
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
Adam, Liam, Jayden dan Juan sedang bertaruh atas permainan yang sedang mereka mainkan, sementara Karin terlihat duduk mendekati Zea.
Zea tahu Liam sudah menikah tapi ini pertama kalinya dia menemui Karin secara langsung.
"Bisa kita bicara di tempat lain?"
Zea menunjuk dirinya sendiri membuat Karin mengangguk.
Wanita itu perlahan mengangguk dan keluar dari ruangan itu meninggalkan empat pria yang sedang asik bermain kartu mengikuti langkah Karin.
Suara riuh dari teriakan kekalahan Jayden dan Juan mengisi ruang VIP yang telah di reservasi atas nama pewaris Sky Group itu. Mereka masih belum sadar jika Zea dan Karin sudah tidak ada di tempat itu.
Hampir dua puluh menit mereka terus bermain kartu sampai akhirnya Liam sadar Karin dan Zea tidak ada diruangan itu, entah kemana mereka pergi.
"Kalian lihat Karin kemana?" Tapi tiga pria itu hanya menggendikkan bahu, membuat Liam segera keluar mencari keberadaan wanita sinting itu.
Baru saja Liam keluar, godaan dari beberapa wanita di club itu membuat langkahnya sempat terhenti sebelum akhirnya Juan menyusul untuk mencari Zea.
Mereka berdua berlari menuju parkiran utama, Jayden dan Adam juga pergi setelah Juan menelpon.
"Dimana Karin?" Liam bertanya demikian setelah melihat kondisi Zea yang terluka. Zea masih memegangi perutnya yang terasa sangat perih.
Juan perlahan membantu Zea untuk berdiri, pria itu terlihat khawatir, walau terpaksa bukan artinya Juan hanya berdiam diri saat melihat wanita terluka di hadapannya.
Zea hanya menunjuk ke arah jalanan rasa sakit di perutnya membuat lidahnya kelu, sulit untuk bicara.
"cctv. Perik-sa cctv" ucap Zea susah payah sebelum kesadarannya hilang, di sana Adam langsung mengambil alih saat menemukan posisi ketiganya.
Liam langsung meraih ponselnya, untuk melacak posisi istrinya. Jujur saja Liam sengaja meletakkan pelacak di dalam kalung yang beberapa jam lalu dia berikan pada Karin sebagai hadiah.
"Aku dan Juan akan menangani Zea, kalian pergi cari Karin, mungkin ini salah satu musuhmu Liam" kata Adam sambil melihat jam tangannya memastikan ambulance sampai tepat waktu sebelum kondisi Zea semakin parah. Diagnosa Adam, Zea mengalami pendarahan pada organ dalam perutnya.
Liam mengusap kasar wajahnya, sebelum akhirnya mobil Jayden berhenti tepat di depannya, beruntung mereka tidak minum banyak dan masih dalam keadaan sadar.
Ia masih belum bisa menembak siapa yang melakukan ini padanya, musuh Liam terlalu banyak terlebih dalam dunia bisnis.
"Aku harap ini bukan Liora, jika dugaanku benar tidak akan ku beri ampun dia" Jayden berucap demikian, rasa bencinya pada wanita itu benar-benar mendarah daging.
"Jika itu benar, aku yang lebih dulu menghabisinya"
__ADS_1
Arrghhhh...
Jayden melajukan mobil dalam kecepatan penuh di jalanan kosong yang berkelok-kelok mengarah ke puncak. "Kau yakin ini lokasinya,kan?" Liam mengangguk.
Drrttt...
"Siapa?" Jayden melirik sekilas.
"Nomor tidak dikenal" jarinya mengusap layar ponsel untuk mengangkat telpon.
Liam mendengar suara tawa dari seorang pria yang benar-benar tidak dia kenal, "Bagaimana kabarmu, Tn. Liam Oliver Ramirez?"
"Siapa kau!"
"Kau serius tidak mengenaliku?"
"Aku tidak ingin bermain tebak-tebakan!"
"Bukankah kita bertemu dua tahun yang lalu"
"Kau-"
"hahaha akhirnya kau ingat juga. Sepertinya kehidupanmu baik-baik saja setelah menghancurkan perusahaanku! Terlebih sekarang kau memiliki istri yang sangat cantik"
"Berani kau menyentuh sehelai saja rambutnya, ku pastikan kau tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari negara ini!"
