Menantu Terkeren

Menantu Terkeren
10 miliar


__ADS_3

Heru mengepalkan tangannya tiba-tiba dia menyeringai dan berdiri "Oma, kenapa tidak kita biarkan Clara untuk mencobanya?"


"Heru!" Clara mengetupkan bibirnya, dia tahu Heru selalu ingin menjatuhkan dirinya, tidak di duga trik lelaki itu bisa semenjijikkan ini.


"kenapa?" Heru balas bertanya "perusahaan yang kamu pimpin sekarang sedang kekurangan 10 miliar kan? Kamu tidak berhasil mengurus perusahaan dengan baik. Sebagai anggota keluarga Yu kamu masih belum ada kontribusi apa-apa kan?"


Heru lantas menghampiri Oma, "Oma, aku menyarankan Clara untuk menangani hal ini, biar saja dia yang pergi mengurus"


Oma, menganggukkan kepala, dikeluarga ini, Oma,paling menyayangi Heru, apapun yang lelaki itu katakan pasti akan oma turuti,


Oma, pun memandang orang yang ditunjuk Heru "Clara aku serahkan urusan ini padamu, besok pergila ke Company Entertaimen, dan ajukan kerja sama dengan mereka"


"Oma, aku—"


Clara hendak berbicara namun Oma sudah melambaikan tangannya "baiklah rapat hari ini di bubarkan"


Ratusan orang pun berdiri dan pergi, mereka pun meninggalkan tempat itu dengan suka hati, senang karena bukan mereka yang di pilih.


Ketika tiba dirumah, Clara bingung bukan main, dia tidak akan mungkin bisa menyelesaikan masalah ini.


Suasana hati Clara benar-benar buruk, dia memutuskan memanggil kedua sahabatnya untuk datang, citra dan hannah, sepertinya hannah masih belum menyadari kalau Edi teman sebangkunya adalah suami dari sahabat baiknya.


Benar saja ketika sahabat-sahabatya itu datang, suasana hati Clara langsung perlahan membaik, mereka berbicara dari hati ke hati,


"Ra, gimana kabar si pecundang?" tanya Citra, sambil mengangkat gelas tinggi berisi red wine dan menyesapnya.


Tentu saja Clara tahu pecundang mana yang Citra dimaksud "pagi-pagi tadi dia sudah pergi sampai sekarang masih belum pulang" jawab Clara sambil tersenyum.


"Ra, kamu tahan banget ya" Citra meletakan gelasnya.


"kalau aku sih, pasti gak tahan banget sama pecundang itu, kalau kamu punya suami yang lumayan, kamu setidaknya masih bisa dapat 5-6 miliar, untuk menutupi kekurangan dana di perusahaanmu, lah Edi justru kebalikannya 50-60 juta saja tidak punya"

__ADS_1


Tepat sedetik setelah Citra mengucapkan kalimat itu, terdengar seseorang membuka pintu, tak lama kemudian Edi masuk, dia memegang sebuah karung hitam ditangannya, sekujur tubuh nya tampak kotor,


Sial sekali! Saat perjalanan pulang dari Company Entertaimen, tiba-tiba turun hujan, motor listriknya di rusak oleh Andini tadi pagi dan Edi pun terpaksa berjalan kaki untuk pulang dan setibanya dirumah dirinya sudah basah kuyup.


"oh, sipecundang akhirnya datang juga!"komentar Citra begitu melihat lelaki itu masuk.


Edi tidak memedulikan Citra, dia menaruh karung hitam yang dibawanya diatas sofa.


"Edi, kamu masih punya nyali untuk pulang?"Julia baru saja keluar dari kamarnya raut wajahnya langsung mengernyit saat melihat Edi.


Kalau saja Edi tidak mencari gara-gara dengan Heru tadi malam, urusan kerja sama itu pasti tidak akan di limpahkan kepada Clara.


Julia Tantri memelototi Edi dan kembali berbicara "kamu makin lama makin nggak bisa diatur, lupakan yang semalam, tapi bisa-bisanya kamu masih punya nyali untuk datang lagi kesini?"


