
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
Karin perlahan membuka matanya, merasakan sesuatu melingkari pinggangnya yang lebih tepatnya adalah tangan Liam.
Ia melihat pakaiannya dan Liam berserakan dilantai, "Kalian melakukannya lagi Karin" gumamnya pelan sambil tertawa bodoh. Sementara Liam masih tertidur pulas dengan posisi setengah tengkurap dan tangan kanannya memeluk erat pinggang Karin.
Wanita itu terdiam, menatap langit-langit dia kembali teringat ucapan Liam kemarin malam.
Tadi malam mereka sama-sama bukan dalam pengaruh obat ataupun alkohol.
"Dia serius" gumamnya seraya memiringkan sedikit tubuhnya untuk menatap Liam yang masih menutup matanya.
Karin mencoba untuk menatap Liam lebih dekat dan lebih jelas, tiba-tiba dia tersenyum. Karin akui Liam sangat menyebalkan tapi di satu sisi dia juga punya sisi lembut dan perhatian.
Sebenarnya sulit untuk Karin kembali percaya lagi pada percintaan. Ayahnya menikah kembali lalu satu-satunya pria yang dia percaya menyelingkuhi dirinya. Bertemu Liam adalah sebuah kesalahan yang tidak pernah terpikir oleh Karin, namun semesta seolah menarik keduanya untuk bertemu dalam sebuah kesalahan yang rumit dan membiarkan keduanya untuk meluruskan semuanya.
Karin yang semula tidak ingin mengungkit lagi kasus kematian ibunya kini mulai berubah pikiran, dengan kekuasaan keluarganya Karin bisa saja melanjutkan penyelidikan waktu itu, namun memory akan kenangan ibunya tentunya akan terus bertahan di pikirannya.
"Kau tau apa yang di katakan ibumu sebelum dia pergi?" suara berat Liam memecahkan lamunan Karin.
Liam memposisikan dirinya untuk saling berhadapan dengan Karin. "Kau pria baik, pasti sangat cocok dengan putriku. Kalian pasti akan serasi jika bersama, dia cantik dan lembut walau kadang sedikit manja" nada bicaranya merendah mengulangi ucapan Nyonya Evelyn sebelum wanita itu menghembuskan napas terakhirnya.
"Biar ku koreksi, sepertinya ibu salah mengira dirimu baik" sahut Karin sedikit mendongak.
"Tapi ibumu juga salah, dia bilang anaknya lembut tapi realitanya tidak." balas Liam sedikit mendengus remeh tak mau kalah, membuat Karin reflek memukul dadanya. "Sialan" kedua tangannya langsung mendorong tubuh Liam kebelakang menjaga jarak tapi langsung ditahan oleh pria itu, ia mengeratkan pelukannya.
"Sshut!" Liam mengelus rambut Karin memenangkannya, "Ku mohon tetap bersamaku apapun alasannya" Kali ini Liam meminta dengan serius.
"Aku tidak akan melepaskan mu apapun yang terjadi" Karin terdiam, "Bagaimana jika Liora kembali?" sontak Liam melonggarkan pelukannya "Jika aku boleh jujur... Kenangan Liora masih berbekas dalam hatiku- "Buaya sialan!" kesal Karin memotong ucapan Liam.
"Belum selesai." ia kembali mengeratkan pelukannya "Tapi semua itu perlahan hilang tertutup dengan pengkhianatan yang dia lakukan, dan sekarang faktanya kau adalah istriku" sambung Liam. Sungguh kata-kata Liam membuat Karin terpedaya.
__ADS_1
-
-
-
Riana terlihat sedang menyirami tanaman yang ada di belakang rumah sendirian.
Karin menatap ke halaman belakang dari posisinya yang sedang berdiri di balkon kamar. Ingin sekali Karin menimpuk wanita itu dengan pot tanaman yang ada di dekatnya.
"Ayo" Seru Liam yang terlihat sudah rapi, dia harus berangkat kerja tapi sebelum itu ia akan mengantar Karin ke kantornya.
Karin mengangguk, lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar.
Tuan Morgan sudah berangkat ke kantor menyisakan Riana yang tinggal di rumah, katanya disuruh istirahat buat jaga kehamilan.
