
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
"Jadi, Liam masih menyuruhmu tetap bekerja? apa kau tidak tahu Karin, sekaya apa suami mu?"
Nick hanya menggoda Karin saja, karna dilihatnya dari tadi perempuan ini hanya diam saja. Mengulas senyum seperlunya, dan sedikit menimbrung jika kalimat nya dibutuhkan. Sebelumnya mereka sudah pernah bertemu di arena balap, tapi saat itu mereka benar-benar canggung.
Nick itu sebenarnya orang nya paling tidak bisa melihat suatu keadaan dimana didalamnya terdapat kecanggungan. Maka ia akan berbuat apapun untuk mencairkan suasana tersebut. Seperti sekarang, sudah dari tadi ia berusaha mendekati Karin. Berusaha sok akrab dan mendekatkan diri lebih cepat kepada Karin yang dilihatnya nampak kurang nyaman atau tidak menikmati pertemuan ini.
Entah kenapa Karin malah menunduk. Seakan tidak yakin untuk membuka mulut untuk berbicara.
"Bukan begitu. Aku yang masih ingin bekerja, jika nanti saat itu tiba--" Karin mendongak dan menatap Liam sebentar disebelahnya. "Aku akan berhenti bekerja untuk menjadi istri yang baik"
 "Aku tidak tahu kalau kalian datang hari ini, padahal kemarin Joy baru saja menemuiku" satu potong apel pun masuk kedalam mulut Hana. "Sudah sangat lama dia baru muncul kembali" lanjut Hana mengakhiri.
Sepulang dari pernikahan kolega, Liam membawa Karin untuk berkunjung ke rumah Nick.
"Joy! siapa Joy?"
Hana berpikir sejenak dalam diam nya. Mulutnya pun ikut berhenti mengunyah seketika. Apa dia baru saja mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya Karin ketahui?
"Aku tidak mengenalnya." ucap Karin lagi mengoreksi. Lantas membuat Hana tersendak tiba-tiba. Benar-benar kelepasan yang murni tidak disengaja dari mulut nya. Hana pikir, Karin sudah mengetahui tentang Joy dari pria disebelahnya itu. Ternyata- "Sungguh kau tidak mengenal siapa Joy?" Hana memastikan lagi bahwa Karin sedang tidak menguji atau bermain-main.
Membuat Hana menghela napas sedikit keras sebelum berucap lagi. "Dia sepupu ku, lebih tepat nya kami berteman bersama. Bersama Nick dan suami mu juga." demi apapun alasan dusta itu begitu lancar Hana utarakan. Ia juga heran sendiri bagaimana bisa ide seperti itu terlintas begitu cepat.
Reaksi apa yang kalian harapkan? cukup mengangguk seperti paham dan memaklumi saja yang bisa Karin tampilkan sekarang.
__ADS_1
"Tapi maaf Karin-" Karin memasang atensi nya, mendengar betul kalimat apa yang akan Hana ucapkan. "Apa Liam tidak pernah bercerita seperti.... Uhm, maksudku tentang dirinya pribadi. Seperti Liam yang dulu dan sekarang?"
Karin menggeleng. "Tidak sedikitpun. Bahkan aku baru tahu sekarang, suatu rahasia yang ia sembunyikan dariku, aku hanya tahu dia punya masa lalu " ucap Karin yang membuat Hana membeku. Kedua mata nya membola, pikiran liar nya menerka-nerka.
"Kau sudah tahu? tapi kenapa tadi kau mengatakan tidak mengenalnya? aku saksi kisah mereka dari awal hingga berakhir." Saat ini yang ada dipikiran Hana adalah sepupunya, hanya Joy.
Karin masih diam, kerutan dikening nya seolah bertanya. Apa yang sedang dibicarakan Hana? apa dia mengenal Liora juga? saksi? apa berarti Hana tahu sepenuhnya? Biarkan, biarkan Hana berbicara tanpa ia perlu bertanya.
"Jika kau bingung ingin percaya pada siapa? kau bisa mencari ku. Dengan sukarela aku akan menceritakan semuanya." sambung Hana lagi seolah menjadi orang yang pantas untuk dicari mengenai masalah tersebut.
Lagi lagi Karin diterpa bingung terlewat dalam. "Semuanya?" ucap Karin lebih kepada terkejut seraya bertanya.
Hana mengangguk. "Iya semuanya. Tapi berjanji padaku untuk tidak memperbesar masalah, karna ini hanya masa lalu. Liam juga sudah menjadi milik mu dan masa lalu tidak akan pernah bisa bersatu." dengan santai Hana memasukkan satu potongan apel lagi kedalam mulutnya. Mengunyah nya acak dan mengambil gelas pipih diatas meja kemudian, meneguk sedikit cairan berwarna didalam nya sebelum berucap lagi.
