Meet In Trap

Meet In Trap
MIT - REMINDER POSITION


__ADS_3

Biasakan Like bab-nya😉...


Masukin list Fav juga ya🥰


Komentar positifnya biar Author


makin semangat Up, apalagi dapet hadiah🥰


So... I Hope Enjoy The Story


......................


"Aku mencintai istriku, kami sudah menikah."


Jari-jari Liora terkepal kuat sampai buku-bukunya memutih, dia nyaris memaki andai tenggorokannya tiba-tiba tidak terkunci, seperti ada batu yang menahan di sana.


"Kau butuh uang?" Liam menarik Liora kembali ke dalam, dia mencari-cari kertas di meja sisi kanan ranjang dan menemukan lembaran memo dengan pulpen berlogo hotel.


Sementara Liora yang tidak menyangka Liam akan berkata demikian, berdiri kaku di ujung meja.


"Aku bisa memberimu sebanyak yang kau inginkan, dengan syarat kita sama-sama melupakan apa yang terjadi hari ini."


Liam menulis cepat perjanjian sepihak di atas kertas, berisi dua pasal dan nominal uang ganti rugi yang akan diterima Liora sebagai pihak kedua. Dia menandatangani perjanjian itu sebagai pihak pertama, lalu menyodorkannya pada Liora.


"Aku butuh satu juta dollar," kata Liora, dingin nyaris datar. Bola matanya berputar dan dia mendengus keras, saat Liam meliriknya sebelum dengan cepat mengganti angka 5 menjadi 1.


"Aku akan mentransfernya sekarang."


"Aku perlu bukti."


"Tanda tangan di sini dan tulis nomor rekeningmu."


Liora menyambar kertas itu dan menuliskan nomor rekening, dia menandatangani perjanjian setelah Liam memperlihatkan jumlah transaksi yang sudah masuk ke rekeningnya.


Liam bangun, napasnya memburu tidak beraturan, detak jantungnya berpacu dua kali lebih cepat, keringat bahkan membanjir di dahinya.


"Sial" Liam mengumpat, dia hampir depresi merasa mimpinya terlalu realistis. Sementara Karin menatapnya aneh sambil menuang air putih kedalam gelas.


"Kau sudah pulang" tanya Liam dengan nada serak khas orang bangun tidur.


"Ini" Karin memberikan gelasnya, "Sepertinya kau yang lebih membutuhkannya" sambung Karin kembali ke meja dapur untuk mengambil air untuknya sendiri.


Liam terlihat mengacak rambutnya, ia menatap Karin dalam diam sambil memikirkan sesuatu.


Karin sadar dirinya sedang di perhatikan, membuatnya tiba-tiba buka suara. "Kau mimpi buruk?" sejujurnya Karin malas bertanya.


Liam hanya menggeleng pelan, lalu ia bangkit dan pergi menghampiri Karin sambil menekan pelipisnya yang terasa pusing.


"Karin" seru Liam sambil membuka kulkas, bersandar di sisi meja berdiri sejajar tapi ia menghadap kulkas sementara Karin sebaliknya.


"Apa"

__ADS_1


"Kau sedang hamil?"


Uhuk-uhuk ... air yang berada di mulut Karin menyembur keluar, dia tersedak dan hampir lemas karena air masuk kedalam saluran penapasannya.


"Pertanyaan macam apa itu Liam? Kau pikir aku pemeran utama drama tivi yang bisa hamil hanya karena satu kali berhubungan? Tidak semudah itu" Jawab Karin berhasil membuat Liam tercengang.


"Iya, kan tidak semudah itu" kata Liam lagi seolah mencari pembenaran atas mimpi anehnya.


"Memangnya kenapa? Kau berharap aku hamil, karena itu kau menikahi ku?" Karin menoleh, menatap Liam yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Sekarang karena aku tidak hamil, kau akan menceraikan ku?" lanjut Karin mengangkat satu aslinya menunggu jawaban Liam.


Liam menghela napas panjang, "Aku sudah mengatakannya waktu itu, jadi berhenti membahas perceraian denganku." pria itu dengan cepat beranjak pergi sebelum Karin menanyakan lebih banyak pertanyaan.


......................


"Sedang apa kau disini?" Ucap Riana yang baru saja masuk keruangannya dan melihat sosok yang tidak asing baginya.


"Aku sedang mengecek pengeluaran store tiga tahun terkahir. Disini tertulis ada uang yang terpakai tapi tidak terlihat" Jawab Karin melirik Riana yang terlihat kesal atas kehadirannya.


Riana melepas scarf nya dengan kasar dan segera mengambil tempat untuk duduk di hadapan Karin.


