
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
"Sekarang bagaimana?"
"Plan B"
"Oke" Jason segera melajukan mobil menuju suatu tempat.
Sepanjang jalan Karin hanya diam, foto yang memperlihatkan Liam sedang tertidur pulas di sebelah Liora itu benar-benar mengguncang dirinya.
Ting.
Karin segera meraih benda tipis yang berada tak jauh dari posisinya.
"Dia benar-benar mengibarkan bendera perang rupanya" gumam Karin menyeringai, kemudian ia teruskan pesan tersebut pada kontak yang terdapat di dalam ponselnya.
Drrttt...
"Ze... Sekarang!"
"Okey"
Tut..tut..tut...
Karin masih berusaha membuat dirinya fokus dan mengesampingkan masalah Liam, ia berusaha untuk tetap tenang di tengah ribuan pertanyaan yang bergumul di dalam pikirannya, bahkan sampai detik ini Karin masih berusaha berfikir positif karena jika ia terlalu tertekan itu tak akan baik untuk kondisi bayinya.
"Liam mungkin punya alasan dan Liora bisa saja berbohong. Ambisinya untuk mendapatkan Liam, kan besar" Jason tiba-tiba buka suara, sedari tadi pria itu sesekali melirik Karin dari kaca depan.
......................
Zea dan beberapa tim-nya sudah bersiap di lokasi, sementara Riana dan Liora masih berada di dalam mobil beberapa menit yang lalu seolah sedang menunggu seseorang datang.
Dan benar saja, tak berselang lama sebuah sedan hitam nampak berhenti tepat di sebelah mobil merci itu.
Jendela kaca terbuka memperlihatkan sosok pria yang asing bagi Zea
"Kau yakin ini tempatnya?" Riana tanpa ragu mengangguk, ia melihat sekilas jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 18.57.
Pria itu mengangguk setuju kemudian turun dari mobil di ikuti beberapa pria yang datang dari mobil berbeda di belakangnya.
Karin jujur, uang yang berada di dalam gudang terbengkalai itu adalah dana takt*s milik Riana.
__ADS_1
Zea melirik bawahannya "Semuanya bersiap" kemudian tangannya bergerak untuk menguncir rambut dan dalam hitungan detik mereka segera bergerak mengendap-endap masuk kedalam gudang dan melumpuhkan beberapa anak buah yang berjaga di depan gerbang.
"Thanks Karin" Zea tersenyum lebar sebelum ia menutup telponnya.
"Berhenti, atau kalian tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini!" Pistol yang ada di tangannya ia todongkan hingga membuat Riana dan Liora mau tak mau mengangkat kedua tangan mereka sementara satu pria yang tadi bersamanya perlahan mengambil ancang-ancang untuk kabur selagi Zea fokus pada kedua wanita itu.
Dor...
Arrghhh...
"Kubilang berhenti! Kau tuli" bidikannya sukses mengenai kaki lelaki itu hingga ia jatuh tersungkur di lantai namun masih saja berusaha untuk lari hingga Zea kembali melepaskan tembakannya "Rupanya kau tidak ingin keluar hidup-hidup dari sini? Kenapa? Kau takut disuruh untuk buka mulut?"
"Arrghhh- Sialan!"
"Bawa semua uangnya dan bawa mereka" perintahnya kemudian menyimpan kembali senjatanya.
To : Karin
💬"Mission complete"
Di tempat lain di dalam mobil Karin menunggu bersama Jason mengamati keadaan sekitar.
"Kita pergi sekarang Jason."
"Baiklah"
"Tapi kau sudah menyimpan berkas-nya bukan?" Karin kemudian tersenyum.
"Good"
......................
Tidak lucu jika tak ada satupun yang mengenali Karin saat ini, wanita itu melangkah masuk kedalam loby gedung mewah tersebut diiringi Jason yang mengekor dibelakangnya.
-
-
"Kita hanya perlu menunggu kabar dari pihak sana."
Itulah yang Kelvin laporkan kepada Liam setelah tadi ia melakukan tugasnya, yaitu menelpon klien yang berasal dari Korea.
Sementara Liam sendiri mengangguk mengerti, kemudian ia berujar. "Aku tidak suka jika harus menunggu lama, setidaknya kau tadi sudah memberitahu tentang hal itu, bukan?"
Kelvin mengangguk. "Tentu saja, aku sudah memberitahu tentang hal itu kepada mereka. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya lagi, Liam."