"Jadi, kenapa tadi kau bilang tidak mengenal Joy, Karin!"
Tepat!
Karin tersenyum simpul penuh arti. Entah sedang senang karna menemukan nama baru dalam rumah tangga nya, atau sedang mentertawakan dirinya sendiri yang kelewat jenius dengan mudah mencerna dan menerka maksud Hana dari beberapa kepingan masa lalu yang Karin ketahui selama ini.
Karin menyibakkan rambutnya itu kebelakang. Sembari menunggu Liam dan Nick kembali, sepertinya perbincangan ini semakin seru untuk dibicarakan. Maka, menempatkan tubuhnya senyaman mungkin setelah membasahi pelan bibir tipis secerah beri itu Karin baru mulai berkata.
Ternyata selain Liora, ada Joy juga dihidup Liam. "Sepertinya menarik, apa kau mengetahui semua ceritanya?"
......................
Jika dihitung mungkin sudah tiga jam yang lalu, semenjak kedua nya pulang dari rumah Nick, Karin hanya duduk menyendiri, dengan tatapan fokusnya pada tv yang menyala, padahal ia tidak menonton, tatapan nya bahkan kosong, bak pikiran yang sedang mengawang.
Kendati, ucapan Hana tadi selalu saja berhasil berlalu lalang dirulung hati, membuat Karin diurung gelisah dan penasaran yang tak tertera.
Curiga?
Penasaran? gelisah?
Mungkin ketiga perasaan itu sedang bermain-main saat ini di pikiran nya, hingga ia sendiri pun jadi uring-uringan. Ingin melakukan sesuatu tapi terasa aneh, hanya ingin melamun dan memikirkan bagaimana cara agar ia mengetahui kebenaran semuanya. Itu saja, untuk saat ini.
__ADS_1
"Kau disini"
Suara Liam yang baru saja berhasil memecah lamunan nya. Liam baru saja kembali sehabis mandi. Mengenakan baju kaus berwarna hitam dan celana pendek kesukaan nya, rambut basah yang tampak acak hampir menutupi wajah, bahkan tetesan air yang berjatuhan pun masih terasa dingin jika mengenai permukaan kulit. Tapi itu tidak sedikitpun mengurangi aura tegas dari Liam.
Karin tidak menjawab. Ia hanya mengulas senyum ketika beralih menatap Liam yang berdiri dihadapan nya. "Bukan kah waktunya makan?" tanya Liam lagi.
"Mau makan apa biar ku pesankan?" Karin beranjak dari kursi empuk itu. Mendekati Liam beberapa langkah dan tegak sejajar dengan sang suami.
Kedua mata Liam berdalih keatas, seolah berpikir sambil menatap langit-langit apartemen. Sebelum ia berucap kembali. "Tidak perlu, kau sudah siap kan?"
"Aku?" Karin membawa telunjuk nya didepan dada.
Woah! bolehkah Karin menjelma menjadi batu saja agar ia tidak terlalu pusing dengan semua kenyataan tentang suaminya dikehidupan masa lalu. Saat ini hubungannya dengan Liam baik-baik saja, terlebih mereka akan segera menjadi orang tua.
"Maksud ku bukan be--. "
Secepat kilat Liam mendarat kan jari telunjuk nya tepat di tengah ranum sang istri, menekan nya sedikit pelan. "Ssstttt.. ini bukan pembahasan yang serius. Tidak perlu dijelaskan."
Karin menurunkan telunjuk Liam yang masih bertengger di ranum nya. "Tapi aku tid- agghhmmm.."
Terkejut bukan main lagi, ketika Liam datang tiba-tiba menghampiri nya, kedua tangan itu secepat kilat memegangi bahu nya, lalu menjatuhkan tubuh nya tepat pada kursi meja makan. Bahkan tidak ada jeda saat Liam langsung mengecup ranum nan lembab tersebut. Sayang nya adegan itu pun tidak berdurasi lama.
"Jangan banyak berpikir Karin" ucapnya kemudian menatap lekat wajah istrinya yang masih duduk di kursi meja makan, telunjuk nya mulai bermain pada pucuk hidung Karin, menyentuh nya lembut kekiri dan kanan. Karin yang tadi nya masih kalut karna dua nama yang berseliweran di kepalanya, kemudian buyar dan fokusnya beralih pada dua mata dihadapan nya.
......................
.
.
.
.
.
__ADS_1
...🌻🌻🌻🌻...