
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
"Kalau begitu, Karin pergi dulu masih ada beberapa pekerjaan yang belum selesai" ucap Karin. "Oh, tentu saja silahkan Karin" jawabnya.
"Tapi jangan lupa untuk makan, jangan terlalu gila bekerja seperti kakak" Sampai harus kalah dari adik sendiri lanjutnya dalam hati. Karin mengangguk, perlahan ia melangkah pergi menuju lift.
Jackson menatap punggung Karin yang perlahan hilang di balik Lift, senyum miring tersemat di bibirnya. "Seharusnya kamu tidak menolak kakak, Karin" Jackson juga ikut pergi bersama sekertaris Kim.
......................
Sebentar lagi sidang pertama untuk kasus pembunuhan Safira akan di mulai, Zea dengan jubah kebesarannya tengah melintasi para wartawan yang sedang berkumpul di depan pintu ruang sidang.
Safira model terkenal dan aktris pendatang baru, tentunya sudah tak heran jika banyak wartawan yang menunggu berita tentang kasusnya.
Sebelum para pengunjung sidang masuk, Zea terlihat memeriksa beberapa berkas pemeriksaannya.
Karin, Jessy, Liam, Kelvin bahkan Juan hadir dalam sidang kali ini.
Seluruh peserta sidang diminta berdiri kala Hakim memasuki ruang sidang.
Pukul 14.00 Sidang berlangsung.
-
-
-
"Telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana atas turut serta melakukan pembunuhan berencana. Saya Jaksa penuntut umum menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana Hukuman mati"
Mendengar tuntutan jaksa, iris mata Mark langsung melebar dia tidak terima dan di detik itu juga pria itu melompat menaiki meja lalu turun, tangannya dengan cepat menarik kerah Zea membuat Juan reflek berdiri.
Zea mendengus senyum, hal seperti ini sudah biasa baginya. "Lanjutkan saja! Ini membuat sanggahan mu tidak kredibel di depan Hakim" Mark mengepal Kuat dan dalam hitungan detik dia mendorong Zea sebelum para petugas menangkap Mark, semuanya terlalu cepat.
Wanita itu terhuyung dan hampir jatuh, tapi beruntung ada petugas yang menangkap tangannya.
"Tolong tenang!" pinta Hakim mengetuk palu-nya.
__ADS_1
"Terdakwa, silahkan kembali duduk ke kursi anda."
"Sidang putusan akan di bacakan pada tanggal 14 Desember 2023" Setelah mengetuk palu-nya para Hakim pergi meninggalkan ruang sidang.
Karin sedang duduk menahan emosinya, sedari tadi ia dan Jessy terus saja saling menggenggam. Mark benar-benar tidak tahu diri, dia masih mengelak setelah semua bukti yang di paparkan jaksa.
Mark mendelik tajam saat melewati Karin dan yang lain.
Mark berbalik menatap pengacaranya saat akan memasuki sel "Aku ingin banding" pintanya.
Pengacara perlahan menghela napasnya dan menyetujui permintaan Mark.
"Tapi kau harus mengakui semuanya padaku. Katakan yang sebenarnya, aku tahu kau berbohong padaku! Jika kau tidak mau maka aku tidak bisa membantumu untuk banding"
Mark nampak menimbang, kemudian kemudian mulai mendekati sang pengacara dan membisikkan sesuatu ke telinganya.
Berselang satu jam setelah pengacara Mark pulang, Zea datang dan meminta kunjungan untuk menemui Mark.
Dengan wajah angkuhnya, Mark duduk di depan Zea.
"Aku terus terang saja. Ajuan bandingmu tidak akan pernah di setujui, kenapa? Karena aku akan selalu menggagalkannya"
Brak!
"Apa maumu wanita sinting! Aku sudah mengaku, tapi kau meminta hukuman maksimal untukku?!"
"Tapi-
Zea menggantung ucapannya, kemudian tersenyum tipis. "Bagaimana jika kau pikirkan tawaranku?" lanjutnya.
"kau yakin mau menanggung semuanya?" Zea mendorong tabletnya memperlihatkan sebuah rekaman cctv yang sebelumnya sudah ia perlihatkan "Aku bisa saja mengurangi hukumanmu jika kau mau bekerja sama. Dalam rekaman cctv kalian berdua cekcok karena masalah seseorang,kan?!" kemudian ia kembali memperlihatkan sebuah tangkapan layar dari ponsel Safira.
