh keduanya.


Liora termangu, napasnya seperti hilang selama tiga detik, tapi kemudian sesuatu yang keras serasa menusuk jantungnya saat Liam


melanjutkan kata-katanya.


......................


.


.


.


.


.

__ADS_1


...🌻🌻🌻🌻...


__ADS_2