"Aku yang menandatangani dokumennya, tapi salahkan karyawan yang bertanggung jawab karena kerjanya tidak becus. Pecat saja jika tidak suka, tidak akan ku halangi"


"Masalahnya karyawan yang bertanggung jawab tidak mau di salahkan, jadi dia mengatakan beberapa hal. Katanya kau pakai untuk keperluan pribadi" Karin tersenyum tipis saat melihat ekspresi Riana yang mulai gugup.


"Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?"


"Kau pikir dulu ibumu juga berbisnis dengan jujur?" sela Riana menatap Karin tidak suka.


"Cih. Kau bicara sembarang lagi tentang ibuku" Karin mendengus senyum. "Aku tahu kau berusaha keras sejak dulu untuk mengambil posisi ibuku. Tapi jangan berpikir posisi itu akan sama untukmu" sambung Karin dengan nada bicara yang teramat datar membuat emosi Riana semakin memuncak.


"Lancang sekali kau bicara soal posisiku" Riana tertawa bodoh, "Kenapa? Kau mau menjatuhkan ku?"


"Jangan marah Bu, kau sedang hamil." Karin berdiri sambil memegang dokumen tebal di tangannya, "Silahkan pilih, kau mau di usir atau bernegosiasi? Bagaimanapun MK Group akan tetap menjadi milikku. Karin Zylene Morgan, pewaris satu-satunya! Kau paham sekarang posisimu dimana." Riana bungkam seribu bahasa dengan kedua tangan yang mengepal sempurna siap memukul Karin detik itu juga.


Karin keluar dari ruangan, tapi baru beberapa langkah ia kembali di hadapkan dengan Felix.


"Karin!" Serunya pelan saat mereka berpapasan.


"Felix" gumam Karin pelan, seraya berniat untuk menghindar darinya.


"KARIN!" teriak Riana yang keluar dari ruangannya sambil membawa dokumen tebal tadi. "Kau salah menilaiku" Riana mengangkat dokumen itu sejajar tepat di sampingnya.


"Kau pikir ini bisa mengancamku? Bawa yang lebih pantas untuk di negosiasikan." Teriaknya melayangkan dokumen tebal itu pada Karin tapi berhasil dihalangi Felix hingga pukulan itu terkena keningnya, berakhir Felix yang terluka.


"Felix"


"Beraninya kau!" Sekali lagi Riana melayangkan dokumennya pada Karin, namun langsung ditahan oleh Karin yang mencengkeram kuat lengannya.


"Kalau begitu, aku tidak akan tinggal diam." Karin berucap menantang.

__ADS_1


"Apa katamu?!" Nichole tiba-tiba datang dan melepas tangan Karin dari Riana dan membawanya pergi berniat memisahkan keduanya.


"Maaf, kau jadi terluka karena aku"


"Sama sekali tidak sakit" jawab Felix tersenyum.


Karin beralih menatap ruangan Riana dengan tatapan penuh kebencian.


-


-


-


"Aku berusaha keras membantu Morgan untuk MK Group melebihi Evelyn, seharusnya aku yang menikahi Morgan waktu itu bukan pelac*ur sialan itu" Riana menenggak habis air putih yang ada di atas meja.


"Bahkan aku yang selalu mendukung Morgan saat wanita lemah itu sakit. Tapi kenapa anaknya yang tidak tahu diri itu ingin menguasainya." Dia kembali mendengus kasar.


"Karin seperti itu karena dia pewaris tunggal, dan merasa semua yang dimiliki Ayahnya adalah miliknya" jawab Nichole sekertaris Morgan.


"Aku akan mengurus Karin, kau fokus saja pada kandunganmu, aku sendiri yang akan memastikan bayi mu masuk kedalam hak ahli waris bahkan sebelum dia lahir" ujarnya lagi meyakinkan Riana sambil mengusap lembut bahunya.


"Kau serius kan?" tanya Riana memastikan dengan mata yang berbinar. Ia lantas tersenyum sambil menenggak habis air putih yang di angsurkan Nichole padanya.


......................


Karin sudah letih seharian berada di kantor, tenaga dan otaknya terkuras sekarang masalah baru malah menghadangnya di tengah jalan.


Wanita itu mendengus saat mendapatkan telpon dari suaminya, "Aku sedang di jalan sekarang, jangan menggangguku, please?! Apa kau sudah bosan hidup hah?!"


Bukannya menjawab pria yang menerima panggilan itu malah meracau tidak jelas, bahkan Karin dengan sangat jelas mendengar beberapa suara wanita di sekitarnya. Mendengar itu Karin langsung menuju tempat Liam melalui GPS nya.


Sial. Dia mabuk.


Karin langsung memutar setirnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Wanita itu menginjak rem dan segera keluar dari mobilnya ketika tempat yang dituju.


......................


.


.


.


.


.


...🌻🌻🌻🌻...

__ADS_1


__ADS_2