
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
Liam menarik selimut sampai ke perut, melipat tangannya untuk di jadikan bantal kemudian ia menatap punggung Karin.
Helaan napasnya terdengar panjang "Karin"
"Hm" Liam merasakan sesuatu, sedikit getaran dari tubuh Karin. "Kau menangis?" tubuhnya bangun sebagian menarik tubuh Karin untuk telentang dan benar, Karin sedang menangis.
"Jangan menangis." pinta Liam parau. Di kecup nya mata Karin yang basah itu hingga sang empu terpejam.
Karin menggeleng lirih. "Kenapa? aku tidak tenang jika kau seperti ini. Katakanlah, Karin."
Di tariknya lagi nafas begitu dalam, berusaha menenangkan diri sebab Karin sendiri yakin tidak yakin akan mengatakannya. Ini bukan masalah besar sampai ia harus seperti ini. Karin terlalu berlebihan menyikapi.
"Tidak. Mungkin aku saja yang sedang sensitive." jawab Karin.
Sedangkan Liam masih diam, menatap tenang wajah gadis itu menelisik. Terlalu dalam dan terlalu tenang. Liam mengamati setiap salah tingkah Karin dan kecemasan yang terkias di wajahnya.
Karin sedang berbohong.
"Aku takut Liam" nada Karin tiba-tiba bergetar membuat Liam bingung, "Takut kenapa?" pria itu menepuk lembut punggung Karin.
Karin sesegukan sungguh di umurnya yang sekarang tidak seharusnya cengeng. "Aku takut kau akan meninggalkanku di tengah kehamilanku!" Trauma Karin akan hubungan orang tuanya terus terbayang di pikirannya, belum lagi Felix yang menyelingkuhinya hanya karena Karin sibuk dengan pelajarannya, kemudian yang menjadi pikiran Karin adalah- Liam.
Membayangkannya saja sudah membuat Karin tak sanggup, apalagi itu sampai terjadi. Ini bukan drama televisi dimana menjadi ibu tunggal itu mudah, nyatanya tidak sama sekali!
"Tidak akan! Kau ingin melihatku di bunuh Ayahku sendiri?" sanggahnya, Liam mengeratkan pelukannya, "Aku bahkan lebih takut kau yang akan pergi dariku" Karin lantas mendongak "Kenapa aku?"
Karena kau pasti akan mengutukku jika mengetahui masa lalu ku Karin- "Tidak tahu" bohongnya, "Karena itu aku selalu menunggu kabar ini agar kau tidak pernah punya alasan pergi" lanjutnya.
"Sekarang berhenti menangis, kau bisa memegang janjiku" ujar Liam yakin. Akankah kali ini kalimat itu bisa Karin pegang?
......................
Dokter memeriksa refleks dari pupil mata Safira menggunakan senter kecil di saku jas-nya, lantas menggeleng.
Adam menghela napas, kemudian pergi dari ruangan itu.
-
-
__ADS_1
-
"karin!" Lirih Jessy perlahan meraih tangan Karin.
Karin menatap Adam yang tengah duduk di sofa.
"kenapa? apa yang terjadi?"
"kondisi Safira memburuk." Jelas Adam
Deg...
"A-Apa maksudmu?!"
"Dia menunjukkan EEG Elektroensefalogram datar, tanda mati otak" jawab dokter wanita yang berdiri di belakang sofa Adam
"Itu apa artinya?"
"Pasien mati otak" jawab Adam. Detik itu juga pertahanan Karin runtuh, tubuhnya tak sanggup lagi menahan beban tubuhnya.
Tubuh Karin merosot jatuh terduduk di lantai.
Suara isak tangis orang tua Safira dan Rey kembali mengisi ruangan Adam.
Jessy memberanikan dirinya bertanya pada Adam "Lalu kita harus bagaimana? Apa tidak ada cara lain? Apapun itu pengobatannya, tidak. bahkan berapapun biayanya akan ku bayar! Tapi lakukan sesuatu untuk Safira" Jessy menarik jas Adam dengan linangan air mata yang masih membasahi pipinya, tangannya mengepal kuat perlahan juga ikut merosot jatuh di hadapan Adam.
Satu dokter lainnya membantu Adam menjawab setelah melihat suasana "Banyak pasien mati otak menyumbangkan organ mereka"
"Benar pak, kebanyakan pasien mati otak memilih memberikan harapannya pada orang lain yang membutuhkan organ mereka sebelum meninggalkan dunia ini"
Kemudian Adam melanjutkan, "Safira juga berjanji akan menyumbangkan organnya enam tahun yang lalu"
"Apa Safira harus melakukannya karena dia mendaftar? Dia tidak perlu melakukannya,kan?" Sela Karin perlahan bangkit.
"Tentu saja tidak, itu adalah keputusan keluarga" jawab Adam
"Saat pasien mati otak, mereka mati dalam waktu dua minggu dan organ tidak akan bisa di didonorkan lagi sekalipun dia menginginkannya" sambung Adam.