Liam hanya tersenyum mendengar hal itu. Kelvin memang sekretaris yang sangat bisa diandalkan, kinerja pria itu sangat baik dan ia dapat dipercaya jika menyangkut soal pekerjaan seperti ini terlebih Kelvin sudah bekerja hampir satu dekade.
Drrtt drrtt drrtt
Itu adalah ponsel milik Liam yang bergetar, menandakan bahwa ada panggilan masuk dari seseorang. Tidak menunggu waktu lama, ia pun langsung mengangkatnya begitu melihat nama seseorang yang tertera di atas layar.
__ADS_1
"Liam, coba tebak aku ada dimana sekarang?"
Suara manisnya langsung terdengar begitu saja di indera pendengaran milik Liam, padahal sebelumnya Liam baru saja akan mengucapkan kata 'halo' untuk menyapa, tetapi seseorang dari seberang sana sudah terlebih dahulu mengeluarkan suaranya dan itu membuat Liam pada akhirnya menarik kedua sudut bibirnya ke atas untuk menciptakan sebuah senyuman lebar yang membuat Kelvin memicingkan matanya, padahal urusannya dengan Liam seharusnya sudah selesai sejak tadi, pria itu tahu siapa yang baru saja menghubungi Liam terlihat jelas dari raut wajahnya.
"Memangnya dengan hanya mendengar suaramu, suamimu ini akan langsung tahu dimana keberadaan mu, Nona?" tanyanya sambil sedikit terkekeh pelan.
Ceklek
Pintu terbuka. Membuat Liam maupun Kelvin langsung saja menoleh ke arah sumber suara tersebut.
Tut
Panggilan Liam langsung terputus begitu saja.
Sementara seseorang yang membuka pintu tadi mulai berjalan mendekat ke arah Liam dengan ekspresi datar di wajahnya berbeda dengan suara yang baru saja dia dengar. Kelvin yang melihat itu pun langsung mengundurkan diri pergi, tidak ada gunanya sama sekali ketika ia berada di sini dengan sepasang suami istri yang saling mencintai, bisa-bisa Kelvin dibuat hiri oleh dua sejoli itu.
"Jadi saat menelpon tadi, kau sudah ada di sini?" tanyanya langsung berdiri begitu melihat sang istri yang sudah berjalan mendekat ke arah dirinya. "Seharusnya kau beristirahat saja di rumah, kenapa malah datang kesini, hm?" kali ini ia merengkuh pinggang wanita itu.
"Kenapa? tidak suka? Lagipula aku hanya mengantarkan ini untukmu." ia memperlihatkan beberapa foto yang sedari tadi sudah ia siapkan tepat di hadapan wajah Liam.
Liam mengambil beberapa foto itu dari atas meja, bahkan ekspresi wajh istrinya sudah berubah “Bagaimana-" tanyanya dengan raut wajah yang terlihat seperti tidak suka.
Sementara yang ditanya hanya mengangguk, kemudian dengan jujur ia berkata. "Bagaimana aku mendapatkannya? Apa kau mencoba untuk membohongiku lagi Liam."
"Jawab! Kenapa diam saja?" sentak Karin "Jangan membuatku habis kesabaran Liam"
Sementara pria itu tiba-tiba saja terkekeh pelan, ia gemas melihat raut wajah Karin yang sedang serius itu.
"Liam. Aku sedang tidak bercanda!" Karin berkata frustasi, sangat tidak mengerti dengan jalan pikiran Liam. Ia tahu bahwa suaminya itu sedang berusaha membuat keadaan tenang, tetapi bukan seperti ini caranya. Dengan tertawa disaat dirinya sedang serius.
"Tenang sayang" kali ini ia merengkuh pinggang wanita itu, namun segera Karin tepis- akan tetapi kita melupakan satu hal jika Liam tidak akan menyerah, ia kembali menarik pinggang Karin hingga sangat dekat dengannya.
"Kelvin!" Teriaknya membuat pria itu segera berlari masuk.
"Apa?"
"Jelaskan padanya tentang Liora"
Kelvin menghela napasnya kemudian meletakkan beberapa foto juga di atas meja kerja Liam. "Kami tahu Liora pasti akan mencoba untuk membuatmu salah paham- jadi sekarang akan kujelaskan." Kelvin kemudian menyusun beberapa foto tadi seolah itu memang memiliki urutannya sendiri.
......................
.
.
.
.
.
__ADS_1
...🌻🌻🌻🌻...