
"apakah kamu tuli? Tidak mengerti apa dikatakan?"Andini menggertakkan giginya dengan kesal dan berkata dengan dingin "aku benar-benar sial bertemu dengan lalat sepertimu, kamu sudah membuat mobilku lecet dan aku tidak meminta ganti rugi cepat pergi darisini, aku tidak ingin melihatmu lagi disini"
Rita yang berdiri disamping Andini mengedipkan mata kepada ketua satpam dan ketua satpam itu mengerti apa maksudnya dan melambaikan tangannya kepada anak buahnya dan berkata "bawah bocah ini keruang keamanan"
Setelah sekelompok orang itu menerima perinta, sekelompok orang itu mengepung Edi dan menatapnya dengan tatapan yang ganas.
Saat ini terdengar suara klakson dari belakang kerumunan.
Sebuah mobil porche tiba-tiba berhenti dibelakang kerumunan.
Kemudian, seorang wanita berusia dua puluhan, wajah nya sangat cantik, dan menggunakan pakaian casual berwarna hitam melangkah keluar darimobil dan mendorong satpam yang ada di depannya dia berjalan kehadapan Edi lalu membungkuk.
"presdir, mohon maaf saya bukannya bermaksud untuk terlambat ada kemacetan dalam perjalanan saya kesini." bisik hanny dia tidak berani menatap langsung mata Edi, hanya membungkukkan badanya.
"hanny, maksudmu apa?" ritta berjalan mendekat, wajah cantiknya itu sedikit berkerut karena marah "pemuda ini adalah satpam baru disini, kenapa kamu memanggil dia begitu?"
"satpam?" hanny menegakkan tubuhnya, lantas membuka tas, dia menatap sebuah foto yang ada di ponselnya dan melihat kearah Edi, dia pun berbalik badan menghadap rita.
"Bu ritta, saya tidak salah lihat, beliau adalah presdir baru Company Entertaimen, bapak Edi"
"apa?" Mulut semua orang terbuka lebar, menatap Edi dengan tatapan tidak percaya.
"mbak kamu salah orang ya?" Andini mengatupkan bibirnya dan menatap Hanny.
"lelaki ini adalah Edi teman sekolah ku, bagaimana bisa dia menjadi presdir kalau penampilanya saja seperti orang miskin?" lanjutnya lagi.
Mana mungkin! Mana ada presdir yang memakai pakaian murahan seperti itu, mengendarai motor listrik pula! dan ditambah lagi saat reuni kemarin tidak ada satupun teman sekelasnya yang memedulikan Edi.
"salah orang?" hanny kemnali membuka ponsel, lalu menyodorkannya pada Andini.
"coba liat baik-baik, bapak Sumanto Simom, kepala klan Simon, secara pribadi mengatakan kepada saya bahwa nama presdir baru perusahaan ini adalah bapak Edi Simon, silakan lihat riwayat obrolan kami, ada beberapa foto bapak Edi disana silakan cek sendiri"
Deg!
__ADS_1
Pikiran Andini kosong seketika, dia merasa kekuatan dikakinya menghilang dan sama sekali tidak berani menatap Edi,
Disisi lain Ritta menggigit bibirnya keras-keras.
Meskipun Ritta adalah wakil manajer di Company Entertaimen akan terapi di atas jabatanya masih ada banyak yang lebih berkuasa dari dirinya, bagaimana pun indrusti hiburan ini adalah milik keluarga Simon.
Dan dia baru saja mengancam akan memecat seorang presdir?
"pak Edi,... Den Edi....." wajah Ritta berubah pias, dia berjalan mendekati Edi dan berkata dengan lembut,
"tidak usah sungkan begitu" Edi menyeringai "dewi Andini adalah teman sekelas ku dan anda adalah bibi Andini, aku tidak enak jika anda memanggilku begitu,"
"Den Edi saya salah saya sunggu salah, saya benar-benar sudah melakukan kesalahan" bisik Ritta sambil menunduk.
Edi melambaikan tangan nya dan memotong kata-kata Ritta, dia berbalik untuk menatap kepala keamanan, yang di tatap malah terpaku bodo, dia terhuyung-huyung mundur, hampir saja terjatu ke tanah.
