
Biasakan Like bab-nya😉...
Masukin list Fav juga ya🥰
Komentar positifnya biar Author
makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰
So... I Hope Enjoy The Story
......................
Buuughhhh.
Buaaaghhh..
Krekkk..
Begitu lah seterusnya, musuhnya tumbang satu persatu akibat tendangan, pukulan, dan gerakan-gerakan mematikan dari Liam. Sementara Karin masih terbaring tak sadarkan diri di ranjang.
"Aku sudah peringkatkan, jangan pernah kau menyentuhnya sedikitpun." ucap Liam dan terakhir kali dia menginjak dada pria tua itu, yang lebih tepatnya adalah pimpinan Rye-V Group yang sebelumnya di jatuhkan oleh Liam, Tn. Martin.
Jayden berlari masuk, dan melihat Tuan Martin sudah terkapar di lantai dengan wajah bonyok dan mulut yang berdarah, Liam menghajarnya habis-habisan.
"Bagaimana Karin" seru Jayden yang langsung mengalihkan pandangannya saat melihat kondisi Karin, dan Liam langsung beralih pada istrinya. Ia melepas tali yang mengikat kedua tangan dan kakinya, mungkin jika pria tua itu tidak curang, persentase Karin untuk menang masih lima puluh persen.
Perlahan ia mengancing pakaian Karin dan segera membawanya keluar dari mansion terkutuk itu.
"Pergilah dengan mobilku, aku bisa pakai mobil disini setelah semuanya beres" ucap Jayden sebelum Liam keluar dari kamar itu. "thanks bro!" Jayden hanya mengangguk mempersilahkan Liam pergi.
Jayden menghampiri Tuan Martin tanpa ada niatan untuk memanggil ambulance, dia dan bawahan Liam akan mengurus kekacauan malam ini.
Namun satu hal yang membuat Jayden penasaran, sebuah berkas yang berada di dalam berangkas Tuan Martin yang baru saja dia buka menggunakan sidik jari Martin tanpa sepengetahuannya.
"Surat cerai?" gumamnya dan berikutnya bibirnya membaca nama yang sukses membuat matanya melebar sempurna.
"Sial, jadi ini ada kaitannya." gumamnya tersenyum aneh.
......................
Sedari tadi Liam terus menggenggam tangan Karin, "Bagaimana bisa kau seceroboh ini" gumamnya sambil fokus menyetir.
Selang beberapa menit kemudian Karin sadar saat mobil memasuki area pantai, Liam sengaja berhenti karena wanita di sebelahnya terlihat bergerak menandakan dirinya mulai sadar setelah hampir dua jam lebih pingsan.
Sebelumnya mereka menempuh perjalanan selama satu jam dimana seharusnya itu di tempuh selama dua jam setengah dengan kecepatan normal.
"Karin"
Karin merasakan kepalanya benar-benar pusing, sementara Liam terus menggenggam tangan kanannya. "Kau baik-baik saja?" tapi Karin langsung memeluknya membuat Liam kaget dan secara bersamaan mengelus lembut punggung Karin, mungkin wanita ini sedang ketakutan.
"Kenapa kau lama sekali?!" keluhnya yang mulai terdengar isakan tangis dari telinga Liam, jujur Karin takut dirinya akan di lukai ataupun di lec*hkan.
Liam hanya menepuk pelan punggung Karin, sekarang sudah jam 2 pagi "Kita istirahat dulu sebentar disini" ucap Liam dengan nada yang begitu lembut membuat Karin merasakan sedikit ketenangan.
Karin melepas pelukannya namun berganti dengan tatapan mereka yang saling bertemu, tatapan yang membuatnya tenang berbeda dengan Liam yang merasakan hatinya kembali bergejolak, rasa ini? Rasa yang pernah dia rasakan pada Liora. Membuat tubuhnya merasakan panas di tengah AC mobil yang masih menyala.
