
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
"Bagaimana mungkin Ayah bisa melakukan itu pada Karin. Ini pasti suruhan nenek sihir itu, kan!" Jawab Karin terlanjur emosi. Seluruh kartunya di bekukan sampai waktu yang tidak di tentukan.
"Jaga bicaramu Karin!"
"Ayah yang seharusnya menjaga Karin, wanita itu dari awal hanya memanfaatkan Ayah. Harus berapa kali Karin katakan."
"Karin! Ayah tidak mau lagi mendengar kamu menyebut Ibu mu seperti itu."
"Ibu! Ayah ingin aku memanggil Jala*ng sialan itu sebagai Ibu? Will never!"
"KARIN!"
Tut ... tut ... tut ...
Karin memutus sambungan telpon secara sepihak dan membaliknya dengan kasar di atas sofa.
"Will Never!"
Intonasinya meniru suara Karin. Terdengar menyebalkan.
Cepat Karin melempar bantal sofa pada Liam yang mengejeknya, satu lagi. Pria itu sudah tahu perangai Karin jika sedang marah, tapi masih saja memancingnya.
Karin mendengus dan pergi ke kamar sambil membawa ponselnya.
Tak berselang lama, Karin keluar dari kamar dengan dandanan rapi membuat Liam mencegat di depan pintu, "Apa lagi?" tanya Karin dengan ekspresi yang menantang, dia hanya ingin mencari tempat tenang sekarang.
"Dengan pakaian seperti ini? Di luar dingin"
Jangan lupa jika Karin berasal dari mana, pakaian seperti ini adalah style yang biasa dia kenakan saat kuliah di luar.
__ADS_1
"Ganti, atau ku pastikan kau tidak akan bisa keluar sama sekali!" Lanjut Liam menatap tajam mata Karin dengan wajah bringasnya.
"Masuk!" Perintahnya menunjuk kamar. Dan bukannya Liam kulot, tapi menurutnya itu terlalu terbuka untuk pandangan laki-laki sepertinya.
"Breng*sek" umpat Karin semakin kesal.
Liam menarik tangan Karin sampai kedalam kamar, "Ganti pakaianmu, dan pergi denganku."
"Aku sudah janji dengan teman-temanku, aku tidak akan pergi denganmu!" Jawab Karin dari dalam kamar.
"Pergi denganku atau tidak sama sekali. Jangan berharap keluar tanpa ijin dariku!" Teriak Liam dari luar, membuat Karin terdiam tidak berani menjawab.
Karin sudah tidak mood, ia membatalkan niatnya keluar dan memilih tidur setelah mengonsumsi obat tidur yang ada di laci nakas dekat ranjang.
Hampir satu jam Karin tidak keluar membuat Liam kesal, ia pergi keruang kerja untuk mengambil duplikat card akses yang baru saja selesai di buat tadi sore.
Menempelkan kartu akses, pintu kamar terbuka memperlihatkan Karin yang tertidur tanpa mengganti pakaiannya. Pria itu berjalan mendekati ranjang dan duduk di tepi memperhatikan wajah Karin yang tertidur pulas.
Ia menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Karin ke telinga, lalu mengusap lembut surai pipinya, Liam terhipnotis akan paras Karin membuat jati dirinya sebagai pria tidak bisa berbohong.
Liam tiba-tiba tersenyum saat sekelebat ingatan tak sengaja terbesit dalam pikirannya. Bukannya pergi, Liam ikut membaringkan tubuhnya di samping Karin. Sudah lama ia tak tidur di kamarnya sendiri.
Ia mengecup lembut kening Karin, lalu menarik selimut sampai ke perut dan mendekap tubuh Karin sekedar menyalurkan ketenangan setelah tadi emosinya meluap. Mungkin besok pagi telinganya akan sakit karena omelan dari Karin.
......................
Tangannya terasa kebas, karena semalaman dijadikan bantal untuk Karin.
Liam ingin menarik tangannya, ini kesempatan untuknya kabur sebelum Karin mengamuk. Tapi ia urungkan niatnya saat sadar air tadi berasal dari Karin. Bukan iler, tapi air matanya.
