Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - IT WON'T BE DIFFICULT


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


Ting...


Pesan masuk, Karin segera beralih pada ponselnya yang terletak di atas nakas sementara Liam tengah asik duduk di sofa sembari menikmati coklat panas di tengah suasana hujan yang mengguyur kota.


💬"Bisa ibu bicara Karin?"


Deg...


Ini bukan kali pertamanya Karin mendapatkan pesan dari mertuanya, namun ia merasakan hal berbeda dari pesan yang tersirat dari kalimat pesan itu.


💬"Karin akan menghubungi ibu"


Dibalasnya pesan Nyonya Cathrine, lantas beranjak pelan meninggalkan suaminya yang terlihat sedang bersiap memainkan game online.


Karin merasakan atmosfer yang berbeda saat panggilan mereka mulai terhubung, nada rendah sang mertua seolah mengintimidasi Karin sampai ke titik terendah.


"Apa yang baru saja ibu ucapkan itu benar Karin?"


Rasanya Karin ingin berbohong namun hali itu akan semakin memperkeruh keadaan, pertanyaan yang di lontarkan padanya adalah hal yang selama ini selalui ia dan Liam tutupi, Karin berdeham pelan kemudian menoleh sekilas keluar menatap pada pria itu.


"Benar, Bu. Tapi-" Karin sengaja menjeda kalimatnya berusaha mencari jawaban yang tepat


"Kenapa tidak cerita yang sebenarnya? Ibu cukup kecewa ternyata kamu juga ikut berbohong Karin" Tolong selamatkan Karin agar mulutnya itu tidak terkunci di detik-detik seperti ini. "Karin mengakui jika Karin salah bu, seharusnya hal itu Kami luruskan sejak awal" sambungnya memberi penjelasan.

__ADS_1


"Tapi perlu Karin luruskan jika Karin bisa berada di kamar yang sama dengan Liam itu karena tipu muslihat Ibu tiri Karin bu- Liam hanya membantu Karin untuk tidak menikahi pria salah yang sengaja di pilihkan untuk menjebak Karin" Mertuanya itu terdiam sejenak "maksudmu Riana?"


Lagi dan lagi Karin berdeham sangat pelan "Bahkan saat ini dia alasan Karin kehilangan Ayah" ucapnya lagi, Karin tidak berbohong tapi ia juga ingin menjatuhkan nama Riana di mata mertuanya.


"Tunggu sebentar Karin, Ibu tirimu menghubungi Ibu-"


"Baiklah, bu. Bulan depan kami berdua berencana untuk menginap"


Tut...tut...tut...


"Wanita itu." gumam Karin pelan perlahan menurunkan ponselnya lalu keluar dari clothes room, di tatapnya televisi yang menyala sementara si penonton sudah tidak berada di tempatnya lagi.


"Kenapa memilih berdiri jika ada tempat duduk, hm?"


Suara Liam tiba-tiba mengalun dengan begitu lembut ketika netranya mendapati presensi Karin yang berdiri di dekat jendela kaca berukuran besar sekaligus berwarna bening tersebut sambil menatap ke arah luar. Menikmati air hujan yang turun di malam hari dan tidak menyadari jika saat ini seseorang tengah membungkus tubuhnya dengan menggunakan selimut tebal, kemudian memeluknya dari belakang.


Itu adalah Liam.


"Kau bisa kedinginan jika hanya berdiam diri sambil menatap." suara pria itu terdengar seperti berbisik.


Tersenyum sekilas, Karin menjawab. "Kau bisa menghangatkanku," jawabnya sesingkat itu.


"Dan sekarang pun aku sudah menghangatkanmu, Sayang." Liam mengeratkan pelukannya sambil mulai duduk di atas kursi yang sudah tersedia di belakangnya. Mau tak mau itu membuat Karin pun juga ikut duduk bersamanya.


Suasana mendadak berubah menjadi hening. Karin yang lebih memilih untuk diam tanpa membalas ucapan Liam barusan, sementara Liam sendiri pun mulai larut dalam pikirannya sendiri. Untuk sejenak, ia dulu tidak pernah membayangkan kehidupan seperti apa yang akan ia jalani setelah menikah.


Namun setelah bertemu dengan Karin, setelah menikah dengan wanita itu, Liam pun mengerti. Oh jadi seperti ini kehidupannya saat ini.


"Liam..." panggil Karin membuat pikiran Liam buyar.


"Hm?"


Ada jeda sejenak dalam beberapa menit. Karin tadi memang sempat mengingat masa kecilnya bersama dengan Felix. Namun meskipun begitu, ada banyak hal yang telah membuat kenangan itu perlahan pudar dalam ingatannya.


"Sebenarnya tadi Ibu menelpon-."

__ADS_1


Liam mengangkat salah satu alisnya ke atas. "Ibu?" tanyanya. "Untuk apa Ibu menelponmu? Tidak biasanya?!"


Karin mengangguk. Ia sedikit tidak yakin karena tidak tahu harus memulai darimana. "Sepertinya Ibu marah karena kita berbohong padanya mengenai kebenaran dibalik pernikahan kita."


Liam terdiam lama. Topik seperti itu membuatnya merasa sedikit sensitif.


"Apa Ibu marah?"


Karin segera menggeleng. "Tidak. hanya saja dia sedikit kecewa, dan aku berusaha untuk menjelaskan semuanya tanpa menutupi hal apapun. Hanya saja ini perbuatan Riana. Aku tidak tahu dia akan menggunakan informasi itu untuk mempengaruhi Ibu."


Karin mengingat kembali kehidupan yang ia jalani selama ini. "Riana tidak akan pernah membiarkannya tenang selama wanita itu masih menguasai harta kelurganya"


Liam mengeratkan pelukannya menarik lembut tubuh Karin untuk bersandar pada tubuhnya "Kamu benar, Zea memberitahuku jika sulit untuknya saat ini mengekspose kejahatan Riana karena Ayahnya mendapatkan ancaman untuk posisinya, sementara Kelvin masih belum bisa melobi seluruh pemegang saham besar karena mereka semua bersekutu dengan Riana kecuali Pak Dion." Jelas Liam meletakkan dagunya pada pucuk kepala Karin.


Namun Liam segera berucap lagi "Ibu tidak akan bisa membencimu setelah mengetahui semua kebenarannya, dia memang kecewa- Tapi untuk mengutuk menantunya sendiri itu tak akan terjadi, dia terlalu cerdas untuk menilai mana yang benar dan salah" kemudian Liam perlahan sedikit memutar tubuh Karin untuk bersitatap dengannya, ibu jarinya menyapu lembut pipi Karin dengan dua tangan besar yang sedang menangkup pipinya.


"Apa kau akan meninggalkanku setelah semua ini? Aku bukan pewaris MK Group lagi Liam, wanita biasa yang mungkin akan bergantung padamu" Karin tidak mengetahui kenapa kalimat itu bisa keluar dari bibirnya.


Cup~


Liam menciumnya sekilas, membuat Karin terdiam "Mana Karin yang ku kenal? Wanita gila yang tidak suka di jatuhkan?!"


Karin tidak menjawab, wanita itu lebih memilih menundukkan kepalanya mencari kenyamanan dalam pelukan Liam.


"Jika bukan pewaris, aku akan membuatmu menjadi pemilik. Merebut kembali apa yang Riana ambil darimu itu tidak akan sulit untukku Karin" Liam semakin mengeratkan pelukannya saat merasakan satu tetesan air membasahi pakaiannya, Liam tahu istrinya itu sedang menangis.


......................


.


.


.


.

__ADS_1


.


...🌻🌻🌻🌻...


__ADS_2