Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - HOW ARE YOU?


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


Bukan Jayden, tapi Adam. Sepertinya pria itu jauh lebih kesal dari pada Jayden. "Kau gila? Ingat Liam, jika kau melakukan itu aku akan pergi dari kehidupanmu"


"Wanita itu sudah tiada kan?!"


"Setidaknya kau memiliki rasa bersalah dan memperbaikinya, bukannya mementingkan perasaan pada wanita salah seperti Liora" balas Adam meninggikan nada bicaranya.


"Wanita itu tewas karena kesalahan kalian berdua. Kau bahkan merebut mahkota Karin-"Tapi itu karena ketidak sengajaan Dam" Sela Liam membenarkan "Tetap saja, berhenti berpikir jika Liora mempertaruhkan nyawanya untuk putra kalian!" kesabaran Adam yang setipis tisu dibelah dua harus di hadapkan lagi pada Liam yang kepala batu.


"Kau yakin mau kehilangan Karin?" Adam mengangkat satu alisnya menunggu jawaban dari Liam.


"Dari awal aku memang tidak mengenal Karin, jika bukan karena fakta itu aku tidak akan bertanggung jawab" Tidak ada yang tahu bagaimana isi hati dan pikiran Liam.


"Sebenarnya Liora bukan mengandung anakmu, tapi mengandung anak orang lain" Jayden akhirnya buka suara, membuat Liam membelalakkan matanya. "Apa maksudmu!"


"Beberapa bulan yang lalu aku menggali kuburan yang kalian yakini sebagai putramu. Tapi hasil menunjukkan jawaban lain, aku tidak memberitahumu karena ada tender waktu itu dan langsung mengurungkan niatku" jelas Jayden menekan ujung rokok pada asbak kaca yang ada diatas meja seraya memperlihatkan foto dokumen dari hasil pemeriksaan rumah sakit.


"Karena itu, aku terus memintamu menyingkirkan foto Liora dari tempat ini" sambung Jayden yang terlihat kecewa atas perbuatan Liora pada sahabatnya.


Liam terdiam, bahkan Adam tak mampu lagi bicara. Sementara Juan sudah mengetahui hal itu dan di minta untuk diam, sebab Jayden sendiri yang akan memberitahunya.


"Kurasa ini kesempatan untukmu membuang Liora, wanita itu bisa saja melakukan hal nekat untuk mengancam kedudukanmu" kata Juan.


"Gunakan Karin dalam situasi ini. Setidaknya kita bisa membaca pergerakan Liora" ucap Jayden memberikan sarannya.


Sehari sebelum Liam berangkat ke Irlandia, sebuah fakta mencuat dari informasi yang di dapatkan Kelvin, dari sana Liam terus mencari kecocokan hingga ia berhasil mengambil keputusan Final. Yaitu, bertanggung jawab pada Karin.


"Terlalu beresiko jika menggunakan Karin, dia bisa saja terluka" Ucap Adam setelah berpikir lagi mengenai saran Jayden.


"Apa ada cara lain? Setidaknya kita bisa membaca pergerakan Liora dan memikirkan perlindungan yang tepat untuk Karin."


"Bagaimana Liam? Jika bukan kau yang menyerang maka dirimu yang akan di serang." Sambung Jayden.


"Pertama aku akan meminta Kelvin untuk menyelidiki siapa Ayah kandung bayi itu, baru aku akan mengambil keputusan." Jawab Liam bangkit dari duduknya, ia beralih menatap foto Liora yang ada di meja kerjanya.

__ADS_1


Liam ingin menyangkal kebenaran yang di ucapkan Jayden, tapi Liam berpikir tidak mungkin sahabatnya itu mengarang cerita sampai sejauh itu, terlebih hasilnya benar di dukung dengan hasil pemeriksaan dari rumah sakit.


Wanita yang dia cintai sampai detik ini, ternyata menyimpan kebenaran di balik kejadian lima tahun yang lalu, saat ia dan Liora masih menjalin kasih dan bersiap menikah. Namun Liora tiba-tiba membatalkan pernikahan dan memeras uang dari Liam sebagai uang tutup mulut atas hubungan mereka. Sejak saat itu Liora sudah buruk di mata Adam, terlebih Jayden yang melihat dengan mata kepalanya sendiri Liora beradu ranjang dengan pria lain, di saat Liam berusaha membangkitkan perusahaan serta meminta restu dari kedua orang tuanya. Lima tahun ke belakang adalah masa sulit untuk Rez Holding setelah mengalami kerugian ratusan juta dollar akibat gempa yang melanda di sebagian kota lain, menghancurkan beberapa gedung bernilai tinggi milik perusahaan.


"Aku tidak akan membiarkan wanita itu menghancurkan kejayaanmu, kau tenang saja" ucap Jayden meyakinkan Liam seraya bangkit dari duduknya, di ikuti Juan.


......................