"terus, kamu nggak bisa lepas sepatu dulu sebelum masuk? Terus apaan tuh karung hitam yang kamu bawah-bawah? Ditaruh di atas sofa lagi, benar-benar tidak tahu malu ya kamu! Masih saja ingin tinggal di sini"


Sebaliknya Edi malah menghela nafasnya, memang benar dia sudah mengotori ruangan tetapi dalam beberapa tahun terakhir ini, bukankah dia juga yang membereskannya?


Berlagak acuh tak acuh Edi menghampiri Clara dan berkata sambil tersenyum "istriku bukankah perusahaan mu kekurangan dana 10 miliar? Akupunya-"


Belum selesai dia berkata, Citra tersenyum sinis memotong pembicaraannya dan dengan dingin berkata "aiya, kamu masih tahu cara memedulikan perusahaan Clara, aku kira hati nuranimu itu sudah dimakan anjing, kamu makan punya dia dan menggunakan pakaian dari dia jika kamu ingin membalas nya, seharusnya kamu mencari cara untuk membantu Clara, jangan cuma jadi orang yang tidak berguna di sini,,,,, apakah kamu tahu beban yang di miliki Clara sekarang berapa besar?"


Clara berusaha menenangkan Citra yang kesal "Citra sudah lah tidak usah dibahas lagi" ujarnya lembut.


Kemarin di acara tahunan keluarga, Heru mempermalukan Clara dan Edi, dengan tuksedo yang ia pakai tapi Edi berhasil menyelamatkan Clara dari rasa malu itu, perempuan itu, sangat menghargainya.


"kak Clara hatimu hati terlalu lembut, kalau aku jadi kamu, aku pasti sudah minta cerai" kata Citra dingin.


"kamu dan dia sudah lama menikah tapi masih saja seperti orang asih di tambah lagi setiap hari harus bertemu dengan pecundang ini gimana kamu masih tetap tahan?"


"Citra Mu!" Edi sudah tidak tahan lagi, dia akhirnya berjalan kehadapan Citra dan menatapnya.

__ADS_1


"perusahaan istriku kekurangan 10 miliar, bagaimana bisa kamu begitu yakin aku tidak bisa membantunya?" Edi memandangnya sambil tersenyum


"aku ingat kamu pernah mengatakan sebelumnya kalau aku berhasil memberikan Clara uang 10 miliar kamu akan memanggilku Dedy bukan?"


"ya aku pernah bilang" Citra perlahan berdiri."coba tunjukan kalau kamu tidak berhasil kamu harus memanggilku mommy"


"permisi" Edi mengambil karung yang ada di atas sofa dan membukanya, lalu dia balikkan karung itu dan menumpah kannya di atas meja.


Ruangan pun berubah senyap,


Setumpuk kertas berwarna merah mengalir seperti air terjun, kertas-kertas itu meluber di atas meja sampai berjatuhan ke lantai.


"ini....ini....ini.."


Clara melihatnya tak percaya, dia tidak bisa mengucapkan sepata kata pun sangking terkejutnya.


"uang.... Ini benar-benar sebanyak 10 miliar?" tanya Julia, ibu mertuanya ikut mendekat, raut amarah diwajah nya sontak menghilang.


Di sisi lain, Citra dan Hannah merasah ada gesekan kertas di kaki-kaki mereka, sepuluh miliar ada didepan mata mereka, sulit dipercaya!


"coba panggil aku Deddy" kata Edi sambil berlagak merapikan rambutnya.


Citra akhirnya tersadar dari keterkejutannya.


Dia memandang Edi dan mencibir "Edi jangan kira aku nggak tahu Clara kan setiap hari memberikan uang dua ratus ribu, terus uang-uang sisa nya pasti uang haram kan?"


Kata-kata Citra itu membuat Clara gemetaran, buru-buru dia menarik Edi dan membawanya kedalam kamar.


Begitu pintu tertutup Clara berbisik "Edi, kamu dapat dari mana uang-uang itu?kamu dapat dari tempat nggak bener?"


"jangan kawatir bukan uang haram kok aku meminjamnya dari temenku" jelas Edi sambil menghela nafas

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2