Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - CONFES


__ADS_3

 Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


Beberapa hari berlalu, tapi masih tidak ada perkembangan, Adam masih memantau kondisi Safira.


Karin sesekali berkunjung ke rumah sakit saat pulang kerja, dia tidak sanggup jika sahabatnya pergi sama halnya dengan Jessy yang masih bisa meluangkan waktu untuk menjenguk Safira.


......................


Seorang wanita dengan pakaian yang sangat minim masuk keruangan Liam membuat pria itu hilang fokus. "Joy! Sedang apa kau disini?" Tubuhnya reflek berdiri.


"Tentu saja aku menemui mu sayang-" jawab Joy seraya merapikan kerah Liam.


"Berhenti Joy, kau akan membuat orang lain salah paham" tegas Liam melepas tangan Joy darinya.


Wajah Joy seketika berubah cemberut. "Pulang saja, jangan menggangguku" tapi Joy ngeyel dan secara agresif mengalungkan kedua tangannya pada leher Liam. "Joy!"


"Aku tahu kau menyukai ini,kan sayang" Bagaikan jal*ng, Joy mendorong tubuh Liam hingga jatuh ke kursi sementara dirinya dengan cepat duduk di pahanya.


Oh sial! Godaan macam apa ini? Batin Liam yang seratus persen masih normal. "Cukup Joy!" Liam langsung mendorong wanita itu menjauh darinya hingga wanita itu jatuh ke lantai.


Liam berdiri sambil membenarkan kancing kemeja yang dengan lancang di buka oleh Joy.


"Aku sudah menikah Joy! Berhenti menggangguku, kali ini kau keterlaluan. Karirmu sudah bagus dan berhenti bersikap mirip jal*ng seperti ini!" Wajah Joy berubah, marah, sakit, kesal dan emosi semuanya bercampur menjadi satu. "Kau berubah Liam! Aku membencimu!!!" teriak Joy melengos pergi dari ruangan Liam sambil menangis.


Brak!


Liam menggebrak kuat meja dengan kedua tangannya, mengerang kesal dan marah.


Arrghhh...


"Ada apa denganmu?" Suara itu mengalihkan Liam yang dengan cepat menatap ke arah pintu.

__ADS_1


"Karin!"


"mereka tidak berpapasan, kan?" Liam sedikit cemas, takut Karin dan Joy berpapasan apalagi istrinya itu mengenali wajah Joy.


Kakinya melangkah menghampiri Karin dan langsung memeluknya membuat Karin heran sendiri, "Ada apa denganmu?" tanyanya seraya melepas pelukan Liam tapi pria itu tidak mendengarkannya dan tetap mengeratkan pelukannya. "Aku berterimakasih karena kau kesini Karin" bisiknya tepat di telinga Karin membuat wanita itu bergidik.


Liam melonggarkan pelukannya lalu dengan cepat menyambar bibir Karin, menciumnya agresif sementara langkahnya mulai mendorong Karin hingga tubuhnya tersudut di lemari berkas yang tinggi sebatas pinggang Karin.


Diluar Kelvin melebarkan matanya saat tidak sengaja melihat Liam tengah bercumbu dengan Karin melalui kaca ruangannya yang notabennya transparan. Dengan cepat dia mengambil remot untuk memburamkan seluruh dinding kaca itu.


Liam terus ******* rakus bibis Karin, tangannya menahan tengkuk lehernya membuat Karin hampir kehabisan napas tapi Liam tidak berhenti. "Kali ini saja, aku membutuhkanmu sayang!" bisiknya dengan cepat menyesap leher Karin dan satu tangannya mulai lancang menelusup kedalam roknya.


"Liam!" tahan Karin.


"Berhenti!" tapi Liam bagaikan tuli, Joy sudah memancingnya alhasil Karin yang menjadi pelampiasan. Niat karin datang hanya untuk menanyakan perihal berkas yang di berikan Liam pada Zea tapi malah berakhir dirinya menjadi bahan pelampiasan Liam.


"LIAM!" Teriak Karin saat pria itu mulai menurunkan zipper celananya. Liam tidak peduli.


"Aku sedang hamil! berhenti!"


Kali ini Liam benar-benar berhenti. "Kau bilang apa tadi?"


"Kau hamil? Kau yakin?"


"Aishhh- kau membuat lipstikku hilang" kesal Karin melirik tajam saat pria itu mulai duduk di sebelahnya. "Sejak kapan?"


"Aku tidak tahu, hanya saja kemarin hasilnya positif" jawab Karin yang sedang sibuk mencari sesuatu dari dalam tasnya.


Perlahan Liam menarik senyumnya tujuannya berhasil, Karin tidak mungkin berani pergi lagi darinya.