"Karin, kau baik-baik saja?" serunya pelan sambil memposisikan dirinya memperhatikan Karin dari belakang. Bukannya bangun, wanita itu malah menangis sejadi-jadinya tapi matanya masih tertutup seolah jiwanya berada di tempat lain.
"Kau kenapa?" tanyanya lagi tapi tidak ada jawaban. Liam terus mencoba untuk membangunkan sampai akhirnya Karin bangun dengan wajah murung dan linangan air mata, tanpa menyadari bagaimana Liam ada di ranjang yang sama dengannya.
"Kau kenapa? Ada apa?" tanyanya lagi, tapi Karin malah semakin menangis tidak tahu apa sebabnya, membuat Liam bingung sendiri.
Pria itu hanya bisa mengusap air mata Karin masih dengan posisinya yang sama, sebagian tubuhnya berada di atas, tangannya masih di jadikan Karin sebagai bantal. Sambil sesegukan Karin bertanya pada Liam, "Bagaimana bisa kau ada di sini?" tanyanya sambil mengerjapkan matanya.
"Aku. Ini kamarku, jadi wajar aku ada di sini" Jawabnya fokus mengusap air mata Karin, tanpa berniat bangun dan mengatakan tangannya masih di jadikan bantal sampai wanita itu sendiri yang sadar dan segera menjaga jarak dari predator seperti Liam.
Karin duduk sambil memeriksa pakaiannya, masih sama dengan yang ia pakai tadi malam, artinya Liam tidak macam-macam.
"Kau yakin sudah baikan?"
__ADS_1
Karin mengangguk, "Aku hanya teringat Ibuku"
"Yasudah" kata Liam dengan cepat menarik tangan Karin hingga telentang dan berada di bawah kungkungannya. Membuat Liam berhasil mendengar detak jantung Karin yang nyaring berdetak dua kali lebih cepat dari ritme normal.
"Ka-Kau mau apa?" tanyanya gugup berusaha mengalihkan pandangannya ke sisi lain. "Tatap aku Karin?" perintahnya dengan nada berat dan serak efek bangun tidur.
Karin dengan cepat menghalangi Liam lebih dekat dengannya, dengan memposisikan tangannya di atas dadanya untuk menahan.
"Mau sampai kapan kau seperti ini?"
Karin mengernyitkan dahinya "Maksudnya?"
"Sikapmu! Jika kau terus seperti ini, aku tidak segan-segan memberi pelajaran padamu, aku tidak akan menceraikan mu karena janjiku pada seseorang. Jadi perbaiki sikapmu! Aku bisa saja bringas dan melukaimu, jadi jangan membuatku melewati batas karena perbuatanmu sendiri. Berhenti membangkang dan lakukan tugasmu dengan baik" Jelas Liam, ia mengecup sekilas bibir Karin lalu bangun, karena ia harus ke kantor hari ini.
Karin masih diam membeku, 'seseorang' siapa yang di maksud Liam, membuat wanita itu bertanya-tanya.
......................
"Semua tim sudah siap" Kata Kelvin mengiringi langkah Liam.
Mengenakan Black Suit dari brand kenamaan, dipadukan dengan dasi polkadot membuat aura jenius dari seorang Liam Oliver Ramirez terpancar saat melewati loby gedung, orang yang melihat bahkan takjub dengan kewibawaannya.
Semua anggota tim sedang bersiap untuk masuk ruang presentasi dan memenangkan tender besar hari ini.
Liam meraih ponselnya dan mengirimkan pesan pada Juan. "Lakukan sekarang" setelah itu ia menonaktifkan ponselnya, bersiap melakukan presentasi di hadapan para petinggi pemerintahan yang bertanggung jawab dalam tender kali ini.
Ditempat lain, dalam satu gerakan jari, Juan bisa menyaksikan kehancuran Rye-V Group yang berdiri puluhan tahun hancur tepat di depan matanya sendiri.
"Ini kenapa, orang seperti mereka tidak seharusnya mengusik singa yang sedang tidur" Ucap Jayden menenggak wine miliknya dan di angguki setujui oleh Juan.
......................
.
.
.
.
.
...🌻🌻🌻🌻...
__ADS_1