Saat Karin akan beranjak Riana yang baru kembali dari halaman belakang dengan sengaja menyenggol kuat bahu Karin hingga wanita itu jatuh dan terduduk di lantai, kepalanya membentur pintu, demi apapun itu sangat sakit. Bokongnya jatuh menghantam ubin lantai yang keras.
Arghhh.
Liam yang kala itu baru selesai memasukkan koper langsung menghampirinya.
"Yak!" Teriak Karin perlahan berdiri di bantu Liam. Ia menoleh melihat Riana yang dengan santainya masuk kedalam rumah.
"Karin, apa yang kamu lakukan? Ini sakit" ujarnya dengan ekspresi yang di buat-buat, mungkin ingin mengambil perhatian Liam.
Karin terus menjambak kuat rambut Riana, "Berani sekali kau membuatku jatuh! Aku bisa saja menjatuhkanmu sekarang, tapi Karena anakmu tidak bersalah aku akan mengampunimu. Jadi jangan melewati batas!" sentak Karin melepas tangannya dari rambut Riana.
Wanita itu meneteskan air matanya, membuat Karin mendengus kesal "Jangan bersandiwara di hadapanku, menjijikan!" dalam jeda waktu itu Liam hanya diam, dia sengaja tidak melerai keduanya ingin melihat siapa yang menang antara bunglon dan singa.
"Karin, kenapa kamu seperti ini? Ibu tahu Ibu tidak bisa menggantikan almarhum Ibumu tapi ayo kita berdamai" ujarnya berusaha meraih tangan Karin. Oh tentu saja langsung ditepis kasar oleh Karin hingga hampir saja menampar wajah Riana yang langsung memiringkan kepalanya seolah ia baru saja terkena tamparan Karin.
"Oh Sh***! Ku bilang jangan bersandiwara di hadapanku Bodoh!" Tekan Karin yang langsung pergi meninggalkan wanita itu di ikuti Liam yang mengekor di belakangnya.
Riana perlahan mengangkat kepalanya mengusap air mata sialan itu kemudian tersenyum lalu pergi ke kamarnya.
......................
Dua orang wanita terlihat sedang duduk dan mengobrol disalah satu cafe yang saat ini sedang tidak banyak pengunjung.
Liora meletakkan gelas di atas meja dengan cukup kuat setelah mendengar ucapan lawan bicaranya.
__ADS_1
"sebentar lagi Liam akan benar-benar menyingkirkan mu Liora!" Wanita itu mengepal kuat-kuat sambil mendengus, matanya memerah menandakan amarahnya sedang naik.
Wanita di seberangnya tersenyum, "buah jatuh tidak jauh dari pohon" membuat Liora menganggukkan kepalanya.
"Jadi, sekarang apa langkahmu?"
"Kita serang saja secara bersamaan" Liora tersenyum licik, sambil menggenggam kuat gelas miliknya.
......................
"Kau terlihat berbeda hari ini?" Goda Kelvin mengikuti langkah Liam di belakang. "Bahkan toko parfum kalah dengan wangi mu " Kelvin mengendus pakaian Liam.
"Sudah baikan?" Tapi Liam hanya tersenyum sambil menunggu lift berhenti di lantai 35 gedung Rez Holdings.
Ting.
Liam dan Kelvin keluar dari lift melangkah masuk keruang pimpinan Rez Holding.
Setelah membicarakan beberapa jadwal, Kelvin kembali ke meja kerjanya sementara Liam mulai berkutat dengan tumpukan berkas yang menunggunya.
Sebelum ia menyentuh berkas-berkas itu, Liam memeriksa cctv di apartemen-nya, memperlihatkan Karin yang sedang asik duduk nonton tv sambil makan buah-buahan. Dia tidak jadi ke kantor karena masih merasakan nyeri pada bagian pinggang ke bawah.
Pria itu tersenyum saat melihat Karin sedang menonton drama romantis sambil menutup matanya tidak mau melihat scene romantis-nya, "Kenapa dia malu?" gumamnya, kali ini senyum Liam benar-benar tulus dari dalam hatinya karena merasakan bahagia.
......................
Kelvin masuk tergesa-gesa keruangan Liam. "Sebenarnya dari kemarin aku terus menimbang apakah aku harus memberitahumu atau tidak.." Ungkapnya menghampiri meja Liam
"Tapi ini sudah kelewat batas" sambung Kelvin sukses membuat kening Liam berkerut.
......................
.
.
.
.
.
__ADS_1
...🌻🌻🌻🌻...