"Ini tidak adil, aku tidak bisa merelakan putriku- Astaga putriku yang malang" Tangis ibu Safira.
Ini benar-benar di luar dugaan Karin, kenapa semuanya menjadi seperti ini? Seharusnya ia dan Jessy tidak menuruti ucapan Safira untuk tetap diam. Karir Safira baru saja meroket, lalu kenapa harus sekarang? Kenapa? Karin rasa dunia tidak adil untuk sahabatnya itu.
Hanya suara isakan tangis yang Adam dengar, dia tidak bisa membantu banyak selain melaporkan hal tersebut kepada pihak berwajib.
Mati otak berbeda dengan Koma maupun kondisi vegetatif, jika seseorang telah di vonis mati otak maka hukum dalam kedokteran pasien tersebut telah dinyatakan meninggal dunia akibat aktivitas otak yang terhenti secara permanen.
......................
Mark terus saja mengelak, bukan dirinya tapi ini salah Safira sendiri.
"Dimana dia?" Suara Zea mengambil alih, langkah tegasnya perlahan mendekati ruang interogasi. Kasus berhasil dilimpahkan padanya sebagai jaksa penanggung jawab. Ini bukan permintaan Karin melainkan memang sudah tanggung jawabnya sebagai jaksa penuntut umum.
__ADS_1
Kita tidak perlu lagi membahas sepak terjang Zea sebagai seorang jaksa wanita yang dikenal ganas tanpa ampun, 24 kasus dakwaan kepada para pembunuh berhasil dia dapatkan dengan maksimal kurungan penjara seumur hidup dan hukuman mati.
Zea tidak berpihak pada pemegang kekuasaan, karena keluarganya juga memegang kekuasaan besar, terlebih berkas dari Liam waktu itu akan semakin memperkuat kekuasaannya. Jika dirinya berhasil menjatuhkan menteri Hukum yang menjabat dengan serangan balik dari fakta yang diberikan Liam, maka Zea bisa mendorong Ayahnya menduduki kursi menteri Hukum berikutnya.
Zea tersenyum saat ia baru saja memasuki ruang interogasi, ruangan yang sudah menjadi tempat bermainnya.
Zea duduk di kursi lalu memutar rekaman cctv di apartemen Safira. "Kau masih mengelak dirimu bukan pelakunya?" tanyanya dengan nada tenang.
Mark berdecak remeh, hanya rekaman cctv saat dia keluar dari apartemen Safira bukan rekaman dari dalam ruangan.
Zea seolah memikirkan sesuatu, Mark terlalu tenang untuk ukuran kejahatan yang dia lakukan. Apa seseorang berada di balik Mark sampai dia se-berani ini? Jikapun benar, siapa? Batin Zea bertanya-tanya.
"Apa kalian menemukan bukti kalau aku pelakunya?" Oh, Mark terlampau santai bahkan menyilangkan kakinya. "Aku kan sudah bilang kalau itu karena dirinya sendiri, bukan aku!"
Zea tersenyum tipis, "Kau tahu siapa aku?"
Mark mengangkat kedua bahu samar, "Aku tidak peduli"
"Apa kau berpikir aku duduk di sini tanpa bukti yang jelas? Kau pasti berpikir jika dirimu akan bebas setelah empat puluh delapan jam kan?!" Kendati ekspresi wajah Zea berubah drastis, dia senyum dengan ribuan makna.
Dia keluarkan seluruh berkas medis pemeriksaan, beberapa hasil foto dan visum. "Bagaimana? Kau mau aku memperlihatkan rekaman saat kau melempar Safira hingga kepalanya membentur lemari?"
Mark terdiam, "Bagaimana- "Bagaimana aku bisa mendapatkannya?" potong Zea
Jika dugaan Zea benar, kali ini Mark akan semakin bereaksi. "Kau tahu? Aku mendapatkan ini semua dari-" Zea menggantung ucapannya mengulum senyum "Tidak perlu ku sebutkan, kau pasti mengerti"
Tak berselang lama masuk seorang pengacara yang membuat Zea langsung mendecak senyum, dugaannya tidak salah.
"Kami akan koperatif dengan proses penyelidikan" ucap pengacara, Mark langsung mengernyit dan menatap pengacaranya itu. "Apa maksudmu"
"Baiklah, aku akan mempertimbangkan pengurangan hukuman jika pelaku koperatif" jawab Zea melirik Mark yang terlihat berekspresi bingung, marah, kesal semuanya tergambar di wajahnya.
-
-
Zea kembali ke meja kerjanya "Jeo, tolong kau cari seluruh berkas yang berkaitan dengan kasus pembunuhan di apartemen itu, kemudian selidiki ulang"
"Baiklah"
......................
.
.
.
.
.
__ADS_1
...🌻🌻🌻🌻...