Bandara di padati dengan para fans yang sedang menunggu kedatangan idola mereka, minggu ini ada acara konser dari boy group kenamaan dunia yang sedang menggelar world tour mereka.


Hiruk pikuk para pengunjung bandara semakin ramai saat pesawat yang di duga sebagai penerbangan milik boy group tersebut mendarat, membuat ratusan fans bersiap menghadang untuk bertemu idola mereka.


Tak berselang lama, seorang wanita tampak melewati keramaian sambil menarik kopernya, mengenakan rok hitam selutut dipadukan dengan jas kulit sepinggang dan rambut yang terurai serta kacamata hitam yang membuatnya sukses menarik perhatian para fans, mereka berpikir jika wanita itu salah satu aktris yang sedang pulang dari jadwal bepergian.


"Sudah lama aku tidak pulang" gumamnya tersenyum merasakan angin sepoy-sepoy yang menerpa dirinya.


Liora Adrienne, wanita kelahiran 1994 itu melambaikan tangannya pada pria yang terlihat sudah menunggunya di depan bandara.


Sedan hitam itu berhenti tepat di depan loby bandara, mempersilahkan Liora untuk masuk.


"Bagaimana kabarmu Liam" gumamnya pelan sambil tersenyum saat melihat deretan gedung tinggi yang mengisi jalanan kota dari jendela kaca mobil.


Ting.


💬"pergi ke FDS Apartemen, semua perlengkapan yang kau butuhkan sudah di siapkan di sana"


......................


"Kau tidak akan memberiku minum?" tanya Jayden menatap pada Karin yang berdiri di dapur.


Karin menghela kasar napasnya, lalu meraih gelas sekedar menyediakan air putih untuk Jayden.


"Kau kerja di perusahaan Ayahmu?" tanyanya lagi saat Karin sudah duduk di sofa yang sama dengannya, hanya saja Karin duduk di ujung sofa sama hal nya dengan dirinya.


"Menurutmu" jawab Karin ketus, dia tipe wanita yang tidak terlalu suka diberi banyak pertanyaan.


Jayden hanya terkekeh, Karin memang menyenangkan untuk di jahili.


"Karin"


"Apa!"


"Wow ... Wow santai." lagi-lagi Jayden tergelak, Karin menjawab dengan nada yang begitu ketus.


Dia pasti sudah gila. Pikir Karin menggeleng pelan.

__ADS_1


"Bagaimana? Menyenangkan tinggal dengan Liam?" lagi dan lagi, Jayden bertanya seraya membentangkan tangannya di bahu sofa lalu bersilang kaki menatap Karin.


"Tidak terlalu buruk, hanya saja- "Sejak kapan kau ada disini?" Seru Liam menatap heran sahabatnya.


"Sejak kapan kau ada di sana?" Karin yang bertanya balik.


"Sejak Jayden bertanya bagaimana tinggal denganku?" jawabnya seraya berjalan menuju dapur setelah meletakkan tas nya di atas meja, "Jadi bagaimana? Kau senang tinggal denganku?" lanjutnya sambil menuang air kedalam gelas kaca.


"Kau mau tau?" Karin mengisyaratkan Jayden untuk mendekat, dengan cepat pria itu bergeser dan duduk tepat di samping Karin "Tidak terlalu buruk, cuma lebih tepatnya-" Karin menatap Liam yang sedang minum dan mereka sekarang berada dalam satu tatapan.


Ia segera menyudahinya dan kembali mengucapkan kalimatnya pada Jayden dengan berbisik, "Aku bisa gila jika lama-lama tinggal di tempat ini"


Jayden tertawa kecil, "Kau mau ku bantu keluar?" ujarnya bicara pelan sementara Liam tengah menatap tajam keduanya, bahkan ia meletakkan gelas dengan kasar hingga membuat Karin dan Jayden kaget.


"Ada apa dengannya?"


"Kau lihat, penyakitnya mulai kumat" sahut Karin, mereka masih berbisik agar tidak di dengar Liam.


"dia sakit?"


"Gangguan jiwa lebih tepatnya, orang normal mana yang makan anggur tidak pakai kulit"


"Spesies sepertinya memang agak langka"


"Kalian berdua sedang membicarakanku, kan!" tegur Liam dengan wajah kesalnya.


Tapi Jayden dan Karin malah asik melanjutkan obrolan mereka. Membuat Liam mendengus kesal dan pergi ke kamar.


Saat ia masuk suara tawa Karin dan Jayden pecah, dengan cepat ia menguping menempelkan telinga ke pintu tapi tidak terdengar apa-apa.


"Sialan, awas saja nanti" gumamnya


"Karin. Bagaimana jika ku beritahu sesuatu" ucap Jayden tiba-tiba membuat kening Karin berkerut, "Apa?"


......................


.


.


.


.


.

__ADS_1


...🌻🌻🌻🌻...


__ADS_2