Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - HONEST


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


Liam berteriak bak orang gila, Rahangnya mengeras, tangannya mengepal kuat, matanya memancarkan kilat amarah mendengar kebenaran yang dia dapatkan.


Kenangannya dengan Liora tiba-tiba saja terputar. Senyum Liora, tawa bahagianya ketika mengejar Liam. Ekspresi lucu Liora ketika dengan sengaja memberi cat kuku pada kakinya saat tertidur.


Liam tersenyum miris, dia menunduk mengingatnya.


"Kau menghancurkan segalanya."


Hingga tiba-tiba saja suara mengagetkan Liam-


"Ada apa denganmu?!" Heran melihat barang berhamburan.


Suara itu mengalihkan pandangannya. Dia mengerjap beberapa kali. Meyakinkan bahwa wanita yang berada di depannya bukan hanya bayangan semata.


"Kau tuli?!"


Benar, ini bukan bayangan. Ini benar-benar Karin. Liam berjalan dan langsung memeluk wanita itu.


Karin mencoba melepaskannya tapi percuma, Liam semakin memeluknya erat. Karin berhenti memberontak ketika dia merasakan suhu tubuh Liam sedikit berbeda dengannya.


"Hei, Kau demam buaya bodoh!"


Liam masih bersikeras tidak melepas pelukannya.


"Liam!"


"Tetaplah seperti ini aku mohon." Pinta Liam.


Karin kembali diam mendengar Liam berkata dengan suara yang menimbulkan isakan. Liam menangis dalam pelukannya.


"Kumohon jangan pergi juga Karin" Liam semakin terisak. Tangannya semakin memeluk erat tubuh Karin. "Aku membencinya. Aku tidak menyukai kau bersama pria lain. Aku benar-benar membenci itu."


Sebelumnya Karin bisa masuk karena pintu ruangan Liam terbuka, membuatnya mengambil kesempatan untuk melihat kedalam apa yang disembunyikan Liam sampai membuat ruangan itu selalu di kunci.

__ADS_1


"Kau kenapa..." Karin berusaha bertanya kenapa pria ini tiba-tiba seperti ini.


"Aku tahu aku salah, tapi aku tidak bisa jika harus kehilanganmu juga ku mohon untuk tetap tinggal sekalipun kau mengetahui kebenarannya." Liam semakin terisak. "Aku sengaja menikahi mu karena janjiku pada ibumu, lima tahun yang lalu ibumu meninggal karena kecelakaan, kan? Aku pelakunya Karin Aku!"


Pertahanan Karin hancur begitu saja setelah mendengar perkataan Liam. Wanita itu seketika menangis dengan hebat, dia menutup mulutnya dengan tangannya sendiri agar isakannya tidak terdengar lebih pilu lagi.


"Liam cukup. Aku mohon, ini sudah-"


"Tidak. Aku belum selesai, kau harus tahu semuanya." Liam melepaskan pelukannya, dia menatap Karin dan menggenggam bahu wanita itu. Sudah tak ada gunanya bagi Liam menutupi semuanya, Liora adalah penyebab dari seluruh rentetan masalah yang terjadi padanya, dan di satu sisi dia sudah tak sanggup lagi menutupi ini dari Karin, melihat Karin berada satu atap dengannya membuat rasa bersalahnya semakin lama semakin menyesakkan.


Liam menunduk. "Saat aku menikah denganmu, kau merubah segalanya. Kau membuatku bermimpi, kau tahu mimpiku apa, menjalani hidup normal bersamamu tanpa ada yang meninggalkan dan ditinggalkan."


Karin menggigit bibirnya menahan tangisnya.


"Liam aku mohon. Hentikan ini sudah-"


"Tapi bodohnya, aku menarik mu kedalam labirin yang bahkan tak berujung hanya untuk memastikan rasa tanggung jawabku atas kematian ibumu terbayar, semakin lama rasa bersalah itu terus menghantuiku walaupun aku terlihat biasa saja di depanmu" Badan pria itu bergetar hebat, dia masih menunduk tidak bisa menatap Karin yang sedang melihatnya.