Liam menyisir beberapa helai rambut Karin kemudian mengusap pipi Karin dengan jari-jarinya, tangan kirinya perlahan menarik tengkuk leher Karin untuk lebih dekat dengannya membuat Karin reflek mengikuti Liam tanpa menolak di dalam suasana yang begitu hening.
"Kau benar-benar menghipnotis ku Karin" ucap Liam dengan nada berat berusaha menormalkan deru napasnya menatap mata dan bibir Karin secara bergantian sebelum akhirnya menyambar bibirnya.
-
-
__ADS_1
-
Pukul 10.47 AM
AAAAAAAAAAAAAAA....
"Kenapa, kenapa, ada apa?"
Liam panik. Dia langsung terbangun setelah mendengar teriakan yang sangat memekakan telinga tepat disampingnya. Sementara Karin yang berteriak menoleh sekilas ke dalam kemeja yang tengah dipakainya. Kosong. Dia tidak memakai apapun, hanya balutan kemeja Liam yang berada ditubuhnya.
AAAAAAAA...
Lagi. Teriakan itu terdengar lagi ketika dia melihat Liam juga tidak memakai atasan, hanya celana jeans hitam yang belum dikancing sempurna. Karin panik.
Liam, dia bingung dengan apa yang sedang Karin lakukan. Keningnya berkerut, nyawanya masih setengah sadar.
Karin tidak tahan lagi, dia langsung menghadiahkan beberapa pukulan pada Liam, "habis kau, mati kau. Apa yang kau lakukan padaku, kenapa aku tel*njang sialan!"
"Karin hentikan. Sakit. Au... Karin!"
Karin menyerang Liam dengan pukulan dan cubitan pada tubuh dan lengan pria itu. Liam berusaha menghindar agar Karin tidak melakukan serangan buas lainnya, terutama pada titik vital kejantanannya. Ingat, itu keahlian Karin.
"Apa lagi ini, Liam?!"
Dengan napas yang memburu dan amarah yang tertahan Karin berusaha berbicara setenang mungkin. Liam menggelengkan kepalanya dan mendecak.
"Hei! kau lupa atau pura-pura lupa?" Tanya Liam heran.
"Apa maksudmu?!" Kesal Karin.
"Lihatlah nona. Kau dan aku di dalam mobil dan dalam keadaan tidak memakai pakaian dengan baik dan benar, dan kau masih bertanya apa yang terjadi dan apa yang kita lakukan. Astaga, kau benar-benar aneh!"
Karin terdiam. Seketika bayangan 'pertempuran' mereka tadi malam melintas dipikirannya. Suara-suara aneh yang mereka keluarkan terngiang ditelinga. Karin menunduk malu.
"Woah. Sepertinya kau sudah mengingatnya." Senyum jahil Liam tersemat.
Liam mendekatkan wajahnya pada Karin, menggoda wanita itu, yang kini sedang merutuki dirinya sendiri. Liam mengulum senyum.
"Aku benar. Kau mengingatnya." Mata Liam menyipit. "Apa kau sudah mengingatnya... seberapa sering kau mendesahkan namaku tadi malam, hm? Kau bahkan berkata iya terus Liam.. ah.. disana Liam..lebih cepat... ah..."
Karin mulai mengepalkan tangannya.
"Kau bahkan memanggil namaku panjang saat kau mencapai puncak. Kau ingat tadi malam berapa kali kau mencapai "
"Hentikan!" Karin menutup telinganya, menahan malu. "Bisakah kau tidak membahas itu. Jika tidak, akan ku habisi sekarang juga!" Mata Karin melotot lebar.
Liam tersenyum sembari mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia berhasil menggoda Karin kali ini. Wanita itu membenturkan kepalanya pada kaca mobil sembari mengeluarkan sumpah serapahnya. Hingga tiba-tiba saja dia mengingat sesuatu-
"Kau pakai pengaman kan?"
"Apa yang kau bicarakan, tentu saja—"
"Syukurlah kalau kau memakainya."