Sebenarnya Karin tidak ingin mengatakan hal ini, karena jujur Karin tidak siap jika harus menjadi seorang ibu di usianya saat ini. Namun bagi Liam di umurnya yang segera menginjak kepala tiga itu bukan masalah jika harus memiliki seorang anak.


"Itu hanya hasil tes, aku belum melakukan cek-up ke dokter kandungan jadi belum pasti. Jangan senang dulu" sela Karin di tengah senyum Liam yang mengembang.


Liam meraih tangan Karin dan menggenggamnya "Tidak masalah hasilnya membahagiakan atau mengecewakan, jika gagal kita bisa melakukannya lagi" Liam mengangkat sekilas alisnya menggoda Karin. "Dasar mesum!" maki Karin


Liam perlahan bergeser semakin merapatkan tubuhnya dengan Karin. "Kalau tidak begitu, kau tidak akan hamil" jawabnya enteng.


Karin memutar malas bola matanya, "Kau tidak punya malu? Ini kantor tapi kau-" Karin sengaja tidak menyelesaikan kalimatnya sadar Liam pasti mengetahui maksudnya. "Ini perusahaanku. Aku yang punya kuasa aku bebas" sombong nya.


"Tapi- "Shuttt..." Liam meletakkan jarinya di bibir Karin, sementara satu tangannya lagi mulai mengusap perut rata Karin. "Daddy menunggumu sayang" Astaga perasaan apa ini, kalimat Liam begitu lembut membuat Karin kembali luluh. Matanya menatap nanar Liam yang sedang tertuju pada perutnya.

__ADS_1


Tangan kekar Liam perlahan menarik Karin kedalam pelukannya. "Sebelum terlambat, aku ingin mengatakannya Karin. Ternyata aku menyukaimu!"


Deg...


Karin mendongak menatap mata Liam mencari kebenaran dimatanya. "Aku serius. Saat melihatmu dengan Felix, aku cemburu dan tidak suka melihat hal itu bahkan aku tidak bisa membohongi diriku jika aku tidak bisa membiarkanmu pergi lagi seperti waktu itu" Liam melepas pelukannya membelai lembut pipi Karin dengan ibu jarinya.


"Aku tahu kau tidak memiliki perasaan yang sama padaku, tapi- "Kau salah" potong Karin yang sedari tadi telah terbawa suasana. "Kau membingungkan perasaanku semenjak di rumah sakit waktu itu" akhirnya wanita itu jujur.


Liam tertawa bahagia, "Kau serius!" ternyata perasaannya bukan tidak terbalas melainkan di balas.


"Jadi selama ini?" Karin mengangguk pelan, membuat Liam dengan cepat mengecup bibir Karin, perlahan ia mengangkat tubuh Karin untuk duduk dalam pangkuannya.


Karin mengulum senyumnya kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher Liam.


Cup~


Kali ini bukan Liam, tapi Karin memberanikan dirinya mengecup bibir Liam lebih dulu membuat senyum tersemat di bibir Liam, pria itu menarik tengkuk lehernya dan mel*mat sayang bibir Karin. Kali ini imbang, Karin perlahan membalas Liam.


Apakah ini awal bahagia dari dari pertemuan buruk mereka?


......................


Karin melihat pantulan dirinya di cermin, lalu perlahan melirik ke bawah- lebih tepatnya pada perutnya yang polos tanpa terhalang oleh seutas benang. Gadis itu tahu sesuatu di dalam sana akan berkembang dan cepat atau lambat perutnya akan membesar. Sesuatu yang tidak pernah dia harapkan di usianya saat ini. Karin tersenyum tipis. Dia tahu itu tidak akan mudah, tapi inilah pilihan yang harus dia ambil. Karin tidak jahat sampai harus menyingkirkan darah dagingnya sendiri hanya untuk merealisasikan seluruh mimpi yang sudah dia susun selama kuliah diluar.


Karin meraih gaun tidur yang sebelumnya dia letakkan di tepi tempat tidur, lalu memakainya perlahan. Mengambil napas dalam-dalam, gadis itu berbalik, berniat untuk tidur.


Liam masuk kedalam kamar, dia rasa Karin sudah tak punya alasan lagi untuk membuatnya tidur diruang kerja. "Biarkan aku tidur disini"


Karin hanya memalingkan wajah memejamkan matanya untuk segera tidur. Liam sedikit heran, ada apa lagi dengan istrinya itu? Tadi siang mereka baru saja saling mengungkapkan perasaan tapi seolah ada sesuatu yang mengganjal di otak Karin moodnya tiba-tiba berubah.


......................


.


.


.


.


.

__ADS_1


...🌻🌻🌻🌻...


__ADS_2