"Owh, santai... Aku hanya akan meminjamnya untuk bersenang-senang malam ini, besok akan ku kembalikan padamu"
Bughhh
Liam memukul dashboard mobil Jayden meluapkan amarahnya, membuat pria yang sedang menyetir itujadi ikut khawatir.
"Kau bisa lebih cepat lagi?"
"Bisa, tapi sampai ke surga. Kau mau?" balas Jayden curi-curi pandang antara jalanan dan Liam, pasalnya yang mereka lewati adalah jalanan tebing.
"Sialan!"
"Tenang sedikit, kita akan sampai sebentar lagi"
"Setiap detik sangat berharga untuk Karin, pria brengsek itu bisa saja menyentuh istriku" kesalnya, dia tahu betul siapa pria yang sedang menculik Karin.
(yang baca dari awal pasti tau kok, kemarin juga ketauan sama Liam end the geng saat mau membobol hasil presentasi)
Sementara Jayden hanya terus berusaha fokus, mereka akan sampai dalam lima menit lagi.
-
-
-
__ADS_1
Karin perlahan membuka matanya, obat bius yang mengalir dalam darahnya perlahan menghilang membuatnya sedikit pusing saat bangun. "aku dimana?" gumamnya perlahan mendengar suara langkah kaki yang mendekat.
Kenop pintu ditarik kebawah, perlahan pintu terbuka memperlihatkan sosok pria yang hampir menginjak kepala lima membawa nampan berisi gelas dan piring yang terisi.
"Kau sudah bangun?!" ujarnya meletakkan nampan tersebut di atas nakas, membuat Karin perlahan mundur ke belakang. "Kau siapa!" sarkas Karin.
"Aku teman suamimu, Liam"
"Ah, rupanya dia tidak pernah memberitahumu" lanjutnya duduk di tepi ranjang menatap Karin dengan tatapan genit.
Karin menarik selimut untuk menutup sebagian kakinya, "Jangan mendekat! Berani kau mendekat aku tidak segan-segan menghabisimu!" peringat Karin menggenggam kuat ujung selimut.
Pria tua itu tersenyum, dengan cepat dia menarik selimut Karin membuat wanita itu kaget. "Jangan mendekat!" teriak Karin yang hampir mati kutu, namun akalnya tidak berhenti di sana.
Karin berdiri di seberang pria tadi sambil memegang tongkat bisbol yang beruntung ada dalam jangkauannya.
Pria itu lantas menyeringai.
"Kenapa? Aku sexy bukan?!" tantang Karin dengan nada remeh. "Sangat sexy" jawabnya sambil menjilat bibirnya membuat Karin muak.
Tapi tiba-tiba pintu di belakang Karin terbuka memperlihatkan seorang pria berjas yang tanpa aba-aba menyuntikkan sesuatu ke lehernya.
"SIALAN! KAU CURANG!" perlahan kesadarannya hilang dan jatuh merosot dengan kepala yang tersandar di kaki pria tadi.
Pria tua itu lantas memerintahkan pengawalnya itu untuk meletakkan Karin kembali ke atas ranjang, dan mengikat kedua tangan dan kakinya.
"Tidak buruk, aku jadi ingin memilikinya" gumam pria itu perlahan duduk di sebelah Karin dan dengan lancang membelai ujung kakinya sampai ke paha.
Sial, penilaian Liam tidak pernah salah. Pria tua itu masih memiliki na*su pada wanita muda seperti Karin.
Tangannya menyelipkan beberapa helai rambut Karin ke telinga, kemudian beralih pada kancing baju Karin. Dengan lancang dia melepas satu kancing baju Karin memperlihatkan sebagian dada mulus yang secara keseluruhan adalah milik Liam, kemudian kancing kedua.
"Sial! Dia terlalu bagus untuk Liam"
"TAPI PRIA BURUK RUPA SEPERTIMU TIDAK PANTAS MENYENTUHNYA!" Teriak Liam yang dengan cepat meraih kerah baju pria itu untuk membuatnya berdiri, kemudian mendorongnya menyudutkan pada dinding.
Bughhh...
Satu pukulan mendarat di pipi pria yang jauh lebih tua darinya itu, sementara Jayden sibuk mengatasi beberapa anak buah di lantai bawah.
......................
.
.
.
.
.
__ADS_1
...🌻🌻🌻🌻...