Karin bernapas lega. Setidaknya hal yang ditakutkannya nanti tidak akan terjadi. Dia belum siap mengandung.
Dan sialnya lagi, Liam masih bisa mengambil kesempatan di tengah segala kekacauan. Ingat, Karin baru saja di culik oleh saingan bisnisnya tadi malam. Bukan salah Karin jika menyebutnya brengsek.
"Aku belum selesai bicara. Tentu saja aku tidak memakainya."
Dengan mudahnya Liam berkata sembari mengancing celananya. Karin menelan ludahnya kasar. Dia menatap Liam dengan tatapan yang seolah berkata habislah kau Tuan Liam.
"Hah? Jadi maksudmu, kau sama sekali tidak menggunakannya?"
__ADS_1
Senyuman Karin berubah menjadi mematikan tapi Liam, dia belum menyadari itu.
"Tentu saja tidak. Kau kira aku lelaki hidung belang yang selalu membawa benda itu kemana-mana. Kau istriku untuk apa aku membutuhkannya-"
"YAAAKKKK!! SIALAN!! AKU AKAN MEMBUNUHMU SEKARANG JUGA!!!"
Karin langsung menyerang Liam dengan mencoba menghantam dan memukul pria itu. Dia bahkan menaiki tubuh Liam dengan duduk diatas paha pria itu dan mencoba untuk memberikan pukulannya. Percuma, Liam bisa menahan pukulan itu dengan senyum yang terus tertera di bibirnya.
"Kau mau menggodaku lagi Karin."
Karin menghentikan pukulannya. Dia menatap Liam tidak mengerti.
"Lihatlah posisi kita sekarang, kau bahkan hanya memakai kemejaku. Kau mau berapa ronde lagi, sayang?"
Karin tersadar. Ini posisi berbahaya, dengan sigap dia langsung turun dari pangkuan Liam dengan wajah kesalnya. Dia menatap Liam yang sedang memanyunkan bibirnya gemas seakan dia tengah memberi sebuah ciuman jarak jauh pada Karin.
Sejujurnya benda itu ada di laci dashboard, jangan lupa kalau mobil yang mereka pakai itu mobil Jayden, tapi Liam sengaja berbohong.
Karin mencoba mengacuhkannya. Dia lebih memilih untuk mengambil bajunya yang berserakan dan akan menggantinya. Liam masih setia melihat tingkah lucu Karin.
"Aku ingin mengganti pakaianku."
Seolah tuli. Liam tidak mengindahkan perintah Karin. Dia malah lebih memilih untuk tidak mengalihkan pandangannya dan melihat Karin dengan menopang dagu.
"Liam!"
Liam akhirnya mengalah. Dia berbalik dengan wajah serta sudut bibir yang turun.
"Pelit sekali. Padahal ini bukan pertama kalinya, bahkan aku sudah tahu semuanya."
"Tuan Liam!"
"Iya. Iya. aku diam. Dasar penyihir tua."
"Liam!"
"Apa yang kau lihat. Berbaliklah!"
Dalam hati Karin masih merutuki sifat Liam yang suka sekali mencari kesempatan dalam kesempitan, ingat tujuan Liam adalah membuat Karin tidak berani meninggalkannya.
"Tenanglah Karin, semua akan baik-baik saja"
"Sudah selesai?"
"Sudah." Liam melirik Karin dengan senyum yang tertera di bibirnya, berhubungan dengan Karin adalah hal yang candu untuknya akhir-akhir ini, membuat Liam semakin serakah. Pria itu selalu sukses menuntun Karin untuk berakhir dalam keinginannya seperti tadi malam.
......................
Jayden duduk di sofa ruang tamu, seraya meletakkan sebuah kertas di atas meja. Dan hanya dalam beberapa detik mereka semua langsung menemukan kesimpulan dibalik alasan malam itu.
......................
.
.
.
.
.
...🌻🌻🌻🌻...
__ADS_1