Mark terdiam bola matanya bergerak cepat seolah sedang menyembunyikan sesuatu. "Si-siapa yang kau maksud?" atensinya mantap sudut lain. "Aku sudah menjelaskan semuanya diruang interogasi" Mark langsung bangkit dan memanggil petugas jika dia sudah selesai.
Zea melipat kedua tangannya ke dada dengan posisi yang masih sama seperti sebelumnya, "Tawaranku tidak berlaku lagi jika kau keluar dari ruangan ini! Jadi pikirkan baik-baik." Mark berhenti sejenak kemudian dia tetap melanjutkan langkahnya, Zea tersenyum aneh. "Jadi dia akan tetap tutup mulut? Baiklah, kita lihat seberapa lama dia akan bertahan"
......................
Liam mengusap lembut punggung Karin sambil memberinya minum.
Jayden dan Juan tentunya langsung saling tatap.
"Mereka berdua salah makan?!" bisiknya pada Juan yang secara spontan menggendikkan bahu seraya meneguk air es.
Tatapan mereka semakin saling bertanya saat Liam menggenggam tangan Karin berusaha menenangkannya. Jayden mengangkat kedua alisnya sekilas menyiratkan pertanyaan pada Juan tapi sepupunya itu hanya menggeleng samar.
Dua minggu terakhir apartemen Liam jarang di gunakan sebagai markas oleh mereka, terutama Adam yang sangat sibuk akhir-akhir ini.
__ADS_1
Drrttt...
Juan mendengus saat melihat siapa yang memanggilnya.
"Aku pergi sebentar"
Menyisakan mereka bertiga, Jayden yang sudah penasaran dari tadi tak mampu menahannya. "Kalian berdua salah makan?"
Pertanyaan tadi membuat Karin melirik Liam. "Kami sudah berdamai" jawab Liam merangkul bahu Karin membuat Jayden reflek menyemburkan air minum dari mulutnya.
"Aish, menjijikan" kesal Liam meraih tisu untuk mengelap tangannya. Jayden mengelap mulutnya "Kalian. Berdamai? Kapan? Tidak, bagaimana bisa?!" Demi apapun, Jayden tidak percaya jika Liam berdamai dengan Karin.
Jayden bertanya dengan nada pelan pada Karin "Apa Liam sakit keras Karin sampai kau mau berdamai dengannya? Apa dia sekarat?!"
"Sialan! Kau mendoakan ku sekarat!"
"Aish, aku kan hanya bertanya" jawab Jayden tetap menunggu jawaban dari Karin.
"Selamat untuk kehamilan pertamamu Karin" Seru Zea yang tengah melangkah menuju sofa sukses membuat Juan dan Jayden melotot.
"Terimakasih Ze" sahut Karin.
Zea duduk di sofa seraya memberikan sebuah amplop kecil pada Karin, "hadiah dariku, tidak banyak tapi terima saja siapa tahu nanti kau membutuhkannya"
Karin menganggukkan kepala menghargai pemberian Zea, ia raih amplop tersebut kemudian menyimpannya tepat di bawah ponselnya.
Jangan tanya bagaimana reaksi Jayden dan Juan yang baru saja mengetahui hal tersebut, bahkan Zea sempat menutup mulut Juan yang ternganga heran.
Zea menghela napas dan mulai mengatakan sesuatu "Sesuai dugaanmu, semuanya punya benang merah yang sama"
"Riana,kan?!" Zea mengangguk, "Mulai dari kasus pencucian dana, korupsi, kasus di apartemen dan kasus-" Zea menggantung ucapannya kemudian meletakkan sebuah kertas kecil di atas meja.
"Kasus Safira punya benang merah dengan keterlibatan Riana" sambungnya sukses membuat semua orang di tempat itu terheran-heran.
"Bagaimana mungkin, seharusnya mak lampir itu melukai Karin bukannya Safira?" sela Juan. "Benar, untuk apa dan bagaimana Riana bisa terlibat" timpal Liam.
...****************...
.
.
.
.
.
__ADS_1