"anda di pecat" Edi mengucapkan kata demi kata pada kepala keamanan itu, lalu ia berbalik dan masuk kedalam gedung Company Entertaimen.
Sekelompok orang segerah mengikuti gerakam Edi, Ritta dan Andini meskipun mereka harus terseok-seok, menggunakan sepatu hak tinggi, mereka berusaha berjalan sedekat mungkin dengan Edi.
Berita tentang kehadiran presdir baru sudah menyebar keseluru penjuru perusahaan, sepanjang jalan, para karyawan telah
Membungkukkan badannya, untuk memberi hormat kepada Edi.
Ruang kantor manajer umum berada di lantai sebelas, begitu tiba di ruangan tersebut, Edi langsung duduk di atas kursi.
Tempat ini sangat keren, Edi mengakui dia belum pernah ke tempat yang sekeren ini, semenjak ia di usir dari keluarganya tiga tahun lalu.
"press......presdir....." Andini dan Ritta ikut masuk ke dalam ruangan dan berdiri tegap di depan meja,
Sejujurnya meski Ritta adalah bibi dari Andini, dia sepertinya merawat dirinya dengan sangat baik, karena dari penampilan wanita itu justru lebih cocok disebut sebagai kakaknya Andini,
"den Edi, aku sungguh minta maaf pada anda" kata Ritta sambil menggigit bibir " den Edi apakah...... Apakah dewi Andini tetap bisah tandatangan kotrak dengan perusahaan kita? Den Edi aku relah melakukan apa saja demi Andini untuk bisa tanda tangan kontrak di sini!"
__ADS_1
"rela melakukan apa saja" Edi tertawa dia hendak berbicara lagi namun pada saat itu Hanny mengetuk pintu dan masuk,
"Presdir, Heru Yu dari keluarga Yu datang kemari untuk membicarakan bisnis dengan bapak"
Heru Yu? Begitu mendengar namanya saja, kepala Edi langsung mendidi,
Edi pun tersenyum lalu dan berkata "suruh dia pergi!"
"baik pak"
*****
Villa keluarga Yu.
Oma, mengadakan sebuah pertemuan darurat, ratusan anggota keluarga telah hadir.
"Oma, Company Entertaimen sudah keterlaluan sekali" wajah Heru memerah kesal, "aku datang baik-baik untuk mengajukan kerja sama bisnis namun mereka mengusirku begitu saja! Company Entertaimen memandang rendah keluarga kita ini!"
Para anggota keluarga Yu menggeleng-gelengkan kepala, tidak ada cara lain. Company Entertaimen memang memiliki pengaruh dan kekuatan yang sangat besar. Keluarga Yu tidak bernai marah begitu saja pada perusahaan tersebut.
"baiklah" Oma, melaimbaikan tangannya "aku mendengar kabar bahwa presdir baru Company Entertaimen masih berusia 20an awal, dia masih mudah sudah sukses dan memegang kuasa atas sesuatu yang besar"
"kurasa dia masih bisa kita dekati, meskipun mereka tidak menghargai kita, tapi kita tetap harus terus memohon untuk bekerja sama dengan mereka, siapa yang bersedia pergi kesana?"
Apa!?
Semua orang saling bertukar pandang, memohon kerja sama dengan mereka? Heru saja di usir oleh mereka, dan mereka ternyata merka masih harus mengirim orang kesana. Memangnya siapa yang bersedia untuk pergi?
Oma menghela nafasnya, dia tahu bahwa tidak ada seorangpun dikeluarga Yu yang bermaksud kurang ajar pada dirinya, tetapi jika mereka berhasil bekerja sama dengan Company Entertaimen, tentu keuntungan yang di dapat oleh keluarga Yu tidaklah sedikit.
Mereka tidak boleh menyerah sebelum berhasil mendapatkannya.
Heru mengepalkan tangannya tiba-tiba dia menyeringai dan berdiri "Oma, kenapa tidak kita biarkan Clara untuk mencobanya?"
__ADS_1
Bersambung.....