"Kau tahu, Ibu segalanya bagiku, dia hidupku dan duniaku. Kau tahu apa yang harus aku alami setelah kepergiannya?Aku seperti orang gila yang harus merelakan posisi ibuku di ambil oleh wanita sialan seperti Riana, aku berusaha memenuhi kekosongan ibuku dengan hal-hal lain tapi semua tidak berhasil. Tapi sekarang kau bilang apa? Kau penyebabnya? Kenapa harus sekarang Liam? Kenapa!!!" Tangis Karin pecah, Liam berusaha meraih tangannya tapi langsung di tepis kasar oleh Karin.


Liam semakin tidak kuat, rasanya melihat Karin menangis karenanya adalah hal yang paling menyakitkan melebihi pengkhianatan Liora. Kenapa hubungan mereka begitu rumit.


"Karin..." Liam meraih dagu wanita itu agar melihatnya. "Apa lagi Liam? Kau masih ingin mengatakan sesuatu?" Karin mengusap air matanya yang terus mengalir di pipi. "Lebih baik katakan semuanya detik ini juga! Aku tau kau masih menyembunyikan sesuatu dariku." nada bicara Karin berubah datar menatap sayu wajah Liam.


Pria itu menarik Karin. Tapi wanita itu masih tidak bergerak sedikitpun.


"Kenapa harus sekarang Liam, saat perasaanku bergejolak padamu" Karin menutup matanya sebentar lalu beralih menatap Liam. "Jika kau tidak berniat melukaiku, kenapa kau menikahi ku? Seharusnya kau diam saja dan biarkan aku menikahi Regard."


"Aku tidak bisa membiarkan itu, Ibumu berpesan agar aku menjaga putrinya. Setelah malam itu aku baru mengetahui kalau kau ternyata putri Nyonya Evelyn." Liam berusaha menjelaskan, tapi tak ada jawaban dari Karin.


Karin tersenyum aneh, "Kau bilang ini menjaga? Kau menghancurkan semuanya Liam! Kau menghancurkan hidupku karena terjebak dengan pembunuh sepertimu!" sentak Karin menunjuk Liam di wajah.


"Ayo kita akhiri ini Liam"


Mata Liam langsung menatap Karin, dia tidak mau kehilangan Karin juga, baru saja dia bermimpi untuk mencoba hidup tenang dengan Karin walau hatinya belum sepenuhnya melupakan Liora.


"Aku tahu aku salah Karin, aku mohon beri kesempatan untuk aku memperbaiki pernikahan kita"


Karin menggeleng pelan, "Cukup Liam! Aku tidak pernah sekalipun memberi kesempatan pada siapapun. Kita akhiri ini dan sampai jumpa di pengadilan" Logika Karin lebih bermain mengambil alih hatinya.


"AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMBIARKAN ITU TERJADI!!!" Teriak Liam saat Karin melangkah pergi.


Arrgghhh


Liam menyesali perkataan jujurnya, tapi di satu sisi hatinya merasa tenang karena sudah jujur pada Karin.

__ADS_1


-


-


-


Karin mengemas kopernya, perlahan turun mengangkat koper melewati anak tangga.


"Karin!" tahan Liam.


Karin membuang napas jengah, lalu membuang muka ke sudut lain. "Aku ingin sendiri" perlahan tangan Liam melepas cengkeramannya dan membiarkan Karin pergi tepat di depan matanya.


Bughhh!


Liam meninju tiang beton di tengah ruang, melampiaskan amarah dan rasa frustasinya. Rahangnya mengeras mengacak rambut dan mendudukkan dirinya pasrah di sofa.


Sementara Karin memasang kacamata hitam menutupi matanya yang sembab bahkan air mata itu masih menetes dari pelupuk matanya.


Ting~


Pintu lift terbuka, Karin keluar menggeret kopernya melewati keramaian lobby apartment.


Pria itu duduk di sofa seperti orang linglung, tangannya dia biarkan dan masih meneteskan darah .


Liam ingin Karin menemaninya di situasi saat ini, tapi dia lupa jika melakukan itu sama hal nya dia akan menyiksa Karin secara perlahan karena Karin harus menahan perasaan dan harus hidup bersama pembunuh ibunya.


Ia mendongakkan wajahnya menatap plafon ruang tamu dan tangan yang di biarkan terbentang pasrah. Perlahan tatapan Liam buram dan dalam hitungan detik semuanya menghitam.


-


-


-


"Liam! Kau mati?" pipinya di tepuk cukup kuat.


......................


.


.


.


.

__ADS_1


.


...🌻🌻🌻🌻...


__ADS_2