Menantu Terkeren

Menantu Terkeren
hadiah dari Edi


__ADS_3

Edi yakin, Dendi, Hery, dan yang lainnya tidak mungkin berani menghadiahkam sesuatu yang palsu padanya bahkan lukisan itu sudah Edi pegang di tangan...


"ya tuhan ternyata ini lukisan Lee Man Fong"


"Tidak mungkin!"


"mana? coba oma lihat' ucap nenek sambil berdiri dan berjalan menghampiri. para tamu pun segera memberi jalan.


nenek memegang kacamata bacanya dan memandangi lukisan tersebut tanpa berkedip tampak sebuah lukisan kuno dengan sentuhan cat minyak pada kanvas yang luar bisasa, benar- benar sebuah maha karya.


"wah luar biasa, bukan lukisan palsu ." ucap Bosco sambil mengangkat ibu jarinya, wajahnya tpak bersemangat dan dia pun melanjutkan "aku nggak menyangka bisa lihat maha karya Lee Man Fong di sini!"


"benar! biasanya hanya bisa terlihat di museum saja!"


"bagus banget! dia memang layak di sebut pelukis legendaris!"


pujian demi pujian yang terlontar membuat hati nenek berbunga- bunga.


"bagus, bagus, bagus,!" nenek mengulang ucapannya tiga kali dan segera menyimpan lukisan tersebut dengan hati- hati.


"simpan baik- baik di dalam kotak pastikan lukisannya terjaga dengan baik ya!" nenek memerintah.


"baik," jawab pelayan sambil mengangguk- ngannguk dan memindahkan lukisan tersebut dengan perasaan was- was.


bagaimana tidak cemas? semua orang mengatakan bahwa lukisan ini adalah Karya Lee Man Fong yang sangat berharga, jika rusak di tangan mereka maka dengan apa mereka harus mengganti rugi?!

__ADS_1


Clara tampak sedang berdiri di samping sambil menggigit bibirnya, dirinya merasa tersentu, Tedy rela menjual perusahaan hanya untuk membelikannya sepasang sepatu hak tinggi, dan hari ini dia juga memberikan nenek sebuah hadiah ulang tahun yang spesial.


"ayo semuanya, lihat ekspresi Edi sekarang, lucu banget! ha ha ha!" Heru tertawa terbahak- bahak.


Heru menunjuj ke arah Edi sambil menyindir. " lihay tuh, di tangannya ada sebua kotak, hahaha, kayaknya dia sudah siapin kado untuk Oma"


mendengar perkataan Heru semua orang pun mulai berkomentar.


memang benar. Ekspresi muka Edi saat ini memang terlihat agak aneh, Edi berkomentar dalam hati, pede banget sih Tedy, berani- beraninya. hadiahin barang palsu?


"Edi, mana hadiahmu keluarin dong."


"cepat keluarin, ha ha ha!"


semua orang berseru melihat kotak kayu usang di tangan Edi, sekilas memang terlihat seperti smpah.


"jangan deh, bagusan nggak di keluarin." balas Edi sambil melambaikan tangannya.


Edi tahu, tidak peduli hadiah apa yang dia kasih, semua orang tetap akan mengejek nya, untuk menghindari masalah, lebih baik dia tidak menunjukkan hadiah yang dia bawa.


"jangan gitu dong, ha ha ha!"


Heru menyambung perkataan Edi "hati ini kan ulang tahun Oma, semua orang sudah buka hadiah mereka, sisa kamu saja yang belum, tuh lihat istrimy bentar lagi bakalan direbut pria lain, apa kamu nggak pamerin hadiamu dan rebut kembali istrimu?"


"ha ha ha !" orang- orang disekitar pun ikut tertawa lepas.

__ADS_1


Clara kelihatan bete dan sedikit marah, apa kubilang? siapin kado yang lebih baik kan? masih saja nggak mau dengar, lihay sekarang malah di olok- olok semua orang kan!


"cepar duduk, jangan berdiri lagi!" ucap Clara sambil menarik lengan Edi dan menegurnya dengan suara lembut.


sedangkan Julia yang berada di samping pun menatap Edi dengan wajah mara dan berteriak, "Letakin hadiah nggak bermutu mu itu di luar pintu, jangan taruh di sini bikin malu saja!"


"hm" gumam Edi sambil mangangkat kotak hadiahnya dan berjalan ke depan pintu, di depan sana tampak terlihat banyak hadiah yang bertumpyk.


sesaat diaman Edi hendak meletakkan haduahnya di tumpukan hadiah, Heru pun berlari mendekatinya dan merampas kotak yang ada di tangan Edi dengan cepat.


"hahaha, jangan pelit doang, haduah apa sih ini coba kita lihat!" ucap Heru kegirangan sambil membuka kotak tersebut.


Villa pun sunyi seketika.


suam pandangan mata tertuju pada hadiah pemberian Edi dan menunggu hadiah itu di buka sambil menelan ludah.


kotak pun di buka, rupanya di dalamnya ada sebuah Gramafon kuno pemutar piring hitam berbentuk kotak dengan corong antik berwarna keemasan, tampak nya sudah berusia puluhan tahun.


sekeping piringan hitam era 70-an tampak sudah terpasang di gramafon tersebut, tanpa ragu Hery pun segera memutar engselnya dan segera memutar engselnya dan meletakkan jarun penggores ke atas piringan hitan.


lantunan musik jadul yang merdu terdengar di telingah para tamu.


"ini hidup di kupu- kupu malam bejerja bertaruh seluruh jiwa raga, binir senyum kata galus merayu memanha, kepasa setiap mereka yang datanf..."


lagu kupu- kupu malam.

__ADS_1


tentu saja lagu ciptaan dan nyanyian titek puspa itu sudah menjadi legenda di blantika musik indonesia, meskipun lagu tersebut diciptakan pada tahun 1977, namun pesonanya masih tetap dasyat...


bersambung.....


__ADS_2